GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Penyesalan Raffa


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Raffa terus saja tersenyum kearah Aqila, sementara Eyang sudah mengajak Cyra masuk ke dalam rumah, Eyang tidak mau sampai mengganggu momen pertemuan antara Aqila dan Raffa.


"Ih nyebelin banget sih Mas, cepetan mana kuncinya aku mau pulang," rengek Aqila.


Raffa langsung menarik tangan Aqila danbawanya masuk ke dalam rumah.


"Lepasin Mas, aku mau pulang."


"Katanya mau minta kunci motor, kunci motornya ada di dalam kamar aku jadi harus di ambil dulu."


"Ya sudah sana ambil, aku tunggu disini."


"Tidak bisa, kamu harus mengambilnya sendiri."


Raffa terus saja membawa Aqila naik ke kamarnya, sedangkan Aqila yang memberontak tidak bisa melepaskan tangannya karena tenaga Raffa lebih kuat di banding Aqila.


Sesampainya di kamar, Raffa langsung mengunci pintu, Aqila sampai melotot dengan kelakuan Raffa. Raffa berbalik dengan senyumannya dan mendekati Aqila, sedangkan Aqila terus saja mundur.


"Mau apa kamu Mas?" tanya Aqila panik.


"Kenapa kamu takut? aku kan masih suami kamu."


"Stop jangan mendekat."


Langkah Aqila terhenti karena terhalang oleh dinding, sedangkan Raffa semakin tersenyum lebar. Aqila menyilangkan kedua tangannya di dada dan di saat Raffa mulai mendekat Aqila memejamkan matanya karena Aqila tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.


Raffa mendekatkan wajahnya jarak antara mereka hanya beberapa centi saja, sampai-sampai Aqila bisa merasakan hembusan nafas milik Raffa. Sedangkan Raffa sangat menikmati pemandangan dihadapannya itu.


Setelah puas memandang wajah cantik Aqila, kemudian Raffa mengambil kunci motor Aqila yang berada di nakas tepat disamping Aqila. Raffa mengetuk-ngetuk jarinya ke kening Aqila sehingga membuat Aqila membuka matanya.


"Kamu kenapa? pasti lagi memikirkan hal kotor ya? aku cuma mau mengambil kunci ini kok," seru Fatir.


"Apa?"


"Pasti otakmu sedang berpikir mesum kan? aku pikir seorang guru tidak akan mempunyai otak mesum," goda Raffa.


Seketika wajah Aqila berubah menjadi merah, Aqila memang tadi berpikir kalau Raffa akan melakukan hal yang macam-macam ternyata pemikirannya salah.


"Apaan sih," ketus Aqila dengan merebut kunci motor dari tangan Raffa.


Tapi disaat Aqila membuka pintu ternyata pintunya di kinci.


"Mas, apa lagi sih ini? cepat buka pintunya," seru Aqila dengan kesalnya.


"Sebentar ya, aku mau mandi dulu nanti aku antar kamu pulang," sahut Raffa dengan santainya dan melangkah menuju kamar mandi.


"Mas Raffaaaaaa....." teriak Aqila kesal.


Sedangkan Raffa tampak cekikikan didalam kamar mandi, Raffa memang sengaja mengulur-ngulur waktu supaya Aqila tetap berada disana. Dengan wajah yang di tekuk, Aqila menghempaskan tubuhnya ke sofa tempat dimana dulu dia biasa tidur.


"Lho, bukannya ini selimut aku ya? kok ada disini? pantesan saja aku cari kemana-mana tidak ada," gumam Aqila.


Aqila memperhatikan setiap sudut kamar Raffa.


"Masih sama seperti dulu, kok aku tidak melihat Clarissa ya kemana dia? apa jangan-jangan Cyra adalah anaknya Clarissa dan Mas Raffa ya? mereka sudah punya anak ternyata, dan Mas Raffa tampak sangat menyayangi Cyra," gumam Aqila.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, Raffa hanya memakai handuk yang melilit di pingganggnya sementara tubuh bagian atasnya dibiarkan terbuka begitu saja. Kulit mulus dan putih untuk ukuran seorang pria, bahkan otot kekar dan roti sobeknya terexfose sangat jelas.


Aqila melotot dan dengan cepat melempar bantal sofa tepat ke wajah Raffa.


"Aduh, kenapa kamu lempar bantal ke wajah aku?" seru Raffa.


"Dasar tidak tahu malu, keluar dengan penampilan seperti itu, cepat buka pintunya aku mau pulang sekarang," ucap Aqila dengan nada tinggi dan memalingkan wajahnya.


"Kamu kenapa Aqila?" tanya Raffa dan menghampiri Aqila.


"Kamu yang kenapa? kenapa sikap kamu berubah seperti ini, jangan buat aku menjadi bingung, kamu bersikap baik dan ramah sama aku sementara kamu sendiri sudah bahagia dengan Clarissa bahkan Cyra adalah anak kalian kan? sekarang kamu mengajak aku ke kamar kamu, bagaimana kalau Clarissa tahu dan marah? aku tidak mau berurusan lagi dengan kalian, aku ingin hidup tenang tanpa dibayang-bayangi dengan kehidupan masa lalu," teriak Aqila histeris.


Tidak lama kemudian, Aqila memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.

__ADS_1


"Aw...."


"Aqila, kamu kenapa?" tanya Raffa dengan merangkul pundak Aqila.


"Sakit."


Aqila terus memegang kepalanya bahkan saat ini Aqila sudah menjambak rambutnya sendiri saking tidak kuat menahan sakitnya. Raffa mengangkat tubuh Aqila dan merebahkannya diatas ranjang.


"To--long, ambilkan obat di tas aku," seru Aqila lirih.


Raffa segera mencari obat di dalam tasnya Aqila, sedangkan Aqila tampak berguling-guling di atas ranjang Raffa. Raffa sangat panik melihat Aqila seperti itu, setelah menemukan obatnya, Raffa segera menghampiri Aqila dan memberikan obat itu, untungnya di kamar Raffa ada air minum.


Dengan cepat Aqila meminum obat itu, tidak membutuhkan waktu lama, lima menit kemudian Aqila mulai tenang dan matanya sudah mulai sayu, Raffa mengusap airmata dan keringat yang membasahi wajah Aqila. Tidak lama kemudian Aqila pun tertidur, Raffa dengan cepat memakai pakaiannya karena dari tadi dia hanya memakai handuk.


"Kamu kenapa Aqila? ada apa denganmu? kenapa kamu sampai kesakitan seperti itu?" gumam Raffa.


Raffa mengusap kepala Aqila dan mencium kening Aqila sangat lama. Raffa melihat obat yang diminum oleh Aqila.


"Obat apa ini?"


Dengan cepat Raffa menghubungi Dokter pribadinya dengan cara panggilan video call, Raffa memperlihatkan obat yang tadi di minum oleh Aqila.


"Ini obat apa?" tanya Raffa.


Dokter pribadi Raffa melihat dengan teliti obat yang diperlihatkan oleh Raffa.


"Itu obat penenang Tuan, biasanya orang yang meminum obat itu mengalami susah tidur dan banyak masalah sehingga orang itu mengkonsumsi obat penenang, apalagi obat itu dosisnya sangat tinggi kalau di minum terus-terusan bisa berbahaya," jelas Sang Dokter.


"Apa? terus bagaimana cara menghentikannya supaya tidak lagi mengkonsumsi obat ini?" tanya Raffa.


"Coba Tuan bawa orang itu ke rumah sakit tempat saya bekerja nanti biar saya beri solusinya."


"Bagaimana kalau orang itu tidak meminum obat ini?"


"Biasanya orang itu akan mengalami sakit kepala hebat dan tidak terkendali."


"Ok, baiklah terimakasih Dok."


Raffa sangat terkejut dengan penjelasan yang diberikan oleh Dokter, Raffa menghampiri kembali Aqila yang sudah tertidur lelap. Raffa duduk di samping Aqila, Raffa menyentuh pipi Aqila dan membelainya.


"Apa yang sebenarnya sudah terjadi denganmu selama ini Aqila? maaf kalau aku sudah menorehkan luka di hatimu," gumam Raffa.


Raffa menggenggam tangan Aqila dan menciumnya berulang-ulang, Raffa mengalami penyesalan yang teramat sangat. Dia sudah membuat Aqila menderita dan tersakiti.


Dengan cepat Raffa mengambil jaket dan kunci mobilnya. Raffa meninggalkan Aqila yang masih terlelap tidur.


"Raffa mau kemana kamu? terus Aqilanya mana?" tanya Eyang.


"Aqila lagi tidur Eyang, Raffa ada urusan sebentar kalau Aqila bangun cepat hubungi Raffa. Cyra Sayang, kamu jangan ganggu Bu guru cantik ya, Bu gurunya capek sedang tidur," seru Raffa.


"Baik Daddy."


"Eyang, Raffa pergi dulu ya."


Raffa segera meluncur ke sekolah tempat Fathir mengajar, Raffa ingin menanyakan sesuatu tentang Aqila. Sesampainya di Sekolah, kebetulan Fathir baru saja keluar dan hendak masuk kedalam mobilnya tapi Raffa mencengkram pundak Fathir.


"Kamu."


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Raffa dingin.


"Kamu mau bicara apa?"


"Tidak disini, kita bicara di caffe sebrang sekolah sana."


Raffa langsung melangkah meninggalkan Fathir, dengan terpaksa Fathir mengikutinya. Sesampainya di caffe, Raffa dan Fathir hanya memesan kopi.


"Apa yang mau kamu bicarakan denganku?" tanya Fathir datar.


"Soal Aqila, pasti kamu tahu semuanya. Kenapa Aqila bisa sakit kepala seperti itu dan mengkonsumsi obat penenang?" sahut Raffa.


"Apa? Aqila kambuh lagi? bagaimana sekarang dengan keadaan Aqila?" tanya Fathir dengan khawatir.


"Aqila ada di rumahku, dia baik-baik saja jadi kamu tidak perlu khawatir, sekarang jelaskan saja apa yang sudah terjadi selama ini? dan kalian pergi kemana sampai menghilang hampir lima tahun lamanya dan kenapa bisa kalian sampai pacaran sementara status Aqila masih istriku? apa kamu berusaha merebut Aqila dariku?" tanya Raffa dengan tidak sabaran.


"Sabar Bro, satu-satu kalau nanya."


"Jawab saja, aku tidak suka basa-basi," sahut Raffa dingin.


Fathir menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan.

__ADS_1


"Aqila merasa terpukul dengan kejadian yang menimpa dirinya, kamu beruntung Raffa, Aqila langsung mencintaimu walaupun kalian baru bertemu dan kamu sering menyakiti hatinya."


Raffa terkejut dengan awal cerita dari Fathir..


"Aku yang sejak dulu mencintai Aqila tidak pernah bisa memiliki hatinya, tapi kamu orang asing yang baru dia kenal sudah bisa mengambil hatinya, tapi sayangnya kamu malah menyakiti Aqila bertubi-tubi. Semenjak Aqila menikah denganmu, Aqila berubah menjadi wanita yang murung dan pendiam padahal dia adalah sosok wanita yang ceria dan bawel, Aqila selalu membuat suasana sekilah menjadi berwarna dengan celotehan-celotehannya tapi kamu merusak segalanya, kamu merenggut kebahagiaan Aqila," sentak Fathir.


Raffa hanya bisa menundukan kepalanya, dia sadar kalau selama ini dia memang salah dan sudah menyakiti Aqila.


"Disaat Aqila terpuruk dengan perlakuanmu, tiba-tiba kabar mengejutkan menghampiri Aqila yaitu Ibu dan keluarga satu-satunya harus pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya dan itu semua gara-gara kamu dan perempuan itu."


"Terus selama ini kalian pergi kemana? kenapa kalian sampai pergi berdua, jangan bilang kalian sudah melakukan hal yang macam-macam?" tuduh Raffa.


Mendengar Raffa menuduh dirinya dan Aqila yang tidak-tidak, Fathir berdiri dari duduknya dan tanpa basa-basi langsung melayangkan bogem mentahnya ke wajah Raffa sehingga Raffa tersungkur ke lantai.


"Jaga bicara kamu Tuan Raffael Abraham, kami bukan orang yang seperti kamu bayangkan, kami tidak seperti kamu dengan terang-terangan bermesraan dengan wanita lain sampai wanita itu mengandung anak kamu dan Aqila mengalami defresi parah," bentak Fathir.


Raffa terbelalak...


"Defresi, maksud kamu apa? jelaskan semuanya padaku," teriak Raffa dengan mencengkram kerah baju Fathir.


Untung caffe itu sepi, walauoun begitu para pelayan sampai terkejut dan memanggil sequrity.


"Maaf Tuan-tuan, kalau kalian mau membuat keributan lebih baik kalian pergi dari sini," seru sequrity.


"Maaf Pak, kami akan lebih tenang Bapak jangan khawatir," sahut Raffa.


Sequrity itu pun pergi, Raffa dan Fathir kembali duduk dengan tenang.


"Maaf, lanjutkan cerita kamu," seru Raffa.


"Kali ini kamu harus mendengarkan semua penjelasanku jangan memotong pembicaraanku."


"Baiklah."


"Lima tahun lalu, Pak Gustav menawarkan Aqila untuk mengikuti program pemerintah untuk mengabdikan diri mengajar di pelosok daerah, awalnya Aqila tidak mau ikut karena dia masih berharap kalau kamu akan berubah tapi setelah Aqila tahu kalau kamu ingin menikahi wanita lain bahkan wanita itu sedang mengandung anak kamu, Aqila berubah pikiran dia menyetujui tawaran Pak Gustav apalagi sejak Ibunya meninggal. Aku yang sangat khawatir dengan keadaan Aqila memutuskan untuk ikut dalam program itu, aku takut terjadi apa-apa dengan Aqila."


Fathir menyeruput kopinya sejenak...


"Dan kamu tahu Raffa, selama kita berada disana Aqila tidak henti-hentinya menangis, bahkan setiap malam Aqila terus saja menangis dan melamun bahkan disaat dia pingsan pun, hanya nama kamu yang dia sebut. Aqila sering mengalami sakit kepala, dan itu membuat dia merasa tersiksa. Aku tidak tahu seberapa sakitnya kepala Aqila yang jelas setiap sakit kepalanya kambuh, dia langsung pingsan."


Raffa tampak gelisah, dia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Suatu ketika, aku dan yang lainnya bawa Aqila ke sebuah klinik dan kata Dokter disana Aqila mengalami defresi dan tekanan batin yang selama ini dia pikirkan. Kamu tahu Raffa betapa menderitanya Aqila selama ini? dia harus meminum obat penenang dan obat tidur setiap hari saking dia defresinya tidak bisa tidur karena memikirkan masalahnya dan dia pendam sendiri."


Raffa semakin dirundung penyesalan yang mendalam.


"Selama disana, aku memang sempat beberapa kali menyatakan cintaku pada Aqila tapi Aqila selalu menolakku dengan alasan dia takut kamu belum menandatangani surat gugatan cerai itu. Tapi aku tidak patah semangat, hingga akhirnya setahun menuju kepulangan kita tanpa di duga-duga Aqila menerima cintaku. Kamu jangan salahkan Aqila karena dia pun tidak tahu kalau kamu belum menandatangani surat gugatan cerai itu, jujur aku sangat bahagia tapi kebahagiaanku ternyata hanya bertahan sebentar, setelah kami pulang kesini aku mendengar pembicaraan Aqila dengan Zahra dan Ranti kalau dia menerima cintaku hanya karena rasa kasihan semata, yang ada di hati dia hanyalah kamu, Raffa."


Fathir tiba-tiba berdiri dan membuat Raffa mendongakkan kepalanya.


"Aku rela dan ikhlas kalau Aqila bersamamu asalkan dia bahagia, aku titip Aqila jangan sampai kamu menyakitinya lagi jangan sampai wanita itu menyakiti Aqila karena bagaimana pun Aqila adalah istri sah kamu sementara wanita itu hanya istri siri kamu," seru Fathir dengan menepuk pundak Raffa dan hendak meninggalkan caffe itu.


"Semenjak kepergian Aqila, aku sudah menceraikan Clarissa dan ternyata anak yang di kandung Clarissa bukan anakku, aku hanya di jebak," sahut Raffa.


Seketika Fathir menghentikan langkahnya, dan berbalik kearah Raffa.


"Aku pastikan kamu bisa menjaga dan melindungi Aqila, bahagiakan Aqila kasihan dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, tapi ingat kalau sekali saja aku melihat Aqila menangis karenamu, aku tidak akan segan-segan merebut Aqila dan membawanya pergi jauh dari sisi kamu," seru Fathir.


"Aku tidak akan membiarkan kamu membawa Aqilaku pergi lagi," sahut Raffa dengan senyumannya.


Fathir pun mengacungkan jempolnya sembari tersenyum dan pergi meninggalkan caffe itu.


📚


📚


📚


📚


📚


Jangan lupa


like


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU😘😘😘


__ADS_2