GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Kepulangan Aqila


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Empat tahun kemudian.....


Waktu berjalan dengan sangat cepat, hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun sudah dilalui dengan penuh cerita.


Tibalah saatnya Aqila dan yang lainnya pulang, mereka sudah terlalu lama mengabdikan dirinya di suatu daerah yang terpencil namun memiliki keindahan yang sangat luar biasa. Saat ini Aqila dan yang lainnya sedang membereskan barang-barang bawaannya.


"Kak Qila, tidak terasa ya kita sudah empat tahun lebih hampir lima tahun tinggal disini dan sekarang kita harus pulang ke tempat kita masing-masing, Indah pasti akan sangat merindukan Kakak," seru Indah di tengah-tengah aktivitas mereka membereskan barang-barang.


"Iya, Kakak juga akan sangat merindukanmu Indah adik Kakak Qila yang paling penyayang dan perhatian," sahut Aqila.


Indah tak kuasa menahan airmatanya dan menghambur ke pelukkan Aqila.


"Indah sudah sayang sama Kak Qila, Indah sangat berterima kasih karena selama ini Kakak Qila sudah menjadi Kakak Indah yang selalu menasehati Indah dan menegur Indah ketika Indah salah."


"Sudah ah jangan nangis, Kakak jadi ikut nangis juga nih," sahut Aqila.


"Indah pasti akan merindukan masakan Kakak yang super lezat itu."


"Ah kamu bisa saja."


"Astaga, yang lain sudah menunggu diluar kalian masih asyik-asyikan berpelukkan," seru Fathir.


Aqila dan Indah tertawa cekikikan...


"Yuk, kita keluar," ajak Aqila.


"Sini, biar aku yang bawa koper kamu," seru Fathir.


"Mentang-mentang pacar sendiri, kopernya dibawain lah punya aku ga dibawain juga Kak," rengek Indah.


"Minta bawain sono sama Roni," sahut Fathir.


"Idih ogah, mending bawa sendiri," ucap Indah dengan memanyunkan bibirnya.


Aqila dan Fathir sudah resmi pacaran sejak satu tahun yang lalu, berkat kesabaran dan kegigihan Fathir akhirnya Aqila luluh juga dan menerima cintanya Fathir. Aqila sudah bertekad akan melupakan semuanya termasuk Raffa, dia ingin membahagiakan Fathir dan membalas semua perlakuan Fathir selama ini, walaupun belum ada cinta di hati Aqila untuk Fathir.


Fathir jelas sekali sangat bahagia akhirnya bisa memiliki Aqila walaupun belum sepenuhnya. Usia Aqila saat ini sudah menginjak 28 tahun dan Aqila tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat mempesona, bahkan makin dewasa kecantikan Aqila semakin terpancar.


Diluar semua masyarakat dan anak-anak sudah menunggu kehadiran Aqila, sosok wanita bersahaja yang baik hati dan disenangi oleh semua orang.


"Bu guru cantik jangan pergi," ucap Maruna dengan menghambur ke pelukkan Aqila dan disusul dengan anak-anak yang lain yang ikut memeluk Aqila juga.


"Maafkan Bu guru Sayang, Bu guru harus pulang."


"Tidak bisakah Bu guru cantik tinggal disini?" tanya seorang anak laki-laki bernama Filindo itu.


"Ibu guru juga harus kembali ke sekolah tepat ibu guru mengajar, mereka juga membutuhkan ibu nanti setelah ibu guru pulang, akan ada guru-guru lain yang datang untuk menggantikan ibu," sahut Aqila dengan meneteskan airmatanya.


Tidak bisa dipungkiri kalau Aqila sudah sangat sayang kepada anak-anak didiknya disana, tapi apa boleh buat hidup harus terus berjalan dan Aqila harus segera pulang ke rumahnya. Entah bagaimana bentuk rumahnya sekarang sudah bertahun-tahun di tinggalkan.


"Ibu guru cantik harus janji ya, kalau Ibu guru akan kembali lagi kesini untuk menemui kami," seru anak yang lainnya.


"Iya, insyaalloh kalau Tuhan berkendak kita bisa bertemu lagi makan kita akan bertemu."


Semua anak-anak disana pun memeluk Aqila dengan tangisannya, Aqila sudah tidak bisa membendung airmatanya begitupun dengan rekan-rekan yang lainnya ikut menitikan airmata.


Kendaraan yang akan membawa mereka ke Bandara sudah datang, Aqila dan yang lainnya masuki mobil itu dan mereka tampak melambaikan tangan mereka. Disaat mobil itu melaju, semua anak-anak tampak mengejar mobil yang ditumpangi Aqila, hati Aqila terasa sangat sakit melihat anak-anak itu. Fathir membawa Aqila kedalam dekapannya.


Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya mereka pun sampai di Bandara Soeta, disana mereka kembali mengharu biru karena mereka harus berpisah pulang ke daerah masing-masing.


"Kak, kalau ada waktu main ya ke Jogja, nanti Indah ajak Kakak jalan-jalan," seru Indah dengan deraian airmata.


"Iya, nanti kalau ada kesempatan Kakak akan main ke rumah kamu, kalau begitu Kakak duluan ya kalian hati-hati semoga selamat sampai tujuan," seru Aqila.


Semuanya pun saling berpelukkan dan berpisah, Fathir menggenggam tangan Aqila kala dia keluar dari Bandara dan dengan cepat mencari taxi untuk pulang. Aqila dan Fathir menggunakan satu taxi dan saat ini Fathir mengantarkan Aqila terlebih dahulu.


"Kamu capek sayang?" tanya Fathir.


"Iya, sangat capek dan lelah."


Fathir pun menarik kepala Aqila supaya tidur di pundaknya.


"Tidurlah, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan."


Aqila menuruti perintah Fathir dan lagipula Aqila memang sudah sangat lelah. Pundak Fathir sangat nyaman menurut Aqila sehingga tidak membutuhkan waktu lama, Aqila pun sudah tertidur.


Tidak lama kemudian taxi yang mereka tumpangipun sampai di depan rumah Aqila, Fathir menepuk pelan pipi Aqila.


"Qila, bangun sudah sampai."


Aqila mengucek matanya...


"Ah sudah sampai ya."


Aqila pun turun dari dalam mobil dan disusul Fathir yang membantu menurunkan koper milik Aqila. Rumah Aqila sangat terawat karena Aqila menyuruh tetangganya untuk selalu membersihkan rumah Aqila dan Aqila selalu mengirimkan uang setiap bulannya untuk menggaji orang itu.


"Ya sudah, aku masuk dulu ya," seru Aqila.


"Tunggu," Fathir menahan tangan Aqila.


"Ada apa?" tanya Aqila.

__ADS_1


Fathir langsung memeluk Aqila dengan sangat erat seolah dia takut kehilangan Aqila.


"Kamu harus berjanji jangan pernah tinggalkan aku," ucap Fathir lirih.


Aqila sejenak terdiam tapi detik selanjutnya Aqila pun tersenyum dan membalas pelukkan Fathir.


"Iya, aku janji tidak akan meninggalkan kamu."


Fathir pun melepaskan pelukkannya dan memcium kening Aqila.


"Masuklah dan tidur, mata kamu sudah susah membuka lagi tuh," ledek Fathir.


"Iya aku ngantuk banget, ya sudah aku masuk dulu ya kamu hati-hati di jalan kalau sudah sampai rumah kabari aku," sahut Aqila.


Fathir pun melangkah memasuki taxi itu dan melambaikan tangannya kearah Aqila, begitu pun Aqila setelah dirasa taxi yang ditumpangi Fathir menghilang, Aqila pun masuk kedalam rumah. Selama dalam perjalanan Fathir tampak melamun, dia takut Aqila akan kembali kepada Raffa.


"Semoga kamu tidak bertemu lagi dengan Raffa, aku takut kamu tidak bisa melupakan Raffa, aku sangat mencintai kamu Qila dan aku tidak tahu apa jadinya kalau kamu pergi ninggalin aku," batin Fathir.


Sementara itu di rumah Aqila, untung dia menyimpan kunci cadangan sehingga dia bisa masuk ke dalam rumah. Disaat masuk, Aqila memperhatikan setiap sudut rumahnya yang sama sekali tidak berubah.


Aqila mengusap foto dirinya bersama Ayah dan Ibunya, kemudian Aqila menghela nafas berat. Sungguh Aqila tidak menyangka kalau hidupnya akan semenyedihkan seperti ini. Aqila perlahan melangkahkan kakinya menuju kamarnya, tubuhnya begitu sangat lelah dan matanya pun sudah tidak bisa kompromi lagi.


Aqila menjatuhkan tubuhnya diatas kasur yang sangat dia rindukan, tanpa mengganti pakaiannya Aqila langsung terlelap menuju alam mimpinya.


***


Sementara itu di rumah Raffa, saat ini Raffa sedang berada di dalam ruangan kerjanya menyelesaikan pekerjaannya yang sedikit terbengkalai.


Ceklek....


Pintu ruangan kerja Raffa terbuka, kepala mungil nan menggemaskan itu muncul setengah badan, Raffa sudah tahu siapa itu namun Raffa pura-pura tidak tahu.


"Daddy...Daddy," panggil anak perempuan yang cantik itu.


"Hmmm..."


Anak perempuan cantik itu pun menghampiri Raffa dengan menundukkan kepalanya. Raffa merasa kasihan juga dan menghentikan pekerjaannya.


"Ada apa? kenapa kamu menundukkan kepala seperti itu?" tanya Raffa.


Cyra tiba-tiba terisak dan menangis, Raffa yang bingung langsung mengangkat tubuh Cyra dan mendudukan Cyra di pangkuannya.


"Ada apa kok malah nangis? coba bilang sama Daddy," seru Raffa.


"Barbie Cyra kepalanya patah Daddy tadi di pinjam sama teman Cyra."


"Terus masalahnya apa?"


"Itu Barbie kesayangan Cyra."


"Ya terus, kan kamu bisa tinggal beli lagi Barbienya."


"Cyra pengen beli Barbienya bersama Daddy."


"Daddy jahat, Daddy tidak sayang sama Cyra, Daddy tidak pernah mau menemani Cyra main."


Cyra turun dari pangkuan Raffa dan berlari meninggalkan ruangan kerja Raffa dengan tangisannya, Raffa mengusap wajahnya kasar.


Awal-awal Cyra ada di rumah itu, Raffa tidak pernah memperdulikan Cyra tapi disaat usia Cyra menginjak dua tahun dan sudah mulai pandai berbicara menirukan bahasa orang dewasa, perlahan timbulah rasa sayang Raffa kepada anak perempuan cantik itu.


Malahan kehadiran Cyra di rumah itu mampu mencairkan hati Raffa yang membeku tak jarang Raffa pulang cepat hanya untuk bermain dengan Cyra.


Raffa tampak menghela nafasnya, kemudian Raffa beranjak dari duduknya dan hendak menyusul Cyra.


"Raffa, Cyra kenapa nangis seperti itu?" tanya Eyang.


"Biasalah Eyang, Raffa ke kamarnya dulu."


Raffa pun perlahan membuka pintu kamar Cyra, dilihatnya Cyra sedang menangis diatas ranjangnya dengan posisi tengkurap dan membenamkan wajahnya keatas bantal. Raffa duduk di samping Cyra dan mengusap kepala anak cantik itu.


"Cyra Sayang, jangan nangis lagi dong katanya ingin beli barbie, ok Daddy akan temani Cyra beli barbie baru," bujuk Raffa.


Cyra langsung menghentikan tangisannya dan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Benarkah Daddy mau menemani Cyra beli barbie?" tanya Cyra dengan semangatnya.


"Iya, tapi besok ya sekarang kan sudah malam dan besok adalah hari minggu, Daddy akan temani Cyra kemana pun Cyra mau."


"Asyik..tapi Daddy tidak bohong kan?"


"Tidak, Daddy Janji."


"Terima kasih Daddy, Cyra sayang banget sama Daddy," ucap Cyra memeluk dan mencium pipi Raffa.


"Daddy juga sayang sama Cyra, ya sudah sekarang Cyra bobo ya jangan sampai besok kesiangan bangun karena besok kita akan jalan-jalan."


"Iya Daddy."


Cyra pun merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya, Raffa menyelimuti tubuh Cyra dan terakhir mencium kening Cyra kemudian Raffa pun keluar dari kamar Cyra.


"Cyra sudah tidur?" tanya Eyang.


"Sudah Eyang."


Raffa duduk di samping Eyang...


"Kenapa tadi Cyra sampai menangis?"


"Katanya barbie dia rusak, dan mengajak Raffa untuk membeli barbie itu."


"Terus mau kamu temenin?"

__ADS_1


"Iya besok Raffa akan mengajak Cyra jalan-jalan, mumpung besok hari minggu."


"Nah gitu dong, sekali-kali kamu jalan-jalan jangan kerja terus."


"Ya sudah, Raffa ke kamar dulu Eyang."


Raffa pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


***


Keesokan harinya....


Aqila tampak merentangkan kedua tangannya, saat ini tubuhnya terasa sangat segar kembali, Aqila segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tetangga Aqila yang tidak tahu kepulangan Aqila, langsung masuk menggunakan kunci yang diberikan Aqila sebelumnya, berbarengan dengan Aqila yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Astagfirullah, Neng Aqila maaf Neng, saya kira Neng Aqila belum pulang makannya saya masuk saja dengan menggunakan kunci yang Neng kasih waktu itu," seru Bu Dini.


"Iya tidak apa-apa Bu, terima kasih ya Bu selama ini sudah menjaga dan membersihkan rumah saya, Bu Dini tunggu sebetar."


Aqila segera berlari ke kamarnya dan membawakan sebuah amplop.


"Ini buat Ibu."


"Lah, jangan Neng kan baru kemarin Neng Aqila mengirim uang untuk Ibu."


"Sudah terima saja, tidak baik menolak rezeki ini itung-itung bonus buat Ibu karena sudah menjaga rumah saya dengan baik," seru Aqila.


"Alhamdulillah, terima kasih Neng semoga rezeki Neng makin lancar lagi dan selalu diberikan kebahagiaan."


"Amin."


"Kalau begitu Ibu pamit dulu, ini kunci rumahnya kalau Neng Aqila membutuhkan bantuan, hubungi Ibu saja."


"Iya Bu, terima kasih."


Perut Aqila mulai keroncongan, Aqila bingung harus makan apa sementara bahan makanan pun tidak ada.


"Ah sepertinya aku harus belanja nih, sarapannya di jalan saja," gumam Aqila.


Aqila pun dengan cepat memesan taxi online, Aqila akan pergi ke sebuah tempat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan dapurnya. Setelah siap Aqila pun segera pergi, kebetulan taxi online pun sudah menunggu Aqila di depan rumah.


***


Sementara itu di kediaman Raffa, Cyra sudah siap dan cantik sedangkan Raffa masih tidur pulas.


"Daddy ayo cepetan bangun, katanya mau anter Cyra beli barbie," rengek Cyra dengan mengguncangkan tubuh Raffa.


"Ini masih pagi sayang, Daddy masih ngantuk," sahut Raffa dengan suaranya yang serak khas bangun tidur.


"Ayo dong Daddy, nanti barbienya kehabisan kalau terlalu siang," rengek Cyra.


Dengan mata yang masih terpejam, Raffa kemudian duduk diatas kasurnya. Cyra terus saja merengek kepada Raffa.


"Ok, Daddy mandi dulu kamu tunggu di bawah ya."


"Iya, tapi Daddy cepetan ya jangan lama-lama."


"Siap Boss."


Cyra pun meninggalkan kamar Raffa....


Setengah jam kemudian, Raffa turun dengan menggunakan pakaian casual celana kain warna kream dipadukan dengan kaos berkerah warna hitam membuat Raffa semakin tampan.


"Wah Daddy tampan sekali," puji Cyra.


"Iya dong, Daddynya siapa dulu?"


"Daddynya Cyra."


Eyang ikut tersenyum melihat keakraban Raffa dan Cyra.


"Kamu mau sarapan dulu Raffa?" tanya Eyang.


"Tidak Eyang, nantilah di jalan saja, yuk Sayang kita berangkat," ajak Raffa.


Cyra langsung menggenggam tangan Raffa..


"Dadah Eyang, Cyra pergi dulu ya."


"Iya, hati-hati sayang selamat bersenang-senang."


Raffa dan Cyra pun pergi, Raffa kali ini menyetir mobilnya sendiri menuju sebuah tempat perbelanjaan.


📚


📚


📚


📚


📚


Jangan lupa


like


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU😘😘😘


__ADS_2