GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Positif


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Aqila membawa Cyra ke dalam kamar Cyra dan diikuti oleh Raffa. Aqila mendudukkan Cyra di pangkuannya.


"Cyra dengarkan Mommy, apa Cyra sayang sama Mommy?" tanya Cyra.


Cyra menganggukkan kepalanya...


"Wanita yang tadi namanya Clarissa dia adalah Mama kandung kamu dan dia adalah wanita yang sudah melahirkan kamu ke dunia ini dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri, apa Cyra tidak merasa kasihan kepada Mama kandung Cyra?" tanya Aqila.


"Tapi kenapa Mama kandung Cyra membuang Cyra?"


"Cyra Sayang, Mama Clarissa bukannya membuang kamu tapi Mama Clarissa ingin kamu hidup bahagia. Disaat Mama kamu melahirkan Cyra, hidupnya sangat susah jadi Mama Clarissa takut kalau Cyra tidak bisa hidup layak, makannya Mama Clarissa memberikan kamu kepada Eyang dan Daddy supaya mereka bisa mengurus kamu dengan baik," seru Aqila lembut dengan membelai rambut Cyra.


Cyra menundukkan kepalanya dan meneteskan airmata, sedangkan Raffa saat ini hanya memperhatikan mereka di depan pintu bahkan Eyang pun sudah pulang dan ikut memperhatikan di balik pintu kamar Cyra.


"Jangan menangis, Cyra tahu tidak kalau surga itu ada di telapak kaki Ibu? maksudnya bukan berarti surganya ada di bawah kaki Ibu, tapi seorang Ibu itu yang akan menuntun anak-anaknya kelak dalam mengarungi kehidupan ini, ridho Alloh tergantung dari ridho Ibu Bapak kita jadi Cyra tidak boleh membenci Mama Clarissa bahkan mempunyai dendam kepada Mama Clarissa karena bagaimana pun Mama Clarissa tetaplah Mama kamu, Mama Clarissa memang melakukan kesalahan besar di masalalunya karena sudah menelantarkan kamu tapi percayalah sama Mommy, Mama Clarissa melakukan semua ini karena dia ingin melihat kamu bahagia," jelas Aqila dengan menghapus airmata Cyra.


"Tapi Cyra tidak mau jauh-jauh dari Mommy, Eyang, dan Daddy, kalau Cyra pergi dari sini Cyra takut tidak bisa bertemu lagi dengan kalian," sahut Cyra.


"Hai, Cyra bisa datang kesini kapanpun yang Cyra mau, karena rumah ini akan selalu terbuka untuk Cyra bahkan walaupun Cyra tidak tinggal lagi bersama kami, Cyra akan tetap menjadi anak pertama Mommy dan Daddy, iya kan Daddy?" seru Aqila dengan melihat kearah Raffa.


Raffa tersenyum dan menghampiri Aqila dan Cyra.


"Iya Sayang, Mommy dan Daddy akan tetap menjadi orang tua kedua kamu dan akan tetap menyayangi kamu," sahut Raffa.


Cyra pun turun dari pangkuan Aqila dan beralih memeluk Raffa.


"Cyra sangat menyayangi Daddy dan Mommy," ucap Cyra dengan mencium pipi Raffa dan Aqila bergantian.


"Cyra tidak mau memeluk Eyang," celetuk Eyang di balik pintu.


Cyra langsung berlari dan memeluk Eyang...


"Tentu saja Cyra juga sangat menyayangi Eyang."


"Nah, jadi sekarang Cyra mau kan bertemu dengan Mama Clarissa?" tanya Aqila.


"Iya Mommy."


"Anak pintar, ya sudah sekarang Cyra mandi dulu ya sudah sore."


"Siap Mommy."


Raffa, Aqila, dan Eyang pun keluar dari kamar Cyra.


"Eyang istirahat dulu ya," seru Eyang.


"Iya Eyang."


Aqila pun langsung menuju kamarnya dan diikuti oleh Raffa. Aqila membuka jubahnya karena ingin membersihkan tubuhnya tapi Raffa langsung menarik tubuh Aqila.


"Mas----"


Ucapan Aqila terpotong karena Raffa sudah membungkamnya dengan bibirnya sendiri, Raffa begitu rakus kali ini mungkin Raffa ingin balas dendam karena tadi Aqila mengacuhkannya sehingga dia harus bersoli karir di dalam kamar mandi.


"Astaga Mas, aku bisa mati kehabisan nafas," kesal Aqila dengan mendorong tubuh Raffa.


"Sayang, besok aku harus pergi ke luar kota dan mulai sibuk juga, pastinya aku akan puasa karena bakalan jarang bertemu dengan kamu, masa kamu tidak kasihan sama suamimu ini, Sayang," rengek Raffa.


Aqila yang melihat raut wajah Raffa seperti itu, merasa kasihan juga, akhirnya Aqila mendekati Raffa dan langsung m*****t bibir Raffa dengan lembut membuat Raffa kembali bersemangat.


***


Keesokkan harinya...


"Mas, ayo bangun katanya harus berangkat pagi-pagi," seru Aqila dengan mengguncangkan tubuh Raffa.


"Hmmm.."


"Cepetan bangun, aku sudah menyiapkan air untuk mandi."


Raffa pun mulai mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan mata yang masih terpejam.


"Mas, mau bawa baju berapa stel? terus mau baju apa saja? biar aku yang siapkan semuanya."


"Jangan banyak-banyak Sayang, yang jelas baju formal saja."


"Baiklah."


Raffa pun beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, sedangkan Aqila menyiapkan apa saja yang akan di bawa oleh Raffa. Setelah selesai, Aqila menyiapkan baju yang akan dipakai oleh Raffa.


Raffa keluar dari kamar mandi dan Aqila dengan sigap seperti biasa memakaikan kemeja dan mengancingkannya, Raffa hanya diam saja sembari memperhatikan wajah cantik istrinya.


"Kok wajahnya cemberut seperti itu sih?" tanya Raffa.


"Mas, berapa lama pergi?"


"Empat hari, kenapa?"

__ADS_1


"Lama banget Mas, memangnya tidak bisa ya kalau satu hari saja dan langsung pulang?" sahut Aqila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tidak bisa Sayang, soalnya banyak yang harus aku selesaikan dan pekerjaan aku lumayan banyak."


Tiba-tiba cairan bening itu lolos juga dari mata Aqila, Raffa bingung kenapa akhir-akhir ini Aqila sangat sensitif dan moodnya berubah-ubah. Raffa menarik tubuh Aqila ke dalam dekapannya.


"Jangan nangis dong, kalau kamu nangis aku jadi tidak tega buat ninggalin kamu. Aku janji, akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan aku supaya aku bisa kembali cepat."


"Janji ya."


"Iya Sayang, ya sudah kalau begitu ayo kita turun ke bawah ini sudah siang dan aku harus segera berangkat."


Tangan Raffa menggeret koper kecilnya dan tangan yang satunya lagi menggandeng tangan Aqila.


"Eyang, Raffa titip Aqila kalau ada apa-apa langsung hubungi Raffa."


"Iya, kamu tenang saja, Aqila akan aman bersama Eyang."


"Cyra juga akan jagain Mommy, Daddy."


"Anak pintar, temani Mommy tidur ya selama Daddy tidak ada."


"Siap Daddy."


"Kalau begitu Daddy pergi dulu. Eyang, Raffa pergi dulu."


Raffa pun melangkahkan kakinya menuju luar dan diikuti Aqila yang masih saja cemberut.


"Sayang, aku berangkat dulu ya jaga diri kamu baik-baik kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya," ucap Raffa dengan nencium kening Aqila.


Lagi-lagi Aqila meneteskan airmatanya dan langsung memeluk Raffa dengan sangat erat sehingga membuat Raffa bingung dengan perubahan sikap Aqila padahal biasanya Aqila tidak melow seperti ini.


"Sudah jangan nangis, apa perlu aku membatalkan semuanya dan menyerahkan pekerjaan ini kepada Rey?" tanya Raffa.


Aqila melepaskan pelukkannya dan langsumg menghapus airmatanya.


"Jangan, kasihan Mas Rey. Mas berangkat saja tapi jangan lupa selalu kabari aku ya, awas kalau tidak," ancam Aqila.


"Kalau itu sudah pasti Sayang, ya sudah aku berangkat dulu ya."


Raffa mencium seluruh wajah Aqila sebelum dia berangkat. Berbeda dengan Aqila yang menatap kepergian Raffa dengan tatapan sendunya.


Aqila masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai dan tidak bersemangat.


"Qila, ayo kita sarapan dulu," ajak Eyang.


"Tidak Eyang, Qila tidak semangat untuk sarapan. Bi, tolong buatkan teh manis saja," seru Aqila.


"Baik Nyonya."


Aqila naik menuju kamarnya dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan kaki selonjoran, Aqila tampak memijat keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut.


"Iya Bi, memang sudah beberapa hari ini aku merasa tidak enak badan, bahkan kepalaku agak sedikit pusing."


"Ini minum dulu teh manisnya, biar Bibi pijat kepala Nyonya."


Dengan sigap Bi Ria memijat kepala Aqila dengan lembut dan Aqila tampak memejamkan matanya merasa sangat nyaman.


"Bagaimana kalau Nyonya ke rumah sakit saja atau Bibi panggilkan Dokter keluarga?"


"Tidak usah Bi, palingan sebentar lagi juga baikan mungkin aku masuk angin."


Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Eyang dan Cyra datang menghampiri.


"Mommy kenapa? sakit?"


"Tidak Sayang, hanya sedikit sakit kepala."


"Biar Eyang panggilkan Dokter keluarga kesini."


"Tidak usah Eyang, di tidurkan sebentar juga pasti hilang, mungkin Qila hanya masuk angin."


"Ya sudah, kamu istirahat saja biar Eyang yang mengantarkan Cyra ke sekolah."


"Maaf ya Eyang, Qila jadi tidak bisa mengantarkan Cyra ke sekolah."


"Tidak apa-apa, kamu istirahat saja ya."


"Mommy, Cyra berangkat sekolah dulu, Mommy harus sembuh jangan sakit ya," ucap Cyra dengan mencium pipi Aqila.


"Iya Sayang."


Eyang dan Cyra pun pergi meninggalkan kamar Aqila, begitu pun dengan Bi Ria. Aqila langsung memejamkan matanya, sungguh kepalanya berdenyut dan tubuhnya serasa lemas sekali.


***


Waktu berjalan dengan cepat, Aqila merentangkan tangan dan bangun dari tidurnya.


"Ya ampun, kenapa kepalaku semakin sakit ya," gumam Aqila dengan memegang kepalanya.


Aqila susah payah bangun dari tidurnya, dengan sempoyongan Aqila berjalan menuju kamar mandi tapi belum sampai pintu kamar mandi pandangan Aqila gelap.


Brrruuuuugggghhhh....


Aqila jatuh tak sadarkan diri...


Tok..tok..tok..

__ADS_1


"Nyonya, ini Bibi bawakan bubur," teriak Bi Ria.


Tapi tidak sahutan dari dalam kamar Aqila, Bi Ria pun membuka pintu kamar Aqila dan terlihat Aqila tidak ada di tempat tidurnya.


"Nyonya kemana?"


Bi Ria pun masuk dan menyimpan buburnya di atas nakas yang ada di samping tempat tidur. Disaat Bi Ria ingin keluar dari kamar itu, Bi Ria tidak sengaja menoleh kearah kamar mandi dan betapa terkejutnya Bi Ria saat melihat Aqila pingsan di depan pintu kamar mandi.


"Astagfirullah Nyonya."


Bi Ria segera memanggil orang untuk membantu mengangkat tubuh Aqila.


"Pak Burhan, Pak Rusli tolong," teriak Bi Ria dengan berlari keluar.


"Ada apa Bi?" tanya Eyang.


"Nyonya Aqila pingsan, Eyang."


"Apa?"


Semua orang tampak panik dan segera berlari menuju kamar Aqila, sedangkan Eyang tampak menghubungi Dokter keluarga untuk segera datang ke rumah. Cyra sudah duduk di samping Aqila dengan menangis tersedu-sedu.


"Mommy kenapa, Eyang?"


"Mommy kamu tidak kenapa-napa jadi kamu jangan nangis lagi ya."


Tidak lama kemudian, Dr.Hasan pun tiba dan segera memeriksa keadaan Aqila. Semua orang masih berada di dalam Aqila karena merasa khawatir dengan keadaan Aqila.


"Bagaimana keadaan Aqila? apa yang sudah terjadi?" tanya Eyang khawatir.


"Aqila tidak apa-apa, Eyang," sahut Dr.Hasan dengan senyumannya.


Semua orang tampak mengerutkan keningnya termasuk Aqila yang saat ini sudah sadar dan menggenggam tangan Cyra.


"Maksud Dokter apa? kalau tidak apa-apa kenapa kepala saya terasa sangat sakit?" tanya Aqila lirih.


"Itu sudah biasa untuk wanita hamil."


"Apa?" sahut semuanya serempak.


"Iya, Aqila saat ini sedang hamil dan untuk lebih jelasnya lagi saya harap Aqila menemui Dr.Kandungan saja nanti saya konfirmasi ke Dr.Rita," seru Dr.Hasan.


"Alhamdulillah."


"Kalau begitu saya pamit dulu, jangan lupa temui Dr.Rita."


"Mari Dokter biar saya antar," seru Pak Burhan.


Dr.Hasan pun keluar di temani Pak Burhan dan Pak Rusli.


"Qila hamil, Eyang," ucap Aqila meneteskan airmata dengan mengelus perutnya.


"Iya Sayang, selamat ya jaga baik-baik kandunganmu."


"Berarti Cyra akan punya adik dong, Mommy."


"Iya Sayang."


"Yeayyyyy....Cyra akan punya adik."


Cyra melompat-lompat di tempat tidur Aqila membuat Aqila dan Eyang tertawa.


"Non Cyra, kita main yuk jangan dulu ganggu Mommy soalnya Mommy Cyra harus istirahat biar dedek bayinya sehat," seru Bi Ria.


"Iya Bi."


Cyra pun segera turun dari ranjang Aqila dan berlari keluar.


"Sayang, apa perlu Eyang beri tahu Raffa?"


"Jangan Eyang, biar nanti Aqila yang bilang kasihan Mas Raffa mungkin saja masih di jalan belum sampai, nanti biar jadi kejutan saja pas Mas Raffa pulang."


"Ya sudah kalau begitu, Eyang keluar dulu kamu istirahat saja ya, kalau kamu butuh sesuatu kamu telpon saja jangan sampai kamu keluar dari kamar dulu."


"Iya Eyang."


Eyang pun mencium kening Aqila sebelum pergi meninggalkan Aqila. Aqila melihat perutnya yang masih rata dan mengelusnya dengan sangat lembut.


"Sehat-sehat ya Nak di dalam perut Mommy," gumam Aqila dengan senyumannya.


📚


📚


📚


📚


📚


Jangan lupa


like


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2