GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Perlakuan Manis


__ADS_3

πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Aqila merentangkan kedua tangannya saat cahaya matahari masuk dan menyilaukan pandangannya. Aqila menyipitkan matanya dan meraba tempat di sampingnya mencari seseorang.


"Mas Raffa kok tidak ada, apa dia sudah berangkat ke Kantor ya," gumam Aqila.


Aqila pun mendudukkan tubuhnya yang terasa sangat lemas dan tak bersemangat. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, menampilkan sosok pria tampan yang Aqila cari.


"Morning, Baby."


"Loh Mas, kirain aku Mas sudah pergi ke kantor."


"Tidak, hari ini aku libur dulu mau menemani istriku saja di rumah. Oh iya, ini aku buatkan susu hamil buat istriku, ini asli aku yang buat loh tidak dibantuin sama siapapun," celoteh Raffa.


Aqila tersenyum kala mendengarnya karena Aqila tahu kalau teh manis yang subuh bukan buatan Raffa melainkan buatan Bi Ria. Aqila tahu karena Raffa tidak mungkin melakukan hal yang sama sekali belum pernah Raffa lakukan.


Aqila meminumnya dengan sekali tegukkan, tidak ada rasa mual lagi dan Aqila merasa senang.


"Kamu mau sarapan di bawah atau aku suruh Bi Ria untuk membawakannya kesini?"


"Sarapan di bawah saja, tapi aku mau mandi dulu ya."


Aqila beranjak dari duduknya tapi Raffa menghentikkannya.


"Kok tidak ada ucapan terima kasihnya sih, padahal aku sudah susah-susah loh buatkan susu itu," keluh Raffa dengan wajah yang cemberut.


Aqila tersenyum geli melihat tingkah suaminya itu yang seperti anak-anak. Aqila pun mengalah dan menciumi seluruh wajah Raffa sehingga membuat Raffa tertawa senang. Aqila pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, tapi disaat sampai di depan pintu Aqila membalikkan tubuhnya.


"Mas..."


"Iya..."


"Mau ikutan mandi bareng?" tanya Aqila dengan centilnya.


"Mau banget."


Raffa langsung berlari menyusul Aqila ke dalam kamar mandi, dia begitu semangat padahal dia sudah mandi dan Aqila pun tadinya hanya menggoda saja tapi memang Raffa tidak bisa di goda.


Raffa dan Aqila turun ke bawah untuk sarapan..


"Selamat pagi Eyang."


"Selamat pagi Sayang."


"Loh, banyak banget menu sarapannya?" tanya Aqila.


"Tanya saja pada suamimu," sahut Eyang.


"Mas---"


"Sudah jangan banyak protes, pokoknya aku ingin kamu dan calon anak kita sehat dan tidak kekurangan satu apapun," sahut Raffa.


Aqila memakan satu suap tumis wortel dan brokoli, baru saja dia mengunyahnya tiba-tiba perut Aqila bergejolak mual. Aqila segera menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi.


Lagi-lagi Aqila memuntahkan makanannya, Aqila memang tidak ngidam ingin makan yang aneh-aneh justru saat kehamilan ini Aqila memakan segala makanan yang tersedia, malah sebaliknya Raffa yang saat ini banyak minta makanan yang aneh-aneh.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" Raffa sudah berada di belakang Aqila dengan memijit tengkuk leher Aqila.


"Aku tidak apa-apa Mas."


"Ya sudah yuk berdiri, lebih baik sekarang kita ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan kamu."


Aqila pun mengannggukkan kepalanya...


***


Sekarang Aqila dan Raffa sedang berada di rumah sakit tepatnya di dalam ruangan Dokter kandungan yang di rekomendasikan oleh Dr.Hasan.


"Silakan Tuan dan Nyonya Abraham masuk," seru Dr.Rita.


"Terima kasih Dokter."


"Bagaimana Nyonya Aqila apa ada keluhan?"


"Biasalah Dok, saya masih suka muntah-muntah setiap subuh."

__ADS_1


"Apa itu tidak apa-apa Dokter? soalnya setiap muntah istriku sampai lemas," tanya Raffa cemas.


"Tidak apa-apa Tuan, itu adalah hal yang wajar untuk Ibu hamil di trimester pertama dan biasanya kalau sudah menginjak trimester kedua itu akan hilang dengan sendirinya. Mari Nyonya Aqila tidur, saya akan memeriksa kandungannya."


Aqila pun naik ke atas ranjang pasien dengan di bantu oleh suster, sedangkan Raffa dengan setia berdiri di samping Aqila dengan menggenggam tangan Aqila.


Suster mengoleskan jel ke atas perut Aqila dan Dr.Rita mulai memainkan alat USG di atas perut Aqila.


"Wah, kandungan anda sangat sehat Nyonya. Lihatlah Tuan gumpalan kecil ini adalah calon anak kalian untuk saat ini masih sebesar biji jagung karena usia kandungan Nyonya Aqila baru menginjak usia empat minggu," jelas Dr.Rita.


Raffa memperhatikan gumpalan kecil itu, dia baru melihat bagaimana janin sekecil itu nanti akan tumbuh membesar hingga menjadi bayi di dalam perut istrinya dan itu merupakan hal yang sangat mengharukan bagi Raffa.


Tanpa Raffa sadari, ia pun meneteskan airmatanya hingga menetes ke tangan Aqila. Aqila yang melihat Raffa menangis, langsung menghapus dengan tangannya.


"Kok nangis?" tanya Aqila lembut.


"Aku sangat bahagia Sayang, terima kasih sudah memberikan hadiah terindah ini untukku," sahut Raffa dan mencium punggunh tangan Aqila.


Dr.Rita dan suster yang melihat itu menyunggingkan senyumannya.


"Sudah, Nyonya bisa kembali duduk."


Aqila dan Raffa pun kembali duduk di hadapan Dr.Rita.


"Saya akan memberikan vitamin dan pengurang rasa mual juga, bagaimana dengan pola makannya Nyonya?"


"Kalau saya masih normal Dok, tapi suami saya yang tidak normal, dia suka makan yang aneh-aneh padahal dia itu tidak pernah makan sama sekali awalnya, apa jangan-jangan malah suami saya yang ngidam, Dok?" tanya Aqila.


"Nah, sebagian kecil ada juga yang malah suaminya ngidam tapi itu tidak apa-apa cuma mungkin kalau bagi suami agak mengganggu soalnya mereka harus bekerja dan merasakn ngidam juga itu merupakan hal yang sangat merepotkan, bagaimana Tuan apa anda merasakan repot atau mual dan pusing?" tanya Dr.Rita dengan senyumannya yang ramah.


"Kalau mual dan pusing sih tidak Dok, cuma saya suka saja makan yang aneh-aneh, seperti makanan yang sangat saya hindari selama hidup justru malah saat ini saya ingin memakannya."


"Syukurlah berarti belum mengganggu kegiatan keseharian Tuan kan?"


"Tidak Dok."


"Apa ada yang masih mau di tanyakan?"


"Tidak Dok, sepertinya cukup," sahut Aqila.


"Ini resep yang harus Nyonya tebus, kalau begitu semoga Nyonya dan kandungan Nyonya sehat selalu, terima kasih sudah mempercayakan saya untuk menjadi Dr.kandungan Nyonya itu merupakan suatu kehormatan bagi saya," seru Dr.Rita.


"Iya sama-sama, kalau begitu kami pamit Dokter, terima kasih."


Aqila dan Raffa meninggalkan rumah sakit setelah sebelumnya menebus resep obat untuk Aqila. Raffa menepikan mobilnya di depan mini market.


Cepat-cepat Raffa turun dan masuk ke dalam mini market itu, setelah menunggu beberapa menit akhirnya Raffa keluar dengan dua kantong keresek penuh di tangan kanan dan kirinya.


"Mas beli apa?"


"Aku borong susu hamil untukmu."


"Banyak banget Mas."


"Tidak apa-apa buat stok saja, pokoknya kamu dan calon anak kita harus sehat kalau kamu butuh sesuatu dan ingin makan apapun tolong hubungi aku, karena aku ingin semua kebutuhan kamu dan calon anak kita, aku yang handle semua."


"Uh so sweet banget sih suamiku," sahut Aqila dengan mencubit gemas kedua pipi Raffa.


"Kok malah di cubit sih bukannya di cium," ketus Raffa dengan wajah yang cemberut.


Aqila yang tahu suaminya merajuk langsung menarik baju Raffa dan mencium bibir Raffa, kali ini Aqila yang sedikit agresif membuat Raffa tersenyum dalam diam merasakan ******* bibir Aqila yang lembut.


"Jangan ngambek lagi."


"Mau lagi dong."


Kali ini Aqila mencubit lengan Raffa sehingga Raffa meringis merasakan panas dan sakit menjadi satu di lengannya.


"Cepetan jalan kita pulang, aku capek ingin cepat rebahan."


"Tapi nanti di rumah aku mau lagi ya," goda Raffa.


"Iya."


"Asyiiikkkk....let's go Baby kita pulang."


Raffa pun dengan semangat empat lima melajukan mobilnya menuju rumah.


***


Di sekolah CITA-CITA BANGSA...


"Bu Zahra, apa kamu masih suka bertemu dengan Bu Aqila?" tanya Pak Beno.

__ADS_1


"Sudah jarang bertemu Pak, semenjak Aqila balikkan sama Raffa, aku dqn Ranti sulit banget ketemu di kurung terus sama Raffa," sahut Zahra.


"What? apa Bu Aqila di siksa lagi oleh Tuan Raffa?" tanya Bu Wati yang saat ini sudah bergabung dengan Zahra dan Beno.


"Iya di siksa enak Bu Wati," sahut Zahra dengan cekikikan.


"Maksudnya?" tanya Bu Wati dan Pak Beno bersamaan.


"Ya ampun, kalian itu sudah menikah dan berpengalaman masa tidak tahu di siksa enak sih, aku saja yang masih perawan ting-ting tahu," sahut Zahra dengan mengedipkan matanya.


Pletakkk


Bu Wati memukul kepala Zahra dengan buku tulis yang ada di atas meja itu.


"Dasar, anak zaman sekarang sudah ngerti dengan yang enak-enak," seru Bu Wati sembari melangkah dan duduk di mejanya kembali.


"Wah aku tidak bisa membayangkan pasti Bu Aqila kewalahan tuh menghadapi Tuan Raffa," seru Pak Beno.


"Pasti hot tuh, secara Tuan Raffa adalah pria idaman semua wanita," sambung Bu Wati.


"Hayo ngapain pagi-pagi sudah ngomongin suami orang," seru Ranti yang baru datang di susul belakang Ranti ada Fathir yang melangkah dengan santainya.


"Ini Ran, mereka sedang rindu pada Aqila terus aku bilang saja kalau saat ini Aqila lagi di kekepin terus oleh Raffa jadi tidak bisa kemana-mana," sahut Zahra.


"Huuh, aku juga rindu sama Aqila."


"Oh iya, dengar-dengar Aqila sudah berhenti total ya jadi guru?" tanya Fathir.


"Iya Fathir, sekarang Raffa sudah berubah total Raffa yang sekarang sangat mencintai Aqila bahkan kelihatan banget kalau Raffa tidak mau kehilangan Aqila lagi," sahut Zahra.


"Ngapain jadi guru lagi kalau sekarang sudah menjadi istri sultan, diam-diam bae di rumah saja tahu-tahu ATM sudah membludak," seru Pak Beno.


"Syukurlah kalau Qila sudah bahagia."


"Iya, dan sekarang giliran kamu yang harus move on cari wanita lagi, kan tidak lucu pria tampan, cool, dan keren kaya kamu jadi jones," ledek Ranti.


Semuanya pun tertawa bersama...


Tok..tok..tok..


"Permisi..."


Semua mata orang disana pun menoleh ke arah pintu..


"Maaf, mau tanya ruangannya Pak Gustav di sebelah mana ya?" tanya seorang wanita.


Seakan terhipnotis, semuanya memperhatikan penampilan wanita muda cantik itu dari atas ke bawah. Wanita dengan rambut sebahu dan memakai dress warna navi selutut itu serta di padu padankan dengan blazer warna senada.


"Maaf, anda siapa?" tanya Ranti.


"Ah iya, perkenalkan nama saya Angel saya guru Biologi yang baru, kemarin saya di suruh datang ke sekolah oleh Pak Gustav, saya bingung ruangannya di sebelah mana?" sahutnya dengan ramah.


"Biar saya yang antarkan Bu Angel ini, kebetulan saya akan menghadap Pak Gustav, mari Bu Angel," seru Pak Beno.


"Iya, semuanya saya permisi dulu."


Ranti, Zahra, dan Bu Wati saling pandang satu sama lain hingga akhirnya mereka bertiga beralih memandang Fathir dengan senyuman yang mengembang dibibir ketiganya.


"Ada apa kalian melihat aku seperti itu?" tanya Fathir heran.


Ketiganya kompak tidak menjawab hanya senyuman yang mereka lihatkan sepertinya mereka bertiga sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan Fathir merasa tidak peduli dan memilih keluar dari ruangan guru itu karena jam pertama sudah dimulai.


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


RAQILA LOVER mana suaranya...


Ayo dong dukungannya lebih kencang lagi supaya RAQILA bisa masuk RangkingπŸ™πŸ™


Jangan lupa


like


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2