
π
π
π
π
π
Malam ini, Raffa sedang mengotak-ngatik laptop dalam pangkuannya sembari selonjoran di atas tempat tidur. Matanya melirik ke arah sang istri yang tampak sibuk melihat-lihat badannya di depan cermin.
"Sayang, kamu lagi ngapain sih?" tanya Raffa.
"Sayang, kayanya aku sekarang gemukan ya," sahut Aqila yang terus memperhatikan tubuhnya.
"Gemuk bagaimana, kamu kurus seperti itu."
"Ya ampun, kamu tidak lihat Mas gelambir dan selulitku dimana-mana. Wajahku juga sudah tumbuh jerawat, mana ada flek juga lagi," keluh Aqila.
"Aku tidak mengerti yang begituan, asal kamu sama Edrik sehat aku sudah sangat bahagia, kamu mau segemuk apa pun dan wajah kamu mau jerawatan, terus tumbuh flek atau apalah itu tidak masalah buat aku," sahut Raffa.
"Tapi aku tidak percaya diri Mas, buat aku sebagai wanita kecantikan itu penting biar suami tidak jajan di luar, apalagi sekarang pelakor dimana-mana, sepertinya aku harus mulai melakukan perawatan supaya wajah dan tubuhku mulus lagi seperti dulu."
"Terserah, tapi kalau nanti jadinya kamu semakin cantik, aku akan buatkan menara kaya Rafunzel."
"Hah..buat apa?"
"Aku lockdown kamu disana, biar tidak usah kemana-mana, tidak usah ngapa-ngapain, soalnya aku tidak rela kalau nanti kamu dilihat sama laki-laki."
"Ngaco...tapi seriusan aku mau perawatan, soalnya wanita diluaran sana cantik-cantik, kadang-kadang aku tidak percaya diri kalau jalan bareng sama kamu Mas."
Raffa menutup laptopnya, berpindah duduk di sisi ranjang yang dekat dengan Aqila kemudian Raffa menarik tangan Aqila sehingga Aqila terduduk di pangkuannya.
"Sayang, dengerin aku mau ada ratu kecantikan sekalipun di depan aku menggunakan bikini, aku tidak peduli karena mata aku hanya bisa melihat kamu. Aku itu bangga loh sayang kalau ada yang nanya, siapa wanita di samping kamu? terus aku jawab, dia adalah ibu anak-anakku, gitu sayang."
Aqila terdiam dan meleleh dengan kata-kata Raffa, Aqila tahu kalau Raffa bukan pria romantis tapi kali ini Raffa berusaha bersikap romantis. Bukan dengan bunga, perhiasaan, ataupun barang-barang mewah, tapi dengan ucapannya barusan saja sudah membuat hati Aqila menghangat.
"Ya ampun, terima kasih so sweet banget sih kamu Mas."
Aqila langsung memeluk Raffa, Raffa tersenyum penuh kemenangan hingga dalam satu gerakkan cepat Raffa merebahkan tubuh Aqila dan mengungkungnya.
"Sebagai ucapan terima kasih, aku mau malam ini kita main tiga jam."
"No, kemarin malam kan sudah Mas."
"Itu kemarin, sekarang beda lagi."
Raffa langsung melancarkan serangannya, Raffa mulai menyerang leher Aqila.
"Tunggu sebentar Mas, aku belum suntik bulanan ini," seru Aqila cepat berharap Raffa memgerti dan membatalkan niatnya.
"Terus?"
"Kalau nanti jadi bagaimana?"
"Amin dong, biar Edrik punya adik."
Aqila melotot mendengar jawaban Raffa yang santai, Raffa segera memulai serangannya kali ini yang menjadi sasarannya adalah bibir Aqila, ******* Raffa sedikit liar dan rakus untuk membangkitkan gairah Aqila, tapi mendengar jawabam Raffa tadi sama sekali tidak membuat Aqila bergairah.
"Mas."
Aqila menjauhkan wajahnya karena sudah kehabisan nafas.
"Edrik masih kecil, dua tahun juga masih kurang," rengek Aqila.
Raffa seakan tuli tidak mendengarkan rengekkan Aqila, malah sekarang Raffa menelesuri leher, turun ke bahu, dada, dan sekitarnya. Rasanya tanggung kalau harus berhenti, bisa-bisa Raffa sakit kepala.
"Jadi?" tanya Raffa di sela kesibukannya membuka baju tidur Aqila.
"Edrik terlalu kecil kalau punya adik."
"Tidak apa-apa, kan rumah biar rame."
"Astaga Mas."
Aqila tidak bisa melawan lagi, dia akhirnya pasrah saja dengan apa yang dilakukan Raffa.
***
Satu bulan berlalu, Aqila dan Raffa menjalani hari-hari dengan penuh kebahagiaan. Raffa semakin hari semakin sibuk dengan perusahaannya, seperti biasa Raffa bolak-balik luar kota dan luar negeri sehinggaembuat intensitas pertemuannya dengan anak dan istrinya semakin berkurang.
Seperti biasa, pagi ini Aqila membantu memakaikan pakaian Raffa ke kantor tapi tidak seperti biasanya wajah Aqila terlihat di tekuk dan cemberut.
"Hai, kok cemberut sih biasanya juga selalu tersenyum."
"Kenapa sih, Mas harus kerja."
"Hah..."
Ucapan Aqila terasa ambigu di telinga Raffa..
"Kok kamu ngomongnya seperti itu? setiap hari kan Mas memang ke kantor, kalau Mas tidak ke kantor kalian mau makan apa?"
"Jangan lebay deh Mas, kamu tidak ke kantor setahun saja tidak akan membuat aku dan Edrik kelaparan," ketus Aqila.
"Ya terus kenapa pertanyaannya seperti itu? ya jelaslah Mas harus ke kantor sayang, kalau tidak ke kantor siapa yang akan mengurusnya? Edrik masih kecil, dan sekarang Rey juga belum bisa masuk kantor karena harus menemani Ranti yang baru saja melahirkan," sahut Raffa dengan menarik pinggang sang istri dan membawanya ke dalam pelukkannya.
Tiba-tiba isakkan kecil terdengar dari Aqila, sehingga membuat Raffa terkejut.
"Astaga Sayang, kamu kenapa nangis? apa barusan Mas salah bicara? maafkan Mas kalau Mas sudah salah bicara."
__ADS_1
Aqila menggelengkan kepalanya di dalam dekapan Raffa, Aqila masih saja membenamkan wajahnya di dada bidang milik Raffa.
"Jangan pulang larut malam, kalau bisa makan malam di rumah."
"Iya Sayang, Mas akan pulang cepat."
Aqila masih saja memeluk Raffa dan tidak ada niat untuk melepaskannya. Aqila juga tidak tahu kenapa dia menjadi cengeng dan tidak mau di tinggalkan oleh Raffa.
"Mas kapan berangkatnya kalau kamu pelukkin terus kaya gini, apa kamu mau Mas tidak ke kantor dan nemenin kamu di rumah? tapi sekarang Mas ada meeting penting di kantor."
Aqila melepaskan pelukkannya dan menghapus airmatanya.
"Jangan cemberut dong, sebenarnya kamu kenapa sih jadi melow kaya gini? biasanya juga kamu tidak pernah seperti ini."
"Aku juga tidak tahu Mas, yang jelas saat ini aku tidak mau jauh-jauh dari Mas," rengek Aqila.
"Ya sudah, sekarang Mas pergi dulu ke kantor, besok Mas janji akan menemani kamu seharian."
"Beneran ya jangan bohong."
"Iya sayangku, cintaku."
Raffa mencium sekilas bibir Aqila karena merasa gemas. Aqila merangkul lengan Raffa dan mengantarkan Raffa menuju teras, lagi-lagi ada drama disana, Aqila kembali menangis melepas kepergian Raffa seperti Raffa tidak akan kembali lagi ke rumah.
Setelah Raffa pergi, Aqila benar-benar tidak semangat dia hanya diam saja di kamar bahkan Edrik pun sedikit dia abaikan. Entah apa yang sudah terjadi pada diri Aqila, yang jelas Aqila merasa gampang lelah dan tidak bersemangat.
***
Keesokan harinya, seperti janjinya hari ini Raffa tidak berangkat ke kantor dia akan menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya.
Raffa saat ini sedang bermain bersama Edrik di ruangan tv, sedangkan Aqila melihat mereka dari sofa sembari memakan buah-buahan.
"Sayang, mainannya kita beresin yuk kasihan Mommy kalau harus membereskan mainan kamu yang berantakan ini," seru Raffa.
Dengan celotehannya, Edrik pun mulai mengikuti tingkah laku Raffa memasukkan mainannya ke dalam keranjang mainan. Edrik memang anak yang pintar dan cepat tanggap, kalau Aqila mencontohkan sekali, Edrik langsung bisa mengikutinya.
"Wooooowwww jagoan Daddy pintar sekali, karena kamu sudah bisa membereskan mainan kamu, Daddy akan memberimu hadiah, kamu ingin hadiah apa dari Daddy, boy?" tanya Raffa dengan mendudukkan Edrik di pangkuannya.
Edrik berceloteh tidak jelas membuat Aqila tersenyum melihat interaksi antara Daddy dan anaknya itu.
"Kamu mau adik tidak, boy?"
"Mas jangan mulai deh," sahut Aqila.
"Apa? tuh Sayang, Edrik beneran pengen adik katanya."
"Idih, itu mah maunya kamu saja Mas. Nanti sajalah kalau Edrik sudah sedikit agak besar, kalau sekarang masih terlalu kecil kalau Edrik punya adik."
"Tidak apa-apalah Sayang, biar Edrik ada temannya dan rumah ini juga biar rame, aku suka kalau banyak anak kecil. Biar kamu tidak capek, aku akan mempekerjakan Babysitter yang banyak kalau perlu."
"Ya sudah kalau begitu Mas saja yang hamil," ketus Aqila.
"Mommy kamu ngomongnya mulai ngawur boy, mendingan kita jalan-jalan saja yuk nanti Daddy ajarin kamu nyetir mobil," ajak Raffa dengan menggendong Edrik dan meninggalkan Aqila.
Raffa sudah mulai malas berdebat dengan Aqila, jadi dia lebih baik pergi menghindar daripada harus berdebat hal yang tidak penting.
***
Keesokkan harinya Raffa harus berangkat ke Malaysia, ada urusan bisnis disana dan kali ini Raffa berangkat bersama Rey. Lagi-lagi terjafi drama queen yang di tunjukkan Aqila, dari mulai menyiapkan pakaian Raffa sampai mengantar Raffa menuju teras, Aqila tidak henti-hentinya menangis.
"Sudah dong Sayang jangan nangis terus."
"Pokoknya kalau sudah selesai urusannya, kamu harus langsung pulang tidak boleh belok kemana-mana dulu."
"Astaga Sayang, kamu ngomong seperti itu sudah puluhan kali loh, aku janji aku akan langsung pulang, ok. Sekarang aku boleh pergi kan? ini sudah telat loh Sayang, tuh lihat si Rey sudah hubungin aku terus."
Aqila menganggukkan kepalanya lemah..
"Boy, Daddy pergi dulu ya jangan nakal jagain Mommy."
Raffa menghujani ciuman di wajah sang anak dan istrinya setelah itu Raffa cepat-cepat masuk ke dalam mobil sebelum Aqila lebih parah lagi.
***
Waktu pun berjalan dengan cepat, lima hari sudah Raffa pergi meninggalkan Aqila dan Edrik dan selama itu tidak ada semangat dalam diri Aqila. Bahkan nafsu makannya pun menurun, Aqila hanya ingin makan buah-buahan saja.
Malam ini Aqila sedang melakukan video call bersama Raffa. Mereka seperti pasangan Abg yang menjalani LDR.
"Sayang, kamu dan Edrik baik-baik saja kan?"
"Edrik baik, tapi aku kurang baik."
"Loh kenapa? kamu sakit?" tanya Raffa cemas.
"Iya..."
"Astaga, kamu sakit apa Sayang? apa sudah periksa ke Dokter? mau aku telpon Dokter pribadi kita untuk ke rumah?" cerocos Raffa dengan lebaynya.
"Tidak usah, karena Dokter tidak akan bisa mengobati penyakitku."
"Sayang, jangan buat aku takut memangnya kamu sakit apa? kenapa kamu selama ini tidak bilang sama aku kalau kamu lagi sakit," ucap Raffa yang kali ini benar-benar sangat khawatir.
"Iya, aku sakit karena merindukanmu Mas."
"Hah...."
Raffa benar-benar dibuat terkejut dengan ucapan istrinya itu.
"Ya ampun Sayang, aku sudah sangat khawatir kirain kamu sakit apa."
"Mas kapan pulang?"
__ADS_1
"Besok lusa kayanya."
"Lama banget," lirih Aqila.
Sejenak hening terasa, mereka sama-sama diam. Aqila tampak masih cemberut, sementara Raffa tampak memperhatikan sang istri dengan seksama.
"Sayang, kok kamu cantikkan ya sekarang kayanya perawatan kamu sukses."
"Masa sih? padahal semenjak kamu pergi, aku tidak perawatan lagi malas kalau harus skin-carean," sahut Aqila dengan meraba wajahnya.
"Bagus deh, jangan cantik-cantik kalau aku tidak ada di rumah. Ya sudah, kamu tidur jangan cemberut terus, besok lusa aku langsung pulang, kamu harus siap-siap karena aku akan membuat kamu bergadang sampai pagi," goda Raffa.
"Ckckck...malah itu saja yang ada di otak kamu, Mas."
Aqila langsung mematikan ponselnya, dia sangat malas kalau sudah membicarakan masalah begituan.
***
Saat ini Aqila sedang bermain dengan Edrik, hati Aqila sedang bahagia dia akhirnya tahu apa alasan dirinya menjadi wanita cengeng dan lebay akhir-akhir ini.
"Sayang, hari ini Daddy pulang kita sambut ya kepulangan Daddy," seru Aqila dengan antusiasnya.
Kebetulan hari ini bertepatan dengan ulang tahun Raffa. Tadi malam Aqila tidak mengucapkan ulang tahun kepada Raffa, dia pura-pura lupa walaupun Raffa sudah menyindirnya tapi Aqila langsung mengalihkan pembicaraan.
"Ayo Sayang kita ke kamar, sebentar lagi Daddy pulang kita buat kejutan," Aqila mengajak Edrik dan menuntunnya untuk naik ke atas.
Saat ini Edrik sudah menginjak usia dua tahun kurang tiga bulan, jalannya pun sudah lancar, bicaranya sudah bisa cuma masih cadel dan hanya Ibunya yang ngerti.
Tidak lama kemudian terdengar suara mobil Raffa dan itu artinya Raffa sudah sampai di rumah. Raffa dengan cepat masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya, Raffa sudah sangat rindu kepada kedua orang kesayangannya.
Perlahan Raffa membuka pintu kamar dan....
"Kejutaaaaaaannnnn....." teriak Aqila.
"Wooww..apaan nih?"
"Selamat ulang tahun Daddy."
Edrik langsung berlari ke arah Raffa dan dengan senang hati Raffa menangkap tubuh mungil anak tampan itu.
"Jangan lari-lari boy, nanti jatuh."
Raffa menghujani wajah Edrik dengan ciuman, sehingga membuat Edrik tertawa.
"Edrik sayang, sini turun kasih hadiahnya buat Daddy."
Edrik berontak dari gendongan Raffa dan berlari menuju Aqila dan mengambil sebuah kotak kecil warna merah dari tangan Aqila. Setelah itu Edrik kembali berlari ke arah Raffa dan menyerahkan kotak itu.
"Ini Dad--dy," seru Edrik.
"Terima kasih, ini hadiah buat Daddy?" tanya Raffa.
Edrik menganggukkan kepalanya, membuat Raffa gemas dan mendudukkan Edrik di pangkuannya.
"Sini boy, kita buka sama-sama kadonya."
Aqila masih berdiri melihat reaksi Raffa, perlahan Raffa membuka kotak kecil berwarna merah itu dan Raffa tampak mengerutkan keningnya saat melihat sebuah benda kecil panjang dengan dua garis merah.
"Sayang, i---ini," seru Raffa gugup.
"Iya Mas, aku positif ada calon adik Edrik di sini," sahut Aqila mengusap perutnya yang masih rata.
Raffa sangat terkejut..
"Sayang sebentar ya kamu main dulu."
Edrik langsung menuruti Daddynya turun dari pangkuan Raffa dan mengambil mainannya. Raffa menghampiri Aqila yang saat ini sedang tersenyum cantik.
"Seriusan Sayang, saat ini kamu lagi hamil?" tanya Raffa tidak percaya.
"Iya, baru tiga minggu."
"Alhamdulillah."
Raffa memeluk Aqila dan memutar-mutar tubuh istrinya saking bahagianya.
"Terima kasih Sayang, I LOVE YOU," teriak Raffa bahagia.
π
π
π
π
π
RAQILA LOVER mana suara yang mau season 2 nya???.....
Mampir guys di karya terbaruku, batu netas nih di jamin tidak kalah seruππππ
Jangan lupa
like
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU