
📚
📚
📚
📚
📚
Angel adalah gadis yang cantik dan baik hati, Ibunya meninggal saat usianya belasan tahun dan tidak lama setelah Ibunya meninggal, Papanya menikah lagi dengan seorang karyawannya sendiri yang berstatus janda anak satu.
Papa Angel merupakan seorang Pengusaha yang lumayan sukses, awalnya Mama dan Adik tirinya itu sangat baik dan perhatian kepada Angel tapi ternyata itu hanya topeng semata karena disaat Papanya Angel sedang tidak ada di rumah, Mama dan Kakak tirinya selalu menyiksanya dan memperlakukan Angel layaknya seorang pembantu.
ATM Angel di ambil oleh Mama tirinya sehingga Angel harus bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya. Mama tirinya mengancam Angel akan membunuh Ayahnya kalau berani ngadu kepada Ayahnya.
"Darimana kamu Angel, jam segini baru pulang?" hardik Mama Ratna yang merupakan Mama tiri Angel.
"Maaf Ma, Angel mendapatkan panggilan dari sebuah sekolah dan Alhamdulillah Angel di terima menjadi guru disana," sahut Angel dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Syukurlah kalau kamu sudah kerja, aku jadi tidak akan lama-lama bertemu deganmu karena wajahmu itu sangat memuakkan sekali," ketus Linda Kakak tiri Angel.
"Tapi ingat, setelah pulang mengajar kamu tidak boleh kelayapan harus langsung pulang karena pekerjaanmu di rumah ini banyak sekali," seru Mama Ratna.
"Baik Ma."
"Dan satu lagi, jangan sampai ada yang tahu kalau kamu itu anaknya Willy Rahadian karena hanya Linda yang pantas menyandang nama Rahadian dan sebentar lagi semua kekayaan Ayahmu akan menjadi milik kita berdua, ngerti kamu Angel," bentak Mama Ratna.
"I--iya Ma."
Mama Ratna dan Linda meninggalkan Angel yang saat ini sudah berderaian airmata. Angel segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya, direbahkannya tubuhnya. Airmatanya tidak henti-hentinya menangis.
"Mama, Angel rindu sekali kepada Mama. Angel tersiksa Ma, lebih baik Mama bawa Angel bersama Mama," gumam Angel.
Saking lelahnya, Angel pun tanpa sadar sudah terlelap ke alam mimpinya.
Waktu berjalan dengan cepat, Angel tersentak karena waktu sudah menunjukkan pukul enam sore dan Angel sama sekali belum masak, Angel segera beranjak dari tidurnya dan dengan cepat mengganti pakaiannya.
Angel sudah menyiapkan mentalnya pasti malam ini Angel kena omel dan amukan dari Mama dan Kakak tirinya itu karena belum memasak untuk makan malam.
Angel segera keluar dari kamarnya dan tanpa melihat kemana pun, Angel langsung menuju dapur karena memang tujuannya adalah dapaur.
"Angel Sayang."
Angel menghentikan kegiatannya dan mencari sumber suara.
"Papa."
Angel berlari dan langsung memeluk Papanya itu.
"Papa kapan pulang?" tanya Angel.
"Baru saja sampai, oh iya kamu mau ngapain tadi buru-buru ke dapur?" tanya Papa Willy.
Angel gelagapan, dia melihat Mama dan Kakak tirinya yang ada di belakang Papanya sudah melotot dan mengancam Angel.
"Ah itu, anu..Angel mau minum, iya Angel haus Pa makannya Angel cepat-cepat ke dapur," dusta Angel dengan menundukkan kepalanya.
"Ya sudah, yuk kita makan malam bersama tadi si Bibi sudah masak makan malam, Papa sengaja menunggu kamu untuk makan malam bersama."
"I--ya Pa."
Mereka semua pun menuju meja makan dan makan bersama. Mama dan Kakak tiri Angel memang pintar, disaat Papanya mau pulang mereka yang menyuruh pembantu untuk menyiapkan semuanya tapi disaat Papanya pergi ke luar kota, Angellah yang mereka siksa di suruh membersihkan semua pekerjaan rumah.
"Angel Sayang makan yang banyak ya," seru Mama Ratna dengan pura-pura manis.
"Iya Sayang, Papa lihat kok badan kamu agak kurusan ya sekarang."
"Oh iya Pa, sekarang Angel sudah bekerja di sebuah sekolah dasar dan besok Angel mulai mengajar disana," seru Angel.
"Wah, benarkah? tapi buat apa kamu mengajar segala, setiap bulan juga Papa kirim kamu uang memangnya uang yang Papa kirim tidak cukup, kalau tidak cukup bilang biar Papa tambah lagi," sahut Papa Willy.
Angel menatap Mama dan Kakak tirinya dan langsung menundukkan kepalanya.
"Ti--tidak Pa, uang yang Papa kirim sudah lebih dari cukup kok, Angel hanya ingin mencari kegiatan saja soalnya Angel jenuh Pa ingin bersosialisasi juga dengan orang-orang di luaran sana," sahut Angel dengan ragu-ragu.
"Ya sudah, terserah kamu saja asalkan kamu bahagia."
"Pa, Linda juga ingin bekerja di Perusahaan Papa, bosen juga Linda menjadi pengangguran setiap hari, uang bulanan yang Papa kirim tidak cukup, Linda juga kan malu setiap bertemu dengan teman-teman Linda selalu mereka yang traktir," rengek Linda dengan manjanya.
"Boleh, kamu boleh bekerja di Perusahaan Papa."
"Terima kasih Pa."
Angel hanya diam saja, Angel tahu kalau Mama dan Kakak tirinya itu ingin mengambil alih semua yang menjadi hak Angel.
__ADS_1
***
Raffa saat ini sedang mengotak-ngatik ponselnya, sedangkan Aqila sedang merawat dirinya sendiri dengan cara maskeran wajahnya. Aqila tidak mau sampai wajah dan badannya tidak terurus, walaupun Raffa tidak pernah menuntut apa-apa darinya.
"Sayang, kamu lagi ngapain sih?" tanya Raffa.
"Aku lagi maskeran Mas."
"Kamu ingin punya anak cowok apa cewek?"
"Apa saja Mas, yang penting anak kita sehat dan sempurna tidak kekurangan satu apapun."
"Yang, kamu tahu baso beranak tidak?"
"Tahu, kenapa memangnya?"
"Aku ingin makan baso beranak."
"Iya, besok saja sekarang sudah malam aku malas keluar rumah."
"Ok, aku bisa nahan sampai besok."
"Aaaaaaa...." tiba-tiba Aqila berteriak sampai membuat Raffa terkejut.
"Astaga Sayang, kamu kenapa teriak-teriak?"
"Gara-gara Mas ngajak aku ngobrol terus masker aku jadi rusak nih," keluh Aqila dan langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Aqila keluar dari kamar mandi dan mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil, di saat Aqila melihat Raffa yang masih setia dengan ponselnya, timbulah ide jahil di otak cantiknya.
"Mas, bobo sini," ucap Aqila dengan menepuk bantal di hadapan Aqila.
"Ada apa? apa kamu lagi ingin sesuatu?" goda Raffa.
"Pokoknya Mas bobo disini."
Raffa pun menuruti keinginan istrinya itu, tanpa basa-basi Aqila langsung mengusapkan koas ke wajah Raffa.
"Hai, apa-apaan ini?" protes Raffa.
"Diam, aku mau buat wajah Mas Raffa glowing biar makin kinclong."
"Tidak usah, tanpa perawatan pun wajah aku sudah kinclong buktinya banyak wanita yang ngantri ngedeketin aku."
"Sombongnya."
"Oh my god, suami aku tampan sekali," puji Aqila dengan antusiasnya.
"Baru sadar kalau suamimu ini sangat tampan."
Raffa merebahkan kepalanya di pangkuan Aqila dan kembali menciumi perut Aqila.
"Hallo baby boy."
"Kok baby boy sih? memangnya Mas tahu kalau anak kita berjenis kelamin laki-laki?"
"Tidak sih, tapi aku ingin anak pertama kita laki-laki, Sayang."
"Kok gitu?"
"Kalau anak laki-laki kan nantinya bisa menjaga adik-adiknya kelak."
"Memangnya Mas mau anak berapa?"
"Lima."
"Hah, banyak banget memangnya melahirkan anak itu mudah apa. Mas yang enak tinggal bikin-tinggal bikin, aku yang susahnya," ketus Aqila.
"Ssstttt...Baby boy lagi ngomong, katanya Daddy tolong jengukkin aku dong, otw meluncur dengan senang hati son," seru Raffa dan mulai melepaskan kaos yang dia pakai.
"Apaan sih Mas, kenapa ujung-ujungnya kesitu sih?" ketus Aqila.
"Kamu tidak dengar barusan baby boy ngomong apa? katanya mau di jengukkin sama Daddynya."
"Itu mah alasan Mas sa----, emmppp Mas."
Ucapan Aqila terpotong karena Raffa sudah lebih dulu menjamah tubuh Aqila dengan tangannya dan kalau sudah seperti itu, Aqila yang akan kalah. Raffa tersenyum penuh dengan kemenangan.
Ditariknya tali baju tidur Aqila yang berbahan satin itu, sejenak Raffa memperhatikan seluruh tubuh Aqila, jakun Raffa sampai naik turun beberapa kali menelan salivanya. Disaat hamil seperti ini membuat beberapa bagian tubuh Aqila membesar sehingga semakin terlihat sexi.
"Mas, pelan-pelan."
"It's ok baby."
Malam ini lagi-lagi menjadi malam yang sangat panjang untuk pasangan itu, Raffa melakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati karena takut melukai anaknya.
__ADS_1
***
Keesokkan harinya...
Sudah beberapa hari ini Cyra menginap di rumah Clarissa dan baru tadi malam Cyra pulang.
"Selamat pagi, Daddy..Mommy.."
Cyra beranjak dari duduknya dan memeluk Raffa dan Aqila secara bergantian di saat mereka turun dari tangga.
"Ya ampun, Puterri Daddy yang cantik. Daddy rindu sekali padamu Sayang," ucap Raffa dengan menciumi wajah Cyra sehingga Cyra tertawa karena kegelian.
"Ampun geli, Daddy."
Raffa menggendong Cyra dan membawanya duduk kembali di meja makan.
"Pagi Eyang."
"Pagi Sayang, bagaimana apa masih mual dan muntah-muntah?" tanya Eyang.
"Masih Eyang, tadi subuh saja Aqila muntah-muntah lagi, aku jadi kasihan melihatnya, seandainya Raffa saja yang merasakan itu, Raffa akan menerimannya dengan ikhlas," sahut Raffa.
"Tidak apa-apa Mas, itu sudah biasa kok kata Dokter juga ini hanya terjadi di trimester pertama saja kalau aku sudah melewati itu semuanya akan kembali normal," seru Aqila dengan mengusap tangan suaminya itu.
"Eyang, Mommy, Daddy, Cyra boleh ngomong sesuatu tidak?" celetuk Cyra.
Semua orang yang sedang menikmati sarapannya langsung menoleh ke arah Cyra.
"Cyra mau ngomong apa, Sayang?" tanya Aqila.
"Boleh tidak kalau Cyra sekarang tinggal bersama Mama Clarissa dan Papa Jorge," ucap Cyra dengan sangat hati-hati.
"Uhuk..uhuk..uhuk.."
Raffa langsung tersedak mendengar ucapan Cyra dan Aqila pun dengan sigap memberikan minum kepada suaminya itu. Berbeda dengan Cyra yang saat ini sudah menundukkan kepalanya karena Cyra merasa takut kepada Raffa.
"Maksudnya, kamu mau pindah dari sini dan tinggal bersama Clarissa?" tanya Raffa tidak percaya.
Cyra menganggukan kepalanya dengan pelan, Raffa menoleh ke arah Aqila dan Eyang, mereka berdua tampak menganggukkan kepalanya tanda setuju karena bagaimana pun juga mereka adalah orang tua kandungnya Cyra.
"Apa kamu yakin Sayang, kalau kamu mau tinggal bersama mereka?" tanya Raffa lembut.
"Iya Daddy, maafkan Cyra."
Raffa langsung memeluk Cyra ke dalam dekapannya.
"Cyra tidak perlu meminta maaf, Cyra boleh kok tinggal bersama mereka memang seharusnya kamu bersama mereka karena mereka adalah orang tua kandung Cyra, berarti tugas Daddy mengurus kamu hanya sebatas sampai disini."
"Maafkan Cyra, Cyra sangat menyayangi kalian semua tapi---"
Ucapan Cyra terhenti karena saat ini Cyra sudah sesegukkan menangis.
"Kami juga sangat menyayangi Cyra kok."
"Dan kami akan selalu menjadi keluarga Cyra, jadi kalau Cyra membutuhkan apapun, Cyra bisa datang ke sini karena rumah ini akan selalu terbuka untuk Cyra," sambung Aqila.
"Terima kasih Mommy."
"Kamu harus sering-sering datang kesini ya untuk nemenin Eyang main, soalnya kalau kamu tidak ada Eyang akan kesepian," sahut Eyang.
"Iya Eyang, Cyra janji akan sering datang kesini."
Semuanya pun tertawa dan memeluk Cyra bergantian, seakan mereka tidak akan pernah bertemu lagi dengan Cyra.
📚
📚
📚
📚
📚
Mana nih giftnya, ayo dong dukungannya sebanyak-banyaknya supaya Author semakin semangat lagi up nya🙏🙏🤗🤗
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU