
📚
📚
📚
📚
📚
Raffa tampak berseri-seri setelah pergulatannya dengan Aqila di siang bolong, membuat hawa kantor tiba-tiba panas.
"Sayang, ayo kita makan siang aku sudah sangat lapar," ajak Raffa.
"Siapa suruh olahraga dulu," sahut Aqila yang saat ini sedang merias dirinya.
"Habisnya aku sudah tidak tahan lagi kalau melihat kamu, bawaannya pengen main kuda-kudaan," seru Raffa cengengesan.
"Dasar otak mesum."
Setelah selesai merias diri, Aqila dan Raffa pun keluar dengan rambut yang sama-sama basah. Aqila kembali memakai baju yang pertama dia kenakan pas pertama datang ke kantor, kemudian Aqila menyiapkan semua makanan yang sudah dia masak.
"Wah..wah..wah..lihatlah mereka, habis kecebur dimana kalian?" goda Jino.
"Astaga para biang kerok datang," gerutu Raffa.
"Raff, jangan terlalu sering lo ngegarap Aqila kasihan mana sekarang dia lagi mengandung anak lo, dasar suami tidak punya akhlak lo," cibir Jino.
"Jomblo jangan banyak ngomong, lo tidak akan tahu bagaimana rasanya," ledek Raffa.
Sedangkan Jorge dan Rey malah asyik mencicipi soto ayam buatan Aqila dengan santainya.
"Woi, itu makanan gue," teriak Raffa yang langsung berdiri dan mengambil wadah yang berisi soto ayam itu.
"Astaga Raffa, lo pelit banget jadi orang. Percuma lo jadi pengusaha sukses dan kaya sejagat raya kalau masalah soto saja lo pelit, tinggal pesan lagi apa susahnya sih," cibir Jorge.
"Masalahnya ini semua masakan Aqila."
"Wow, pantasan saja rasanya enak sekali," sahut Jorge.
"Mas, aku kan masak banyak ini cukup untuk kita semua, memangnya Mas mampu menghabiskan semua makanan ini?" seru Aqila.
"Tuh dengar, Qila saja yang masaknya fine-fine saja," sambung Jino.
"Tapi Sayang, kamu tidak tahu kan kalau mereka itu pada rakus? kalau mereka ikut makan, aku tidak akan kenyang," rengek Raffa.
"Ya ampun, sumpai gue jijik lihat lo manja seperti itu," ledek Jino.
"Biarin...wlek," Raffa menjulurkan lidahnya.
"Qila, kamu kasih makan apa si Raffa jadi jinak seperti itu? heran deh, si singa kejam sekarang berubah menjadi kucing kecil yang manis," ledek Jino.
"Masih mending kucing manis, lah ini sok imut kaya gitu malah ngeri gue lihatnya, Rey coba lo lihat bulu-bulu tangan gue sampai berdiri saking merindingnya," sambung Jorge dengan memperlihatkan tangannya kepada Rey.
"Dasar Bule gila sialan," seru Raffa.
"Stop...apa kalian mau bertengkar terus seperti ini? kalau begitu aku mau bawa lagi makanannya," teriak Aqila membuat keempat pria tampan itu langsung terdiam.
"Sayang, jangan marah ya. Ok, kita tidak akan bertengkar lagi, kasihan baby kita nanti sawan loh mendengar Mommynya teriak-teriak," sahut Raffa membujuk Aqila.
__ADS_1
"Iya Nyonya, maafkan kami ya Nyonya," sambung Rey dengan senyuman termanisnya.
Aqila pun mulai tenang, keempat pria tampan itu kalau sudah berkumpul memang selalu tidak pernah akur, hanya Rey yang paling kalem dan pendiam, selebihnya sangat-sangat membuat kepala pusing.
"Lo sih Raff, jadi orang sensitif banget. Yang hamil siapa, yang sensitifnya siapa?" ledek Jino.
"Mas Jino, bisa diam tidak," hardik Aqila.
"Ok Qila, aku diam, aku imut, aku kalem."
Aqila hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.
"Qila, masakan kamu enak banget ternyata selain cantik, kamu juga sangat pintar memasak, aku jadi iri," seru Jorge.
"Lah, memangnya Clarissa tidak pernah masak?" tanya Aqila.
"Masak apa? dia mana bisa masak, masak air saja gosong," keluh Jorge.
Raffa langsung tersedak karena merasa lucu dengan ucapan Jorge.
"Berarti Clarissa hanya pinter di ranjang saja, iya kan Jorge?" ledek Raffa yang langsung mendapat cubitan dari Aqila.
"Qila, kamu punya kembaran tidak? kalau punya, aku mau satu dong yang seperti kamu," seru Jino.
"Tidak ada, wanita seperti Aqila itu limited edition dan itu hanya milik Raffael Abraham," sahut Raffa dengan bangganya.
Tidak terasa makanan pun habis tidak bersisa, saking asyiknya makan sambil ngobrol sampai tidak sadar mereka menghabiskan semua makanan yang dimasak Aqila dan itu membuat Aqila merasa sangat bahagia. Aqila pun segera membereskan wadah kotor bekas mereka makan.
"Sudah Sayang, biarkan saja nanti biar OB yang membersihkannya," seru Raffa.
"Raff, lo tidak ada niatan untuk pergi babymoon?" tanya Jino.
"Lo lupa ya, kalau sebentar lagi pembangunan perusahaan baru kita akan segera berjalan dan otomatis kita akan sering bolak-balik ke luar kota, makannya sekarang lo puas-puasin dulu garap Aqila, takutnya nanti lo kejang-kejang karena terlalu lama jauh dengan Aqila," seru Jino.
"Sialan lo, disini kan yang sudah punya istri bukan cuma gue tapi si Jorge juga."
"Lah, ngapain bawa-bawa gue? gue mah orangnya santuy bos, mau berpisah satu bulan pun gue masih bisa tahan, memangnya lo baru kemarin empat hari saja sudah kaya cacing kepanasan," cibir Jorge.
"Ide lo bagus juga Jin. Sayang, bagaimana kamu mau kan kalau kita pergi babymoon?" tanya Raffa.
"Buat apa sih pakai babymoon segala, di rumah saja kamu mah tetap mesum," sahut Aqila.
"Kan biar beda suasana, Sayang."
"Oh iya aku baru ingat, saat ini kan anak-anak sekolah sedang melakukan ulangan semester ya," seru Aqila.
"Terus apa hubungannya babymoon dengan ulangan semester, sayangku, cintaku, belahan jiwaku," sahut Raffa dengan gemasnya.
"Aduh Mas ini lemot banget sih, kalau setelah ulangan semester itu biasanya libur, nah daripada kita pergi berdua bagaimana kalau kita ajak Ranti dan Zahra juga, kita liburan bersama," usul Cinta.
"Setuju," sahut semuanya serempak kecuali dengan Raffa.
"Sayang, kok rame-rame sih kalau mereka di ajak namanya bukan babymoon dong, tapi liburan," rengek Raffa.
"Iya memang lebih baik kita liburan saja sama semuanya biar seru," sahut Aqila.
"Lagipula kita beda kamar kali Raff, lo mau babymoon sampai pagi pun kita tidak akan mengganggu," seru Jino.
"Oklah, kalau begitu kita liburan bersama."
__ADS_1
"Yeayyy..suamiku memang paling the best," sahut Aqila dengan girangnya sembari memeluk dan mencium pipi Raffa.
"Aku juga mau dong di cium dan dipeluk," celetuk Jino.
"Lo mau di cium pakai ini?" seru Raffa dengan mengepalkan tangannya.
"Wow..wow..wow..ampun gue kalau di cium pakai bogem lo bukannya enak malah bonyok, sayang kan wajah gue yang tampan ini kalau sampai bonyok."
"Sudah ah, gue mau kembali lagi ke kantor, terima kasih Aqila makan siangnya," seru Jorge dengan beranjak dari duduknya.
"Ah, gue juga pamit mau bucin-bucinan sama Zahra," sambung Jino.
"Bos, aku juga izin pulang ya soalnya pekerjaanku sudah beres semua, sudah janji mau ngajak Ranti jalan," seru Rey.
"Loh kok pada pergi semua."
"Sudah sana Mas Rey kalau mau pulang, pulang saja," sahut Aqila.
"Ok, terima kasih Nyonyaku yang cantik," seru Rey yang langsung ngacir karena takut melihat tatapan Raffa yang horor.
"Sayang kok kamu izinin Rey pulang sih?"
"Mas kasihan dia kerja terus, sekali-sekali kasih Mas Rey konfensasilah, Ranti juga sering ngeluh karena Mas Rey jarang ngajak dia jalan-jalan."
"Ya sudah, yuk kita pulang."
"Loh memangnya Mas tidak kerja?"
"Anak buah aku saja pulang, masa bosnya harus kerja."
Raffa menggandeng tangan Aqila keluar dari kantornya. Semua mata karyawan menatap penuh kagum akan bos dan istrinya yang terlihat sangat serasi itu.
Sementara Linda di kantornya tampak uring-uringan, dia merasa dongkol sekali yang awalnya sudah sangat bahagia karena menyangka Raffa akan mengajaknya makan siang, malah terkejut dengan kelakuan Raffa yang membuat hatinya dongkol dan panas.
"Gila, istrinya Pak Raffa cantik dan sexi banget pantas saja Pak Raffa tidak tergoda denganku. Tunggu, tapi asistennya Pak Raffa tampan juga dan sepertinya dia belum punya pacar, bisa tuh aku deketin," gumam Linda.
Linda tidak akan menyerah untuk mendapatkan pria tampan yang kaya raya.
📚
📚
📚
📚
📚
Hallo RAQILA LOVERS, Author mau tanya nih kalian mau cerita ini dilanjutin atau mau di tamatkan dengan bab yang jangan terlalu panjang? mohon di jawab ya di kolom komentar 🤗🤗
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU