
π
π
π
π
π
Sesampainya di rumah sakit, Aqila berlari menuju IGD tempat Ibunya sekarang sedang ditangani disusul oleh Fathir yang mengikuti Aqila dari belakang.
Sesampainya di ruangan IGD, langkah Aqila terhenti saat melihat Raffa dan Clarissa yang berada di sampingnya mengusap punggung Raffa.
"Nyonya Aqila," seru Rey.
Raffa dan Clarissa langsung menoleh...
"Bagaimana keadaan Ibu aku Mas Rey?" tanya Aqila dengan deraian airmata.
"Belum tahu Nyonya, Ibu Ami masih berada di dalam."
"Kenapa Ibu sampai masuk rumah sakit? terus kenapa kalian ada disini?" tanya Aqila.
"Itu...anu..."
Rey tidak tahu harus menjawab apa, Rey melirik kearah Raffa yang saat ini sedang menatapnya.
"Tadi----" ucapan Rey terpotong karena Dokter yang menangani Ibu Ami keluar dengan wajah lesu.
"Maaf, keuarganya Ibu Ami," seru Dokter itu.
"Saya Dokter, saya anaknya Bu Ami bagaimana keadaan Ibu saya Dokter? dia baik-baik saja kan?" ucap Aqila dengan penuh harap.
"Kamu tenang dulu Qila," seru Fathir dengan merangkul pundak Aqila.
Raffa yang melihat itu merasa sangat emosi, kalau bukan di rumah sakit mungkin Raffa sudah menghajar Fathir yang dengan tenangnya merangkul istrinya itu.
"Maaf Nona, kami sudah melakukan yang terbaik buat Ibu Ami tapi Tuhan berkendak lain, Ibu anda mengalami serangan jantung yang mengakibatkan Ibu anda kehilangan nyawanya," jelas Dokter itu.
Jedddaaaaaaaarrrrrrr....
"Tidak mungkin Dokter, Ibu saya pasti masih hidup mungkin Dokter salah," teriak Aqila dengan menarik jas sang Dokter.
"Maaf Nona tapi memang kenyataannya seperti itu dan Nona harus ikhlas dan tabah mungkin takdirnya harus seperti ini, kalau begitu saya permisi dulu," seru Sang Dokter meninggalkan Aqila yang tampak histeris.
"Dokter tolong periksa Ibu saya sekali lagi, mungkin Ibu saya masih hidup, saya mohon Dokter periksa lagi Ibu saya," teriak Aqila.
Fathir memeluk Aqila dengan sekuat tenaga sementara Aqila terus saja berteriak dan berontak di pelukkan Fathir.
"Istighfar Qila istighfar, mungkin ini memang sudah takdirnya, kamu harus tabah dan ikhlas," seru Fathir yang terus mencoba menenangkan Aqila.
Sedangkan Raffa terduduk lemas di kursi ruang tunggu itu, kakinya sudah tidak bisa menopang berat badannya lagi, hatinya sakit melihat Aqila seperti itu apalagi saat ini ada laki-laki lain yang sedang menenangkan Aqila.
"Aku mau melihat Ibu, Fathir," ucap Aqila lirih.
"Baiklah."
Fathir memapah Aqila menuju ruangan IGD tempat Ibu Aqila berada. Raffa, Rey, dan Clarissa pun ikut masuk, Aqila menutup mulutnya saat melihat tubuh kaku Ibunya yang sudah ditutupi kain putih itu.
Aqila seketika memeluk tubuh Ibunya itu, tangisannya pecah dan tubuhnya bergetar hebat, bahkan Raffa sampai menitikan airmatanya tapi dengan cepat Raffa menghapusnya.
"Bu, kenapa Ibu begitu cepat meninggalkan Qila Bu, kalau Ibu tidak ada, Aqila sama siapa? Aqila tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini kecuali Ibu, maafkan Aqila karena selama ini Aqila belum bisa membahagiakan Ibu," ucap Aqila dengan sangat pilu.
Raffa langsung menarik Fathir dan membawanya keluar, Rey yang melihat itu ikut keluar takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Apa-apaan kamu?" seru Fathir.
"Jangan dekat-dekat dengan Aqila, kamu tahu kan kalau Aqila itu istriku," sahut Raffa.
"Aku tahu Aqila istri kamu, tapi Aqila tidak pernah bahagia menikah denganmu, justru Aqila sangat menderita hidup denganmu."
Raffa menarik kerah baju Fathir dan hendak memukul Fathir tapi Raffa mendadak menghentikan pukulannya.
"Kenapa berhenti, ayo pukul," tantang Fathir.
"Tahu apa kamu dengan kehidupan Aqila."
"Yang jelas, aku lebih tahu daripada kamu dan aku peringatkan sama kamu tolong lepaskan Aqila jika kamu memang tidak sanggup membahagiakan dia," bentak Fathir.
"Kurang ajar."
Sedangkan di dalam ruangan itu, Aqila masih setia memeluk tubuh kaku Ibunya itu, perlahan Clarissa menghampiri Aqila dan ini merupakan waktu yang tepat untuk membuat Aqila membenci Raffa.
"Kamu istrinya Mas Raffa kan? kamu tahu tidak apa penyebab Ibumu sampai kena serangan jantung?" ucap Clarissa dengan senyumannya.
__ADS_1
Aqila yang mendengar ucapan Clarissan menoleh kearah Clarissa.
"Maksud kamu apa?" tanya Aqila.
"Tadi siang Ibu kamu datang ke Kantor Mas Raffa, Ibu kamu mendengar pembicaraan aku dan Mas Raffa mengenai kehamilan dan pernikahan kami dan pas Ibumu masuk keruangan Mas Raffa, Ibu kamu syok melihat aku dan Mas Raffa sedang bermesraan makannya Ibu kamu mengalami serangan jantung," ucap Clarissa dengan senyumannya.
"Apa?"
Aqila tampak mengepalkan tangannya, tiba-tiba diluar terdengar suara keributan, Aqila dan Clarissa segera keluar dan ternyata Raffa dan Fathir sedang adu jotos bahkan Rey terlihat kewalahan memisahkan kedua pria tampan itu.
"Stoooooppp...." teriak Aqila.
Seketika mereka berdua menghentikan adu jotosnya dan menghampiri Aqila.
"Qila maafkan aku, aku tidak bermaksud---" ucapan Fathir terhenti karena Aqila melambaikan tangannya pertanda Fathir harus berhenti bicara.
Perlahan tatapan Aqila mengarah kearah Raffa, Aqila mulai menghampiri Raffa dengan tatapan penuh kebencian.
Plaaaaaaaakkkkk.....
Dengan kerasnya Aqila menampar Raffa, mebuat Rey, Fathir, dan Clarissa terkejut.
"Puas kamu sekarang Mas, kamu sudah menghancurkan kehidupanku, kamu sudah mencabik-cabik hati dan perasaanku, aku pikir waktu kemarin malam itu Mas sudah berubah dan mau membuka hati Mas buat aku, aku sudah bahagia karena tidak tahu kenapa walaupun kamu tidak pernah menganggapku ada tapi aku sudah mulai mencintaimu Mas," bentak Aqila.
Raffa melotot dengan ungkapan Aqila, jantungnya kembali berdetak tak karuan sebenarnya Raffa pun sudah mulai menyukai Aqila tapi dendam masa lalu yang membuat Raffa menjadi egois dan kejam.
"A--Aqila," ucap Raffa dengan mengulurkan tangannya berniat ingin menghapus airmata Aqila tapi dengan cepat Aqila menepis tangan Raffa.
"Cukup Mas, ceraikan aku sekarang juga tapi kalau Mas tidak mau, biar aku yang kirim surat gugatan cerai kepada Mas, aku sudah tidak sanggup lagi dengan keadaan seperti ini karena dari awal Mas nikahi aku hanya ingin balas dendam saja, balas dendam yang sama sekali tidak beralasan. Sekarang Ayah dan Ibuku sudah meninggal, apa Mas sudah puas? atau Mas masih belum puas? Mas ingin melihat aku mati juga, bunuh saja aku Mas kalau itu bisa membuat Mas merasa bahagia," bentak Aqila.
Raffa menggelengkan kepalanya dan merasa sakit dengan ucapan Aqila, tiba-tiba Raffa meneteskan airmata.
"Sudah Qila, lebih baik sekarang kita pulang dan urus jenazah Ibu kamu," seru Fathir.
Baru saja Aqila melangkahkan kakinya, tiba-tiba Aqila jatuh tak sadarkan diri.
"Aqila," seru Raffa dengan menghampiri Aqila.
"Jangan sentuh Aqila lagi, sudah cukup penderitaan yang kamu berikan kepada Aqila," ucap Fathir.
Fathir langsung mengangkat tubuh Aqila dan membawanya ke ruangan untuk diperiksa. Sedangkan Raffa terduduk di lantai dan menangis layaknya seorang wanita.
"Mas, mengapa Mas seperti ini? bukannya Mas tidak mencintai istri Mas, seharusnya Mas senang kalau istri Mas meminta cerai jadi kita bisa menikah secepatnya," seru Clarissa.
Raffa mencengkram wajah Clarissa dengan sangat kuat sehingga membuat Clarissa meringis kesakitan.
"Kamu jahat Mas, Mas sendiri yang memaksaku dan sekarang Mas bilang aku menjebakmu? keterlaluan kamu Mas," seru Clarissa dan berlari meninggalkan Raffa.
Rey hanya mampu melihatnya, dia tidak berani ikut campur dengan urusan Bosnya. Dengan tertatih, Raffa mencoba bangun dan dengan langkah gontai Raffa melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Eyang Puteri.
Satu jam kemudian, Aqila mulai sadar dari pingsannya, Aqila memaksakan diri untuk duduk dengan masih memegang kepalanya.
"Kenapa kamu bangun Qila, sudah kamu istirahat saj dulu," seru Fathir.
"Bagaiman dengan Ibu?" tanya Aqila.
"Aku sudah menyuruh perawat rumah sakit mengantarkan jenazah Ibu kamu ke rumah dan di rumah kamu sudah ada Zahra dan Ranti yang mengurusnya," seru Fathir.
"Aku mau pulang sekarang Fathir."
"Tapi kamu masih sakit Qila."
"Pokoknya aku mau pulang sekarang juga," bentak Aqila.
"Ok, baiklah sebentar ya aku panggil Dokter dulu."
Setelah Fathir meminta izin, akhirnya Aqila diperbolehkan pulang. Selama dalam perjalanan Aqila tak henti-hentinya menangis. Sesampainya dirumah, Aqila disambut oleh rekan-rekan gurunya seperti Zahra, Ranti, Pak Beno, Bu Wati, dan Pak Gustav selaku kepala sekolahnya.
Melihat kedatangan Aqila, Zahra dan Ranti langsung menghambur ke pelukkan Aqila.
"Rey, antarkan saya ke rumah Aqila," seru Eyang.
"Tapi Eyang, Eyang kan masih sakit."
"Iya Eyang, Eyang jangan kemana-mana dulu Eyang masih belum sehat benar," sahut Raffa.
"Diam kamu Raffa, aku tidak bicara denganmu. Rey cepat antarkan aku ke rumah Aqila, pasti Aqila sangat terpukul sekarang dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Eyang, kasihan Aqila," seru Aqila.
Rey tidak bisa membantah permintaan Eyang, setelah meminta izin kepada Dokter akhirnya Rey membawa Eyang ke rumah Aqila.
Raffa pun ikut serta namun selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan antara Raffa dan Eyang. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing, sesampainya di rumah Eyang langsung turun dan dipapah oleh Rey.
Sementara Raffa memilih diam di dalam mobil, dia tidak mau membuat kekacauan di rumah Aqila.
"Aqila," panggil Eyang lirih.
__ADS_1
Semua orang menoleh kearah Eyang, Aqila yang saat ini sedang menangis di samping jenazah Ibunya melihat kearah Eyang dengan mata yang sudah bengkak karena Aqila tidak berhenti menangis.
Eyang menghampiri Aqila dan tanpa menunggu lagi Aqila menghambur kepelukkan Eyang Puteri.
"Maafkan Eyang Nak, Eyang sudah membuat hidupmu menderita," seru Eyang dengan menangis dan mengusap punggung Aqila.
Aqila tidak mau bicara apa-apa, sekarang yang dia rasakan sungguh sakit, Aqila hanya membutuhkan sandaran saat ini. Tapi tiba-tiba pandangan Aqila kembali menggelap dan Aqila kembali tak sadarkan diri.
"Aqila," ucap semuanya bersamaan.
Fathir kembali mengangkat tubuh Aqila dan membawanya ke kamarnya, dari luar Raffa bisa melihat kalau Aqila kembali pingsan. Hati Raffa kali ini benar-benar sakit dan hancur, baru kali ini Raffa merasakan sehancur ini.
Bahkan ini kedua kalinya Raffa merasakan sakit setelah yang pertama ditinggalkan oleh Claudia, tanpa terasa airmata Raffa kembali menetes.
"Maaf..maaf..maafkan aku Aqila," gumam Raffa.
Rey yang saat itu duduk dibalik kemudi, merasakan sedih melihat Bosnya seperti itu, memang penyesalan selalu datang diakhir cerita.
Zahra, Ranti, dan Eyang menunggu Aqila di kamarnya. Tidak lama kemudian Aqila mulai membuka matanya dan mengubah posisinya menjadi duduk dan menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang.
"Qila, you minum teh manis dulu ya soalnya dari tadi siang you belum makan sama sekali," seru Zahra.
Aqila menganggukkan kepalanya dan meminum sedikit teh manis hangat yang dibuatkan oleh Zahra.
"Kalian bisa keluar sebentar, aku mau bicara dulu sama Eyang berdua," seru Aqila lirih.
Zahra dan Ranti menganggukkan kepalnya dan keluar dari kamar Aqila.
"Kamu mau bicara apa sama Eyang Sayang?" tanya Eyang dengan menggenggam tangan Aqila.
"Maafkan Qila Eyang, Qila sudah tidak sanggup lagi menjalani pernikahan ini, dari awal Mas Raffa menikahi Qila karena ingin membalaskan dendamnya kepada Qila Eyang," seru Aqila dengan deraian airmatanya.
"Apa? balas dendam, maksudnya balas dendam apa?" tanya Eyang bingung.
"Mas Raffa menganggap kalau Ayah Qila penyebab meninggalnya Claudia, karena yang waktu itu mengendarai motor dan menabrak taxi yang Claudia tumpangi adalah Ayah Qila Eyang, walaupun Ayah Qila juga meninggal dunia tapi Mas Raffa tidak menerimanya dan memutuskan untuk menikahi Qila supaya Mas Raffa bisa membalaskan dendamnya kepada Qila," jelas Aqila dengan deraian airmata.
"Astaga Raffa," ucap Eyang sembari memegang dadanya.
"Jadi Qila mau minta izin sama Eyang untuk bercerai dengan Mas Raffa, Qila tidak bisa hidup dengan pria yang jelas-jelas tidak menginginkan dan tidak memcintai Qila," seru Aqila.
"Maafkan cucu Eyang Nak, kalau memang itu jalan satu-satunya dan terbaik untukmu, Eyang akan mengabulkannya tapi Eyang mohon kamu jangan sampai melupakan Eyang dan kalau kamu memerlukan bantuan apapun kamu jangan sungkan-sungkan datanglah kepada Eyang."
"Iya Eyang, terima kasih."
Eyang memeluk Aqila dengan penuh kasih sayang, Eyang bahkan menangis karena akhirnya wanita yang Eyang sayangi harus pergi.
Sore itu, Ibu Aqila langsung di makamkan selama proses pemakaman Aqila tidak henti-hentinya menangis begitupun dengan kedua sahabatnya yang selalu ada di samping Aqila menguatkan Aqila.
Sementara itu Eyang lebih memilih pulang, emosinya memuncak saat mendengar penjelasan Aqila tentang alasan Raffa menikahi Aqila.
"Sekarang kamu puas Raffa sudah membuat Aqila menderita," ketus Eyang.
Saat ini mereka dalam perjalanan menuju rumahnya, Raffa hanya bisa diam tidak bisa menjawab ucapan Eyang.
"Mengapa hati kamu begitu picik Raffa, menyalahkan orang lain atas kematian Claudia, sudah jelas-jelas Ayah Aqila juga mendapatkan musibah karena mengalami kerusakan pada motornya, beliau sampai menabrak taxi yang Claudia tumpangi bahkan kamu hanya kehilangan calon istri yang sebenarnya kamu masih bisa mencari yang baru sedangkan Aqila dia kehilangan Ayahnya kamu pun pernah merasakan bagaimana kamu kehilangan orang tua kamu, bagaimana rasanya? kamu masih beruntung masih punya Eyang, sekarang lihat Aqila dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi untuk dijadikan sandaran hidupnya, kamu sungguh keterlaluan Raffa," bentak Eyang.
Raffa sudah tidak mampu lagi berkata-kata, ucapan Eyang memang benar dan Raffa terlambat menyadarinya, sekarang Aqila sudah sangat membencinya.
Sesampainya di rumah, Raffa cepat-cepat keluar dari mobilnya dan berlari menuju kamarnya.
"Aaaaaaaarrrrrrggggghhhhh...."
Raffa berteriak frustasi dengan deraian airmata, Raffa memukul dinding kamarnya dengan tangannya sendiri sehingga darah merembes dari sela-sela jarinya.
Bayangan wajah Aqila selalu terbayang di otak Raffa, tangisan kesedihannya, tatapan kebenciannya, semuanya Raffa ingat betul. Airmata Raffa keluar dengan derasnya, baru kali ini Raffa sampai menangis seperti itu, bahkan saat Claudia meninggalpun Raffa hanya meneteskan airmata tidak sampai separah ini.
π
π
π
π
π
Ayo dong dukungannya yang banyak supaya Authornya lebih semangat lagiππ
Jangan lupa
like
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOUπππ