
📚
📚
📚
📚
📚
Setelah mendengar langsung penjelasan dari Fathir, rasa bersalah dan penyesalan Raffa pun semakin besar, Raffa dengan langkah cepat memasuki mobilnya dan pulang ke rumahnya.
Raffa ingin cepat-cepat pulang ke rumah karena takut Aqila bangun dan pergi dari rumahnya. Tidak lama kemudian Raffa sudah sampai di rumahnya, dengan tergesa-gesa Raffa memasuki rumahnya.
"Loh Eyang sama Cyra mau kemana?" tanya Raffa.
"Kami mau jalan-jalan dulu, kalian selesaikanlah urusan kalian, kami tidak mau mengganggu pertemuan kalian," ucap Eyang
"Daddy jangan buat Bu guru cantik menangis ya, karena Cyra ingin Bu guru cantik menjadi Mommy Cyra."
"Siap Bos."
Raffa mencium pipi Cyra dan langsung berlari menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, ternyata Aqila masih terlelap tidur, Raffa mendekat dan duduk di samping Aqila.
"Betapa besarnya penderitaanmu Aqila, maafkan aku maaf," gumam Raffa dan menggenggam tangan Aqila kemudian menciumnya.
Tiba-tiba Aqila membuka matanya, Aqila celingukkan.
"Sudah bangun," seru Raffa.
Aqila sangat terkejut saat melihat Raffa ada di sampingnya dan menggenggam tangannya. Aqila langsung duduk dan mengecek semua pakaiannya.
"Alhamdulillah masih lengkap," gumam Aqila.
"Kenapa? kamu pikir aku akan berbuat macam-macam sama kamu? bahkan kalau aku macam-macam pun tidak akan ada yang melarangnya karena aku suami kamu," seru Raffa.
"Tadi mana kunci motor aku, aku mau pulang," ketus Aqila dan beranjak dari ranjang Raffa.
"Tunggu Aqila, kamu mau pulang kemana? ini rumah kamu juga."
"Maksud Mas apa? Mas mau membuat aku menderita lagi tinggal disini, sementara Mas sudah menikah dengan Clarissa dan Cyra adalah anak kalian kan, jadi buat apa aku tinggal disini? untuk menyaksikan keharmonisan keluarga kalian, begitu?" teriak Aqila dengan deraian airmata.
Raffa menarik tangan Aqila dan membawa ke dalam dekapannya, Aqila terus saja memberontak dan memukul dada Raffa dengan deraian airmata.
"Kamu jahat Mas, aku benci sama kamu," teriak Aqila.
"Pukul aku sesuka hatimu sampai kamu merasa puas, tapi aku mohon jangan pernah membenci aku. Aku memang bersalah sudah menyia-nyiakan kamu, maka dari itu aku minta maaf sama kamu Aqila, aku baru menyadari kalau aku sangat mencintaimu aku hancur saat kehilanganmu," seru Raffa.
"Aku tidak percaya dengan ucapanmu Mas, dulu kamu juga seperti ini membuat hati aku serasa melayang tapi keesokan harinya kamu menghempaskan aku begitu dalam," teriak Aqila histeris dengan tidak henti-hentinya memukul Raffa.
Raffa menangkap tangan Aqila, bukan berarti Raffa merasa sakit dengan pukulannya tapi karena tangan Aqila sudah terlihat memerah.
"Jangan pukul lagi, tangan kamu memerah kamu bisa terluka," seru Raffa lembut.
Aqila menghempaskan tangan Raffa, Aqila mencari-cari kunci motornya setelah ketemu, Aqila hendak meninggalkan kamar Raffa tapi lagi-lagi Raffa mencegahnya.
"Dengarkan aku dulu, Aqila."
"Apa lagi? Mas mau ngomong apa lagi sekarang? sudah cukup dulu Mas menyakiti hati dan perasaan aku, tapi sekarang aku tidak akan lemah dan tertipu lagi, saat ini juga aku ingin Mas menandatangi surat cer----"
Belum juga Aqila menyelesaikan ucapannya, Raffa langsung membungkam mulut Aqila dengan mulutnya sendiri. Raffa sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Aqila sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
Mata Aqila membulat sempurna, Aqila berusaha melepaskannya tapi Raffa malah menekan tengkuk Aqila sehingga Aqila tidak bisa berbuat apa-apa. Raffa mencium bibir Aqila dengan sangat lembut, hanya ini satu-satunya cara supaya Aqila berhenti mengoceh.
Setelah dirasa pasokan oksigen semakin menipis, Raffa melepaskan pungutannya dan menempelkan keningnya di kening Aqila. Nafas mereka berdua sama-sama terengah-engah, Aqila memejamkan matanya, Raffa membelai pipi Aqila.
"Maaf, maafkan aku Aqila, aku memang sudah salah sehingga membuatmu terluka begitu dalam, sekarang aku sudah menyesal dan waktu lima tahun sudah sangat memberikan pelajaran untukku kalau aku sangat mencintaimu dan membutuhkanmu, jangan pernah ucapkan kata cerai lagi karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikanmu," ucap Raffa.
Aqila membuka matanya, Aqila menatap mata Raffa dengan sangat dalam dan tidak ada kebohongan disana.
"Terus bagaimana dengan Clarisa dan Cyra?" tanya Aqila.
Raffa tersenyum..
"Kalau ditanya itu seharusnya jawab, bukannya malah senyum-senyum," ketus Aqila.
"Ya ampun, Bu guru cantik ini masih saja galak padahal tadi aku sudah minta maaf," goda Raffa.
"Mau jawab atau tidak, kalau tidak aku pergi."
"Ok..ok..jangan marah dong, semenjak kepergian kamu aku langsung menceraikan Clarissa karena dia sudah berani mencuri perhiasan Eyang bahkan Jino sudah menyelididki Clarissa dan ternyata Clarissa itu hanya menjebakku dan anak dalam kandungannya itu bukan anakku."
"Terus, Cyra?"
"Aku tidak tahu Cyra anak siapa, Eyang bilang kalau Eyang mengadopsi anak itu."
__ADS_1
"Oh."
"Ya sudah aku mau pulang dulu."
"Hai aku kan sudah jelaskan semuanya, kenapa kamu masih marah."
"Habisnya kamu sudah mencuri ciuman pertamaku," celetuk Aqila.
"Apa?"
Aqila langsung menutup mulutnya dengan tangannya, rasanya malu sekali ketahuan kalau itu ciuman pertamanya bahkan saat ini Raffa sudah tertawa terbahak-bahak menertawakanku.
"Puas kamu menertawakanku Mas, ih nyebelin banget kamu Mas."
Aqila cemberut dan meninggalkan kamar Raffa dengan menghentak-hentakan kakinya.
"Eh tunggu Aqila, maaf-maaf bukan maksud aku untuk menertawakanmu, tapi----"
"Tapi apa?" ketus Aqila.
"Tapi karena itu memang lucu."
Raffa kembali tertawa terpingkal-pingkal bahkan saat ini Raffa sudah memegang perutnya saking lucunya. Aqila semakin kesal dengan tingkah Raffa yang menertawakannya, dengan cepat Aqila keluar dari rumah itu dan bersiap akan pulang.
"Siapa suruh kamu boleh naik motor?"
"Apaan sih, awas aku mau pulang."
Raffa menarik tangan Aqila dan membawanya masuk ke dalan mobilnya. Raffa segera melajukan mobilnya, selama dalam perjalanan Aqila tampak cemberut dan membuang wajahnya ke arah luar.
"Jangan cemberut terus, nanti cantiknya hilang loh."
"Bodo amat."
"Mau aku cium lagi," goda Raffa.
"Ogah banget, dasar cowok nyebelin."
"Setelah berpisah lima tahun, kamu sekarang beda banget ya jadi galak dan judes," ledek Raffa.
"Kamu juga berubah Mas, jadi petakilan dan pinter gombal pasti salah minum obat ya," Aqila balik meledek Raffa.
"Ini karena kamu yang merubahku."
Aqila terus saja cemberut dan melipat tangannya diatas perut, Raffa terkekeh melihat kelakuan Aqila yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Makin lama kamu semakin menggemaskan, aku jadi ingin menciummu lagi," goda Raffa.
Aqila yang kesal, memukul Raffa dengan tasnya.
"Dasar nyebelin, otak mesum."
"Aduh ampun..ampun Sayang, aku lagi nyetir kalau nabrak kendaraan di depan bagaimana," teriak Raffa.
Deg....
Aqila menghentikan pukulannya, jantungnya berdetak lebih kencang saat mendengar Raffa menyebutnya dengan sebutan Sayang, Wajahnya kembali memerah.
Sesampainya di rumah, Aqila langsung turun dan berlari kecil untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu tidak mengajakku masuk," teriak Aqila.
"Tidak, di rumah hanya aku sendirian aku takut kamu berbuat mesum kepadaku," sahut Aqila.
"Ayola Qila, aku ini suamimu aku berhak atas dirimu lagipula aku akan segera membawamu pulang ke rumah."
"Idih, percaya diri sekali anda Tuan, memangnya siapa juga yang mau kembali ke rumahmu," ledek Aqila dengan melipat tangannya di atas perut.
"Kamu----" ucap Raffa dengan merapatkan giginya karena merasa gemas.
"Eitt...jangan mendekat, sana cepetan pulang bagaimana pun aku masih ragu denganmu Mas, aku masih tidak percaya dengan kata-katamu aku takut kamu hanya mempermainkanku saja, jadi kalau kamu ingin aku kembali, silakan tunjukkan keseriusanmu buat aku percaya sama kamu Mas, aku hanya memberimu satu kali kesempatan maka manfaatkanlah dengan baik karena sekali lagi kamu membuatku kecewa, aku akan benar-benar pergi dari hidupmu," ucap Aqila dengan senyumannya.
Aqila langsung berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Aqila tunggu," teriak Raffa.
Tapi Sayangnya Aqila sudah memasuki rumahnya.
"Lihat saja Aqila, aku akan membuktikan kalau ucapanku serius, aku akan membuat kamu jatuh cinta kepadaku, aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi dari hidupku," gumam Raffa dengan senyumannya.
Raffa pun memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumah. Sementara Aqila mengintip dari balik gorden jendelanya, setelah merasa Raffa pergi Aqila menyandarkan tubuhnya di balik pintu dan kedua tangannya memegang dadanya.
"Astaga, jantungku seakan mau copot. Mas Raffa yang sekarang beda banget dengan Mas Raffa yang dulu dan aku sangat menyukai Mas Raffa yang sekarang, apalagi saat ini Mas Raffa terlihat semakin tampan dan mempesona," gumam Aqila dengan tersenyum manja.
Aqila pun masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, seketika Aqila teringat akan ciumannya dengan Raffa dan memegang bibirnya sendiri.
__ADS_1
"Mas Raffa memang nyebelin sudah mencuri ciuman pertamaku."
Aqila menutup wajahnya dengan tangannya, Aqila merasa malu mengingat kejadian itu. Begitupun dengan Raffa, selama dalam perjalanan Raffa tidak henti-hentinya mengembangkan senyumannya.
"Aqila, aku akan buktikan betapa besarnya cintaku kepadamu, kamu hanya milikku seorang tidak boleh ada yang memilikimu selain aku," gumam Raffa.
***
Keesokan harinya...
Aqila bangum dengan semangat yang tinggi, tidak tahu kenapa hari ini dia begitu bersemangat dan bahagia. Aqila membuat sarapan dan sisanya dia bawa untuk bekal ke sekolah.
Pagi-pagi sekali seseorang sudah mengantarkan motornya ke rumah, tadi malam Aqila menghubungi Raffa supaya motornya di kembalikan, Raffa keukeuh tidak mau mengembalikan motor Aqila, sampai Aqila memberikan ancaman kalau motornya tidak kembali, Aqila akan pergi lagi dan tidak akan kembali.
Otomatis Raffa merasa terpojokkan, itu adalah hal yang paling di takuti oleh Raffa dan akhirnya dengan terpaksa Raffa menyuruh seseorang untuk mengantarkan motornya le rumah Aqila.
"Selamat pagi Eyang, Cyra," sapa Raffa dengan semangatnya.
"Pagi Daddy."
"Kamu kenapa Raffa? bahagia banget kelihatannya?" tanya Raffa.
"Iya dong Eyang, kan wanita yang Raffa cintai sudah kembali."
"Terus kenapa Aqila tidak tinggal disini?" tanya Eyang.
"Aqila tidak mau, katanya Raffa hanya main-main saja dan tidak serius, dia takut kejadian lima tahun yang lalu terulang lagi, makannya mulai sekarang Raffa akan membuktikan kepada Aqila kalau Raffa itu benar-benar mencintainya," sahut Raffa.
"Harus dong, Eyang ingin Aqila kembaliblagibke rumah ini dan menjadi menantu Eyang satu-satunya."
"Horeee....Bu guru cantik akan tinggal disini ya Daddy?" tanya Cyra.
"Iya, tapi Bu guru cantiknya masih marah sama Daddy, Cyra mau tidak bantuin Daddy membujuk Bu guru cantik supaya mau memaafkan Daddy?"
"Tentu Daddy, Cyra akan membantu Daddy."
"Anak pintar."
Seperti biasa Raffa mengantar Cyra dulu ke sekolah sebelum pergi ke kantor. Kali ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya, mengantar Cyra ke sekolah merupakan hal yang sangat menyenangkan buat Raffa karena Raffa akan bertemu setiap hari dengan istrinya.
Sesampainya di sekolah, ternyata berbarengan dengan Aqila yang baru saja sampai dan hendak memarkirkan motornya.
"Selamat pagi Bu guru cantik," sapa Cyra dan Raffa bersamaan.
Aqila sangat terkejut...
"Ah, selamat pagi Sayang."
"Astaga, aku serasa mau pingsan dipanggil Sayang," ucap Raffa lebay dengan memegang dadanya.
Aqila hanya mendelikkan matanya, kemudian menggandeng tangan Cyra.
"Maaf Tuan Raffael Abraham, anda jangan kepedean aku memanggil Sayang kepada Cyra bukan kepada anda," ketus Aqila.
"Apa?"
"Dasar kepedean, yuk Sayang kita masuk kelas," ajak Aqila.
"Dadah Daddy."
Raffa hanya melongo dengan ucapan Aqila, di saat sudah setengah jalan, Aqila membalikan badannya kearah Raffa dan langsung menjulurkan lidahnya tanda Aqila meledek Raffa.
"Astaga, sangat menggemaskan awas kamu Aqila," batin Raffa dan mengembangkan senyumannya.
Raffa pun masuk ke dalam mobilnya untuk menuju kantor.
📚
📚
📚
📚
📚
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU😘😘😘