GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Merindukanmu


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Semenjak terakhir kali Raffa mengantar Aqila pulang, tidak ada lagi komunikasi diantara keduanya, bahkan disaat mengatakan Cyra sekolah, Raffa tidak pernah menyapanya hanya tersenyum manis yang Raffa berikan untuk Aqila.


Raffa tidak pernah turun dari mobilnya untuk sekedar menyapa Aqila dan itu membuat Aqila merasa sedih. Sebenarnya Raffa sangat merindukkan Aqila, tapi Raffa memberikan waktu untuk Aqila berpikir jangan sampai hanya Raffa saja yang mencintai Aqila.


"Bu guru cantik," teriak Cyra.


"Hai Sayang."


Aqila melirik kearah Raffa tapi sayang saat ini Raffa sedang menerima panggilan telpon. Aqila sangat kecewa karena pagi ini tidak melihat senyuman manis Raffa.


"Yuk, kita masuk Sayang," ajak Aqila.


"Ayo."


Aqila dan Cyra pun masuk ke dalam kelas dengan bergandengan tangan, setelah selesai menerima telpon, Raffa menoleh kearah Aqika dan Cyra yang sudah mulai menjauh.


"Maafkan aku Aqila, aku tidak mau memaksakan kehendak aku, biarlah kamu memikirkan dulu mengenai perasaan kamu yang sebenarnya terhadapku karena aku yakin kamu akan datang kepadaku," gumam Raffa.


Aqila mendapat pesan dari Zahra, kalau siang ini mereka akan mengadakan reunian di sebuah restoran di sebuah Mall. Setelah beres mengajar, Aqila langsung bersiap-siap akan pergi ke sebuah Mall.


"Aqila..."


"Eyang, apakabar Eyang," sapa Aqila dengan memeluk Eyang.


"Kabar Eyang baik-baik saja Sayang, loh kamu mau kemana? sepertinya buru-buru sekali?"


"Qila mau reunian dengan guru-guru tempat Qila dulu mengajar."


"Oh, ya sudah kamu hati-hati ya jangan lupa kalau ada waktu mampir ke rumah."


"Iya Eyang, Cyra Sayang Bu guru duluan ya."


"Iya Bu guru cantik."


Aqila pun langsung menyalakan motornya dan melajukannya menuju sebuah Mall yang sudah di janjikan. Cukup lama Aqila berada di jalan sampai kepanasan karena itu waktunya jam makan siang semua orang sedang keluar unyuk mencari makan siang.


Disaat lampu merah, motor Aqila tidak sengaja berhenti tepat di samping mobil Raffa yang saat itu mau bertemu klien di sebuah restoran.


"Bos, bukannya itu Nyonya Aqila ya?" seru Rey.


Raffa yang saat itu sedang mengotak-ngatik ponselnya, langsung menoleh kearah yang ditunjukkan oleh Rey. Betapa terkejutnya Raffa saat melihat wajah putih Aqila berubah menjadi merah mungkin karena kepanasan. Baru saja Raffa akan keluar dari mobil, lampu sudah berubah menjadi hijau, Aqila segera menancapkan gasnya dan pergi begitu saja.


"Dasar, wanita keras kepala wajah sudah merah seperti itu masih saja memaksakan diri untuk naik motor," gumam Raffa.


Rey pun perlahan mulai melajukkan mobilnya.


"Maaf Tuan, tapi Nyonya Aqila mau kemana ya? ini kan bukan arah ke rumahnya," seru Rey ragu-ragu.


"Iya juga, mau kemana dia? jangan-jangan dia mau kabur lagi, Rey," sahut Raffa panik.


"Tidak mungkinlah Bos, masa kabur tidak bawa apa-apa, mungkin Nyonya Aqila ada kepentingan, Bos."


"Mudah-mudahan omongan kamu benar Rey, kalau Aqila sampai menghilang lagi, aku bisa gila Rey," sahut Raffa.


Sesampainya di Mall, Aqila langsung memarkirkan motornya dan segera mencari dimana teman-temannya berada.


"Hallo semuanya, apakabar!!" teriak Aqila.


"Aqila, aku kangen banget sama you," sahut Zahra dengan memeluk Aqila.


"Iya, aku juga sangat merindukan you," sambung Ranti.


"Aduh..aduh, Bu Aqila asa beuki geulis euy (Bu Aqila, perasaan semakin cantik)," seru Pak Beno.


"Apaan tuh Pak artinya? kami tidak mengerti?" tnaya Bu Wati.


"Bu Aqila semakin cantik saja," sahut Pak Beno.


"Iya ya, lima tahun tidak bertemu wajahnya semakin glowing saja," seru Bu Wati.


"Ah Bu Wati bisa saja."


Aqila pun duduk di samping Fathir, dari tadi Fathir hanya diam saja hanya memperhatikan Aqila.


"Hai Fathir."


"Hai Qila, apakabar?" tanya Fathir.


"Aku baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, aku juga baik-baik saja."


"Syukurlah."


Tidak lama kemudian, pelayan pun mengantarkan makanan yang sudah di pesan Zahra sebelumnya.


"Wow, makanannya banyak banget," seru Aqila.


"Iyalah, kan untuk menyambut kedatangan you dan Pak Fathir kembali, dan makanan ini harus you dan Pak Fathir yang bayar," ucap Ranti.


"Apa? kok gitu, wah ini namanya pemerasan."


"Apaan pemerasan, kita juga ingin merasakan dong uang Papua," seru Ranti.


"Idih, nyesel aku datang kesini," cebik Aqila.


"Sudah-sudah ayo makan, nanti biar aku yang bayar kalian makan saja sepuasnya, pesan apapun yang kalian mau," seru Fathir.


"Asyik, Pak Fathir memang paling the bestlah pokoknya," sahut Zahra.


Mereka semua pun makan dengan riang gembiranya. Bahkan Aqila terlihat tertawa lepas bersama yang lainnya, begitu pun dengan Fathir walaupun saat ini mereka sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa, tapi Fathir merasa bahagia karena sempat memilikinya.


Sedangkan Raffa yang saat ini berada di Mall yang sama dengan Aqila, tidak sengaja melihat Aqila yang sedang tertawa bahagia.

__ADS_1


"Bahkan kamu tidak pernah tertawa bahagia seperti itu saat denganku Aqila, tapi aku akan berusaha membuatmu bahagia," batin Raffa.


"Maaf Bos, klien kita sudah menunggu."


"Baiklah, kita jalan sekarang."


***


"Bu Aqila kenapa tidak mengajar lagi di sekolah kita sih?" tanya Bu Wati.


"Ingin mencari suasana baru, Bu."


"Apa Bu Aqila tidak cinlok dengan Pak Fathir di sana, secara kalian sama-sama selama lima tahun pasti adalah getaran-getaran cinta, iya kan?" goda Bu Wati.


Seketika Aqila tersedak makanannya dan dengan cepat Fathir memberikan minum dan menepuk punggung Aqila dengan pelan.


"Maaf Bu Wati," sahut Aqila.


"Tidak Bu, kita tidak cinlok-cinlokan kok mana mungkin seperti itu kan Aqila istrinya Raffael Abraham, mana mungkin aku berhubungan dengan istri orang," sahut Fathir dengan santainya sehingga membuat Aqila menoleh kearah Fathir.


"Loh, Bu Aqila masih menjadi istrinya Tuan Abraham ya? aku pikir kalian sudah bercerai," celetuk Pak Beno.


"Sembarangan kalau ngomong," sergah Zahra.


"Ya maaf, aku kan tidak tahu soalnya selama ini yang aku lihat Bu Aqila dan Tuan Raffa itu seperti pasangan musuh bukan pasangan suami istri, maaf ya Bu Aqila," seru Pak Beno dengan cengengesan.


"Iya tidak apa-apa kok Pak."


***


Satu bulan kemudian....


Waktu berjalan sangat cepat, satu bulan sudah semenjak acara reunian itu Aqila tidak pernah bertemu lagi dengan Raffa bahkan Raffa tidak pernah terlihat mengantar dan menjemput Cyra lagi.


Ada perasaan rindu dan bersalah di hati Aqila, Aqila tidak pernah fokus mengajar pikirannya terus saja terbayang wajah Raffa.


"Kemana Mas Raffa? apa dia sibuk atau dia masih marah sama aku dengan kejadian dulu," gumam Aqila.


Saat ini Aqila sedang malas-malasan di kamarnya, kebetulan hari ini adalah hari sabtu dan sekolah TK itu libur kalau hari sabtu.


"Aku rindu sama Mas Raffa, apa sekarang aku katakan saja yang sebenarnya kalau aku juga sangat mencintainya," gumam Aqila dengan menopang wajahnya.


"Benar juga, aku harus mengatakannya sekarang, aku lihat Mas Raffa sudah berubah dan itu sudah cukup membuktikan kalau saat ini Mas Raffa benar-benar mencintaiku. Aku akan menemui Mas Raffa ke rumahnya," gumam Aqila.


Dengan semangat 45, Aqila langsung berlari ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual bersih-bersih. Tidak membutuhkan waktu lama, Aqila sudah selesai mandi dan memilih baju yang cocok, Aqila akan berdandan secantik mungkin karena dia akan menemui Raffa.


Setelah sekian lama Aqila mengacak-ngacak lemarinya, Aqila menemukan satu dress selutut warna kuning tanpa lengan sangat cocok dengan kulit Aqila yang putih mulus. Aqila segera memakainya dan memoles wajahnya, rambutnya dia biarkan tergerai indah dengan ujung-ujungnya dibuat sedikit curly.


"Sudah selesai, ya ampun Aqila kamu sangat cantik hari ini, pasti Mas Raffa akan klepek-klepek melihat aku," gumam Aqila dengan PDnya.


Aqila segera mengambil tas selempangnya dan heelnya, hari ini Aqila pergi menggunakan taxi online karena Aqila sudah dandan cantik seperti ini mana mungkin harus panas-panasan naik motor.


Jantung Aqila benar-benar sudah berdetak tak karuan, hatinya sangat bahagia, dia sudah memikirkan semuanya dan akan menjadi istri Raffa seutuhnya. Sesampainya di rumah Raffa, rumah terlihat sepi hanya ada Bi Ria yang sedang membersihkan rumah.


"Selamat pagi, Bi."


"Pagi, Nyonya Aqila apakabar?"


"Bibi juga baik-baik saja, Nyonya."


"Oh iya, kemana orang-orang kok sepi?" tanya Aqila.


"Eyang sama Cyra sedang jalan-jalan Nyonya, katanya Cyra ingin ke kebun binatang, kalau Tuan Raffa sedang bekerja."


"Bekerja, bukannya ini weekend ya?"


"Tuan Raffa tidak mengenal dengan hari libur Nyonya, bahkan akhir-akhir ini Tuan Raffa sering pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi sekali."


"Sesibuk itukah dia?"


"Iya Nyonya, mungkin karena tidak ada seorang istri yang menunggu makannya Mas Raffa seperti itu."


"Iya Bi, aku merasa bersalah sekali sama Mas Raffa."


"Tuan Raffa sudah berubah Nyonya, bahkan saat Nyonya menghilang pun Tuan Raffa seperti orang gila mencari Nyonya kemana-mana, sempat suatu hari Mas Raffa tidak makan berhari-hari disaat Bibi membuatkan makanan untuknya, Tuan Raffa malah menangis dia bilang ke Bibi kalau Tuan Raffa sangat menyesal sudah membuat Nyonya menderita," jelas Bi Ria.


"Apa? Mas Raffa sampai menangis?" tanya Aqila dengan tidak percaya.


"Iya Nyonya, Tuan Raffa sekarang sudah berubah dia sangat mencintai Nyonya, kembalilah ke rumah ini Nyonya dan menjadi istri yang sesungguhnya untuk Tuan Raffa."


Mendengar penjelasan Bi Ria, Aqila semakin merasa bersalah.


"Ya sudah Bi, kalau begitu aku susul Mas Raffa dulu ke kantornya."


"Iya Nyonya."


Dengan langkah tergesa-gesa, Aqila keluar dari rumah Raffa dan dengan cepat menyetop taxi menuju kantor Raffa.


Sementara itu, di Kantor Raffa menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya itu, matanya terpejam dan tangannya sedikit memijit pelepisnya.


"Aqila, aku sangat merindukanmu," batin Raffa.


Tok..tok..tok..


"Masuk."


"Bos, saat ini sudah tidak ada lagi pekerjaan apa Bos akan pulang?" tanya Rey.


"Tidak Rey, aku akan istirahat dulu sebentar disini, kamu boleh pulang terima kasih sudah mau membantuku bekerja di hari weekend seperti ini," sahut Raffa.


"Tidak Bos, itu semua sudah menjadi tanggung jawab saya selaku Asisten pribadi Tuan."


"Kami sudah terlalu lelah bekerja, lebih baik sekarang kamu pulang."


"Tapi, Bos bagaimana?"


"Tidak usah memikirkanku, pergilah bersenang-senang."


"Baik Bos, kalau begitu saya pamit dulu kalau Bos butuh sesuatu langsung saja hubungi saya."


"Hmmm."


Rey pun pergi meninggalkan ruangan Raffa, disaat Rey sampai lobi, Rey melihat Aqila baru saja turun dari taxi.

__ADS_1


"Nyonya Aqila."


"Mas Rey, apa Mas Raffa ada di ruangannya?" tanya Aqila.


"Ada Nyonya, anda langsung saja keruangannya, apa mau saya antar?"


"Ah tidak usah Mas Rey, aku bisa sendiri."


"Ya sudah kalau begitu, saya pamit pulang dulu."


Aqila segera menekan pintu lift, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Raffa. Sementara itu semua karyawan Raffa tampak melihat ke arah Aqila dengan tatapan takjub, mereka tahu kalau Aqila adalah istri dari Bosnya karena disaat pernikahannya dulu, mereka semua datang dan mengucapkan selamat.


"Sudah lama tidak melihat Nyonya Aqila, sekarang semakin cantik saja."


"Iya, cocok dengan Tuan Raffa yang tampannya kebangetan."


Saat ini Aqila sudah sampai di depan ruangan Raffa, Aqila tampak mengatur nafasnya yang saat ini tidak beraturan, dengan yakin Aqila membuka pintu ruangan Raffa, terlihat Raffa masih memejamkan matanya di kursi kebesarannya itu.


"Ada apa lagi, Rey?" tanya Raffa yang mengira kalau itu adalah Rey.


"Mas Raffa."


Raffa langsung membuka matanya saat mendengar suara wanita yang sangat dia rindukan itu.


"Aqila," sahut Raffa sembari beranjak dari duduknya.


Tanpa menunggu lagi, Aqila langsung berlari dan memeluk Raffa.


"Mas, aku sangat merindukanmu."


"Aku juga sangat merindukanmu, Sayang."


Cukup lama mereka berpelukkan, sehingga Raffa melepaskan pelukkannya dan menatap wajah Aqila.


"Benarkah, ini kamu Aqila?" tanya Raffa tidak percaya.


"Iya Mas, ini aku."


"Benarkah kamu merindukanku? apa aku sedang bermimpi saat ini kamu mengatakan itu kepadaku?"


Dengan cepat Aqila berjinjit dan langsung mencium bibir Raffa, awalnya Raffa terkejut tapi akhirnya Raffa membalas ciuman Aqila. Mereka saling merindukan satu sama lain, cukup lama mereka berciuman hingga akhirnya Aqila melepaskan ciumannya.


Kening keduanya saling menempel dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Aku sangat mencintaimu, Mas."


"Aku juga sangat mencintaimu, Aqila."


Raffa dan Aqila saling pandang satu sama lain..


"Apa sekarang kamu sudah memaafkan dan menerima aku sebagai suamimu?" tanya Raffa.


"Iya Mas, aku ingin menjadi istrimu yang seutuhnya."


Raffa sangat bahagia mendengar ucapan Aqila, Raffa menarik tubuh Aqila ke dalam dekapannya.


"Terima kasih Sayang, terima kasih. Aku janji akan membahagiakanmu dan tidak akan membuatmu sedih ataupun terluka."


"Tunggu."


Raffa melepasakan pelukkannya dan mundur satu langkah. Raffa memperhatikan penampilan Aqila dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Kenapa Mas?"


"Kamu dandan seperti ini dari tadi?"


"Memangnya kenapa? jelek ya?"


"Bukannya jelek, kamu terlihat sangat cantik pasti diluaran sana banyak mata lelaki yang melihatmu."


"Jangan lebay deh Mas."


Raffa memeluk Aqila dari belakang..


"Aku tidak rela, istriku yang cantik ini di lihat oleh laki-laki lain."


Aqila membalikkan tubuhnya dan mengalungkan tangannya ke leher Raffa.


"Mereka memang hanya bisa melihat saja. tapi tidak bisa menyentuhku, hanya kamu yang bebas menuentuhku," ucap Aqila dengan mengedipkan matanya genit.


"Hei, apa kamu mencoba menggodaku, Sayang."


"Menggoda suami sendiri, tidak apa-apa kan?" seru Aqila dengan senyuman menggodanya.


"Apa itu tandanya, kita akan berangkat bulan madu?"


Dengan malu-malu dan wajahnya yang sudah memerah, Aqila menganggukkan kepalanya.


"Yes..."


Raffa mengangkat tubuh Aqila dan membawanya memutar-mutar saking bahagianya.


📚


📚


📚


📚


📚


Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2