
📚
📚
📚
📚
📚
Selama dalam perjalanan, Raffa tidak bicara sedikit pun dia hanya fokus melihat jalanan. Aqila tahu kalau saat ini Raffa sedang marah kepada Jorge dan Clarissa yang seenaknya ingin mengambil Cyra darinya.
Tidak lama kemudian, Raffa dan Aqila sampai di rumahnya.
"Daddy..Mommy..." teriak Cyra berlari menghampiri keduanya.
Aqila langsung menahan Cyra dan menyimpan jari telujukknya dibibir, sedangkan Raffa berlalu menuju kamarnya tanpa menghiraukan Cyra.
"Mommy, Daddy kenapa? marah ya sama Cyra?" tanya Cyra dengan wajah yang murung.
"Tidak Sayang, Daddy tidak marah sama Cyra tapi saat ini Daddy sedang capek banyak kerjaan jadi Daddy kamu sekarang mau istirahat, Cyra main dulu sama Eyang, Mommy mau nyusul Daddy dulu."
"Iya Mommy."
Aqila mencium pipi Cyra dengan gemasnya sebelum dia meninggalkan Cyra. Sesampainya di kamar, terlihat Raffa menyandarkan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam dan tangannya memijit pelepisnya terasa nyut-nyutan.
"Mas, Mas kenapa?" tanya Aqila lembut sembari mengusap lengan Raffa.
Raffa membuka matanya dan tersenyum menatap Aqila, kemudian Raffa merebahkan tubuhnya dengan pangkuan Aqila dijadikan sebagai bantalnya. Aqila membelai kepala Raffa dan sedikit memijat kepalanya.
"Aku bingung, Sayang."
"Bingung kenapa?"
"Di satu sisi aku sangat menyayangi Cyra dan aku tidak mau sampai Cyra pergi dari hidupku, tapi disisi lain Clarissa dan Jorge juga berhak atas Cyra karena mereka orang tua kandung Cyra, aku akan berdosa kalau aku berusaha memisahkan mereka walaupun cara yang Clarissa lakukan sangat salah, tapi dia tetap Ibunya Cyra orang yang sudah melahirkan Cyra," ucap Raffa.
"Iya Mas, aku bisa merasakan bagaimana perasaan Clarissa dan aku juga bisa melihat penyesalan Clarissa yang begitu mendalam."
"Terus menurut kamu, aku harus bagaimana Sayang?" tanya Raffa dengan menatap wajah cantik istrinya itu.
"Bagaimana kalau kita katakan yang sebenarnya kepada Cyra, Cyra pasti ngerti asalan kita jelaskannya dengan lembut dan jangan memaksanya kalau dia tidak mau."
"Tapi kamu mau kan menemani dan membantu aku untuk membujuk dan menjelaskan kepada Cyra?"
"Pasti dong, aku akan selalu ada di samping kamu, Mas."
Raffa tersenyum dan mengubah posisi tidurnya menjadi miring dan kepalanya dia benamkan di perut Aqila.
"Mudah-mudahan kamu cepat hamil, Sayang," ucap Raffa dengan menciumi perut Aqila.
Aqila merasa terharu dengan ucapan Raffa, hingga matanya sudah berkaca-kaca.
"Amin."
Raffa bangun dan duduk dihadapan Aqila..
"Sayang, mulai besok aku akan sangat sibuk soalnya ada beberapa cabang perusahaan baru yang harus selalu aku pantau, kebetulan semua cabang baru itu ada di luar kota jadi sepertinya aku akan sering pergi ke luar kota dan meninggalkan kamu, ditambah lagi dengan proyek bersama Jorge dan Jino," ucap Raffa dengan wajah yang sendu.
"Jadi aku bakalan sering di tinggal dong? apa boleh aku ikut?" tanya Aqila.
"Boleh, tapi kalau ikut percuma juga kamunya kasihan pasti disana juga aku bakalan ninggalin kamu di hotel sendirian, jadi lebih baik kamu tunggu saja di rumah ya, aku usahakan pulang cepat," bujuk Raffa.
Aqila tampak cemberut dan langsung meneteskan airmatanya.
"Aduh Sayang, kenapa nangis? ya sudah kalau kamu mau ikut, ayo ikut tapi jangan salahkan aku kalau nanti aku ninggalin kamu di hotel sendirian," sahut Raffa.
"Ih nyebelin, memangnya aku tidak boleh ya ikut ke kantor cabang kamu, Mas? pasti Mas disana punya wanita lain lagi ya, makannya aku tidak boleh ikut ke Kantor cabang kamu," ketus Aqila dan beranjak dari duduknya.
Raffa kembali mengusap wajahnya dengan kasar, Raffa bingung dengan perubahan Aqila yang akhir-akhir ini sangat sensitif bahkan sensitifnya tingkat Dewa.
Raffa menghampiri Aqila yang saat ini bersiap-siap akan masuk ke dalam kamar mandi.
"Ok, kamu boleh ikut ke Kantor cabang kalau kamu mau," seru Raffa.
"Tidak mau, nanti kalau aku ikut ke Kantor kamu, bisa-bisa aku mati kebosanan karena harus mengikuti kamu terus, mending aku diam saja di rumah," sahut Aqila dengan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandina.
__ADS_1
"Ya salam, tadi merengek ingin ikut sampai menangis, sekarang giliran aku nawarin malah di tolak mentah-mentah, maumu apa sih Sayang? untung aku cinta sama kamu," gerutu Raffa sembari mengacak rambutnya frustasi.
Tidak lama kemudian, Aqila selesai dengan ritual mandinya. Aqila keluar dengan memakai hotpant dan tangtop karena tidak tahu kenapa, siang ini begitu gerah.
Aqila berjalan melewati Raffa dan dengan santainya duduk di depan meja riasnya, Aqila tidak memperdulikan tatapan lapar dari Raffa. Raffa mulai mendekat dan mulai menciumi leheh Aqila.
"Kamu harum sekali Sayang, mana sexi sekali," ucap Raffa yang terus saja mengendus-ngendus tubuh Aqila.
"Mas, apaan sih geli tahu, sana mandi memangnya kamu tidak gerah?"
"Kita olahraga dulu yuk, baru nanti mandi," sahut Raffa yang tangannya sudah berkeliaran kemana-mana.
"Tidak mau, enak saja aku sudah mandi."
"Ya sudah, nanti tinggal mandi lagi, kan gampang."
"Big no, sana mandi."
"Sayang, ayolah mulai besok aku akan sibuk terus belum lagi aku akan pergi ke luar kota," rengek Raffa yang masih mengendus-ngendus kulit leher Aqila.
"Bodo amat, sana mandi aku mau tidur siang, ngantuk."
"Aku temenin ya tidurnya," Raffa masih berusaha membujuk.
"Tidak mau, aku mau tidur sendiri kalau Mas mau tidur, tidur di sofa saja."
"Hah."
Raffa melototkan matanya bahkan mulutnya menganga dengan ucapan Aqila.
"Sayang, kok kamu tega sih sama aku, terus bagaimana dengan ini?" rengek Raffa yang menunjukkan sesuatu yang sudah menggelembung.
Aqila hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak peduli dan dia pun segera merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Astaga Sayang, sesuatu yang sudah bangun harus di tidurkan kembali biar kepala aku tidak pusing," Raffa terus saja merengek layaknya anak kecil yang meminta di belikan mainan.
"Sssssttttt...jangan berisik, aku mau tidur."
Dengan kesalnya Raffa menyambar handuk dan menghempaskan pintu kamar mandi dengan sangat kencangnya sehingga membuat Aqila terperanjat karena kaget.
Butuh waktu tiga puluh menit Raffa di kamar mandi karena harus mendinginkan otak dan juniornya yang terlanjur on. Disaat keluar dari kamar mandi, terlihat Aqila sudah tertidur dengan lelapnya.
Wajah Raffa yang tadinya muram dan kesel berubah tersenyum, entah kenapa melihat wajah Aqila rasa kesal dan marahnya langsung menguap begitu saja. Segera Raffa menutupi paha putih nan mulus istrinya itu, ditakutkan nanti juniornya kembali on bisa berabe nanti.
Setelah berganti pakaian, Raffa pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Aqila. Raffa menatap lekat-lekat wajah Aqila dari alis, mata, hidung, sampai terakhir bibir, sungguh istrinya begitu sangat cantik, Raffa sangat menyesal kalau dulu dia sudah membuat Aqila terluka dan sedih.
"Maaf, maafkan aku," gumam Raffa dengan mengelus pipi Aqila.
Aqila sedikit menggerakkan tubuhnya karena merasa terganggu dengan sentuhan Raffa tapi tidak lama kemudian Aqila kembali terlelap dan Raffa pun menghentikan kegiatannya dan ikut terlelap bersama Aqila.
***
Sore pun tiba, Clarissa kembali mendatangi rumah Raffa kebetulan Eyang sedang pergi keluar sementara Raffa dan Aqila masih terlelap tidur.
Cyra saat ini sedang bermain sepeda di halaman rumahnya dengan di temani Bi Ria dan Pak Burhan. Clarissa melihat dengan jelas wajah Cyra yang sangat ceria.
"Astaga, kamu lagi-kamu lagi, sudah sana pergi kalau sampai Tuan dan Nyonya tahu, bisa-bisa mereka marah besar," ujar Pak Rusli.
"Pak, tolong izinkan saya masuk, saya hanya ingin bertemu dengan Cyra," seru Clarissa memelas.
"Tidak bisa, nanti Tuan dan Nyonya marah lebih baik anda pergi dari sini."
Cyra yang sedang asyik bersepeda, menoleh kearah pintu gerbang.
"Ada apa Pak Rusli?" tanya Cyra dengan polosnya.
"Tidak ada apa-apa Non Cyra."
"Cyra Sayang, bisakah Tante berbicara dengan kamu sebentar saja," teriak Clarissa.
Bi Ria dan Pak Burhan yang mendengar teriakan Clarissa langsung berdiri dan membawa Cyra masuk. Tapi Clarissa memanfaatkan kelengahan Pak Rusli dan Clarissa berhasil masuk dan dengan cepat memeluk Cyra.
Semuanya sangat terkejut dengan tindakan nekad Clarissa.
"Cyra Sayang, maafkan Mama Sayang, Mama rindu sekali kepadamu," ucap Clarissa dengan bibir bergetar sembari berlinang airmata.
__ADS_1
"Astaga, anda sangat nekad lepaskan Non Cyra," bentak Pak Rusli.
Sedangkan Bi Ria segera berlari ke kamar Raffa untuk memberitahukan kejadian ini.
Tok..tok..tok..
"Tuan, Nyonya, tolong keluar sebentar," teriak Bi Ria.
Aqila merentangkan tangannya karena mendengar teriakan Bi Ria, sedangkan Raffa masih terlelap tidur. Aqila segera memakai jubah tidurnya dan membukakan pintu.
"Ada apa Bi?"
"Itu Nyonya, di bawah ada Clarissa."
"Apa? ok aku dan Mas Raffa akan segera ke bawah."
Aqila pun segera membangunkan Raffa..
"Mas, bangun Mas."
"Hmmm...ada apa?"
"Ayo buruan bangun, di bawah ada Clarissa aku takut dia akan membawa Cyra."
"Apa?"
Raffa langsung bangun dan berlari ke bawah di susul oleh Aqila. Sesampainya di bawah, Clarissa masih saja memeluk Cyra dan terlihat Cyra merasa tidak nyaman dan ketakutan.
"Apa-apaan kamu, Clarissa?" teriak Raffa.
Semua orang tampak melihat kearah Raffa dan Cyra pun langsung berlari kearah Aqila dan memeluknya.
"Berani-beraninya kamu menginjakkan kakimu di rumahku," teriak Raffa.
"Mas, aku mohon biarkan aku mendekati Cyra karena aku juga ingin mengurus anakku, Mas."
Cyra tampak membenamkan wajahnya di perut Aqila.
"Mommy, Cyra tidak mau ikut Tante itu," seru Cyra.
"Kamu dengar kan apa yang dikatakan Cyra?" sahut Raffa.
"Cyra Sayang, aku ini Mama kandungmu maafkan Mama karena sudah menelantarkan kamu tapi itu semua karena Mama ingin membuat kamu bahagia, Mama tidak ingin membuat kamu susah dan menderita," ucap Clarissa dengan deraian airmata.
Clarissa mendekat dan hendak ingin memeluk Cyra kembali tapi Cyra malah bersembunyi di belakang tubuh Aqila.
"Cyra Sayang, ini Mama Sayang."
"Clarisa, aku mohon jangan memaksakan Cyra karena aku takut nanti Cyra bukannya mau sama kamu malah dia akan menjauhi kamu, beri kami waktu untuk menyakinkan dan menjelaskan kepada Cyra, jadi lebih baik sekarang kamu pulang dulu," seru Aqila.
"Tapi kalian harus berjanji akan membujuk Cyra."
"Iya, kami janji."
Clarissa pun dengan langkah gontai meninggalkan rumah Raffa, sekali lagi Clarissa gagal meyakinkan Cyra untuk ikut bersamanya.
📚
📚
📚
📚
📚
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU