
📚
📚
📚
📚
📚
Malam pun tiba, Aqila tampak sangat cantik dengan gaun yang diberikan oleh Raff. Walaupun saat ini perutnya sudah kelihatan sedikit buncit, tapi tidak mengurangi kecantikan seorang Aqila.
"Mas, sudah kelihatan buncit memangnya tidak apa-apa?" tanya Aqila.
"Walaupun buncit, tapi kamu tetap cantik kok. Yuk kita turun ke bawah aku sudah menyiapkan semuanya."
Aqila pun mengaitkan tangannya ke lengan Raffa. Malam ini mereka adalah pasangan yang menjadi sorot perhatian semua tamu.
"Kita akan makan malam di rooftoop supaya tidak ada yang mengganggu kita."
Aqila hanya tersenyum dan mengikuti kemana pun Raffa melangkah. Sesampainya di rooftoop, betapa terkejutnya Aqila melihat suasana di sana yang sangat romantis.
Lilin berjejer di semua penjuru ruangan, dan kelopak bunga pun bertebaran dimana-mana menambah kesan romantis.
"Ya ampun Mas, romantis sekali."
"Bagaimana kamu suka?"
"Suka banget Mas, terima kasih ya Sayang."
Aqila memeluk Raffa dan mencium pipinya saking bahagianya. Raffa kemudian mengambil buket bunga, dan berlutut di hadapan Aqila.
"Happy birth day istriku tercinta."
"Terima kasih suamiku tercinta."
Kemudian Raffa mengelus perut Aqila dan menciumnya berulang-ulang.
"Terima kasih sayang sudah hadir di kehidupan Daddy, jadi anak yang sehat dan pintar ya Nak. Daddy sudah tidak sabar menunggu kelahiranmu," ucap Raffa dengan terus menciumi perut Aqila.
Aqila merasa terharu dia sampai meneteskan airmatanya. Aqila sungguh tidak menyangka Raffa yang dulu sangat membencinya, sekarang berubah menjadi sangat mencintainya.
"Hai, kok mau nangis Sayang?"
"Terima kasih Mas sudah menjadi suamiku, menjagaku, mencintaiku, menyayangiku, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini hanya kamu dan Eyang keluarga aku satu-satunya, tolong jangan pernah tinggalin aku Mas," ucap Aqila.
Raffa menarik tubuh Aqila ke dalam pelukkannya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Sayang, maaf kalau dulu aku pernah menyia-nyiakan kamu."
Cukup lama mereka berpelukkan dan membuat Aqila merasa nyaman.
"Apa kita akan berpelukkan seperti ini sampai pagi, Sayang," goda Raffa.
Aqila tersadar dan melepaskan pelukkannya, Aqila tampak tersenyum cantik sekali.
"Maaf."
"Ya sudah, ayo kita makan nanti keburu dingin makanannya."
Raffa menarik kursi untuk Aqila, malam ini Raffa tampak manis dengan sikapnya membuat Aqila merasa di manja. Alunan musik romantis mengiring makan malam mereka sehingga menambah kesan romantis.
***
Keesokkan harinya...
Semuanya sudah berkumpul di rooftop penginapan, pesawat pribadi Raffa sudah datang dan mereka pun dengan cepat-cepat masuk ke dalam pesawat itu. Liburan kali ini berjalan dengan lancar dan penuh dengan kebahagiaan.
Sesampainya di Bandara, semuanya berpisah dengan pasangan masing-masing. Fathir mengantarkan Angel pulang, selama dalam perjalanan Fathir tidak pernah melepaskan genggaman tangan Angel dan tentu saja itu membuat Angel sangat bahagia.
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" tanya Fathir.
"Aku sangat bahagia Fathir, akhirnya kamu mau membalas cintaku, aku belum pernah merasakan hal paling membahagiakan dalam hidupku seperti sekarang," sahut Angel dengan mata yang sudah mulai berembun.
Fathir yang melihat itu langsung menepikan mobilnya.
"Kenapa kamu nangis?"
"Aku sangat bahagia akhirnya ada orang yang benar-benar mencintaiku."
Fathir merasa terharu dengan ucapan Angel, tanpa basa-basi lagi Fathir menarik dagu Angel dan memciumnya. Angel melotot dia kaget tapi lama-kelamaan Angel juga tidak bisa menolak. Fathir melepaskan pungutannya..
"Apa ini ciuman pertamamu?" goda Fathir.
Wajah Angel memerah dengan ucapan Fathir, memang benar yang di katakan Fathir kalau ini adalah ciuman pertamanya karena Angel merasa malu akhirnya Angel membuang wajahnya keluar jendela dan itu membuat Fathir terkekeh, tanpa Angel bicara pun dia sudah tahu jawabannya.
Fathir pun mulai melajukan mobilnya kembali dan tidak lama kemudian mereka pun sampai di rumah Angel.
"Apa kamu mau mampir dulu?" tanya Angel.
"Ah tidak, lain kali saja soalnya aku capek banget pengen istirahat."
"Ya sudah, terima kasih sudah mengantarkan aku pulang."
Fathir pun turun dan membantu menurunkan koper milik Angel.
"Aku pulang dulu ya," ucap Fathir dengan mencium kening Angel.
"Iya, kamu hati-hati ya."
Fathir pun masuk ke dalam mobilnya dan melambaikan tangannya ke arah Angel. Dari dalam rumah Mama Ratna dan Linda sudah gemas melihat kelakuan Angel.
Dengan senyuman yang merekah dan hati yang berbunga-bunga, Angel melangkahkan kakinya menuju rumah dengan menggeret kopernya.
"Bagus ya, habis pulang liburan dan bermesraan dengan Fathir bahagia sekali kamu," ucap Linda dengan menjambak rambut Angel.
__ADS_1
"Aw, ampun Kak sakit."
"Bisa-bisanya kamu melupakan Kakakmu dan mempermalukan dia di depan semua orang," bentak Mama Ratna dengan mendorong Angel sehingga Angel terjerembab ke lantai.
Mama Ratna membangunkan Angel dengan kasar dan mencengkram wajah Angel membuat Angel meringis kesakitan.
"Hebat sekali kamu bisa berteman dengan orang-orang kalangan atas, apalagi Linda bilang disana ada Pak Raffa, kenal dari mana kamu dengan Pak Raffa?" bentak Mama Ratna dan menampar Angel sehingga sudut bibirnya berdarah.
Angel hanya bisa menangis menahan rasa sakit yang dia rasakan. Sementara itu Fathir melirik ke arah kursi yang di duduki Angel tadi, terlihat ponsel Angel tergeletak disana.
"Astaga, dasar ceroboh," gumam Fathir.
Fathir pun akhirnya memutar balik mobilnya dan hendak mengembalikan ponsel milik Angel. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Fathir sampai di rumah Angel. Tidak ada sahutan dari orang-orang rumah, hingga akhirnya Fathir langsung memasuki rumah karena Fathir melihat pintunya terbuka.
"Kamu memang anak tidak tahu diri, Angel," teriak Mama Ratna.
Fathir yang mendengar teriakan itu langsung berjalan masuk dengan terburu-buru dan betapa terkejutnya Fathir saat melihat Angel sedang di siksa oleh Mama dan Kakaknya bahkan saat ini wajah Angel sudah babak belur.
Disaat Mama Ratna mendorong Angel, dengan sigap Fathir menahannya dan membuat Mama Ratna dan Linda terbelalak karena terkejut.
"Fa--Fathir," lirih Angel.
Angel jatuh tak sadarkan diri di pelukkan Fathir, rahang Fathir mengeras, dia mengepalkan tangannya, matanya pun mulai memerah terdapat kemarahan yang sangat luar biasa disana.
"Apa yang sudah kalian lakukan terhadap Angel," teriak Fathir dengan suara yang menggema di seluruh ruangan.
Mama Ratna dan Linda saling berpelukkan saking takutnya mendengar teriakkan Fathir bahkan saat ini badan mereka sudah bergetar hebat.
"Kalian benar-benar bukan manusia, urusan kita belum selesai saya pastikan kalian akan segera mendekam di penjara," bentak Fathir.
Fathir segera mengangkat tubuh Angel dan membawanya ke rumah sakit.
"Bagaimana ini Ma, Linda tidak mau di penjara," rengek Linda.
"Memangnya kamu pikir Mama juga mau apa di penjara."
"Terus sekarang kita harus bagaimana?"
"Mama juga tidak tahu Linda."
Fathir segera membawa Angel ke rumah sakit, setelah mendapatkan penanganan Angel pun di pindahkan ke ruangan rawat inap.
"Angel, kamu kenapa sayang?" tanya Papa Willy yang baru saja sampai di rumah sakit.
Fathir langsung menghubungi Papa Willy supaya dia tahu bagaimana kelakuan anak dan istrinya selama dia tidak ada.
"Om, Angel baru saja minum obat biarkan dia istirahat dulu."
"Fathir apa yang sebenarnya sudah terjadi? kenapa wajah Angel sampai lebam-lebam seperti ini?" tanya Papa Willy khawatir.
"Angel di siksa oleh Tante Ratn dan Linda."
"Apa? mana mungkin, kenapa mereka sampai tega melakukan semua ini, buat apa?"
"Lebih baik Om tanya saja langsung kepada mereka."
"Baik Om."
Dengan amarah yang memuncak, Papa Willy segera meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Papa Willy langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Ratna, Linda, keluar kalian berdua," teriak Papa Willy.
"Ma, itu kan suara Papa, bagaimana ini?"
"Mama juga bingung, ya sudah ayo lebih baik kita temui Papamu."
"Tapi Linda takut, Ma."
"Mama juga takut, tapi mau bagaimana lagi daripada Papamu semakin marah."
Dengan berpegangan tangan mereka turun ke bawah dengan tubuh yang gemetar. Di lihatnya Papa Willy sudah bertolak pinggang menyambut kedatangan keduanya.
"Pa--Papa."
"Apa yang sudah kalian lakukan kepada Angel?" bentak Papa Willy.
"Ka---kami anu kami...."
Papa Willy mencengkram wajah Mama Ratna sehingga Mama Ratna meringis.
"Pa, maafkan kami, kami khilaf Pa," seru Linda.
"Apa khilaf? kenapa kalian siksa anakku? apa salah Angel sampai kalian tega menyiksanya seperti itu?" bentak Papa Willy.
Anak dan Ibu itu hanya mampu menundukkan wajahnya tidak berani memandang Papa Willy.
"Sekarang juga angkat kaki kalian dari rumahku, dan untukmu Ratna tunggu surat cerai dariku."
"Mas aku mohon jangan ceraikan aku, aku minta maaf aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Iya Pa, Linda juga minta maaf, Linda akan melakukan apapun supaya Papa dan Angel mau maafkan Linda," rengek Linda dengan deraian airmatanya.
"Kalian pergi dari sini apa aku jebloskan kalian ke penjara," bentak Papa Willy.
Mama Ratna dan Linda terbelalak, mereka berdua langsung berlutut memeluk kaki Papa Willy dengan deraian airmata.
"Ampuni kami Mas, kami memang salah tapi kami janji kami tidak akan mengulanginya lagi."
"Pergi aku bilang."
Mama Ratna dan Linda tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan deraian airmata, akhirnya mereka menuju kamar masing-masing untuk membereskan barang-barang mereka.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Mama Ratna dan Lina selesai, dan dengan hati-hati mereka menggeret koper mereka dan menghampiri Papa Willy yang saat ini sedang duduk di sofa sembari memijak keningnya yang terasa nyut-nyutan.
"Mas, apa Mas tidak mau mempertimbangkannya sekali lagi?" seru Mama Ratna.
__ADS_1
"Linda, kembalikan ATM Angel karena menurut Bi Arum kamu sudah mengambil ATM punya Angel."
Linda tidak bisa berkutik lagi, dia mengambil ATM milik Angel dari dalam dompetnya dan menyerahkannya kepada Papa Willy.
"Sungguh tidak tahu malu kalian, sekarang cepat angkat kaki dari rumahku, aku sudah muak dengan kalian."
Akhirnya dengan langkah gontai, anak dan Ibu itu keluar dari rumah mewah nan megah itu dengan perasaan sakit. Akhirnya sifat tamak dari keduanya berujung kesengsaraan.
***
Sementara itu, Aqila dan Raffa baru saja sampai di rumah.
"Nyonya, Tuan, Eyang jatuh pingsan," seru Bi Ria dengan paniknya.
"Apa?"
Raffa pun segera berlari ke kamar Eyang dan segera mengangkat tubuh Eyang untuk di bawa ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Eyang langsung mendapatkan penangan khusus. Raffa tampak mondar-mandir di depan ICU, Aqila yang melihat kekhawatiran Raffa menariknya untuk duduk.
"Mas tenang dulu, lebih baik sekarang kita berdo'a saja semoga Eyang tidak apa-apa."
"Aku sangat khawatir Sayang, Eyang adalah keluargaku satu-satunya."
Aqila mengusap punggung Raffa untuk memberikan ketenangan. Dua jam sudah berlalu dan Dokter sama sekali belum ada tanda-tanda keluar, membuat Raffa semakin cemas dan khawatir.
Tidak lama kemudian pintu ruangan ICU pun terbuka, Dokter itu keluar dengan menundukkan kepalanya.
"Dokter, bagaimana keadaan Eyang saya?" tanya Raffa tidak sabaran.
"Maaf Tuan Raffa, kami sudah melakukan semaksimal mungkin tapi Alloh berkehendak lain dan Alloh lebih sayang kepada Eyang anda," sahut Sang Dokter.
"Maksud Dokter apa? jelaskan yang benar," bentak Raffa dengan mengguncangkan tubuh Sang Dokter.
"Eyang anda sudah meninggal dunia."
Jedaaaaaarrrrrrr....
Lemas sudah kaki Raffa, dia tersungkur ke lantai dengan deraian airmatanya yang sudah tidak tertahan lagi.
"Mas."
Aqila berjongkok dan memeluk suaminya itu dengan deraian airmata pula.
"Sayang, kenapa Eyang pergi ninggalin aku? coba katakan kalau Dokter itu bohong, dan Eyang masih hidup," seru Raffa.
"Mas, harus ikhlas dan sabar mungkin ini jalan terbaik supaya Eyang tidak merasakan sakit lagi."
"Aku sekarang sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Sayang."
"Mas, Mas kan masih punya aku kita jalani hidup kita bersama-sama."
Raffa menangis sejadi-jadinya di pelukkan Aqila dan Aqila pun ikut menangis.
"Mas, sudah yuk kita pulang jenazah Eyang sudah dibawa pakai ambulance."
Raffa pun menganggukkan kepalanya dan Aqila membantu dirinya untuk berdiri. Sesampainya di rumah, Raffa tidak henti-hentinya meneteskan airmatanya sehingga membuat Aqila ikut menangis juga.
Akhirnya pemakaman Eyang sudah selesai, semua para pelayat satu persatu sudah meninggalkan pemakaman. Hanya tinggal Raffa dan Aqila yang masih tersisa.
"Eyang maafkan Raffa kalau selama ini Raffa belum bisa menjadi cucu yang baik, semoga Eyang tenang di sana, Eyang jangan khawatir karena Raffa sudah ada Aqila yang akan menemani Raffa."
Aqila mengusap punggung suaminya itu dengan penuh kasih sayang dan menyandarkan kepalanya ke pundak Raffa. Raffa mengajak Aqila untuk pulang, selama dalam perjalanan Raffa menyandarkan kepalanya ke pundak Aqila, kepalanya agak sedikit pusing.
"Nyonya, kita mau kemana dulu?" tanya Pak Burhan.
"Langsung pulang saja Pak."
"Baik Nyonya."
Sesampainya di rumah, Raffa langsung naik ke atas kamarnya sementara Aqila pergi ke dapur untuk memasak sesuatu buat Raffa karena Raffa belum makan dari tadi pagi.
Aqila memasak soto Ayam kesukaan Raffa, setelah selesai masak, Aqila membawanya ke kamar.
"Mas, makan dulu yuk aku sudah masakin soto ayam kesukaan Mas, dari tadi pagi Mas belum makan."
"Aku tidak lapar Sayang, kamu saja yang makan biar anak kita sehat."
"Ya sudah, kalau Mas tidak mau makan, aku juga tidak akan makan."
Aqila menyimpan nampan makanan itu di atas nakas dengan wajah yang cemberut. Raffa perlahan bangkit dan mengambil nampan makanan itu.
"Ya sudah, aku makan tapi makannya berdua ya aku suapin."
Aqila pun menganggukkan kepalanya, satu suap masuk ke mulutnya dan satu suap masuk ke mulut Aqila, begitu seterusnya sampai tidak terasa akhirnya makanannya pun habis tak bersisa.
📚
📚
📚
📚
📚
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU