
π
π
π
π
π
Keesokan harinya....
Ibu Ami masuk kedalam kamar Aqila dan membangunkan Aqila dengan pelan.
"Aqila Sayang, ayo cepetan bangun memangnya kamu tidak ke sekolah?" seru Ibu Ami.
"Aqila ke sekolahnya agak siangan Bu, karena Aqila dapat jadwal kedua," sahut Aqila dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ya sudah, kalau begitu Ibu berangkat duluan ya."
"Iya Bu."
Ibu Ami pun berangkat menuju sekolah tempatnya mengajar, sementara Aqila masih bergumul dengan selimutnya.
Setengah jam kemudian, Aqila sudah selesai mandi dan bersiap-siap untuk sarapan. Tiba-tiba terdengar pintu diketok, Aqila langsung membukakan pintu.
"Hai..selamat pagi," sapa Jino dengan senyumannya sembari melambaikan tangannya.
"Mas Jino, ada apa? kok Mas Jino tahu rumah aku?" tanya Aqila kaget.
"Kalau cuma urusan nyari alamat, itu urusan gampang buat aku, setelah tahu alamat rumah kamu, aku berniat mampir dulu soalnya arah Kantor aku sama dengan rumah kamu."
"Ah gitu ya, apa Mas Jino sudah sarapan?"
"Belum sih," sahut Jino cengengesan.
"Ya sudah, kebetulan aku buat nasi goreng lumayan banyak apa Mas Jino mau mencoba nasi goreng buatan aku?" tanya Aqila.
"Wah, mau banget."
"Tapi makannya disini saja ga apa-apa kan Mas, soalnya dirumah tidak ada siapa-siapa, lagipula ga enak juga nanti disangkanya kita ngapa-ngapain," seru Aqila.
"Baiklah, aku tunggu disini."
Jino pun menunggu dikursi yang ada di teras rumah Aqila, Aqila segera masuk ke dalam dan membawa dua piring nasi goreng dan air putih.
"Silakan Mas dicicipi, maaf nasi gorengnya sederhana."
Jino pun mulai mencicipi nasi goreng buatan Aqila.
"Wah, enak banget nasi gorengnya ternyata kamu jago masak juga ya, sungguh istri idaman aku jadi iri sama Raffa yang sangat beruntung bisa mempunyai istri seperti kamu, sudah cantik, jago masak pula," cerocos Jino dengan mulut penuh dengan nasi goreng.
"Tapi tidak buat Mas Raffa," sahut Aqila tiba-tiba.
Jino menghentikan makannya, dia tahu saat ini dia sudah salah bicara.
"Maaf Aqila, aku tidak bermaksud untuk bicata seperti itu," sesal Jino.
"Tidak apa-apa Mas, aku sudah biasa kok menjadi istri yang tidak dianggap," sahut Aqila dengan tetap memperlihatkan senyumannya.
"Si Raffa benar-benar bodoh, menyia-nyiakan wanita sebaik dan secantik Aqila," batin Jino.
Sementara itu dari kejauhan, seorang pria tampan tampak mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras. Ya pria itu adalah Raffa, semalaman Raffa tidak bisa tidur dan memutuskan untuk kerumah Aqila dan berniat melihat keadaan Aqila.
Tapi sesampainya dirumah Aqila, Raffa kembali emosi melihat Jino berada disana bahkan saat ini Jino dan Aqila sedang tertawa karena Jino berusaha menghibur Aqila.
"Sudah ah Mas, perut aku sakit dari tadi ketawa terus," seru Aqila.
"Nah gitu dong tertawa jangan sedih terus, oh iya kamu mau naik apa ke sekolah?" tanya Jino.
"Aku mau naik taxi saja."
"Ya sudah, aku saja yang anterin kamu ke sekolah."
"Jangan Mas, aku ga mau ngerepotin Mas lagipula pasti Mas mau ke Kantor kan nanti telat lagi," tolak Aqila.
"Aku kan Bosnya, jadi aku mau datang jam berapa pun tidak akan ada yang melarangnya, sudahlah jangan menolak lagi anggap saja ini bayaran untuk sarapan gratisnya," seru Jino.
"Tapi Mas---"
"Sudah sana siap-siap, aku tunggu kamu disini."
Aqila pun hanya bisa pasrah dan dengan cepat mengambil tas dan peralatan sekolahnya.
"Jalan Rey," seru Raffa dengan dinginnya.
Rey pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Aqila.
"Yuk Mas."
"Let's go."
__ADS_1
Aqila pun masuk ke dalam mobil Jino..
Tidak ada pembicaraan yang berarti, tidak lama kemudian mobil Jino pun sampai di sekolah tepat Aqila mengajar.
"Terimakasih Mas Jino, aku masuk dulu."
"Tunggu Aqila," seru Jino dengan menarik tangan Aqila.
Aqila melihat tangannya yang dipegang oleh Jino dan Jino sadar kemudian melepaskan pegangannya.
"Ah maaf Aqila, aku tidak bermaksud apa-apa, aku cuma mau bilang kalau kamu butuh bantuan, kamu tidak usah sungkan-sungkan hubungi saja aku dan ini kartu nama aku," seru Jino dengan memberikan kartu namanya.
"Iya, terimakasih Mas kalau begitu aku masuk dulu, Mas hati-hati dijalan."
Jino tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sementara itu di parkiran sekolah seorang pria tampan yang tidak lain adalah Fathir merasa cemburu karena Aqila diantar oleh seseorang yang dia tidak kenal.
"Qila," teriak Fathir.
"Fathir."
"Kamu dianterin sam siapa?" tanya Fathir dengan sedikit kesal.
"Oh, itu Mas Jino temannya Mas Raffa."
"Kok kamu bisa dianterin sama dia?" tanya Fathir kembali.
"Tadi Mas Jino sekalian mau berangkat ke Kantornya, Kantornya kan melewati sekolahan ini jadi sekalian nganterin aku deh."
"Memangnya kamu ketemu dimana sama dia?" Fathir semakin cemburu dan penasaran.
"Kamu kenapa sih Fathir? kok hari ini bawel banget," seru Aqila.
"Ah tidak apa-apa hanya ingin tahu saja, aku cuma ingin mengingatkan saja jangan terlalu percaya sama orang baru takutnya dia punya niat jahat sama kamu."
"Fathir, jangan ngomong seperti itu tidak baik lagipula Mas Jino orang baik kok, kamu jangan suudzon sama orang lain," sahut Aqila dan melangkah meninggalkan Fathir.
"Ah sial, jangan-jangan pria tadi suka juga sama Aqila," batin Fathir.
***
1 bulan kemudian....
Raffa makin uring-uringan ga jelas, pasalnya sudah satu bulan ini Aqila tidak mau pulang sudah berbagai cara Raffa lakukan supaya Aqila bisa pulang ke rumah tapi sama sekali tidak berhasil.
Bahkan Eyang Puteri pun yang di gadang-gadang bisa membujuk Aqila nyatanya tetap saja Aqila tidak mau pulang lagi ke rumah Raffa. Eyang sampai kehabisan cara untuk membujuk Aqila dan pada akhirnya Eyang menuruti keinginan Aqila untuk menenangkan diri dulu di rumahnya.
Eyang sampai memberikan pilihan, Aqila boleh tinggal di rumah Ibunya tapi dengan satu syarat, Aqila tidak boleh menggugat cerai Raffa. Sedangkan Raffa yang memang sudah terbiasa segala sesuatunya di siapkan oleh Aqila merasa frustasi. Baru satu bulan saja, Raffa sudah uring-uringan apalagi kalau sampai Aqila meninggalkannya selamanya.
Setelah selesai memakai pakaiannya, Raffa langsung berangkat ke Kantor selama satu bulan ini Raffa selalu melewatkan sarapannya.
Sesampainya di Kantor, Raffa terus saja uring-uringan bahkan kalau ingat Aqila dan Jino bersama waktu itu, emosi Raffa langsung meledak-ledak.
Tok..tok..tok..
"Masuk."
"Maaf Mas mengganggu sebentar, ada yang harus aku katakan sama Mas," ucap Clarissa ragu-ragu.
"Kamu mau bicara apa? mari duduk di sopa."
Clarissa tampak menundukkan kepalanya dan tiba-tiba Clarissa meneteskan airmatanya.
"Hai, kamu kenapa Clarissa kok nangis?" tanya Raffa.
"Ini Mas."
Clarissa memberikan alat yang berupa benda panjang, dengan terdapat garis dua garis merah di dalammya.
"Apa ini Clarissa?" tanya Raffa bingung.
"Itu testpeck alat tes kehamilan dan disana menunjukkan kalau aku hamil Mas, aku sedang mengandung anakmu Mas," jelas Clarissa dengan deraian airmata.
Jedaaaaaaarrrrr.....
Tangan Raffa bergetar dan tidak sadar menjatuhkan testpeck itu ke lantai. Tubuhnya membeku seperti es, Raffa benar-benar tidak menyangka kalau hasilnya menjadi seperti ini.
"Mas, bagaimana ini saat ini aku sedang mengandung anakmu sementara kamu masih berstatus suami orang, apa yang harus aku lakukan? aku tidak mau anak ini lahir tanpa seorang Ayah," seru Clarissa dengan tangisannya yang semakin tersedu-sedu.
Raffa bungkam, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Seketika Clarissa mengguncangkan tubuh Raffa membuat Raffa tersadar dari lamunannya.
"Mas, kok malah diam sih? jangan bilang Mas tidak mau bertanggung jawab? kalau Mas tidak mau bertanggung jawab, biar aku mati saja," seru Clarissa dengan beranjak dari duduknya.
Raffa menarik tangan Clarissa...
"Bukannya begitu aku masih syok saja, ok kamu duduk dulu kita bicarakan semuanya baik-baik."
"Pokoknya aku tidak mau tahu, Mas harus nikahin aku secepatnya aku tidak mau menunggu lagi soalnya lama-kelamaan perutku akan membesar, aku tidak mau menjadi bahan gunjingan orang-orang," seru Clarissa.
"Iya..iya, aku harus menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan Eyang," sahut Raffa dengan nada frustasi.
Clarissa keluar dari ruangan Raffa dengan senyuman yang mengembang, kali ini Clarissa akan menjadi Nyonya besar dan menyingkirkan istrinya Raffa.
__ADS_1
***
Sedangkan dilain sisi, Eyang Puteri sudah berada di rumah Aqila dengan berbagai bujuk rayu akhirnya Aqila bersedia pulang lagi ke rumah Eyang.
Sore itu Aqila pulang bersama Eyang ke rumahnya, seperti biasa Eyang dan Aqila bercanda bersama saling tertawa membuat Eyang sampai mengeluarkan airmata karena cerita lucu yang Aqila ceritakan.
"Sayang, Eyang mohon apapun yang terjadi kamu jangan pergi lagi dari rumah ya, Eyang sangat kesepian dirumah," seru Eyang dengan menggenggam tangan Aqila.
Aqila tidak bisa menjawab apa-apa hanya senyuman yang Aqila perlihatkan, Aqila tidak bisa berjanji apapun kepada Eyang karena tidak menutup kemungkinan kalau Raffa akan melakukan hal yang sama kepada Aqila.
Sesampainya di rumah, Aqila langsung menuju ke kamarnya. Aqila memperhatikan seluruh kamar Raffa sangat berantakan, baju kotor ada dimana-mana, sepatu, handuk, semuanya berceceran dimana-mana.
"Astaga...apa-apaan ini, apa dia tidak puas menyiksaku dan sekarang dia menyambut kedatanganku dengan semua ini," gumam Aqila.
Aqila mulai memunguti semua pakaian kotor Raffa dan memasukannya ke mesin cuci, merapikan tempat tidur, menyapu dan mengepel kamar Raffa sehingga membuat kamar Raffa kembali bersih.
"Ah, akhirnya selesai juga kalau begini kan jadi enak dilihat ga berantakan," gumam Aqila dengan merentangkan kedua tangannya.
Aqila hendak mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, tapi pada saat Aqila menuju lemari pakaiannya betapa terkejutnya Aqila melihat semua pakaian Raffa berantakan dan keluar dari tempatnya.
Bahkan dasi, ****** *****, kemeja, jas, semuanya berantakan. Semenjak Aqila pergi dari rumah Raffa sangat frustasi dan mengambil apapun dengan seenaknya. Keperluan Raffa memang sudah terbiasa disiapkan oleh Aqila.
"Ya ampun, apa lagi ini."
Dengan lemasnya Aqila terpaksa merapikan kbali semua pakaian Raffa, Aqila memisahkan semuanya dari dasi, ****** *****, kemeja, jas, celana, dan sebagainya.
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 21.00 malam, tapi pekerjaan Aqila masih belum selesai, Aqila memang tidak mau meminta bantuan para pelayan yang puluhan orang itu, Aqila lebih memilih mengerjakannya sendiri karena menurut Aqila kamar adalah merupakan tempat pribadi.
Aqila mulai menguap dan akhirnya tanpa terasa Aqila akhirnya tertidur dengan menyandar ke lemari pakaian sementara tangannya masih memegang pakaian Raffa yang belum sempat dia lipat.
Raffa sampai rumah tepat pukul 21.30 malam, penampilan Raffa tampak acak-acakan, langkahnya gontai menuju kamarnya, Raffa benar-benar frustasi dengan semua ini. Sesampainya dikamar, Raffa tampak terkejut dengan keadaan kamarnya yang kembali bersih dan wangi.
"Apa tadi ada pelayan yang membersihkan kamar ini?" gumam Raffa.
Raffa pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya, tidak lama kemudian Raffa keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.
Perlahan Raffa menuju walk in closhet miliknya, tidak sengaja Raffa tersandung kaki Aqila yang tampak selonjoran dan masih tertidur.
"Astaga, Aqila..." seru Raffa.
Raffa dengan cepat memakai pakaiannya setelah itu menghampiri Aqila.
"Ternyata yang membersihkan kamarku kamu Aqila, dasar bodoh sudah jelas-jelas disini ada banyak pelayan ngapain kamu membersihkannya sendirian," gumam Raffa dengan menyunggingkan senyumannya.
Raffa pun segera mengangkat tubuh Aqila dan merebahkan tubuh Aqila di kasur tempat dia tidur, tidak tahu kenapa Raffa membawa Aqila tidur ditempat tidurnya. Raffa menyelimuti tubuh Aqila, Raffa pun memiringkan tubuhnya menghadap kearah Aqila.
"Kenapa aku merasa bahagia melihat kamu kembali lagi kesini? tidak tahu kenapa, dengan hanya melihat wajahmu semangatku kembali bangkit," gumam Raffa dengan mengelus pipi Aqila.
Aqila menggerakkan tubuhnya dan memiringkan tubuhnya tepat kearah Raffa, wajah Aqila begitu dekat dengan wajah Raffa membuat Raffa melotot dan jantung Raffa berdetak sangat kencang.
Raffa terlihat gugup, Raffa memperhatikan seluruh wajah Aqila dan tatapan Raffa tertuju kepada bibir merah muda Aqila, bibir tipis Aqila yang begitu menggoda. Raffa tampak menelan salivanya, perlahan Raffa menyentuh bibir Aqila tapi seketika bayang-bayang Clarissa yang menyatakan kalau dia hamil menghentikan kegiatan Raffa.
"Bukannya ini keinginan aku menikah dengan Clarissa, tapi kenapa hati aku tidak rela kalau harus kehilangan Aqila," gumam Raffa.
Akhirnya karena kelelahan, Raffa pun menyusul Aqila menuju alam mimpinya.
***
Keesokan harinya....
Aqila merentangkan kedua tangannya, Aqila membuka matanya perutnya terasa berat perlahan Aqila melihat kearah perutnya, betapa terkejutnya Aqila saat melihat tangan Raffa yang melingkar manja diatas perut Aqila.
Seketika Aqila menutup mulutnya dan memperhatikan sekeliling, pantasan saja tidurnya terasa nyenyak dan nyaman karena dia tidur di atas ranjang Raffa. Perlahan Aqila mengangkat tangan Raffa dan memindahkannya.
Aqila segera berlari ke kamar mandi, dia merasa malu dan jantungnya berdetak sangat kencang.
"Perasaan tadi malam aku tertidur saat membereskan pakaiannya, apa Mas Raffa yang memindahkan aku ke ranjangnya? tidak mungkin aku mengigau tidur disana kan? apa sekarang Mas Raffa sudah mulai membuka hatinya untukku," gumam Aqila.
Aqila menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi dengan tangannya yang memegang dadanya dan jantungnya masih berdetak tak karuan, Aqila terlihat senyum-senyum sendiri kala mengingat semalaman tangan Raffa memeluk tubuhnya.
π
π
π
π
π
Hallo semuanya, siapa nih yang sudah menunggu kelanjutan kisah Raffa dan Aqilaπ€π€π€π€ jangan lupa ya beri dukungan sebanyak-banyaknyaππ
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOUπππ