
📚
📚
📚
📚
📚
Zahra dan Jino sudah di bawa ke rumah sakit, kebetulan malam itu ada polisi yang sedang berpatroli di jalan itu.
Ponsel Aqila berbunyi dengan kerasnya, dengan susah payah Aqila mengambil ponselnya karena Raffa saat ini sedang mendekapnya dengan erat.
"Hallo, dengan siapa ini?" tanya Aqila dengan suara serak.
Raffa menggeliat karena mendengar istrinya berbicara lewat ponsel.
"Apa benar ini dengan Nyonya Aqila?"
"Iya saya sendiri, ada apa ya Pak?"
"Maaf Nyonya, anda kenal dengan wanita yang bernama Azahra Asyifa?"
"Iya dia teman saya, ada apa dengannya?"
"Teman anda mengalami kecelakaan bersama seorang pria bernama Jino Armando, dan sekarang berada di rumah sakit harapan."
"Apa? baik kalau begitu saya akan segera kesana."
Aqila dengan panik bangkit dari tempat tidurnya.
"Ada apa Sayang?"
"Mas, Zahra dan Mas Jino kecelakaan kita harus segera ke rumah sakit."
"Apa? ok kita ke rumah sakit sekarang."
Aqila dan Raffa cepat-cepat menuju rumah sakit, Aqila juga tidak lupa menghubungi Ranti dan Rey begitu juga dengan Jorge dan Clarissa, mereka semuanya langsung menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Aqila cepat-cepat berlari mencari ruangan tempat Zahra dan Jino di rawat. Terlihat beberapa petugas kepolisian sedang menunggu di ruangan operasi.
"Selamat malam Pak, bagaimana keadaan korban?" tanya Raffa.
"Anda siapa?"
"Saya sahabatnya Jino Armando."
"Oh iya Pak, mobil korban hancur karena berusaha menghindari truk yang sedang berbelok dan saat ini kedua korban masih berada di ruangan operasi."
"Baiklah, terima kasih Pak atas bantuannya."
"Sama-sama, dan maaf ini semua barang-barang kedua korban, ponsel dan tas korban semuanya kami satukan dalam kantong kresek ini, kalau begitu kami permisi dulu."
Polisi itu pergi meninggalkan rumah sakit, Aqila menangis di pelukkan Raffa.
"Sudah Sayang jangan menangis, aku yakin Zahra dan Jino tidak apa-apa, mereka orang-orang kuat," ucap Raffa menenangkan istrinya.
Tidak lama kemudian, Ranti, Rey, Jorge, dan Clarissa sampai di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Zahra, Qila?" tanya Ranti panik.
"Zahra dan Mas Jino masih di ruangan operasi."
"Astaga kenapa mereka bisa sampai kecelakaan seperti ini sih?" gumam Jorge.
Raffa membawa Aqila untuk duduk, sembari menunggu Raffa membuka ponsel Jino entah kenapa Raffa ingin sekali membuka ponselnya. Raffa beruntung karena ponsel Jino tidak terkunci, Raffa melihat satu persatu pesan yang masuk.
Mata Raffa terbelalak, ponsel Jino dia remas bahkan saat ini rahang Raffa sudah mengeras
"Rossa..." gumam Raffa.
"Apa Mas? Rossa? siapa Rossa?" tanya Aqila mengerutkan keningnya.
Sedangkan Rey dan Jorge saling pandang satu sama lain, mereka tahu bagaimana hubungan Rossa dan Jino. Rossa adalah mantan Jino yang sangat over protektif, posesif, dan sangat cemburuan.
Kelakuan Rossa sangat di luar akal manusia, Rossa selalu mengekang Jino tidak boleh ini dan tidak boleh itu. Bahkan di saat Jino kumpul bareng sahabat-sahabatnya saja, Rossa selalu melarangnya hingga lama-kelamaan membuat Jino jengah dengan hubungannya, Jino akhirnya memutuskan Rossa karena memergoki Rossa sedang bersama pria lain.
"Rossa adalah mantan Jino yang gila, ngapain dia datang lagi?" sahut Raffa.
Para wanita yang memang tidak tahu kisah Jino hanya bisa saling pandang satu sama lain. Cukup lama mereka menunggu hasilnya, ruangan operasi pun masih tertutup rapat, hingga akhirnya tidak lama kemudian pintu itu terbuka, semua orang langsung menyerbu Dokter yang tampak kelelahan.
"Dok bagaimana keadaan teman kami?" tanya Aqila khawatir.
"Diantara kalian bisa ikut saya ke ruangan saya?"
"Biar aku saja Dok," sahut Aqila.
"Ya sudah mari ikut saya."
"Aku ikut, kalian tunggu disini," seru Raffa.
"Silakan Nyonya dan Tuan, duduk."
"Terima kasi Dokter, tolong jelaskan keadaan tan kami Dokter," seru Aqila tidak sabar.
"Baiklah, kecelakaan yang menimpa teman kalian sangat fatal, sekarang keduanya masih dalam kondisi kritis mereka mengalami pendarahan hebat tapi untungnya tidak mengenai organ-organ vital mereka yang akan berakibat buruk bagi keduanya, tapi----"
"Tapi kenapa Dokter?" tanya Aqila penasaran.
"Pasien yang perempuan, tulang kakinya mengalami retak karena di saat terjadi kecelakaan, kakinya terjepit badan mobil jadi----"
"Jadi apa Dokter? tolong bicara yang jelas," bentak Aqila dengan deraian airmata.
__ADS_1
"Sabar Sayang," Raffa mengusap punggung istrinya itu untuk menenangkan.
"Teman anda akan mengalami kelumpuhan, saya tidak tahu itu bersifat sementara atau permanen yang jelas kalau mengalami lumpuh sementara, pasien akan membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh, kecuali pasien mempunyai semangat tinggi untuk sembuh."
Aqila menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, dia tidak menyangka kalau Zahra akan mengalami hal seperti ini.
"Tidak mungkin Dok, tolong sembuhkan teman saya dua minggu lagi mereka akan menikah, aku tidak mau melihat Zahra sedih, tolong sembuhkan dia apapun dan berapapun biayanya tidak masalah yang penting Zahra bisa sembuh," bentak Aqila histeris.
Raffa langsung memeluk istrinya itu, dia tahu kalau Aqila sangat terpukul dengan apa yang menimpa sahabatnya itu.
"Maaf Nyonya, saya sudah melakukan yang terbaik, walaupun saat ini pasien menerima pengobatan canggih sekali pun, itu akan memerlukan waktu yang lumayan lama untuk sembuh dan bisa berjalan lagi seperti semula," jelas Dokter.
Tubuh Aqila bergetar hebat di pelukkan Raffa, dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Zahra saat siuman nanti.
"Terima kasih Dokter, kalau begitu kami permisi dulu," seru Raffa.
Raffa membawa Aqila keluar, sedangkan yang lainnya sudah menunggu Aqila dan Raffa dengan perasaan cemas dan khawatir.
"Apa yang di katakan Dokter, Qila?" tanya Ranti.
Aqila hanya bisa menundukkan kepalanya dengan deraian airmata.
"Jawab Qila, jangan diam saja," teriak Ranti dengan mengguncangkan tubuh Aqila.
"Sabar Sayang, kamu harus ingat kalau saat ini kamu sedang hamil," seru Rey.
"Cepat katakan Qila, apa yang terjadinpada Zahra?"
"Zah--ra lumpuh, Ranti," lirih Aqila.
Ranti tak kalah terkejutnya, tubuhnya limbung untung Rey dengan sigap menangkapnya dan membawa Ranti duduk.
"Tidak mungkin, dua minggu lagi adalah hari bahagianya Zahra."
Aqila menghampiri Ranti dan mereka berpelukkan sembari menangis, mereka sungguh tidak bisa membayangka bagaimana reaksi Zahra nanti. Mereka bertiga adalah sahabat yang tidak terpisahkan dari dulu, suka duka mereka selalu lewati bersama dan sekarang mereka bisa merasakan apa yang Zahra rasakan.
"Wanita gila itu berani main-main sekarang," gumam Raffa.
"Dasar dari dulu dia memang gila dan sekarang dia berani menghancurkan kebahagiaan Jino," sahut Jorge.
"Tidak bisa di biarkan, orang seperti dia harus merasakan bagaimana sakitnya kehilangan," gumam Raffa dengan mengepalkan tangannya.
Tiba-tiba pintu ruangan operasi terbuka, dua blankar keluar dan mereka akan memindahkan Zahra dan Jino ke ruangan rawat inap. Zahra dan Jino di tempatkan di kamar VVIP dan bersebelahan biar mereka gampang melihat keduanya.
Ranti, Aqila, dan Clarissa berada di ruangan Zahra sedangkan Rey, Raffa, dan Jorge ada di ruangan Jino.
Aqila menggenggam tangan Zahra dengan deraian airmata.
"Ayo bangun Zahra, kamu harus semangat sebentar lagi kamu akan menikah dan menyusul kita berdua," seru Aqila.
"Iya Zahra, kita akan bahagia dan mempunyai anak, nanti kita liburan lagi bersama anak-anak kita," sambung Ranti.
Ceklek pintu terbuka...
"Sabar Ma," sahut Aqila.
"Apa yang sudah terjadi dengan Zahra, Qila?" tanya Mama Zahra.
"Mama tenang dulu, yuk kita duduk Qila akan jelaskan semuanya."
Aqila membawa Mamanya Zahra duduk di sofa, disusul oleh Ranti dan juga Clarissa. Aqila menjelaskan apa yang sudah di beritahukan oleh Dokter, Mamanya Zahra sangat syok dengan penjelasan Aqila.
"Terus bagaimana dengan pernikahannya?"
"Maaf Ma, terpaksa kita undur dulu pernikahannya demi kesehatan Zahra," sahut Ranti.
"Ya Alloh, malang sekali nasib Zahra."
"Mama yang sabar, Mama harus kuat demi Zahra supaya Zahra semangat dan cepat sembuh," sambung Aqila.
"Terima kasih karena selama ini kalian sudah menjadi sahabat terbaik Zahra."
Aqila dan Ranti memang sudah dekat dengan keluarga masing-masing, bahkan mereka memanggil Mama kepada orang tua sahabatnya itu saking sudah dekatnya.
"Sayang, sudah larut malam kita pulang besok kita kesini lagi," seru Raffa.
"Ma, maaf Qila harus pulang soalnya takut Edrik nangis, Qila janji besok Qila kesini lagi "
"Iya tidak apa-apa, kamu pulang saja sampaikan salam Mama untuk Edrik."
"Iya Ma."
"Kamu juga Ranti, kamu harus pulang dan jaga kesehatan kamu, ingat kamu lagi hamil harus banyak istirahat."
"Iya Ma, Ranti juga pulang dulu besok kita kesini lagi."
Semuanya pun berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing. Selama dalam perjalanan, Aqila tertidur pulas. Sesampainya di rumah waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari, perlahan Raffa membuka seltbelt Aqila dan mengangkat tubuh Aqila.
Tidak ada pergerakan dari Aqila karena memang Aqila sudah sangat lelah. Raffa merebahkan tubuh Aqila di tempat tidur dan menutup tubuh Aqila dengan selimut sampai leher. Raffa beralih melihat ke kamar Edrik, dilihatnya Edrik masih tertidur pulas di temani suster Sarah.
Perlahan Raffa mengisi tempat kosong di samping Aqila, karena Raffa pun merasa kelelahan, tidak butuh waktu lama Raffa pun menyusul Aqila menjelajah alam mimpinya.
***
Keesokkan harinya....
Pagi-pagi sekali Aqila sudah bangun dan langsung membersihkan dirinya. Setelah rapi, Aqila melihat ke kamar Edrik dan ternyata Edrik masih tertidur, Aqila memutuskan untuk ke dapur membuat makanan untuk Edrik.
"Loh Nyonya sudah bangun? Nyonya mau kemana, pagi-pagi sekali sudah masak makanan untuk Den Edrik?" tanya Bi Ria.
"Zahra dan Mas Jino semalam kecelakaan Bi, dan hari ini aku sama Mas Raffa mau ke rumah sakit lagi, jadi nanti tolong Bibi bantu jagain Edrik ya kalau waktunya makan, Bibi tinggal angetin saja makanan ini, terus buah-buahannya sudah aku siapkan jadi pas menjelang mau makan siang, Bibi kasih dulu buah-buahan," jelas Aqila.
"Baik Nyonya."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Aqila pun sudah selesai membuatkan makanan untuk Edrik. Disaat Aqila mau naik ke kamar, ternyata suster Sarah sudah menggendong Edrik menuruni tangga.
"Ya ampun, sayangnya Mommy sudah bangun," ucap Aqila dengan mengambil alih Edrik dari gendongan suster Sarah.
Edrik berceloteh bahasa bayi sembari tangannya memukul-mukul dada Aqila.
"Kenapa Sayang? mau mimi ya?"
"Mimi..mimi..." celoteh Edrik mengikuti ucapan Aqila.
"Baiklah, sekarang kita ke atas, miminya di kamar ya."
Aqila pun membawa Edrik ke kamarnya, Aqila duduk di kursi single dan mulai memberikan ASI untuk Edrik. Edrik begitu lahapnya, mungkin karena Edrik sudah haus.
Raffa yang baru saja bangun, menyunggingkan senyumannya. Pemandangan di hadapannya sungguh sangat indah, momen yang selalu Raffa rindukan jika dia sedang berada jauh dari anak dan istrinya. Raffa segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Jagoan Daddy sudah miminya," seru Raffa dengan mengusap rambutnya yang basah.
"Sudah dong Daddy," sahut Aqila dengan bahasa yang dibuat seperti anak kecil.
"Kalau begitu sekarang giliran Daddy yang mimi."
"Mas," ucap Aqila dengan melotot kearah Raffa.
"Kenapa sih Sayang, jangan melotot seperti itu memangnya salah ya ucapanku barusan? sebelum di ambil alih oleh Edrik, awalnya itu punya aku. Boy, nanti malam giliran Daddy ya yang mimi," goda Raffa.
"Mas," teriak Aqila.
"Iya Sayang?"
"Dasar tidak tahu malu, ngomong seperti itu di depan Edrik."
"Edrik tidak akan ngerti dengan omonganku barusan, iya kan boy?"
Edrik hanya tertawa melihat adu mulut antara Mommy dan Daddynya karena Edrik mengira kalau kedua orang tuanya itu sedang mengajaknya bermain.
Pagi ini Aqila dan Raffa dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Sayang nanti kamu masuk duluan ya ke rumah sakit, aku mau pergi dulu sebentar ada keperluan mendadak," seru Raffa.
"Ada apa? Mas mau ke kantor?"
"Iya, cuma sebentar kok nanti Mas langsung ke rumah sakit."
"Baiklah."
Sesampainya di rumah sakit, Aqila pun turun dan Raffa langsung menancapkan gasnya. Raffa ingat kalau tadi malam lagi-lagi Rossa menghubungi ponsel Jino dan mengajaknya ketemuan, ponsel Jino yang saat ini memang ada di tangan Raffa menjadikan kesempatan Raffa untuk menemui wanita itu.
Raffa berpura-pura menjadi Jino dan mengajak Rossa untuk ketemuan di sebuah taman kota. Raffa sudah datang lebih awal dan menunggu kedatangan Rossa. Sebuah taxi berhenti dan turunlah seorang wanita cantik dan sexi.
Rossa celingukan mencari seseorang yang selama ini dia rindukan.
"Kamu cari siapa?" tanya Raffa.
"Raffa, kok kamu ada disini?"
Raffa memperlihatkan ponsel milik Jino..
"Kok ponsel Jino ada di kamu? jangan bilang yang menghubungiku tadi pagi itu kamu bukannya Jino?" tebak Rossa.
"Anak pintar."
"Mau kamu apa, Raffa?"
"Jauhi Jino dan jangan ganggu dia lagi."
"Apa hak kamu melarang aku untuk tidak dekat-dekat dengan Jino?"
"Jino adalah sahabat aku, sebentar lagi dia akan menikah jadi stop kamu ngerecokin hubungan Jino dan Zahra."
"Kalau aku tidak mau, apa yang akan kamu lakukan," tantang Rossa.
Dengan cepat Raffa mencekik leher Rossa sehingga membuat Rossa berontak.
"Jangan ganggu Jino lagi, sudah cukup penderitaan yang kamu lakukan kepada Jino, biarkan dia bahagia dengan wanita pilihannya kalau sampai kamu mengusik kehidupan Jino dan Zahra, aku tidak akan segan-segan membunuh kamu dengan tanganku sendiri," bentak Raffa dengan melepaskan cekikannya.
Rossa terbatuk-batuk dengan perlakuan Raffa barusan, bahkan matanya sudah mengeluarkan airmata saking takut dan merasakan sakit di lehernya.
"Ingat kata-kataku, karena seorang Raffael Abraham tidak pernah main-main dengan ucapannya," seru Raffa.
Raffa meninggalkan Rossa yang masih syok dengan perlakuan Raffa. Rossa hanya bisa menangis sembari mengusap lehernya yang terasa sangat sakit.
📚
📚
📚
📚
📚
RAQILA mau END nih, ayo dong kasih boom gift🙏🙏
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU