
π
π
π
π
π
Selama dalam perjalanan menuju kantor Raffa tidak henti-hentinya mengembangkan senyumannya bahkan karyawan di kanyor pun merasa aneh dengan sikap Bosnya itu yang berubah menjadi ramah dan gampang tersenyum.
"Si Bos bahagia bener," seru Rey.
"Iyalah Rey, wanita yang selama ini aku tunggu-tunggu akhirnya pulang juga."
"Iya Bos selamat ya, semoga Bos dan Nyonya Aqila selalu bahagia dan jangan terpisahkan lagi."
"Amin, terimakasih Rey."
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
Sepeninggalnya Rey, Raffa tampak merenung kali ini otaknya penuh dengan Aqila.
"Perjuangan baru dimulai, aku akan merebut hati kamu Aqila dan membuat kamu jatuh cinta kepadaku," gumam Raffa.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, saat ini waktunya Cyra pulang, Raffa dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangannya karena ingin menjemput Cyra.
"Rey, aku mau menjemput Cyra dan sekalian makan siang diluar, mungkin aku baru bisa kembali lagi nanti sore," seru Raffa.
"Baik Bos."
Raffa pun segera menuju mobilnya dan melajukannya menuju sekolah Cyra.
"Cyra, hari ini kamu di jemput sama siapa?" tanya Aqila.
"Sama Daddy, Bu guru cantik."
"Oh, ya sudah kamu tunggu saja disini ya jangan kemana-mana, Bu guru pulang dulu."
"Mau kemana kamu?" seru Raffa yang sudah berdiri di belakang Aqila.
Aqila pun berbalik dan melihat Raffa sudah tersenyum ke arahnya, sejenak Aqila sangat terpesona dengan Raffa yang semakin tampan.
"Daddy."
"Hallo puteri Daddy yang cantik."
Raffa menggendong Cyra, dan dengan cepat Raffa mencium kening Aqila sehingga membuat Aqila terkejut.
"Hai...."
"Apa? mau protes?" seru Raffa.
"Malu tahu di lihat guru-guru dan orang tua murid," keluh Aqila.
"Malu kenapa? biarkan saja, wajarlah kalau seorang suami mencium istrinya."
Aqila mendelikkan matanya dan berlalu meninggalkan Raffa dan Cyra.
"Kamu sudah makan siang belum?" tanya Raffa yang mengikuti Aqila dari belakang.
"Belum."
"Kebetulan sekali, ayo kita makan siang bersama," ajak Raffa.
"Tidak bisa, aku mau makan di rumah saja," ketus Aqila.
"Ya sudah, aku dan Cyra ikut ke rumah kamu saja," sahut Raffa dengan santainya.
Aqila melotot dan menatap tajam ke arah Raffa.
"Mau ngapain?"
"Ya mau makan sianglah, aku rindu dengan masakan kamu yang enak itu, Cyra mau kan makan di rumah Bu guru cantik?" tanya Raffa.
"Mau banget, Daddy."
"Apaan sih, sudah sana pulang kalau mau makan siang, ngapain mau ikut ke rumah segala."
Aqila langsung menyalakan motornya, Raffa dan Cyra saling pandang, Raffa mengedipkan matanya ke arah Cyra seolah memberikan kode, Cyra mengerti akan kode yang diberikan oleh Daddynya.
__ADS_1
"Ayolah please."
"Boleh ya Bu guru cantik, Cyra ingin sekali merasakan masakan Bu guru cantik, Cyra dari kecil tidak pernah merasakan masakan dari seorang Ibu," seru Cyra dengan menundukkan kepalanya.
Aqila yang memang pada dasarnya mempunyai sifat penyayang dan lemah lembut, merasa tidak tega menolak permintaan Cyra.
"Ya sudah, kalian boleh ikut ke rumah," ucap Aqila dengan memakai helmnya.
Raffa dan Cyra tersenyum dan bertos ria..
"Tapi ingat, ini hanya karena Cyra yang minta jadi kamu jangan senang dulu Mas," ketus Aqila.
"Iya Sayang."
Wajah Aqila kembali memerah saat Raffa menyebutnya dengan kata Sayang.
"Kamu ikut mobil aku saja, motor biar kamu simpan saja disini."
"Tidak, kamu ikuti saja motorku."
"Dasar keras kepala."
"Mau ikut ke rumah atau tidak, kalau tidak mau ya sudah."
"Astaga, masih saja galak dan judes."
Raffa segera memasuki mobilnya dan menyusul Aqila. Aqila mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi sehingga membuat Raffa merasa ngeri melihatnya.
"Ya ampun, cepet banget bawa motornya bagaimana kalau terjadi apa-apa, dasar ya awas kamu nanti aku kasih hukuman buat kamu," kesal Raffa.
"Cyra takut Daddy, melihat Bu guru cantik."
"Sama, Daddy juga."
Aqila pun sampai didepan rumahnya dan tidak lama kemudian mobil Raffa pun memasuki halaman rumah Aqila.
"Kamu ya, bawa motor cepat banget bagaimana kalau kamu kenapa-kenapa," seru Raffa dengan kesalnya.
"Jangan lebay deh, buktinya aku tidak apa-apa dan selamat sampai rumah."
"Dasar ya keras kepala, untung aku cinta."
"Idih."
"Ibu, Ayah maafkan Raffa karena sudah menyia-nyiakan puteri kalian, Raffa janji akan menjaga dan menyayangi Aqila sepenuh hatiku," batin Raffa.
Tiba-tiba Aqila keluar dari kamarnya, Aqila memakai rok dari bahan denim dan memakai kaos atasan ketat warna kuning sehingga memperlihatkan lekuk tubuh Aqila yang sexi dan warnanya pun sangat kontras dengan kulit Aqila yang putih mulus.
Sementara rambut panjangnya Aqila cepol ke atas sehingga memperlihatkan leher jenjang Aqila, Raffa yang melihat Aqila susah payah menelan salivanya, sedangkan Aqila tampak cuek dan langsung menuju dapur tanpa memperdulikan Raffa yang saat ini sedang melongo.
"Bu guru cantik mau masak apa sekarang?" tanya Cyra yang langsung duduk di meja makan depan dapur.
"Cyra, maunya makan apa Sayang?"
"Apa saja Cyra suka Bu guru, apalagi Bu guru cantik yang memasaknya pasti Cyra selalu suka."
"Ya sudah sebentar ya, Bu guru masak dulu."
Raffa menyusul Cyra dan duduk di samping Cyra, pandangan Raffa tidak lepas dari Aqila bahkan saat ini Raffa sudah menopang wajahnya dengan kedua tangannya.
"Daddy, Bu guru cantik banget ya," bisik Cyra.
"Sangat..sangat cantik Cyra."
"Apa Daddy menyukai Bu guru cantik?"
"Tentu saja."
Aqila begitu cekatan memasak membuat Raffa dan Cyra terpana akan kehebatan Aqila. Selain cantik, Aqila juga sangat pintar memasak. Tiga puluh menit kemudian, Aqila sudah selesai memasak tiga hidangan yaitu cumi saus tiram. tumis brokoli, dan ayam goreng.
"Akhirnya selesai juga," gumam Aqila.
Disaat Aqila membalikkan tubuhnya, Raffa dan Cyra masih memandangi Aqila dengan tangan mereka masih menopang wajah masing-masing.
"Kenapa kalian memandangi aku seperti itu?" tanya Aqila bingung.
"Cantik," sahut Raffa dan Cyra bersamaan.
"Astaga."
Aqila hanya geleng-geleng kepala dan dengan cepat menata makanan di meja makan. Tiba-tiba suara perut Raffa dan Cyra berbunyi bersamaan saat melihat hidangan di depan matanya yang sangat menggugah selera.
"Ya ampun kalian sudah lapar?" tanya Aqila dengan menahan tawanya.
__ADS_1
Keduanya bagaikan terhipnotis hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dengan cekatan Aqila mengambilkan nasi untuk Raffa dan Cyra kumplit dengan lauk pauknya. Tanpa menunggu lagi, Raffa dan Cyra langsung melahap makanan yang dimasak oleh Aqila.
Baru saja satu suap, mereka berdua menghentikan makannya dan membuat Aqila bingung.
"Kenapa, masakannya tidak enak ya?" tanya Aqila.
Raffa dan Cyra saling pandang dan tersenyum, kemudian keduanya mengacungkan dua jempol untuk Aqila.
"Masakan Bu guru cantik, sangat enak dan lezat," seru Cyra.
"Ya ampun, Bu guru sudah was-was kirain masakannya tidak enak, ya sudah Cyra makan yang banyak ya."
"Siap Bu guru cantik."
"Kamu memang istri idaman, sudah cantik, pinter masak pula, aku jadi tambah cinta deh sama kamu," goda Raffa.
"Apaan sih Mas, jangan ngomong macam-macam deh di depan Cyra nanti otaknya bisa terkontaminasi," ketus Aqila.
Raffa hanya nyengir dan itu membuat jantung Aqila kembali berdebar tak karuan. Pasalnya dulu, Aqila tidak pernah melihat Raffa tersenyum apalagi tertawa lebar seperti akhir-akhir ini sehingga membuat Aqila merasa terpesona karena senyuman Raffa menambah kadar ketampanan dari seorang Raffael Abraham.
Mereka makan dengan lahapnya, sampai-sampai Raffa dan Cyra menambah makanannya Aqila sangat senang melihat masakannya habis ludes tak bersisa.
Setelah selesai makan, Raffa dan Cyra duduk di sofa bahkan saat ini Cyra sudah mengantuk saking kenyangnya, sementara Raffa sedang asyik mengotak-ngatik ponselnya.
"Astaga, ini anak saking kekenyangannya sampai tertidur seperti ini," gumam Raffa.
Kemudian Raffa membenarkan posisi tidur Cyra, dilihatnya Aqila sedang membereskan bekas makan mereka, Raffa perlahan menghampiri Aqila dan berdiri tepat di belakang Aqila yang sedang mencuci piring.
Raffa tidak bisa menahan dirinya, akhirnya Raffa memeluk Aqila dari belakang membuat Aqila terperanjat karena kaget.
"Mas apa-apaan sih, lepasin malu tahu dilihat Cyra," ucap Aqila.
"Cyra tidur."
"Ya sudah lepasin, aku lagi nyuci piring ini, enak saja main peluk-peluk orang sembarangan," ketus Aqila.
"Diam, sebentar saja biarkan aku seperti ini, aku sangat merindukanmu Aqila bahkan aku hampir gila saat kamu pergi meninggalkanku entah kemana, aku baru sadar kalau kamu begitu berharga untukku, maafkan aku Aqila aku sudah membuatmu terluka dan sakit," ucap Raffa dengan mencium pundak Aqila.
Aqila hanya bisa diam mematung, lidahnya begitu kelu, jantungnya berdebar tidak karuan. Raffa membalikkan tubuh Aqila dan menatap dalam mata Aqila.
"Maafkan aku karena sudah membuat kamu kehilangan Ibu, maafkan aku yang sudah menyalahkan Ayah kamu dalam peristiwa kecelakaan Claudia, maafkan aku yang sudah mengabaikanmu, maafkan aku yang sudah bersikap kasar dan menyakiti hati kamu sampai sedalam-dalamnya, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menebus semua kesalahanku karena kesalahanku kepadamu sangat besar," ucap Raffa.
Tes...
Airmata Aqila pun jatuh membasahi pipinya dan dengan cepat Raffa menghapusnya.
"Aku mohon jangan menangis lagi, aku sakit melihat kamu menangis, aku janji mulai sekarang akan menjaga dan melindungi kamu. Aku tahu kamu masih marah kepadaku, tapi aku akan berusaha memiliki hatimu kembali walaupun aku harus menunggu sampai kamu mau memaafkan dan menerimaku sebagai suamimu lagi," seru Raffa.
Aqila hanya bisa menundukkan kepalanya, dia tidak tahu harus berkata apa. Jujur di dalam hatinya Aqila tidak pernah membenci Raffa walaupun Raffa sudah menyakitinya. Raffa membawa Aqila ke dalam dekapannya.
"Maaf..maafkan aku Aqila, aku sangat mencintaimu," ucap Raffa dengan mencium pucuk kepala Aqila.
Perlahan Aqila membalas pelukkan Raffa dan itu membuat Raffa sangat bahagia, Raffa semakin mengeratkan pelukkannya.
π
π
π
π
π
Hallo reader-readerku, aku punya karya baru nih yang baru menetas, mampir ya dan jangan lupa berikan dukungan juga untuk kedua karya terbarukuππ
Semoga kalian sukaπ€π€π€
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOUπππ
__ADS_1