GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Moment Mengharukan


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Raffa saat ini sedang berada di luar kota dan belum tahu kalau Aqila hamil karena Aqila melarang semuanya untuk meberitahukannya kepada Raffa.


"Rey."


"Iya Bos."


"Tolong belikan aku seblak yang pedas ya."


"Hah..seblak," sahut Rey dengan membulatkan matanya.


Rey melihat jam tangannya dan sudah menunjukan pukul delapan malam.


"Sejak kapan si Bos suka seblak mana ingin yang pedas lagi, si Bos kan paling tidak kuat dengan rasa pedas," batin Rey.


"Baik Bos."


Walaupun permintaan Raffa begitu ganjil tapi Rey enggan menanyakannya, maka dari itu tanpa menunggu lagi Rey langsung pergi untuk mencari seblak. Untung saja jajanan yang satu itu sekarang sudah tersebar dimana-mana dan tidak sulit untuk mencarinya.


Tidak butuh waktu lama, Rey pulang dengan dua porsi seblak pedas dan original di tambah air mineral satu kantong plastik penuh yang dia beli dari mini market.


"Astaga Rey, kamu beli minuman banyak banget buat apa?" tanya Raffa yang saat ini langsung membuka wadah berbahan sterofom itu.


"Buat Boslah, itu kan seblaknya pedas Bos takutnya Bos tidak kuat."


Rey tahu sifat Raffa, jangankan pedas kalau makan ada cabenya satu saja Raffa pasti langsung teriak dan minum banyak banget, makannya Rey berinisiatif untuk membeli minuman yang banyak.


"Bau apaan nih?" seru Jino yang langsung masuk bersama Jorge.


"Ih..kamu makan apaan, Raf?" tanya Jorge yang baru pertama kali melihat seblak.


"Ini namanya seblak."


"What seblak?" tanya Jorge bingung.


'Tuan Jorge mau coba? ini tadi aku beli yang tidak pedasnya," sahut Rey.


"Mana aku mau coba bagaimana rasanya."


Jorge mengambil satu wadah steroform dan mulai mencicipiya.


"Hmmm..rasanya lumayan," gumam Jorge.


Sedangkan Jino dan Rey tampak melotot tak berkedip dengan mulut yang menganga melihat Raffa dengan lahapnya memakan seblak itu tanpa merasa pedas padahal selama ini yang mereka tahu Raffa itu tidak suka pedas.


"Bos lo kenapa, Rey?" tanya Jino.


"Aku juga tidak tahu Tuan, kok si Bos bisa dengan santainya memakan seblak itu, padahal aku kasih level tujuh itu seblak," sahut Rey bingung.


"Wah jangan-jangan kamar hotel ini ada penunggunya lagi, pasti Bos lo kesurupan Rey," seru Jino.


"Apaan sih lo, enak saja bilang gue kesurupan mana ada orang kesurupan makan seblak yang ada mereka minta kopi hitam kalau tidak ayam hitam," ketus Raffa.


"Ya habisnya tidak ada angin, tidak ada hujan, lo tiba-tiba makan pedas kaya gitu, kita tahu kalau lo itu paling anti sama pedas tapi kenapa tiba-tiba sekarang lo lahap banget mana tidak ada rasa pedas-pedasnya sama sekali," sahut Jino.


Raffa menyeruput sisa kuah seblak yang ada di wadahnya itu dengan perasaan nikmat.


"Ah mantap..tapi iya juga sih, kok gue tidak merasa pedas sama sekali ya malahan rasanya itu enak banget," seru Raffa dengan santainya dan mengambil air botol mineral dari dalam kantung kresek.


"Rey, tolong hubungi pihak layanan hotel pesan jus wortel sekarang juga," seru Raffa.


"Haaahhh.." sahut Rey, Jino, dan Jorge bersamaan.


"Astaga, kalian kenapa sih sampai segitunya?" tanya Raffa.


"Fix, ini valid kalau lo benar-benar kesurupan, gue mesti panggil ustadz nih," sahut Jino.


Pluukkk...Raffa melempar bantal sofa kearah wajah Jino.


"Sialan lo, gue tidak kesurupan Bambang, tidak tahu kenapa pokoknya gue pengen jus wortel malam ini," kesal Raffa.


Rey segera menghubungi layanan hotel dan meminta diantarkan jus wortel ke kamar mereka.


"Bro, kayanya meeting diundur dulu besok gue pengen pulang kangen gue sama Aqila."


"Allohuakbar Raffa, jangan macam-macam deh lo memangnya lo pikir cuma lo doang yang kangen sama istri lo, gue juga kangen kali sama cewek gue," seru Jino.

__ADS_1


"Iya, aku juga kangen sama Clarissa dan Louise," sahut Jorge.


"Aku juga kangen sama Ranti," gumam Rey yang masih terdengar oleh semuanya.


"Apa?" teriak ketiganya serempak membuat Rey tersungkur ke belakang kursi karena terkejut.


"Barusan kamu ngomong apa Rey," tanya Raffa dengan tatapan tajamnya.


"Ti--tidak Bos, sa--saya ti--tidak ngomong apa-apa," sahut Rey terbata-bata.


"Lo kangen sama siapa, Rey? kok perasaan lo nyebut nama Ranti, apa yang lo maksud Ranti sahabatnya Aqila dan Zahra?" tanya Jino dengan memicingkan matanya.


Saat ini ketiga pria tampan itu melipat tangannya di dada dan menatap tajam ke arah Rey yang sudah keluar keringat di seluruh wajahnya.


"Maaf," lirih Rey dengan menundukkan kepalanya.


"Ngapain lo minta maaf, kita cuma nanya dan minta penjelasan dari lo, benar tidak kalau itu Ranti yang kita kenal?" tanya Jino.


"Iya Tuan," sahut Rey lirih.


"Wah benar-benar suatu kebetulan, kalian mendapatkan pasangan wanita yang merupakan sahabat istri gue, Aqila pasti bakalan senang nih mendengar kabar ini," ucap Raffa dengan senangnya.


Tidak lama kemudian, seorang karyawan hotel datang dan membawakan jus wortel pesanan Raffa. Raffa langsung meminumnya sampai habis tak bersisa sehingga membuat ketiga pria tampan itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Saat ini keempat pria tampan itu sedang membahas kerjasama antara mereka semua yang akan membuat sebuah perusahaan yang akan di dedikasikan untuk anak-anak mereka kelak.


"Kamu kenapa sih Raf, dari tadi melemun terus?" tanya Jorge.


"Gue kangen istri gue."


"Astaga Raffa, baru saja satu hari lo pergi sudah kangen saja, dasar bucin lo," ledek Jino.


"Tidak tahu kenapa hari ini gue ingat terus sama Aqila, besok gue pulang ya meetingnya diundur saja," seru Raffa.


"Big noooo..." sahut ketiganya bersamaan membuat Raffa mencebikkan bibirnya.


"Ah dasar sahabat tidak pengertian kalian."


"Bukannya tidak pengertian, kalau lo pulang gue jamin lo tidak akan bisa pergi lagi dalam waktu dekat, gue tahu mesumnya lo yang nempel terus kepada Aqila, mentang-mentang sudah merasakan surganya dunia lo kekepin terus tuh Aqila, untung saja Aqila tidak gempor menghadapi suami maniak kaya lo," cibir Jino.


"Sialan lo Jin, makannya lo nikah biar bisa ngerasain surganya dunia dan biar lo tidak meledek gue terus."


"Sudah-sudah, kamu yang sabar dong Raf pokoknya kita selesaikan dulu pekerjaan kita masalah istri dan pacar kita kesampingkan dulu, toh kita seperti ini kan untuk kebahagiaan masa depan mereka," sahut Jorge.


"Setuju gue."


"Rey, kamu sudah mulai pindah haluan sekarang? sudah tidak mau membela Bosmu lagi?" tanya Raffa dengan ketusnya.


"Bu--bukan begitu Bos, aku juga sama ingin cepat-cepat pulang, makannya kita harus cepat selesaikan pekerjaan ini biar kita pun cepat pulang juga," sahut Rey.


"Ya sudahlah, pasrah saja terserah kalian."


***


Keesokkan harinya...


Aqila terpaksa bangun karena merasakan mual yang sangat luar biasa.


"Nyonya, ini buburnya," seru Bi Ria.


Bi Ria menghampiri Aqila yang saat ini sesamg muntah-muntah di kamar mandi.


"Ya Alloh Nyonya, wajah Nyonya sampai pucat seperti itu," seru Bi Ria sembari memijat tengkuk leher Aqila.


"Iya Bi, dari tadi malam aku tidak henti-hentinya muntah terus Bi."


"Yuk, Bibi bantu berjalan."


Aqila mencuci wajahnya dan melangkah menuju tempat tidur.


"Bibi sudah buatkan bubur untuk Nyonya."


"Bi, aku tidak mau makan bubur ambilkan aku buah-buahan saja dan teh manis hangat ya."


"Baiklah, tunggu sebentar kalau begitu Bibi simpan lagi buburnya."


Aqila menganggukkan kepalanya, saat ini Aqila menyandarkan punggungnya di kepala ranjang tempat tidurnya, tiba-tiba ponsel Aqila berbunyi ada panggilan video call dan tertera nama My Husband disana dengan cepat Aqila merapikan rambutnya dan menggeser tombol hijau.


"Hallo suamiku," sapa Aqila dengan wajah yang dia buat seceria mungkin.


"Hallo Sayang, bagaimana kabarmu? kamu sehat kan?"


"Iya Mas, aku baik-baik saja. Mas sendiri bagaimana? kapan pulang?"


"Tiga hari lagi Sayang, aku sudah tidak kuat menunggu tiga hari lagi soalnya aku sudah sangat merindukanmu."

__ADS_1


"Yang sabar, masa dulu saja menunggu lima tahun Mas bisa, giliran empat hari saja banyak ngeluhnya, pokoknya aku akan selalu menunggu kamu nanti pas pulang, ada kejutan untukmu," seru Aqila dengan senyuman memgembang.


"Wah, kejutan apa nih?"


"Nanti saja pas Mas pulang."


"Oh iya Sayang, kok wajah kamu pucat banget sih? kamu lagi sakit ya?" tanya Raffa khawatir.


"Tidak, aku baik-baik saja kok."


"Ya sudah, aku siap-siap dulu mau ada pertemuan dengan klient, kamu baik-baik di rumah ya jangan lupa sarapan dan makan yang banyak."


"Siap Komandan."


"Sudah dulu ya, bye I love you."


"I love you too."


Panggilan pun terputus...


"Ini Nyonya buah dan teh manis hangatnya."


"Iya, terima kasih Bi."


Waktu berjalan dengan cepat, waktu menunjukkan pukul empat sore dan Aqila baru saja bangun. Tubuhnya merasa segar, tiba-tiba ponsel Aqila berbunyi dan ada notif pesan dari Clarissa. Aqila segera beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah dirasa rapi, Aqila turun ke bawah dengan menenteng tas slempangnya.


"Cyra Sayang, kita jalan-jalan yuk, sekarang kamu siap-siap dulu ya di bantu sama Bi Ria," ajak Aqila.


"Iya Mommy."


"Loh, kok mau jalan-jalan kamu kan lagi tidak enak badan lagipula kamu lagi masa-masa ngidam bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu, Sayang," seru Eyang.


"Tidak Eyang, Qila sudah baikkan sekarang. Qila akan membawa Cyra bertemu dengan Clarissa dia ingin bertemu dengan Cyra."


"Tapi Eyang takut kamu kenapa-napa."


"Eyang, percayalah Qila akan baik-baik saja," sahut Aqila dengan mengusap punggung tangan Eyang.


"Ya sudah, tapi kamu di antar Pak Burhan ya biar kalau ada apa-apa ada Pak Burhan yang menolong."


"Baiklah, Eyang."


"Mommy, ayo kita pergi."


"Yuk."


Aqila dan Cyra pun pergi ke sebuah restoran yang sudah di janjikan oleh Clarissa. Tidak membutuhkan waktu lama, Aqila dan Cyra pun sampai di restoran itu.


"Maaf Cla, kami terlambat."


Clarissa menoleh dan kemudian mengembangkan senyumannya saat melihat Cyra ikut bersama Aqila. Cyra langsung bersembunyi di balik tubuh Aqila, sehingga membuat senyum Clarissa memudar.


"Cyra Sayang, kamu ingat kan apa yang Mommy bicarakan kemarin," ucap Aqila.


Cyra menganggukkan kepalanya, perlahan Cyra melangkahkan kakinya menghampiri Clarissa dan Clarissa tampak sudah merentangkan tangannya dengan airmata yang sudah membanjiri pipinya.


"Ma--Mama."


Clarissa tidak bisa membendung airmatanya lagi, dengan cepat Clarissa memeluk Cyra betapa bahagianya Clarissa saat Cyra memanggil dirinya dengan sebutan Mama."


"Maafkan Mama Sayang, maaf," ucap Clarissa dengan menciumi kepala Cyra.


Aqila tampak mengembangkan senyumannya saat melihat momen mengharukan dihadapannya itu dan tanpa terasa Aqila pun sudah meneteskan airmatanya.


📚


📚


📚


📚


📚


Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2