
Api cepat menyebar dan menyambar apa saja yang ada di dalam warung peninggalan orang tua Julia, kobaran api itu menghanguskan dan melahap habis barang-barang dagangan yang memang mudah terbakar tersebut.
Bangunan warung yang semi permanen dan sudah lapuk di sana-sini karena dimakan usia, langsung roboh dan habis dilalap si jago merah hingga hanya menyisakan puing-puing hitam di atas tanah.
'Warung kita, Bu,' batin Julia, merana. Gadis itu hanya mampu menatap bekas warung dengan tatapan nelangsa.
Julia masih terpaku di tempatnya berpijak. Dia bahkan tak menyadari, ketika satu persatu tetangga yang tadi membantu memadamkan api dengan alat seadanya, mulai membubarkan diri sambil menepuk lengan Julia dengan lembut dan mengucapkan rasa simpati yang mendalam.
Sementara gadis kecil yang ada dalam gendongnya, hanya bisa menatap Julia dengan sendu. Asa seolah dapat merasakan kesedihan wanita dewasa, yang saat ini tengah menggendong dirinya.
Untuk beberapa saat, tak lagi terdengar suara keributan yang ditimbulkan oleh para tetangga Julia seperti tadi. Hanya terdengar deru mesin kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya, dimana pengendaranya seolah tak perduli dengan apa yang baru saja terjadi.
Ya, warung itu terletak di pinggir jalan raya yang ramai. Tepat di ujung gang, menuju rumah keluarga Julia.
"Bunda jangan sedih, ya. Asa akan bilang sama ayah, agar ayah memperbaiki warung nenek," ucap gadis kecil tersebut seraya menunjuk arah bekas warung yang masih mengepulkan asap, tempat dimana Asa sering minta jajan kala ikut mengantarkan Julia pulang.
Mendengar suara Asa, Julia tersadar dari lamunan. "Tidak perlu, Sayang," balasnya seraya menurunkan Asa.
Julia kemudian menggandeng Asa, mendekati bekas warung yang terbakar tersebut.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang cukup keras dari arah jalan raya, diikuti oleh mobil yang sedikit oleng dan kemudian berhenti tepat di depan bekas warung.
"Bunda, suara apa itu?" tanya Asa terkejut. Gadis kecil putri semata wayang Dokter Arman tersebut langsung meloncat, meminta gendong pada Julia.
"Oh, itu suara ban mobil pecah, Sayang," balas Julia ketika melihat sebuah mobil sedan berhenti dan pengemudinya segera turun untuk mengecek ban mobilnya.
Julia kembali fokus menatap ke arah bekas warung.
"Maaf, Mbak." Suara seseorang yang berada tepat di belakang Julia, membuat gadis itu memutar leher menoleh ke arah sumber suara.
"Iya. Ada apa ya, Mas?" tanya Julia.
"Tukang tambal ban atau penjual ban yang terdekat, dimana ya, Mbak?" tanya seorang pemuda, yang merupakan pengemudi mobil yang bannya pecah barusan.
"Oh, cukup jauh, Mas. Sekitar lima ratus meter dari sini," balas Julia seraya menunjuk arah yang baru saja dilewati pemuda tersebut.
"Maaf, kalau sekitar sini, ada bengkel kecil-kecilan enggak ya, Mbak?" tanya pemuda itu kembali. "Saya bawa ban cadangan, tapi kuncinya malah enggak kebawa," imbuhnya yang terlihat menyesal karena melupakan barang penting.
__ADS_1
"Kalau bengkel memang enggak ada, Mas. Tapi Pak RT saya punya mobil, barangkali beliau memiliki kunci yang Mas butuhkan," balas Julia.
"Apa, Mbaknya bisa antar ke rumah Pak RT, Mbak?" pinta pemuda tersebut, penuh harap.
Julia mengangguk.
"Maaf, Mbak. Sini biar keponakan Mbak saya saja yang gendong," pinta pengemudi mobil itu dengan sopan.
"Enggak mau, Asa maunya sama Bunda!" tolak gadis kecil itu yang tidak nyaman dengan kehadiran laki-laki asing tersebut.
"Oh, putranya? Saya pikir, keponakannya tadi," sesal pemuda tersebut yang merasa telah salah sangka.
Julia hanya tersenyum. "Mari, saya antar."
'Masih sangat muda, tapi anaknya kok, udah segede itu, ya? Apa, dia nikah sebelum lulus sekolah?' batin pemuda itu bertanya, seraya mengekor langkah kaki Julia.
Julia menuntun orang asing yang baru ditemuinya itu, menyusuri gang yang hanya muat untuk satu mobil, dengan langkah agak cepat.
"Nah, ini kediaman Pak RT, Mas," terang Julia setelah beberapa saat berjalan, seraya memasuki pekarangan rumah yang cukup luas.
"Tunggu sebentar, saya penggilkan," lanjut Julia seraya menoleh ke belakang, ke arah pemuda tersebut.
Gadis itu kemudian mengetuk pintu rumah yang paling besar diantara rumah-rumah lain, di kampung tersebut.
"Ada apa, Nak Juli?" tanya laki-laki paruh baya yang membukakan pintu, laki-laki yang merupakan ketua RT di kampung Julia.
"Maaf, Pak. Ada yang mau minta tolong pada Bapak," balas Julia seraya menunjuk pada pemuda yang berdiri di sampingnya.
"Apa, dia calon suami kamu, Nak Juli?" tanya Pak RT yang malah salah sangka.
"Bu-bukan, Pak!" balas Julia tergagap. "Mobil Mas ini bannya pecah dan Masnya tidak membawa kunci," lanjut Julia.
"Oh ... maaf, Mas. Tadi saya kira, Mas ini calon suami Nak Juli dan mau minta ijin untuk menginap karena ingin menemani Nak Julia dan adiknya yang sedang dapat musibah bertubi-tubi," tutur Pak RT, panjang lebar.
Penuturan Pak RT, membuat pemuda yang datang bersama Julia mengerutkan dahi.
"Oh, ya. Kunci apa yang Mas butuhkan?" tanya Pak RT, sebelum pemuda tersebut sempat bertanya banyak hal mengenai Julia.
__ADS_1
"Mari, ikut saya," ajaknya kemudian, sambil berjalan menuju garasi di samping rumah yang diikuti oleh pemuda tersebut.
"Maaf Pak RT, Mas. Saya pamit pulang dulu, ya," pamit Julia.
"Lho, Nak Juli. Nanti yang akan mengembalikan kuncinya ke sini, siapa?" tanya Pak RT.
"Maaf, Pak. Kalau Bapak percaya sama saya, nanti saya yang akan mengembalikan kuncinya langsung sama Bapak," sahut pemuda tersebut, sebelum Julia sempat membalas.
"Nanti biar Dika yang ke sini, Pak. Itu, dia sudah pulang sekolah," balas Julia yang melihat sang adik baru saja pulang dari sekolah dengan menaiki sepeda onthel sampai di ujung gang sebelah barat yang jaraknya cukup jauh, sebelum kemudian naik angkot untuk sampai ke sekolah.
Pak RT mengangguk. "Suruh Nak Dika cepat kemari, ya," pinta Pak RT sebelum membuka pintu mobilnya untuk mengambil kunci yang dibutuhkan pemuda tersebut.
Julia mengangguk, gadis itu segera berlalu untuk kembali ke rumahnya.
Sementara Pak RT terdengar banyak bercerita pada pemuda yang baru dikenalnya itu, mengenai keluarga Julia yang baru saja mengalami musibah.
"Kasihan sekali ya, Pak," ucap pemuda tersebut. "Tadi saya pikir, gadis kecil yang digendong itu putrinya karena dia manggilnya, Bunda," lanjutnya seraya tersenyum simpul.
"Bukan, dia Asa. Anak asuh Julia," balas Pak RT seraya menyerahkan kunci yang dibutuhkan pemuda tersebut, bersamaan dengan Dika yang datang menghampiri.
"Nak Dika, kamu antar Mas ini ke mobilnya, ya. Nanti kalau sudah selesai, tolong kamu yang mengembalikan kunci-kunci ini. Kasihan Masnya kalau harus bolak-balik karena sepertinya, dia buru-buru," pinta Pak RT pada Dika.
Remaja itu mengangguk.
"Bapak benar, saya memang buru-buru karena sore ini juga, saya harus kembali ke Bandung," ucap pemuda tersebut. "Terimakasih banyak atas kebaikan Bapak yang sudah percaya meminjami saya kunci ini," lanjutnya.
"Berterimakasihlah pada Nak Julia," balas Pak RT.
"Kalau begitu, saya sekalian mohon pamit, Pak." Pemuda itu mengangguk sopan.
"Ayo, Dik!" ajaknya kemudian pada Dika yang sudah tidak lagi mengenakan seragam sekolah.
Sepanjang perjalanan menuju jalan raya, tempat mobilnya berhenti karena mengalami pecah ban, pemuda tersebut berusaha mengorek informasi dari Dika mengenai sang kakak.
"Oh, jadi kakak kamu masih kuliah, Dik?" tanya pemuda tersebut.
"Iya, Mas. Tapi semester kemarin ambil cuti karena harus bekerja manjadi pengasuh anak."
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...