
Setelah mengantarkan Julia ke kampus, Dokter Arman bergegas menuju ke rumah sakit terbesar di kota tersebut, tempat di mana ayah satu anak itu mendedikasikan diri dan menerapkan ilmu yang telah dia dapatkan dari bangku kuliah untuk menolong sesamanya.
Kehadiran Dokter Arman seperti biasa, disambut hangat oleh Renata. Wanita seksi tersebut langsung mengekor langkah laki-laki matang, yang akhir-akhir ini auranya terlihat semakin mempesona.
Ya, tentu saja Dokter Arman terlihat semakin tampan karena setiap pagi, ada yang menyiapkan pakaian serta sarapan untuk dokter kandungan tersebut.
"Ayolah, Arman. Kita masih bisa seperti kemarin-kemarin, kan?" rajuk Renata karena beberapa hari ini, laki-laki yang selalu dapat memuaskan hasratnya tersebut sangat cuek terhadap dirinya.
"Maaf, Ta. Aku sudah mengatakan padamu berkali-kali, bahwa sejak hari itu, di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," balas Dokter Arman yang langsung mendudukkan diri di kursi kerjanya yang empuk.
"Aku enggak percaya, Arman, kalau kamu benar-benar bisa hidup tanpa aku! Apalagi aku tahu, kamu dan istrimu belum melakukan hubungan!" seru Renata yang tidak terima dengan penolakan laki-laki yang selalu terlihat menggairahkan di matanya tersebut.
Hanya dengan melihat bentuk tubuh Dokter Arman yang terbalut kemeja dan nampak kekar, mampu membuat hasrat Renata langsung bangkit. Apalagi jika wanita tersebut sedang tidak ada kesibukan di dalam ruangannya dan kemudian membayangkan bentuk tubuh Dokter Arman, Renata akan langsung kepanasan dan basah.
Itu sebabnya, mereka berdua sering melakukan hubungan intim di ruang kerja Renata karena wanita seksi tersebut selalu menggoda Dokter Arman setiap kali dirinya memiliki kesempatan.
"Aku tahu betul bagaimana kamu, Arman." Renata melembutkan suaranya dan mendekat ke kursi Dokter Arman. "Kamu tak pernah bisa menghindari sentuhan, apalagi sentuhan dariku, bukan?" Tangan nakal Renata mulai meraba dada bidang mantan kekasihnya tersebut.
Renata tersenyum, kala Dokter Arman tidak memberikan penolakan. Tangannya semakin berani membuka kancing baju bagian atas dokter yang bekerja di rumah sakit milik keluarga Renata.
"π π¬π―π°πΈ π π°πΆ, π΄π° πΈπ¦ππ, Arman," bisik Renata seraya semakin mendekatkan wajah. Wanita seksi tersebut nampak sudah tidak sabar ingin dapat menikmati kembali keperkasaan laki-laki yang kini duduk terdiam di kursi kerjanya.
Jarak keduanya semakin terkikis dan senyuman Renata semakin terkembang indah, sebuah senyum kemenangan karena merasa telah berhasil menaklukkan kembali Dokter Arman setelah beberapa hari ini ranjang di ruang kerjanya begitu dingin.
"Ayo, Sayang. Mumpung masih pagi, kita awali pagi kita dengan berbagi kehangatan," bisik Renata dengan bibir yang hampir menyentuh bibir Dokter Arman.
Wanita yang saat ini mengenakan pakaian kerja seksi tersebut, memejamkan mata hendak mulai mencium bibir Dokter Arman, tetapi dokter spesialis kandungan itu langsung beranjak dan menghindar.
"Jangan kurang ajar, Renata! Aku bukan lagi kekasihmu!' hardik Dokter Arman seraya menatap tajam wanita di hadapannya.
Bayangan sang mama yang sangat marah pagi itu di koridor hotel dan juga wajah sedih sang putri, melintas dalam ingatan Dokter Arman dan berhasil menyelamatkan laki-laki itu dari jerat godaan Renata.
Ya, sejujurnya Dokter Arman pun tergoda dan ingin bisa menikmati kehangatan bersama wanita yang liar di atas ranjang tersebut, seperti biasanya. Namun, beberapa hari ini, suami Julia itu mencoba untuk menjaga hati orang-orang yang dia sayangi.
Meski taruhannya begitu berat karena sepanjang hari, dia harus tersiksa dengan meredam hasratnya seorang diri tanpa dapat melampiaskan pada tempat yang tepat.
__ADS_1
"Arman?" Wanita seksi yang merupakan manager di rumah sakit tersebut, terkejut mendapatkan penolakan kasar seperti itu dari laki-laki yang selama ini senantiasa menuruti keinginannya.
"Arman! Kamu tahu siapa aku, kan? Bisa-bisanya kamu menolakku!" kecam Renata.
Dokter Arman membuang pandangan ke arah lain. "Maaf, Ta. Aku sibuk dan sebentar lagi ada operasi, silahkan tinggalkan ruanganku," pinta Dokter Arman dengan memelankan suaranya, tetapi terdengar penuh penekanan.
Laki-laki itu mengusir sang manager sekaligus putri dari pemilik rumah sakit karena ada sesuatu yang harus dia tuntaskan dengan segera, sebelum Renata menyadari perubahan pada dirinya.
"Awas saja, dia! Gara-gara gadis kampungan itu, aku jadi kehilangan kesenanganku!" ancam Renata pada Julia yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa.
Renata bergegas meninggalkan ruang kerja Dokter Arman dengan menghentak-hentakkan sepatu dan wajahnya terlihat masam.
"Sial! Dia berhasil membangunkan milikku!" geram Dokter Arman yang langsung menuju ke kamar mandi, untuk menidurkan kembali miliknya yang tiba-tiba terbangun.
***
Di kampus, kehadiran Julia kembali ke bangku perkuliahan di sambut hangat oleh teman-temannya. Meskipun hanya sebagian kecil karena teman Julia yang lain sudah merampungkan materi studinya dan tinggal menyusun skripsi.
Ketika jam perkuliahan yang diikuti Julia usai, langkah wanita muda yang telah berstatus sebagai istri tersebut, langsung dihentikan oleh teman-temannya yang tadi pagi belum sempat ngobrol bersama Julia.
"Juli, apa kabar?" sapa salah seorang teman pria yang kemudian menyalami Julia.
"Enggak apa-apa, Tomi. Biar terlambat asal tetap dapat mengikuti wisuda bareng kalian nanti," balas Julia seraya tersenyum.
"Bagaimana bisa? Materi kuliah kamu 'kan belum kelar?" cecar pemuda bernama Tomi tersebut.
"Kamu lupa ya, Tom, siapa Julia?" Suara seseorang yang sudah sangat lama tak terdengar kabarnya, kini tiba-tiba muncul hingga membuat Julia langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Julia 'kan cerdas, dia bisa mengejar ketertinggalannya sambil mengajukan judul proposal. Bukankah begitu, Juli?" Pemuda jangkung tersebut tersenyum pada Julia.
"Ya-ya, aku tahu itu, Ar," balas Tomi.
"Apa kabar, manis?" sapa Arsen kemudian.
Pemuda bertubuh tinggi itu adalah Arsen, teman seangkatan Julia yang tiba-tiba cuti dan menghilang tanpa kabar.
__ADS_1
"Aku baik, Arsen. Kamu apa kabar? Setahun ya, kita enggak bertemu?" Julia menatap Arsen seraya tersenyum.
"Aku juga baik, Juli. Saat aku kembali masuk, kamu malah cuti, seolah kamu menghindar dariku, Juli," ucap Arsen.
Julia tersenyum. "Aku tidak menghindar dari siapapun, Sen," balas Julia. 'Tapi kamu yang menghindar,' batin Julia, sendu.
"Termasuk dari Mister Hamim?" cecar Arsen.
Julia mengangguk. "Tidak pernah ada apa-apa di antara kami, Sen, dan kabarnya beliau sudah menikah bulan lalu."
"Dia menikah karena terpaksa, Juli. Karena incarannya gagal beliau dapatkan, makanya Mister Hamim bersedia dijodohkan," sahut Tomi.
"Jadi, kabar yang saat itu aku dengar bahwa kamu jadian sama Mister Hamim, tidak benar?" tanya Arsen, menatap dalam Julia seolah mencari kejujuran dari netra gadis yang selama ini dia rindukan.
"Tentu saja tidak, Sen," balas Julia, sejujurnya.
Pemuda berhidung mancung tersebut menyugar kasar rambutnya. "Kamu tahu enggak, Juli, karena mendengar berita bahwa kamu jadian sama dosen itu, aku enggak fokus mengendarai motorku dan aku mengalami kecelakaan hebat, Juli." Arsen menatap Julia, dengan dalam.
Wanita cantik itu membulatkan netranya, begitu pula dengan teman-teman lain yang mendengar pengakuan Arsen.
"Jadi kamu bukan sengaja cuti karena harus mengikuti papamu ke luar negeri, Ar?" tanya Tomi, seperti yang dia dengar dari para dosen.
"Kenapa enggak ada yang cerita kalau kamu kecelakaan, Sen?" tanya Julia, yang masih tak percaya.
Arsen menggeleng. "Papa sengaja menyembunyikan semuanya agar aku bisa beristirahat dengan total karena aku sempat mengalami amnesia," balas Arsen.
Julia menggeleng-gelengkan kepala, hatinya sakit mendengar pengakuan Arsen. Dia telah salah sangka selama ini, menganggap bahwa Arsen sengaja mempermainkan perasaannya karena pemuda tersebut tiba-tiba menghilang di saat mereka berdua belum jadian.
"Kalau begitu, apa aku masih memiliki kesempatan, Juli?" tanya Arsen, membuyarkan lamunan Julia. Hati wanita cantik itu tiba-tiba berdebar.
Julia sejenak memejamkan mata, menikmati debaran indah yang pernah dia rasakan setahun yang lalu. Namun, Julia harus menelan kekecewaan karena Arsen tiba-tiba menghilang tanpa pesan, membuat Julia mati-matian membunuh perasaan yang mulai tumbuh dan bersemi di hati.
Julia kemudian menggeleng pelan. "Aku bukan Juli yang dulu, Sen." jawabnya pelan.
"Kenapa, Juli?" tanya Arsen.
__ADS_1
"Ayo, Sayang! Kita pulang."
πΉπΉπΉπΉπΉ bersambung ...