
"Tolong kamu telepon Suster Maria dan tanyakan progress laporanku ke polisi," pinta Dokter Arman.
"Kamu serius melaporkan Renata ke polisi, Arman?" tanya Bu Ratna dengan senyuman yang terbit di sudut bibirnya.
Wanita berusia senja tersebut semakin bangga dengan perubahan sang putra yang bisa tegas pada Renata, wanita yang sama sekali tak pernah beliau sukai karena sikap Renata yang arogan.
"Serius, Ma. Arman tidak percaya lagi dengan janji-janji mereka yang mengatakan bahwa mereka tidak akan menggangu lagi karena nyatanya, baru dua hari Pak Santoso mendatangi Arman, meminta maaf dan akan memastikan bahwa Renata tidak akan menggangu, tetapi orang tua dan anaknya itu malah sama-sama meminta hal yang konyol pada Arman!" balas Dokter Arman panjang lebar dan dengan wajah yang penuh kekesalan.
Belum sempat Julia mengambilkan ponsel milik sang suami karena dia membantu suaminya terlebih dahulu untuk duduk dan bersandar pada heard board ranjang, terdengar ponsel milik Dokter Arman yang berada di atas nakas, berdering.
Buru-buru Julia mengambilkan ponsel tersebut dan kemudian memberikan pada sang suami.
"Maria? Panjang umur, dia," ucap Dokter Arman yang kemudian menerima panggilan telepon tersebut dan sengaja mengeraskan suaranya agar sang istri dan mamanya ikut mendengar.
Dokter Arman tidak ingin ada lagi yang ditutup-tutupi dari sang istri. Dia ingin terbuka dan berbagi tentang apapun dengan belahan jiwanya tersebut.
"Halo, Sus," sapa Dokter Arman. "Saya baru saja mau menelepon Suster untuk menanyakan mengenai laporan tindak kejahatan Renata pada saya waktu itu. Apakah sudah ada kabar baiknya, Sus?"
"Pengacara Dokter memang sudah melaporkan Bu Renata dan waktu itu sesuai permintaan Dokter, saya juga ikut mendampingi di sana untuk memberikan keterangan tambahan yang dapat menguatkan laporan tersebut, tetapi pagi ini terpaksa kami meminta pada pihak kepolisian untuk menangguhkan penangkapan Bu Renata, Dok," balas Sister Maria, dari seberang sana.
"Kenapa, Sus?" tanya Dokter Arman yang terdengar tidak setuju dengan keputusan Suster Maria dan pengacara yang telah dia tunjuk.
Meskipun Dokter Arman telah menyerahkan semua masalahnya, pada Suster Maria dan pengacara yang merupakan saudara dekat susternya tersebut.
"Maaf, Dok. Saya belum sempat cerita sama Dokter karena saya juga baru mendapatkan kabar ini semalam dari rekan satu tim kita yang sudah bosan bekerja di bawah tekanan Bu Renata dan Pak Dirut," balas Suster Maria.
Suster cantik tersebut kemudian menceritakan tentang Renata yang mencoba untuk mengakhiri hidup, setelah mereka bertiga meninggalkan ruang perawatan Dokter Arman malam itu.
__ADS_1
"Kabarnya, kondisi Bu Renata kritis dan hari ini, Bu Renata dibawa terbang keluarganya ke Singapura untuk mendapatkan perawatan terbaik, Dok," lanjut Suster Maria, seperti yang dia dengar dari rekan seprofesinya yang sudah mengundurkan diri hari ini juga, sebelum ketahuan pihak mata-mata Pak Santoso yang ada di mana-mana.
"Oke, Sus. Terimakasih atas informasinya," pungkas Dokter Arman yang mengakhiri panggilan.
"Bu Renata, mau bunuh diri?" tanya Julia, tak percaya.
"Apa kurangnya dia, sih, sampai berpikiran picik seperti itu. Cantik, kaya, sukses di usia muda. Kenapa malah mau mengakhiri hidup dengan cara tidak terpuji seperti itu?" Julia bergumam sendiri, bertanya-tanya.
"Kekurangan dia, ada pada adabnya, Nak Juli. Dia sama sekali tidak memiliki adab, tidak pernah menghargai orang lain, semena-mena, merasa diri paling baik dan paling benar!" balas Bu Ratna yang dapat mendengar gumaman Julia.
"Kenapa dia tidak mati saja? Kenapa orang seperti dia, masih diberikan kesempatan untuk hidup? Tapi mama yakin, suatu saat nanti orang seperti Renata itu, pasti akan menemui ajal dengan cara yang paling sesuai dengan perbuatannya!"
Wanita berusia senja tersebut nampak mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini, yang tidak suka dengan perilaku Renata yang tidak pernah bisa menghargai orang lain.
Sementara Dokter Arman hanya terdiam, mendengarkan sumpah serapah sang mama terhadap Renata. Dalam hati, laki-laki yang memiliki tatapan tajam tersebut membenarkan apa yang dikatakan mamanya.
*****
Di sebuah rumah sakit terbaik di Singapura. Pak Santoso dan istrinya masih menangisi Renata yang kondisinya semakin memburuk setelah melakukan penerbangan yang memang beresiko tersebut.
Pak Santoso kekeuh ingin membawa putrinya berobat ke luar negeri, meskipun tim dokter di rumah sakit miliknya telah melarang dengan alasan kondisi Renata tak cukup baik untuk melakukan perjalanan jauh.
"Pa, bagaimana kalau Rena tidak selamat, Pa," isak wanita yang mengenakan perhiasan mencolok tersebut.
"Entahlah, Ma. Papa juga tidak tahu," balas Pak Santoso sambil memandangi pintu ruangan bercat putih, tempat Renata sedang ditangani tim medis terbaik di rumah sakit terbesar, di negeri singa tersebut.
"Pokoknya kita harus membalaskan sakit hati Rena, Pa. Arman harus menerima hukuman karena telah menyakiti putri kita." Amarah nampak menguasai mamanya Renata.
__ADS_1
Pak Santoso menghela napas panjang. Beberapa hari ini, laki-laki paruh baya tersebut terus merenung.
Suara-suara miring para karyawan di rumah sakit yang sampai ke telinganya melalui mata-mata yang disebar, semua menyayangkan perbuatan Renata yang tidak terpuji karena telah menggoda Dokter Arman yang sudah memiliki istri dan melukai Dokter Arman, dan sekarang Renata malah mencoba untuk bunuh diri.
Para karyawannya tersebut juga banyak yang mengharapkan agar putrinya mati saja, sehingga tidak akan mengganggu rumah tangga Dokter Arman dan istrinya kembali, serta tidak dapat lagi bersikap semena-mena pada mereka.
'Begitu burukkah perilaku Rena selama ini? Lantas, benarkah bahwa wanita itu tidak merebut Arman dari putriku?' Pak Santoso menghela napas panjang.
"Pa, kenapa diam saja?" Suara sang istri, mengurai lamunan Pak Santoso.
"Kita lihat dulu bagaimana perkembangan Rena ya, Ma," balas Pak Santoso.
"Papa akan menyuruh seseorang untuk menyelidiki dulu, bagaimana sebenarnya hubungan Arman dan Rena," lanjutnya.
"Kenapa harus diselidiki segala, sih, Pa? Sudah jelas-jelas anak kita melakukan itu karena disakiti Arman!" teriak mamanya Renata, hingga membuat seorang petugas mendekat dan memberinya peringatan.
"Jaga sikap Mama!" hardik Pak Santoso pelan, tetapi penuh penekan setelah petugas tersebut berlalu.
"Papa ingin menyelidiki dulu karena papa tidak mau salah dalam mengambil keputusan, Ma. Kalau memang Arman terbukti bersalah, papa pasti akan memberikan pelajaran yang setimpal untuk dokter itu," ucap Pak Santoso, kemudian.
"Tetapi papa tidak mau gegabah karena jika ternyata Arman tidak bersalah, maka seumur hidup kita, kita akan dibayang-bayangi rasa bersalah karena telah mencelakai orang lain, Ma," lanjut Pak Santoso yang mulai terbuka mata hatinya.
Seorang dokter nampak keluar dari ruangan tempat Renata mendapatkan penanganan dengan sangat terburu-buru, membuat kedua orang tua tersebut mengerutkan dahi dengan perasaan cemas yang tiba-tiba menyambangi.
"Rena ... bertahan, Nak."
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...
__ADS_1