
Setelah menyimpan cangkir kopi di hadapan Dokter Arman, Julia kemudian duduk, tepat di hadapan duda satu anak tersebut. Baru saja gadis itu mendudukkan diri, terdengar gedoran keras pada pintu rumahnya.
"Buka pintunya, gadis murahan! Jangan berbuat mesum di kampung kami!" teriak seseorang dari arah luar, yang diikuti oleh teriakan-teriakan lain yang terdengar sangat riuh.
Suara teriakan mereka jelas terdengar di telinga Julia dan Dokter Arman, meski hujan di luar sana masih turun dengan sangat deras dan menimbulkan bunyi berisik di atas rumah Julia yang beratapkan asbes.
Julia segera beranjak dan hendak keluar, meski kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.
"Tunggu, Julia," cegah Dokter Arman. Laki-laki matang itu kemudian mengenakan kembali kemejanya yang basah.
"Kamu bangunkan Dika dan suruh dia ke sini untuk menemaniku," pinta Dokter Arman yang sudah dapat menduga, apa yang bakal terjadi.
Julia mengerutkan dahi tak mengerti, tetapi gadis itu tetap melangkah menuju kamar sang adik untuk membangunkan Dika.
Tak berapa lama, Julia telah kembali bersama Dika yang nampak masih sangat mengantuk.
Di luar sana, orang-orang masih saja berteriak menyerukan nama Julia dan mengata-ngatai gadis itu dengan umpatan yang tak pantas dilontarkan.
Semua isi kebun binatang mereka serukan dengan begitu entengnya, seolah mereka adalah makhluk yang suci tanpa dosa.
"Sekarang, keluar dan bukakan pintu untuk mereka," titah Dokter Arman seraya menatap Julia yang berdiri di samping sang adik.
Baru saja Julia hendak melangkah, terdengar suara dobrakan pintu yang terdengar keras dari arah luar. Tak berselang lama, sejumlah warga merangsek masuk ke dalam rumah, membuat gadis itu terpaku di tempatnya berdiri.
"Dimana laki-laki, itu!" teriak seorang laki-laki paruh baya dengan tatapan tajam ke arah Julia.
"Apa saya, yang Anda cari?" Dokter Arman segera berdiri dan maju beberapa langkah, laki-laki matang itu mendekat ke arah Dika.
Tangan Dokter Arman kemudian melingkar di punggung remaja tersebut dan merangkul pundak Dika, agar remaja yang baru saja bangun tersebut tidak terkejut menyaksikan semua ini.
__ADS_1
Ya, Dika memang nampak sangat terkejut mendengar suara pintu yang di dobrak, hingga membuat kesadaran adik kandung Julia itu langsung pulih.
Rasa kantuk Dika seketika menguap entah kemana. Remaja itu nampak sangat geram, melihat orang-orang yang datang ke rumahnya dengan tidak sopan.
"Ya, kami mencari Anda!" balas salah seorang pemuda, mewakili orang tua yang tadi bertanya. "Apa yang Anda lakukan malam-malam seperti ini di rumah seorang gadis?" tanya pemuda tersebut seraya menatap sinis pada Dokter Arman.
"Oh, jadi karena itu, kalian semua datang kemari dengan tidak sopan?" tanya Dokter Arman yang membalas tatapan pemuda tersebut dengan mengintimidasi.
"Saya datang kemari untuk menjemput putri saya, sekaligus untuk membicarakan pernikahan saya dengan Julia," lanjut Dokter Arman yang masih menatap tajam pada pemuda tersebut.
Sebagian warga yang ikut merangsek masuk, langsung berdecak kesal pada laki-laki paruh baya yang tadi berteriak lantang.
"Oh, calon suami Julia," ucap salah satu di antara mereka.
Sedetik kemudian, tatapan laki-laki matang ayah dari Asa itu beralih pada sosok laki-laki paruh baya yang tadi siang sempat dia lihat. "Dan saya mengantarkan uang pada calon istri saya, untuk melunasi hutang ibunya pada Anda, Pak Tua!" tegas Dokter Arman pada laki-laki bertubuh tambun yang tak lain adalah Pak Tamin.
Tak berapa lama, duda satu anak itu telah kembali dengan amplop coklat tebal di tangannya. "Ini, uang pelunasan hutang orang tuanya Julia," tegas Dokter Arman seraya menyodorkan amplop coklat tersebut.
Baru saja Pak Tamin hendak mengambil amplop coklat dari tangan Dokter Arman, dokter kandungan itu menarik kembali amplopnya.
"Saya butuh bukti pelunasan hutang ini, Pak Tua!" tegas Dokter Arman.
Laki-laki paruh baya tersebut nampak kebingungan. Sebab, dia sebenarnya tak menginginkan uangnya kembali.
Pak Tamin memiliki niat lain, yaitu untuk menjerat Julia dengan hutang yang sengaja dia naikkan jumlah bunganya, sehingga beban yang harus gadis itu bayarkan begitu besar.
Pak Tamin berharap, Julia tak dapat melunasi hutang almarhumah sang ibu. Sehingga laki-laki paruh baya tersebut dapat menekan gadis cantik tersebut, agar mau menerima pinangannya.
Harapan Pak Tamin pupus, kala siang tadi dirinya sengaja tak langsung pulang karena curiga dengan kedatangan Dokter Arman dan laki-laki berkumis tebal tersebut memutuskan untuk mencuri dengar pembicaraan Julia dengan tamunya.
__ADS_1
Laki-laki paruh baya itu menyimpan amarah mendengar pembicaraan tersebut, sehingga malam ini dirinya sengaja mengerahkan massa untuk mengusir tamunya Julia dan membuat gadis yang diinginkannya menjadi malu.
"Ada apa, ini?" tanya Pak RT yang baru saja datang, mengurai lamunan Pak Tamin. Ketua RT itu langsung datang ke rumah Julia, begitu mendapatkan laporan dari salah seorang warga bahwa ada keributan di rumah gadis tersebut.
Pak RT menatap sahabatnya, Julia dan juga Dokter Arman, bergantian. Semuanya terdiam, tak ada yang membuka mulut dan mengeluarkan suara.
"Siapa yang bisa menjelaskan kepadaku?" tanya Pak RT kemudian, setelah menunggu beberapa saat, tetapi tak ada yang bersuara.
"Saya bertamu malam-malam karena harus menjemput putri saya," jawab Dokter Arman. "Maaf, jika saya kurang sopan karena bertamu malam-malam seperti ini karena tadi ada pasien darurat dan saya harus segera mengambil tindakan operasi," lanjutnya, menjelaskan.
"Oh, Pak Dokter baru pulang dari rumah sakit?" tanya Pak RT yang kemudian dapat menyimpulkan bahwa laki-laki yang ada di hadapannya saat ini pastilah dokter kandungan, majikan dari Julia, yang sering diceritakan oleh sang istri.
Dokter Arman mengangguk. "Saya juga mau melunasi pinjaman almarhumah ibunya Julia pada Bapak itu." Dokter Arman menunjuk Pak Tamin yang.
"Tapi saya butuh bukti pelunasan karena saya tidak ingin di kemudian hari ada hal yang tidak diinginkan terjadi," imbuh ayah satu anak tersebut.
Pak RT mengangguk, mengerti. "Saya dan seluruh warga yang ada di sini, bersedia menjadi saksinya, Dokter. Jika Dokter masih khawatir, sereh terima uang pelunasan dapat direkam," ucap Pak RT.
"Baik, Pak. Saya setuju," balas Dokter Arman yang langsung menyerahkan amplop coklat pada Julia.
"Kamu bayarkan sendiri pada Pak Tua itu, Juli. Biar aku yang mengambil gambarnya sebagai bukti," pinta Dokter Arman.
Julia mengangguk, gadis itu kemudian segera mengambil amplop coklat dari tangan Dokter Arman dan memberikan pada Pak Tamin. "Ini uang pelunasan hutang almarhumah ibu saya, Pak. Silahkan Bapak buka dan hitung sendiri jumlahnya," pinta Julia.
"Tidak perlu!" balas laki-laki paruh baya tersebut setelah menerima amplop dari Julia, dengan sangat ketus.
Pak Tamin kemudian segera berlalu, meninggalkan rumah Julia dan juga meninggalkan warga yang tadi datang bersamanya dengan wajah memerah menahan amarah dan rasa malu.
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...
__ADS_1