
Julia kemudian menggeser posisinya dan baru saja wanita muda itu merubah posisi menjadi telentang, sebuah kecupan pertama mendarat di bibirnya.
"Cup ...." Membuat Julia membeku seketika.
Julia hanya bisa diam, menerima ******* lembut Dokter Arman. Ciuman yang penuh kasih dan tidak menuntut, tetapi laki-laki dewasa tersebut langsung menghentikan aksinya ketika menyadari Julia tak membalas ciumannya.
"Maafkan aku, Juli. Aku tidak bermaksud melecehkan kamu. Aku-aku merasa nyaman ... merasa nyaman berada di sisi kamu, Sayang," ucap Dokter Arman, terbata dan dengan tatapan yang penuh penyesalan.
"Maafkan aku," ulangnya sekali lagi, menatap manik hitam Julia yang masih saja terdiam.
Laki-laki matang itu kemudian mengusap bibir tipis Julia, dari bekas lumatannya tadi. "Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi, sampai kamu bisa menerima kehadiranku sebagai suami yang seutuhnya," lanjut Dokter Arman.
Julia mengerutkan dahi. "Suami yang seutuhnya? Maksud Mas Arman? Bukankah pernikahan kita ini hanya ...."
"Sstt ...." Dokter Arman meletakkan jari telunjuknya di bibir Julia, agar wanita muda yang sudah dinikahinya tersebut berhenti berkata-kata.
"Kuakui, Juli. Dari awal, aku yang salah. Aku yang brengsek telah memperalat kamu untuk memenuhi permintaan ibu dan putriku, juga untuk kesenanganku semata. Aku baru menyadari kini, ternyata selama ini aku telah dibutakan oleh nafsu hingga menutup mata bahwa ada mutiara berharga di sampingku." Dokter Arman berbicara dengan wajah yang sangat serius.
Ayah satu anak tersebut menghela napas panjang. "Maafkan aku, Julia, maaf," pintanya penuh penyesalan.
Julia terdiam, wanita cantik itu masih bingung dengan apa yang dia dengar barusan. Ingin bisa mempercayai laki-laki yang saya ini terlihat sangat serius, tetapi ketakutan masih menyelimuti hatinya.
'Tidak-tidak, tidak mungkin Mas Arman bisa berubah secepat ini.' Dahi wanita muda itu berkerut dalam. 'Tapi dari sikapnya yang hangat dan lembut beberapa hari ini, seakan menunjukkan ketulusannya. Sikapnya tidak dibuat-buat,' lanjutnya bergumam dalam hati.
"Juli, aku tahu sikapku selama ini terhadapmu sangat tidak baik dan pasti sudah menyakiti hati kamu. Aku bisa terima jika kamu membenciku." Laki-laki matang itu kembali berbuat, setelah beberapa saat menanti, tetapi Julia tak kunjung membuka mulut.
"Tapi kumohon, Juli. Beri aku kesempatan untuk membuktikkan bahwa aku benar-benar sudah berubah, bahwa aku benar-benar sayang sama kamu." Dokter Arman mengusap lembut pipi Julia, dengan tatapan yang terus tertuju ke manik hitam wanita yang entah sejak kapan mulai menyelinap masuk ke dalam hatinya.
Mendapatkan perlakuan dan kata-kata yang terdengar sangat tulus tersebut, membuat dada Julia, berdebar.
"Ehm," deham Julia untuk menetralisir debaran jantungnya.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Juli sudah ngantuk banget," ucap Julia kemudian, yang tak ingin mendengar ucapan Dokter Arman yang bisa membuat pertahanannya runtuh.
Tidak, tidak semudah itu untuk percaya begitu saja pada laki-laki yang jelas-jelas telah menolak Julia di awal pernikahan. Bahkan laki-laki itu pula yang membuat perjanjian bahwa pernikahan ini hanya untuk sementara dan tugas Julia hanyalah sebagai pengasuh putrinya.
Meski Julia akui, debaran itu ada ketika berdekatan dengan Dokter Arman yang mulai melembut dan penuh perhatian, penuh kejutan dan mulia bersikap romantis. Namun, Julia masih butuh waktu dan juga bukti untuk dapat menerima pernikahan ini, menjadi pernikahan yang sempurna.
"Tidurlah, Sayang. Aku akan menjaga kalian berdua," ucap Dokter Arman seraya mencium kening Julia, seperti jika di pagi hari dia hendak berangkat bekerja dan ada sang mama di meja makan.
Julia kemudian memejamkan mata dan membiarkan Dokter Arman terjaga seorang diri, sambil mengamati wajah wanita cantik tersebut.
*****
Keesokan paginya, Asa terbangun dengan wajah yang ceria, pasalnya dirinya tidur dengan dipeluk oleh sang bunda yang masih terpejam.
Asa beringsut perlahan, sambil menyingkirkan tangan sang bunda. Gadis kecil itu kemudian duduk di samping Julia dan menoleh ke sisi kanannya.
Senyum lebar kembali terbit di sudut bibirnya yang mungil, kala memdapati sang ayah masih terpejam dengan tangan memeluk sang bunda.
"Ayah juga senang," balas Dokter Arman yang ternyata sudah terbangun sejak beberapa saat yang lalu, hanya saja dia masih merasa belum puas memeluk sang istri yang tidurnya nampak lelap.
Ya, Julia yang semalam tak langsung dapat tidur karena kata-kata Dokter Arman yang mengganggu pikirannya, serta sikap sang suami yang terus mengusap kepalanya, membuat Julia kasih terlelap meski matahari telah muncul di ufuk timur.
"Ayah sudah bangun? Ayah pura-pura tidur, ya?" protes Asa dengan suara meninggi, hingga membuat Julia terbangun dan kemudian membuka mata perlahan.
"Nak, kamu sudah bangun? Bunda kesiangan, ya? Jam berapa sekarang?" tanya Julia seraya menatap sang putri yang juga tengah menatap dirinya seraya tersenyum.
"Pagi, Bunda," sapa Asa.
Julia beringsut, hendak mendudukkan diri, tetapi ada tangan kekar yang melingkar di perutnya. "Mas, bangun, Mas. Mas 'kan harus kerja," ucap Julia membangunkan sang suami seraya menepuk pelan tangan Dokter Arman.
Asa tertawa senang melihat sang ayah masih pura-pura terpejam.
__ADS_1
"Nak, kok malah tertawa?" Julia mengerutkan dahi, menatap tak mengerti pada sang putri.
"Ayah pura-pura tidur lagi, Bunda. Ayah sudah bangun tadi," balas Asa seraya menunjuk sang ayah yang masih saja memejamkan mata.
"Mas, jangan becanda, ah. Jahil banget, sih," gerutu Julia seraya mencoba menyingkirkan tangan sang suami dari perutnya, tetapi wanita muda itu kesulitan.
"Biarkan seperti ini dulu, Sayang. Sebentar saja," rajuk Dokter Arman seperti anak kecil, membuat Asa terkikik senang.
"Mas, sudah hampir setengah enam. Juli mau menyiapkan sarapan dulu," protes Julia.
"Enggak perlu kamu pikirkan, Sayang. Pasti bibi dan mama sudah menyiapkan semua," balas Dokter Arman yang semakin mengeratkan pelukan.
Julia mendekatkan mulutnya ke telinga sang suami dan kemudian berbisik. "Tadi malam 'kan Mas janji, kalau enggak akan maksa."
Mendengar bisikan Julia, laki-laki matang itu kemudian melepaskan pelukannya. "Maaf, habisnya meluk kamu tuh nyaman," ucap ayah satu anak tersebut, seraya tersenyum tulus.
"Asa mau mandi?" tanya Dokter Arman kemudian yang melihat sang putri beringsut dan hendak turun dari ranjang.
"Iya, Ayah. Asa 'kan mau sekolah," balas bocah kecil tersebut.
"Masak ayah enggak dikasih kecupan selamat pagi," protes Dokter Arman, cemberut.
Asa menepuk jidatnya sendiri. "Asa lupa, ayah," ucapnya, tersenyum lucu. Gadis kecil itu kemudian mendekati sang ayah dan mencium pipi ayahnya, kanan dan kiri.
Dokter kandungan tersebut membalasnya dengan mencium kening sang putri dengan penuh kasih.
"Ayo, Ayah! Sekarang, kita kasih kecupan selamat pagi untuk Bunda," ajak Asa.
Dokter Arman mengangguk antusias, seraya tersenyum lebar. Sementara Julia hanya bisa menghela napas panjang.
🌹🌹🌹🌹 bersambung ...
__ADS_1