Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Membusuk di Penjara


__ADS_3

Beberapa hari menjalani perawatan di rumah, kondisi Dokter Arman berangsur membaik karena Julia sangat telaten mengobati luka bekas operasi di pinggang sang suami, tentunya atas arahan dari Suster Maria yang diminta untuk tinggal di kediaman dokter kandungan tersebut selama dua hari.


Selama dua hari itu pula, Julia banyak belajar pada suster baik hati yang telah banyak membantu Dokter Arman. Hingga sekarang Julia dapat mengobati sendiri luka suaminya, tanpa bantuan orang lain.


Siang ini, Dokter Arman baru saja tertidur setelah beberapa saat yang lalu ditemani makan siang oleh Julia dan juga Asa yang kebetulan pulang sekolah lebih awal.


"Nak Juli, apa ibu boleh masuk?" ijin Bu Ratna yang melongokkan kepala ke dalam kamar karena pintu kamar tersebut tidak ditutup rapat setelah Asa keluar barusan.


"Silahkan, Bu," balas Julia yang baru saja selesai merapikan sisi tempat tidur, agar sedap dipandang mata. Sebab, tadi Asa ikut tiduran di samping sang papa dan polah bocah kecil tersebut yang lasak, membuat sprei jadi kusut dan berantakan.


Bu Ratna melihat sebentar pada sang putra dan kemudian mendudukkan diri di sofa. "Sudah lama, suamimu tidur?" tanya Bu Ratna, sesaat setelah duduk.


Julia kemudian berjalan mendekati sang mama mertua dan duduk tepat di samping Bu Ratna. "Belum begitu lama, sih, Ma. Tadi keasyikan bercanda sama Asa," balas Julia seraya tersenyum.


Wanita cantik tersebut mengingat kedekatan Asa dan papanya yang begitu hangat.


"Ada apa, Ma?" tanya Julia, begitu menyadari ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Bu Ratna.


"Ada yang mau mama tanyakan sama kamu, Nak. Tolong jawab dengan sejujurnya, ya, agar kami tidak merasa bersalah," balas Bu Ratna seraya menepuk pelan lengan Julia.


Julia mengerutkan dahi. "Ada apa, sih, Ma? Kenapa Mama harus merasa bersalah?" tanya Julia, kembali. "Julia enggak merasa kalau Mama ada salah, kok," lanjutnya, bingung.


"Arsen? Siapa dia, Nak? Ada hubungan apa, antara kamu dan dia di masa lalu?" cecar Bu Ratna.


Mendengar Bu Ratna menyebut nama Arsen, Julia sempat terkejut, tetapi sedetik kemudian wanita cantik itu dapat menguasai keterkejutannya.


"Dia teman kuliah, Juli, Ma," balas Julia. "Apa Mas Arman yang cerita tentang Arsen pada Mama?" lanjutnya bertanya.


Bu Ratna mengangguk. "Arman sangat takut kehilangan kamu, Nak Juli. Apalagi, dia menyadari bahwa kesalahannya kepada kamu terlalu banyak," balas Bu Ratna, membuat Julia menoleh sekilas ke arah sang suami yang masih memejamkan mata.


'Benarkah kamu cemburu pada Arsen, Mas? Benarkah, kamu sudah jatuh cinta padaku?' batin Julia, senang.

__ADS_1


"Ada hubungan apa, kamu sama dia?" ulang Bu Ratna, bertanya. Mengurai lamunan Julia.


"Dulu, Ma. Sebelum Juli bekerja menjadi pengasuh Asa. Kami sempat saling suka, tetapi tidak sempat terucap dan tiba-tiba Arsen menghilang. Juli kemudian berusaha untuk melupakannya," terang Julia.


"Sekarang dia sudah kembali dan sepertinya, dia mengejarmu lagi." Bu Ratna menatap Julia dengan tatapan yang entah.


Julia menggeleng. "Arsen tidak serius, Ma, dan Juli tidak akan memilih orang yang tidak serius," ucap Julia.


"Bagaimana bisa kamu menyimpulkan kalau Arsen tidak serius?" desak Bu Ratna.


"Kalau Arsen serius, dia pasti akan mencari Juli ketika enam bulan kemarin Juli ambil cuti dan bekerja di rumah ini, Ma. Nyatanya, Arsen tidak pernah mencari keberadaan Juli, padahal dia tahu alamat rumah Juli," balas Julia.


Bu Ratna mengangguk-angguk.


Sejenak, keheningan tercipta di kamar utama yang luas tersebut.


"Ada apa lagi, Ma?" tanya Julia seraya mengusap punggung sang mama mertua, ketika melihat Bu Ratna masih saja mengerutkan dahi.


Bu Ratna menghela napas panjang.


"Ma, kenapa Mama bicara seperti itu, Ma. Juli sudah melupakan semuanya, Ma. Juli juga ikhlas menjalani pernikahan ini, meski awalnya memang terpaksa," sergah Julia.


Bu Ratna menggeleng. Wanita berusia senja itu kemudian menggenggam erat tangan Julia. "Terimakasih, Nak. Hatimu sungguh mulia," ucap Bu Ratna.


"Tapi, masih ada satu hal yang mengganjal, yang ingin Mama tanyakan," lanjutnya seraya menatap manik hitam Julia, seolah hendak mencari kejujuran dari ucapan Julia nantinya.


"Apa itu, Ma?" tanya Julia. "Jangan bikin Juli semakin bingung dan penasaran, Ma," pintanya, tidak sabar.


"Arman merasa sangat bersalah padamu, Nak Juli, dan dia menjadi ragu. Benarkah kamu bisa memaafkan semua kesalahannya dengan begitu mudah dan dapat menerima dia sebagai suami yang seutuhnya, setelah semua kesalahan yang dia lakukan padamu?" tanya Bu Ratna, menuntut jawab.


Sejenak, Julia terdiam. Wanita cantik tersebut menghela napas berkali-kali, untuk melegakan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.

__ADS_1


"Awalnya memang sulit, Ma, tetapi melihat kesungguhan Mas Arman dan tekadnya yang kuat untuk mempertahankan pernikahan kami, Juli merasa bahwa Mas Arman benar-benar sudah berubah dan tulus sayang sama Juli. Jadi, sudah tidak ada alasan lagi bagi Juli untuk tidak menerima Mas Arman sebagai suami," balas Julia, dengan sejujurnya.


"Meski kesalahannya terlalu besar?" Bu Ratna kembali menegaskan.


Julia mengangguk. "Jika Tuhan saja maha pengampun dan memberikan kesempatan yang luas pada hamba-Nya, untuk bertaubat dan mengakui kesalahan, kenapa Juli sebagai makhluk-Nya yang tidak luput dari kesalahan, tidak mau memaafkan?" Julia tersenyum tulus.


"Jadi, kamu benar-benar memaafkan semua kesalahan putra mama, Nak Juli?" Netra abu-abu Bu Ratna, berkaca-kaca. Wanita anggun itu merasa. sangat terharu.


Julia mengangguk pasti. "Iya, Ma. Juli memaafkan Mas Arman dan sekarang Juli juga sudah mulai menyayangi putra Mama," balas Julia, seraya tersenyum malu.


Jawaban Julia, membuat seseorang yang berbaring di atas kasur empuk, tersenyum seraya menitikkan air mata bahagia, bersamaan.


Ya, Dokter Arman mendengar ketika mamanya masuk ke dalam kamarnya tadi. Ayah satu anak tersebut sebelumnya bermaksud menyapa sang mama, tetapi dia urungkan kala mendengar sang istri bertanya pada Bu Ratna.


Akhirnya, dokter kandungan itu memutuskan untuk mencuri dengar pembicaraan dua wanita yang sangat disayanginya.


Hatinya membuncah bahagia, kala mendengar pengakuan sang istri pada mamanya barusan. Sekaligus dipenuhi penyesalan yang mendalam karena selama ini hatinya telah dibutakan oleh nafsu, hingga dia mengabaikan permata indah seperti sang istri.


Dalam hati, Dokter Arman berjanji akan memenjarakan Renata dan memastikan agar wanita tersebut dihukum seberat-beratnya.


'Dia harus membusuk di penjara.'


Dokter Arman belum mengetahui mengenai apa yang menimpa Renata karena pihak keluarga menutup rapat berita tersebut dan mengancam pada semua pegawai rumah sakit agar tidak membuka mulut dan menyebarkan berita kenekadan Renata yang ingin bunuh diri.


Bu Ratna kemudian memeluk Julia seeratnya. "Terimakasih, Nak Juli. Terimakasih." Wanita berusia senja tersebut tak dapat berkata-kata, hanya ucapan terimakasih yang mampu beliau ucapkan untuk mewakili perasaan bahagianya saat ini.


"Sayang, kamu dimana?" Suara Dokter Arman yang memanggil sang istri, mengurai pelukan mertua dan menantu tersebut.


"Juli di sini, Mas, lagi ngobrol sama Mama. Ada apa?" tanya Julia yang kemudian mendekat.


"Tolong kamu telepon Suster Maria dan tanyakan progress laporanku ke polisi," pinta Dokter Arman.

__ADS_1


"Kamu serius melaporkan Renata ke polisi, Arman?"


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2