Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Membuka Lembaran Baru


__ADS_3

Julia dan sang suami menemani sarapan Asa dan Dika dengan senyuman merekah yang menghiasi wajah keduanya, hingga mengundang tanya putri kecilnya yang sedang dalam masa penuh keingintahuan.


"Bunda, kok Bunda sama Ayah pagi ini ceria sekali?" tanya Asa, membuat pipi Julia, merona.


"Masak, sih?" balas Dokter Arman, balik bertanya dengan senyuman yang menggoda pada sang putri. Sementara tangannya yang berada di bawah, mengelus paha sang istri.


"Mas, tangan mohon dikondisikan," bisik Julia.


Dokter Arman tersenyum lebar, seraya melirik mesra Julia.


"Iya, Ayah."


"Benar 'kan, Om?" tanya Asa, meminta persetujuan pada Dika.


"Sudah, buruan makan. Nanti kita bisa terlambat kalau bicara terus," saran Dika, menyudahi keingintahuan Asa.


Julia bernapas lega karena Asa tak lagi bertanya yang bisa membuat dia kebingungan bagaimana harus menjawab.


Usai sarapan, Julia dan Dokter Arman yang belum mulai beraktifitas, mengantarkan Asa dan Dika hingga ke depan.


"Asa berangkat sekolah dulu ya, Bunda, Ayah." Gadis kecil tersebut menyalami Bunda dan ayahnya, yang diikuti oleh Dika.


"Belajar yang benar, Dik. Bentar lagi ujian, kan?" Nasehat Julia pada sang adik.


"Iya, Mbak," balas Dika yang kemudian segera naik ke dalam mobil, menyusul Asa yang sudah naik duluan.


Mobil yang membawa Asa dan Dika untuk pergi ke sekolah, baru saja meninggalkan halaman dengan iringan lambaian tangan Julia dan Dokter Arman.


Ketika sepasang suami istri tersebut hendak berbalik untuk masuk kembali ke dalam rumah, terlihat sebuah mobil asing memasuki pintu gerbang rumah Dokter Arman.


"Siapa, Mas? Sepagi ini bertamu? Apa, rekan kerja Mas Arman?" tanya Julia.


Dokter Arman yang memeluk pinggang Julia dengan mesra, menggeleng. "Aku tidak tahu, Yang. Aku tidak ada janji sama siapa-siapa."


Mobil jenis sedan berwarna merah metalik itu berhenti tepat di samping mobil Dokter Arman yang baru dipanaskan karena suami Julia tersebut bermaksud untuk meninjau kliniknya yang akan segera diresmikan, minggu depan.


Seorang wanita paruh baya dengan penampilan glamour, turun dari mobil mewah tersebut dengan tatapan tajam tertuju ke arah Dokter Arman.


"Tante Rika ...." Ucapan Dokter Arman menggantung di udara.


Melihat siapa yang datang, Dokter Arman menarik pinggang sang istri dan menyembunyikan istrinya itu di belakang punggungnya.


Sementara wanita paruh baya yang baru saja datang tersebut, terus melangkah dan semakin mendekat. Fokusnya hanya pada laki-laki bertubuh tinggi tegap yang sangat dia kenali, Dokter Arman, mantan kekasih putrinya.


"Arman! Aku datang kemari, untuk meminta pertanggungjawaban kamu atas apa yang menimpa Renata!" ucapnya tegas dan menghakimi, tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu.


"Apa maksud Tante?" tanya Dokter Arman, tak mengerti.


Bukankah, Renata yang melukainya, lantas kenapa harus dia yang bertanggungjawab. Begitulah yang Dokter Arman pikirkan.


"Jangan pura-pura bodoh, Arman! Karena kamu anak tante nekat mau bunuh diri!" hardik mamanya Renata, menuding Dokter Arman.


"Karena saya?" Dokter Arman masih belum mengerti maksud dari Bu Rika.


"Iya. Karena kamu tidak mau menikahinya, kan?" Istri Pak Santoso tersebut menatap sinis pada Dokter Arman. "Kamu malah memilih dia, yang tidak sepadan dengan anak tante!" lanjutnya menunjuk ke belakang tubuh Dokter Arman.


Merasa dirinya ditunjuk, Julia bergeser dan kemudian berdiri di samping sang suami. "Bukan salah Mas Arman, Bu," ucap Julia, pelan.


Melihat wajah Julia, mamanya Renata mematung. Jari telunjuknya yang tadi tegas menunjuk, kini terlihat bergetar, begitu pula dengan bibir wanita paruh baya tersebut.


Dokter Arman mengerutkan dahi, melihat perubahan wanita yang sangat dikenalinya itu. "Tante Rika, ada apa?"


"Ka-kamu, wajah kamu seperti ... seperti Risa," ucap Bu Rika, dengan raut wajah yang tiba-tiba menjadi sendu.

__ADS_1


Julia mengerutkan dahi. "Maaf, Ibu kenal dengan ibu saya?" tanya Julia, penasaran.


Selama ini almarhumah sang ibu tidak pernah bercerita bahwa dia memiliki teman atau saudara di kota ini. Orang tua Julia itu mengatakan, bahwa mereka berdua adalah perantauan dari luar daerah.


"Apakah Risa, ibumu?" cecar Bu Rika seraya menatap Julia tanpa berkedip.


"Iya, Bu. Risa, nama almarhumah ibu saya," balas Julia.


"Almarhumah? Risa sudah meninggal?" Tubuh wanita paruh baya tersebut tiba-tiba lunglai, dia berlutut di halaman berumput hijau di kediaman Dokter Arman.


Buru-buru, Julia menangkap tubuh Bu Rika hendak membantunya untuk berdiri, tetapi wanita paruh tersebut menolak dan malah bersimpuh di kaki Julia.


Entah mengapa, begitu melihat wajah Julia, Bu Rika sangat yakin bahwa Julia pasti ada hubungannya dengan adik kandung yang telah dia fitnah, hingga adiknya tersebut terusir dari rumah, puluhan tahun yang silam.


Apalagi, setelah mendengar bahwa nama ibu Julia adalah Risa, sama seperti nama adik kandungnya.


Ya, wajah Julia memang mirip sang ibu. Hanya saja, kesulitan hidup yang dialami ibunya, membuat sang ibu terlihat rapuh dan lebih tua dari usia yang sebenarnya. Bahkan, jika keluarganya saat itu melihat, mereka takkan mengenali wajah Risa.


"Maafkan tante, Nak. Maaf," ucapnya terisak.


"Bu, tolong jangan seperti ini. Bangun, Bu." Julia yang merasa risih ada orang tua yang bersimpuh di kakinya, berusaha membangunkan Bu Rika, tetapi wanita tersebut tetap bersimpuh.


Dokter Arman yang melihat semuanya, terdiam, belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Tante, sebaiknya kita bicara di dalam," pinta Dokter Arman seraya membantu mamanya Renata untuk bangun.


Bu Rika kemudian dituntun oleh Julia dan sang suami, masuk ke dalam rumah.


Istri cantik Dokter Arman segera masuk ke dalam, untuk mengambilkan minuman.


Tak berapa lama, Julia telah kembali dengan secangkir teh hangat. "Silahkan diminum dulu, Bu," ucap Julia dengan sopan.


Bu Rika mengangguk dan segera meminum teh manis buatan Julia.


"Sebelumnya, tante minta maaf, Nak," ucap Bu Rika dengan netra berkaca-kaca.


Wanita paruh baya tersebut kemudian menceritakan, bagaimana Risa meninggalkan kota tersebut dan pergi entah kemana.


Rika dan Risa adalah kakak beradik, putra pemilik rumah sakit yang saat ini dikelola oleh Pak Santoso, suami Bu Rika.


Risa yang cerdas dan penurut, disinyalir akan mendapatkan hak untuk mengelola rumah sakit tersebut, jika orang tuanya telah pensiun nanti.


Rika yang egois dan serakah tidak terima kalau sampai adiknya yang menguasai kekayaan orang tua, hingga Rika memfitnah sang adik dengan mengatakan bahwa Risa hamil dengan kekasihnya.


"Kebetulan, saat itu penyakit maag Risa sedang kambuh, jadi dia mual-mual dan muntah hingga orang tua kami percaya begitu saja dan kemudian mengusir Risa malam itu juga," pungkas Bu Rika dengan air mata yang terus mengalir.


"Maafkan tante, Nak. Maaf," ucapnya di sela isak tangis.


Mendengar cerita Bu Rika, Julia terdiam. Dia tidak tahu apa yang saat ini dia rasakan.


Dokter Arman yang sedari tadi memeluk bahu sang istri, mengeratkan pelukan, mencoba memberikan rasa nyaman pada sang istri.


"Tante tahu kesalahan tante tak termaafkan, Nak. Kamu boleh membenci tante, kamu boleh marah pada tante, tapi tolong ijinkan tante mengembalikan semua apa yang menjadi hak ibumu padamu, Nak," ucap Bu Rika, dengan isakan kecil.


Julia masih terdiam.


"Setelah menyadari kesalahan tante, tante dan suami tante sudah berusaha mencari ibumu, Nak, tapi pencarian kami tidak membuahkan hasil," lanjutnya seraya menyeka air mata yang masih saja menetes.


"Semua terserah padamu, Yang," bisik Dokter Arman.


Julia menghela napas panjang.


"Saya tahu, hidup ibu saya berat, Bu. Saya juga tahu, bahwa ibu saya bukan orang yang pendendam. Jika beliau masih ada, beliau pasti akan memaafkan Ibu." Julia menatap Bu Rika dengan tatapan dalam.

__ADS_1


Julia mengobati rasa kangennya terhadap sang ibu dengan menatap Bu Rika, yang memiliki kemiripan wajah dengan almarhumah ibunya.


"Sebagai anak, saya tidak mau membebani ibu saya yang sudah tenang di sana, dengan menyimpan dendam," lanjutnya seraya tersenyum hangat.


"Jadi ... jadi kamu memaafkan tante, Nak." Netra yang tadinya dipenuhi oleh air mata tersebut, berbinar.


Julia mengangguk.


Dokter Arman tersenyum bangga pada sang istri yang memiliki hati seluas samudra tersebut.


"Bolehkah tante memelukmu, Nak?' pintanya, penuh harap.


Julia kembali mengangguk.


Belum sempat Bu Rika beranjak, ponselnya terdengar berdering. "Maaf, tante terima telepon dulu."


Bu Rika segera menerima panggilan dari sang suami. "Iya, Pa. Ada apa?" tanyanya pelan.


"Rena, Ma, Rena kondisinya semakin memburuk. Papa tidak tega, Ma, jika melihat dia terus-terusan seperti ini," balas Pak Santoso yang terdengar prihatin, di seberang sana.


Bu Rika menghela napas panjang. "Jika memang dengan melepaskan semua alat-alat medis di tubuhnya, putri kita tidak lagi merasa kesakitan, mama rela, Pa," ucap Bu Rika.


Membuat Dokter Arman dan sang istri, saling pandang.


"Tapi tolong tunggu mama ke sana ya, Pa," lanjutnya, pasrah.


"Baik, Ma. Kami akan menunggu mama," balas Pak Santoso.


Bu Rika segera menutup teleponnya.


"Nak, Arman. Maafkan Renata, ya, agar dia bisa pergi dengan tenang," pinta Bu Rika, seraya menatap Julia dan Dokter Arman bergantian.


Dokter Arman menatap sang istri dan Julia mengedipkan mata, tanda setuju.


"Kita awali dengan membuka lembaran baru, Mas. Hapus semua kebencian dan dendam, agar hati kita menjadi tenang," bisik Julia.


Dokter Arman mengangguk, seraya menggenggam tangan sang istri.


Pasangan suami-istri tersebut menatap Bu Rika seraya tersenyum dan kemudian mengangguk bersamaan, dengan tangan yang saling menggenggam erat.


🌹🌹🌹🌹🌹 END 🌹🌹🌹🌹🌹


Terimakasih untuk kalian semua yang sudah kasih dukungan buat Julia πŸ€—πŸ˜˜


Seperti biasa ya, Best... no debat, no protes, no boncap πŸ˜„πŸ€­


Untuk GA, menyusul, yah... karena aku belum sempat baca semua komennya β˜ΊπŸ™


InsyaAllah sebelum Ramadhan berakhir, sudah aku umumkan di lapak ini dan di GC.


So, yang belum gabung ke GC ... yuk, cusss ✈️✈️


Yang belum mampir di novel on going ku yang lain "PESONA RUMPUT TETANGGA" mampir, yah πŸ₯°πŸ₯°


Mampir juga ke novelku yang sudah TAMAT, yah πŸ™πŸ™


Yang sudah baca, boleh banget baca lagi πŸ˜„πŸ˜„




Yang belum kasih bintang ⭐⭐⭐⭐⭐ (harus lima, yah... mode maksa 🀭) buruan, kasih bintang lima dan masukkan favorit atau subscribe 😍😍

__ADS_1


__ADS_2