Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Petir Menggelegar di Siang Bolong


__ADS_3

Celotehan gadis kecil itu yang bisa di dengar jelas oleh Julia yang sedang menata pakaian ke dalam koper, sejenak menghentikan aktifitasnya.


"Oh, ya? Ah ... Ayah malu, Sayang. Coba sana, Asa yang bilang sama Bunda," pinta Dokter Arman yang sengaja sedikit mengeraskan suara, membuat Julia menoleh ke ranjang tempat dimana ayah dan anak tersebut sedang berbaring.


"Bunda, sini Bunda," pinta Asa seraya melambaikan tangan pada Julia, ketika melihat wanita muda yang dipanggilnya bunda itu menoleh ke arah Asa dan sang ayah.


"Bibi masih harus membereskan ini, Sayang. Agar kita enggak kemalaman nanti," tolak Julia, diplomatis.


Dokter Arman tersenyum. 'Pandai mengelak juga kamu, Julia. Semoga ini bukan hanya sekadar kamuflase kamu saja, agar aku tidak menganggapmu telah menggodaku,' batin duda satu anak tersebut.


"Sudah, Sayang, biarkan Bunda berkemas. Ayo, bobok lagi!" Dokter Arman membetulkan kepala sang putri dan kemudian menyelimuti tubuh mungil putri satu-satunya.


Setelah itu tak ada lagi suara-suara yang mengiringi Julia berkemas, hanya keheningan saja yang tercipta dan semakin membuat hati gadis itu terasa sunyi.


'Andai ayah dan ibu masih ada,' batin Julia nelangsa. Kembali air mata gadis cantik itu menetes, mengingat musibah yang seolah begitu senang menyambangi keluarganya.


Buru-buru Julia mengusap air mata dengan kedua ibu jari dan kemudian meneruskan kegiatannya kembali.


Gadis itu masih sibuk berkemas, memasukkan barang seperlunya dan sisanya dia simpan rapi di dalam almari pakaian dan kemudian mengunci pintu almari tersebut.


Julia sampai tak menyadari, bahwa ada yang memperhatikan dirinya selama gadis itu melakukan semuanya. Dokter Arman mengerutkan dahi. 'Kenapa kamu menangis, Julia?'


Laki-laki matang itu terus saja memperhatikan setiap pergerakan Julia, nyaris tanpa berkedip.


'Kamu gadis yang baik Julia dan Asa tepat berada di bawah asuhan kamu. Itu sebabnya, aku mempertahankan kamu sebagai pengasuh putriku. Maaf, jika aku memanfaatkan kamu, Julia,' monolog Dokter Arman dalam diam. Laki-laki itu masih terus menatap Julia, entah apalagi yang dia pikirkan.


Setelah membereskan semua barang miliknya, Julia sejenak mematung. Gadis itu mengedarkan pandangan menatap setiap sudut kamar. Banyak kenangan yang akan tertinggal di sana nanti dan Julia tak ingin melupakan semuanya.


Dia rekam semua ke dalam memori, agar kenangan itu tak hilang begitu saja ditelan waktu.


"Apa sudah selesai, Julia?" tanya Dokter Arman, mengurai lamunan Julia.


"I-iya, sudah, Dok," balas gadis itu tergagap.

__ADS_1


Julia segera menyeret koper dan membawa koper berukuran sedang tersebut, keluar dari kamarnya. Dokter Arman segera mengekor di belakang Julia.


"Hujannya sudah reda, kamu gendong Asa, biar aku dan Dika yang memasukkan barang-barang kalian ke dalam mobil," titah Dokter Arman setelah laki-laki matang itu menyambar kemejanya dari kursi.


Julia bergegas kembali ke dalam kamar, untuk menjemput Asa. Sementara Dokter Arman dan Dika segera keluar sambil menjinjing koper.


*****


Keesokan harinya, Dika yang jarak sekolahnya cukup jauh dari kediaman Dokter Arman, berangkat lebih awal dengan diantar oleh sopir keluarga dokter kandungan tersebut setelah berpamitan pada sang kakak.


Sementara Julia kembali dengan rutinitasnya semula, yaitu menyiapkan Asa untuk pergi ke sekolah.


"Bunda, nanti pulang sekolah, Bunda ikut jemput Asa, ya?" pinta gadis kecil tersebut di sela-sela makan.


"Enggak bisa, Sayang, karena Bunda harus pergi ke salon," sahut Bu Ratna, membuat dahi Julia berkerut dalam.


"Ke salon? Apa Ibu mau ke salon dan ingin saya antar?" tanya Julia.


Bu Ratna menatap Julia dengan tatapan teduh. "Kamu yang akan ke salon, Nak Juli. Sebab, nanti sore kalian akan menikah," terangnya seraya melirik sang putra.


Sementara yang dilirik nampak cuek dan tetap melanjutkan sarapan paginya tanpa merasa terganggu.


"Tidak perlu ke salon segala, Bu. Julia bisa 𝘮𝘢𝘬𝘦-𝘶𝘱 sendiri, kok," tolak gadis itu dengan halus.


"Juli akan bersiap, setelah menjemput Asa," lanjutnya seraya mengusap puncak kepala gadis kecil yang duduk di kursi makan khusu balita, dengan penuh kasih.


"Asa, nanti Asa pulang bareng Pak Sopir seperti biasa, ya?' bujuk Bu Ratna pada sang cucu.


"Bunda Uli 'kan harus bersiap untuk menikah dan menjadi Bundanya Asa selamanya, biar Asa bisa cepat punya adik. Mau 'kan, Sayang?" lanjut Bu Ratna membujuk, seraya tersenyum hangat pada sang cucu.


"Mau-mau, Asa mau, Nek," balas gadis kecil itu dengan sangat antusias.


"Asa mau adik yang banyak ya, Yah," pinta Asa dengan netra berbinar, menatap sang ayah.

__ADS_1


Dokter Arman mengangguk, seraya tersenyum tipis. 'Pasti, Nak, tapi bukan adik dari Bunda Uli,' batin laki-laki matang tersebut yang tetap menolak Julia sebagai istri. Dia hanya akan menjadikan pengasuh itu, tetap sebagai pengasuh Asa selama masih dibutuhkan.


"Asa mau adik kembar juga ya, Bunda," pinta Asa seraya menoleh ke arah Julia.


"Asa kalau mau jadi kakak, makannya dihabiskan dulu, Sayang. Biar kamu cepat besar dan pintar," bujuk Julia seraya menyuapkan satu sendok nasi goreng kesukaan Asa, pengasuh gadis kecil itu sengaja menghindar dari permintaan putri semata wayang Dokter Arman tersebut.


"Kalau Asa sudah besar dan pintar, Bunda Uli mau kasih adik berapa buat Asa?" tanya Asa kembali setelah menelan makanannya.


"Bicaranya nanti lagi, ya. Asa harus cepat menghabiskan sarapan, agar tidak terlambat sampai ke sekolah.' Julia terus saja menghindar dan mengalihkan topik pembicaraan, membuat Dokter Arman tersenyum.


Sementara Bu Ratna mengerutkan dahi. 'Apa sebenarnya yang kamu rencanakan, Arman?' batin wanita berusia senja tersebut seraya menatap sang putra.


Dokter Arman yang menyadari tatapan sang ibu, segera menghabiskan sarapannya dan kemudian beranjak. "Ayo, Asa! Kita keluar bareng," ajaknya pada sang putri, untuk menghindari cercaan pertanyaan sang ibu yang pasti akan segera dilontarkan.


"Baru jam segini, Arman. Duduklah dulu, ibu mau bicara." Benar dugaan Dokter Arman, Bu Ratna menyuruh putra bungsunya itu untuk kembali duduk.


Meskipun enggan, dokter kandungan tersebut tetap menuruti perintah sang ibu dan mendudukkan dirinya kembali di tempat semula.


"Biar putrimu di antarkan oleh calon ibunya sampai ke mobil," lanjut Bu Ratna seraya memberikan isyarat pada Julia, agar segera keluar karena Asa juga telah menyelesaikan sarapannya.


"Ayo, Sayang! Salim dulu sama Ayah, sama Nenek," suruh Julia pada gadis kecil yang selama ini dia asuh.


Setelah Asa berpamitan pada ayah dan juga neneknya, Julia segera menuntun gadis kecil itu untuk menuju halaman.


"Arman, setelah menikah nanti, bawa istrimu ke hotel yang telah ibu 𝘳𝘦𝘴𝘦𝘳𝘷𝘢𝘴𝘪 atas namamu tadi," titah Bu Ratna dengan suara yang lembut. Namun, bagi Dokter Arman suara sang ibu terdengar bagai bunyi petir yang menggelegar di siang bolong.


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...


Hai, Best ...


Sambil nunggu, kayak apa malam pertama mereka berdua, mampir dimari dulu, yah 😍


__ADS_1


__ADS_2