
"Setelah aku keluar dari rumah sakit, kita bisa ke pengadilan agama untuk memutuskan ikatan yang telah aku buat dan membuat kamu tersiksa menjalani rumah tangga bersamaku," pungkas dokter kandungan tersebut, dengan menahan sesak di dada.
Bukan tanpa alasan Dokter Arman menyampaikan hal demikian, karena dokter kandungan tersebut sering melihat Julia bercanda bersama Arsen dan teman-temannya yang lain, ketika dia menjemput sang istri ke kampus.
Dokter Arman memang tidak membatasi pergaulan Julia dan istrinya pun pandai menjaga batasan dalam bergaul. Julia juga terlihat selalu menjaga jarak dengan Arsen, pemuda yang pernah singgah di hati wanita cantik itu, tetapi Dokter Arman dapat melihat dengan jelas arti tatapan dari Arsen yang masih mengharapkan istrinya.
Sementara Julia terdiam, tak mampu berbicara apa-apa. Hanya air mata yang menggenang di pelupuk mata wanita cantik itu yang membuktikan, bahwa hati Julia pun sakit mendengar perkataan Dokter Arman.
"Sudah, Mas. Mas Arman jangan berpikir macam-macam dulu. Fokuslah pada kesembuhan Mas," ucap Julia, setelah hatinya cukup tenang.
Wanita cantik itu kemudian memanggil dokter jaga, agar Dokter Arman segera diperiksa.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan dan kondisinya dinyatakan stabil, dokter kandungan tersebut kemudian dipindahkan di ruang perawatan terbaik dan dengan segala fasilitas terbaik.
Julia dengan setia menemani suaminya. Wanita muda itu pun menghubungi asisten rumah tangga untuk menyampaikan pada Dika dan juga Asa, bahwa Dokter Arman harus dirawat di rumah sakit.
Tak lupa, Julia juga menghubungi ibu mertuanya.
"Mungkin nanti sore, Dika dan Asa baru kemari, Mas," ucap Julia setelah menutup teleponnya. "Dan ibu, baru bisa berangkat besok untuk menjenguk Mas," lanjutnya.
"Iya, tak mengapa, Sayang. Biar Asa tidur siang dulu," balas Dokter Arman. "Tapi kamu tadi tidak bilang sama bibi dan ibu, kan, kalau aku sakit karena kecelakaan seperti ini?" lanjutnya bertanya, dengan khawatir.
"Tidak, Mas. Aku hanya bilang, bahwa Mas kecapekan dan butuh beristirahat di sini," balas Julia yang kini sudah menyebut dirinya dengan aku dan tak lagi menyebut nama seperti biasanya.
Dokter Arman menghela napas lega, setelah mendengar jawaban dari sang istri. Dokter kandungan tersebut kemudian menepuk ruang kosong di sampingnya, mengisyaratkan agar sang istri duduk di sana.
__ADS_1
Patuh, Julia kemudian duduk di tepi ranjang, di mana sang suami masih terbaring dengan posisi miring.
Julia memandangi wajah tampan sang suami, yang kini tengah menggenggam tangannya dengan erat, seolah takut jika Julia akan pergi jauh.
"Kalau Mas mau tidur, tidur saja, Mas. Aku akan tetap di sini, menemani, Mas," ucap Julia yang seolah mengerti kekhawatiran sang suami.
'Aku tidak akan kemana-mana, Mas. Aku akan tetap di sampingmu, menemanimu dan juga Asa, selagi Mas Arman benar-benar memintanya dengan tulus,' batin Julia seraya menatap dalam netra sang suami, yang juga tengah menatap dirinya.
Dokter Arman tersenyum, dia usap wajah cantik sang istri dengan tangan yang diinfus karena tangan yang satunya, tertindih oleh badannya sendiri yang terbaring dengan posisi miring akibat luka tusukan di pinggang.
"Beruntungnya aku jika aku bisa memilikimu seutuhnya, Sayang, tetapi entah mengapa, aku tiba-tiba takut dan tidak percaya diri bahwa kamu bisa menerimaku yang sudah terlalu banyak menorehkan luka di hatimu," ucap Dokter Arman lirih, tetapi masih dapat didengar dengan jelas oleh Julia.
Julia menghela napas panjang. Wanita cantik itu kemudian menggeleng.
Dia buka sedikit bibirnya yang bergetar seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia urungkan dan Julia langsung menghambur dan menyembunyikan wajah di dada sang suami.
Mendengar perkataan Julia, air mata menggenang di pelupuk mata Dokter Arman.
Dia teringat bagaimana perlakuannya selama ini terhadap sang istri. Sikapnya yang selalu dingin, bicaranya selalu ketus, dan di luar sana dia masih menjalin hubungan dengan wanita lain.
"Aku yang seharusnya meminta maaf, Sayang. Maaf karena aku telah banyak menyakiti hatimu, menyinggung perasaan kamu, dan menodai pernikahan kita," ucap Dokter Arman tulus dan dengan suara bergetar, menahan sesak di dalam dada.
"Andai waktu bisa diputar kembali, ingin aku bisa mengulang semuanya dari awal dan memperbaiki sikapku padamu," lanjutnya yang terdengar penuh penyesalan.
Julia mengangkat sedikit wajahnya dan kemudian menatap sang suami dari jarak yang sangat dekat. "Tak perlu menyesali yang sudah berlalu, Mas, karena itu tidak akan merubah apapun. Cukup perbaiki diri dan kemudian lakukan yang terbaik yang kita bisa," ucap Julia dengan bijak.
__ADS_1
Dokter Arman tersenyum. Kekaguman dan rasa cintanya pada sang istri, kian bertambah besar.
"Jadi, apa kamu mau memaafkan segala kesalahanku, Sayang?" tanya Dokter Arman, memastikan.
Julia mengangguk, mengiyakan. Membuat Dokter Arman benar-benar merasakan kelegaan yang luar biasa, seperti terbebas dari himpitan batu besar yang selama ini menyesakkan dada.
"Terimakasih, Sayang. Terimakasih," ucap Dokter Arman, seraya menekan tengkuk sang istri dan kemudian melabuhkan ciuman di bibir Julia.
Julia terkejut mendapati perlakuan Dokter Arman yang tiba-tiba menyerangnya, hingga membuat wanita cantik itu hanya terdiam menerima luma*tan dari sang suami.
Julia mulai menikmati dan merasakan ciuman dari sang suami, dengan hati berdebar.
Sedetik kemudian, Julia yang sudah dapat menguasai perasaannya yang berdebar-debar, mulai berani membalas ciuman sang suami.
Ciuman yang awalnya lembut penuh kasih dan sayang, kini menjadi lebih menuntut dan penuh dengan gairah yang mulai tarangsang.
Dokter Arman yang menyadari kondisinya dan tak mungkin bisa melakukan dengan sang istri di tempat seperti ini, segera menyudahi pertautan panas tersebut.
Dia usap lembut bibir tipis sang istri, dari sisa saliva akibat percumbuan mereka berdua barusan.
"Bibirmu sangat manis, Sayang. Membuatku kecanduan," bisik Dokter Arman dengan tatapan dalam.
Julia tersenyum, tersipu malu. Ini adalah ciuman pertamanya yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan ada rasa sayang yang sudah mulai tumbuh di hati masing-masing.
"Kita jalani dulu seperti ini, Sayang. Biarkan waktu yang membuktikan dan membuatmu percaya, bahwa aku benar-benar tulus mencintai dan menyayangimu. Biarkan waktu pula yang menjawab, bahwa kamu telah bisa memaafkan aku dan mau menerimaku dengan segala kesalahan dan kekurangan yang ada padaku," pungkas Dokter Arman, seraya menatap dalam manik hitam sang istri.
__ADS_1
💖💖💖 bersambung ...