
"Aku mau menikah denganmu, Arman, tetapi ada syaratnya," ucap Renata seraya tersenyum penuh arti.
"Apa, Ta? Katakanlah," pinta Dokter Arman dengan tidak sabar.
"Aku enggak mau kita satu rumah bersama anak dan juga ibumu, bagaimana?" Renata tersenyum 𝘴𝘮𝘪𝘳𝘬, menatap sang kekasih.
Dokter Arman menghela napas panjang. Sungguh, sebuah pilihan yang sulit bagi dokter satu anak tersebut karena dia sangat menyayangi sang putri dan juga sangat menghormati ibunya.
"Kita bicarakan lain waktu, Ta. Aku harus segera kembali ke kamar, sebelum mama semakin curiga padaku." Laki-laki berahang tegas itu segera berlalu meninggalkan kamar mewah, tempat dirinya dan Renata memadu kasih beberapa saat yang lalu.
Meninggalkan Renata seorang diri yang manyun karena niatnya untuk menahan sang kekasih dengan mengatakan bahwa dirinya bersedia untuk dinikahi Arman, ternyata gagal. Lagi-lagi, Dokter Arman lebih memilih anak dan juga sang ibu ketimbang dirinya.
"Sialan! Selalu saja, gue yang dikalahkan!" gerutu Renata. Wanita itu melempar bantal yang tadi dipakai oleh Dokter Arman ke sembarang arah. "Aku benci kamu, Arman!" seru wanita seksi tersebut.
Sementara itu, Dokter Arman berlari kecil menuju ke kamarnya yang masih berada di lantai yang sama. Laki-laki matang tersebut segera membuka pintu kamar, kehadirannya disambut tatapan tajam oleh sang ibu yang masih menunggu di ruang tamu bersama Julia dan juga sang putri yang duduk di pangkuan wanita muda yang dinikahinya sore tadi.
"Darimana saja kamu, Arman?" cecar sang mama.
"Ketemu sama teman-tamam, Ma. Tadi 'kan Arman sudah jawab pertanyaan Mama di telepon," balas Dokter Arman.
Ayah satu anak tersebut kemudian duduk di samping Julia dan melingkarkan tangan ke pundak wanita cantik yang baru dinikahinya beberapa jam yang lalu, membuat Julia menoleh ke arah Dokter Arman.
Laki-laki matang itu mengedipkan mata untuk memberikan isyarat, bahwa mereka berdua harus mulai bersandiwara.
Julia hanya bisa menghela napas panjang.
"Asa kenapa belum bobok?" tanya Dokter Arman, penuh perhatian.
"Asa kangen sama Bunda, Ayah," balas gadis kecil itu seraya mencium pipi Julia.
"Hem ... pipi Bunda harum, deh, Yah. Coba Ayah cium," pinta Asa.
Julia langsung menoleh ke arah Dokter Arman dengan mata melotot tajam. Dokter Arman hanya mengedikkan bahu.
__ADS_1
"Ayo, Ayah! Cium Bunda," rajuk Asa setelah beberapa saat menanti, tetapi sang ayah tak kunjung menuruti keinginannya.
"Ayah malu, Sayang, ada Nenek," tolak Dokter Arman, beralasan.
"Nenek, hadap sana, Nek! Hadap sana!" pinta Asa pada sang Nenek.
Bu Ratna pun menoleh ke kanan, ke arah pintu, untuk memberikan kesempatan pada sang putra, mencium istrinya seperti permintaan Asa.
'Ayo, Ayah!" rengek Asa.
"Maaf, Juli. Asa yang meminta, bukan keinginanku," bisik Dokter Arman, sebelum mencium sekilas pipi mulus Julia.
"Kuharap, hanya sekali ini saja, Dokter!" Pelan, Julia memperingatkan dengan penuh penekanan.
Dokter Arman hanya mengangguk.
"Asa boleh enggak, bobok di sini bareng sama Bunda dan Ayah?" pintanya, memelas.
"Kamar depan? Maksud, Mama?" Dahi Dokter Arman berkerut dalam, mendengar perkataan sang mama.
"Iya, kenapa? Asa kangen sama bundanya, kalau kami juga menginap di sini 'kan, jadi mudah untuk bertemu," balas Bu Ratna seraya menatap heran pada sang putra.
"Em ... tidak apa-apa, sih, Ma. Hanya saja, besok 'kan, Asa harus sekolah." Dokter Arman melirik sang putri yang tengah asyik memainkan pucuk rambut Julia.
"Besok 'kan libur, Arman. Apa kamu lupa, kalau besok itu 𝘸𝘦𝘦𝘬𝘦𝘯𝘥?" Bu Ratna semakin tak mengerti pada putranya.
"Oh, iya." Laki-laki matang tersebut menepuk keras jidatnya sendiri, seolah telah melupakan sesuatu. Padahal, dokter kandungan tersebut sedang berpikir keras untuk mencari cara, agar dapat kembali ke kamar sang kekasih tanpa diketahui oleh mamanya yang ternyata mau menginap di hotel dan lantai yang sama.
'Duh ... bagaimana, ini?' batin Arman, bingung.
"Ayo, Sayang! Kita ke kamar depan," ajak Bu Ratna pada sang cucu.
Asa bergeming, gadis itu seolah enggan berpisah dengan bundanya.
__ADS_1
"Asa mau punya adik, kan?" Bu Ratna tersenyum seraya menatap hangat sang cucu. "Ayah sama Bunda mau buatkan Asa adik, lho. Asal, Kak Asanya tidak rewel." Bu Ratna kembali membujuk sang cucu, dengan iming-iming akan hadirnya seorang adik untuknya.
"Benarkah, Bunda?" Netra bulat itu, berbinar.
"Asa mau adik yang banyak ya, Ayah," pinta gadis kecil tersebut, seraya menoleh pada sang ayah.
Dokter Arman tersenyum kecut.
"Hore ... Asa mau punya adik!" seru bocah yang masih berada di atas pangkuan Julia, dia kemudian meminta turun dari pangkuan ibu sambungnya.
"Ayo, Nek. Nanti Nenek dongeng cerita tentang adik dan kakak, ya?" pinta Asa. Putri Dokter Arman tersebut langsung menarik tangan sang nenek, untuk menuju ke kamarnya yang berada di depan kamar sang ayah.
Dokter Arman mengekor langkah kecil sang putri, hingga ke pintu.
"Mama memiliki 𝘢𝘬𝘴𝘦𝘴 𝘤𝘢𝘳𝘥 untuk masuk ke dalam kamar kamu, Arman," bisik Bu Ratna seraya menatap tajam sang putra, sebelum wanita berusia senja tersebut masuk ke dalam kamar bersama sang cucu.
Laki-laki bertubuh tinggi tegap tersebut hanya dapat mematung di ambang pintu, seraya menatap ke arah lorong yang menuju ke kamar Renata.
'Huh ... mama ada-ada saja, sih!' gerutu Dokter Arman, dalam hati.
Dokter kandungan tersebut teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika dirinya dan almarhumah ibunya Asa menjalani malam pertama di hotel, sama seperti sekarang.
Sang mama pun melakukan hal sama seperti ini, sehingga Dokter Arman yang saat itu belum dapat menerima dan mencintai almarhumah, akhirnya tidur dengan ibunya Asa hingga putri kecilnya tersebut hadir di antara mereka berdua.
Hadirnya Asa, membuat laki-laki matang itu jatuh cinta pada sang istri dan mereka hidup berbahagia, hingga kebahagiaan tersebut terenggut karena sebuah kecelakaan yang membuat ibunya Asa pergi untuk selama-lamanya.
'Bagaimana ini? Aku tidak mau kalau sampai berhubungan dengan Julia, tapi bagaimana kalau mama tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan mendapati kami tidur masing-masing? Aku enggak mau kejadian dulu terulang karena kini keadaannya berbeda, ada Renata di antara kami.' Dokter Arman masih termenung di ambang pintu.
Ya, Dokter Arman memiliki kelainan tidak dapat menahan diri, jika berlama-lama berdekatan apalagi bersentuhan dengan wanita. Itu sebabnya, semenjak Renata kembali hadir di kehidupannya dan menawarkan kehangatan, dia sama sekali tak dapat menolak.
"Arman! Apalagi yang kamu tunggu? Jangan Abaikan Istrimu! Masuk!" Suara sang ibu dari kamar depan yang terbuka sedikit, membuyarkan lamunan Dokter Arman.
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...
__ADS_1