
Dika berjalan gontai menuju rumahnya, setelah mengembalikan kunci yang tadi dipinjam oleh seorang pemuda, milik Pak RT.
Remaja yang tadi hanya mendengar sekilas cerita dari sang kakak bahwa warung peninggalan almarhumah sang ibu terbakar, kini benar-benar menjadi sedih setelah melihat sendiri keadaan bekas warung yang mengalami kebakaran.
Hanya tersisa puing-puing hitam yang teronggok di atas tanah yang berukuran tiga kali tiga meter, tempat di mana warung tersebut tadinya berdiri.
"Dik, sudah beres?" tanya Julia pada sang adik, ketika gadis itu melihat Dika datang. Wajah sang adik nampak begitu lesu.
"Sudah, Mbak," balas Dika dengan suara lirih.
"Kamu kenapa, Dik? Pasti sedih, ya, setelah melihat bekas warung kita?" tebak Julia seraya menuntun sang adik untuk duduk di ruang keluarga yang tak terlalu luas.
Di ruangan tersebut hanya ada satu set kursi busa yang warnanya telah usang dimakan usia, serta kasur lantai berukuran kecil yang tergelar di depan televisi.
Di sana, sudah ada Asa yang sedang asyik menonton kartun kesukaannya.
Dika mengangguk lemah. "Iya, Mbak, karena ibu menyimpan uang untuk membayar π΄π΅πΆπ₯πΊ π΅π°πΆπ³ Dika di warung," balas Dika dengan wajah sendu.
Julia memejamkan mata, gadis itu menghela napas berat. "Mbak ada uang, kamu jangan sedih, ya," hibur Julia, membesarkan hati sang adik.
"Yang benar, Mbak? Bayarnya mahal lho, Mbak?" tanya adik satu-satunya itu, tak percaya.
Dika menatap sang kakak untuk meyakinkan, apakah ucapan kakaknya barusan benar adanya ataukah hanya untuk membesarkan hatinya saja.
"Iya, mbak sudah gajian, kok," balas Julia, meyakinkan. Meski sebenarnya uang itu akan dia gunakan untuk membayar semesteran dan wisuda nanti, tapi demi sang adik Julia rela jika harus memperpanjang cutinya.
"Oh ya, Mbak. Mas-mas yang tadi ngasih duit banyak lho, sama Dika," ucap remaja tersebut yang kini telah kembali ceria. Dika mengeluarkan uang lembaran merah dari kantong celananya.
"Kamu terima, Dik?" Julia menatap tajam sang adik. "Kita 'kan cuma nolongin aja, Dik. Harusnya, kamu enggak perlu menerimanya, Dik!"
"Masnya tadi maksa, Mbak. Dika sudah menolak, tapi sama dia uangnya dimasukin ke kantong Dika. Dika juga enggak tahu kok, jumlahnya berapa?" balas remaja berkulit bersih itu, membela diri.
Memang benar adanya, bahwa dirinya sudah menolak tadi. Namun, pemuda baik yang tadi mereka tolong, memaksa memberikan upah pada Dika.
Dika kemudian menghitung lembaran uang berwarna merah tersebut. "Satu juta, Mbak!" seru Dika, girang.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Mbak. Ini bisa untuk uang saku Dika π΄π΅πΆπ₯πΊ π΅π°πΆπ³ nanti," lanjutnya dengan mata berbinar.
Melihat sang adik begitu senang, Julia mengangguk. Dia tak ingin merusak kebahagiaan adik satu-satunya itu dengan terus menyalahkan Dika karena menerima upah dari orang yang ditolong.
'Yang penting Dika benar-benar enggak memintanya,' batin Julia.
"Ya, sudah. Uangnya kamu simpan saja, dulu. Besok sebelum berangkat sekolah, mbak kasih yang untuk bayar π΄π΅πΆπ₯πΊ π΅π°πΆπ³-nya," suruh Julia.
Dika segera beranjak dan bergegas menuju kamar sempit miliknya, untuk menyimpan uang pemberian orang asing tadi.
Terdengar, suara pintu rumah Julia diketuk.
"Dik, kalau sudah beres segera ke sini, temani Asa," pinta Julia dengan mengeraskan sedikit suara, agar sang adik mendengar.
"Mbak mau keluar dulu, sepertinya ada tamu," lanjut Julia, begitu sang adik telah kembali.
Dika mengangguk dan kemudian duduk di kasur lantai, menemani Asa yang langsung lengket padanya.
Sementara Julia bergegas keluar untuk membukakan pintu.
"Pak RT? Ada apa, Pak?" tanya Julia seraya mengerutkan dahi, setelah melihat siapa yang datang.
"Nak Juli, bisa kita bicara sebentar?" pinta laki-laki yang merupakan ketua RT di kampungnya tersebut.
"Ada yang mau dibicarakan oleh Pak Tamin," lanjut Pak RT seraya menunjuk laki-laki yang sudah cukup berumur, di sebelahnya.
"Oh, iya. Silahkan masuk, Pak." Julia segera menuntun kedua tamunya dan mengajaknya untuk duduk di ruang tamu.
"Tunggu sebentar ya, Pak. Juli buatkan teh hangat dulu," pamit Julia seraya beranjak.
"Tidak perlu, Nak Juli. Pak Tamin buru-buru, kok," tolak Pak RT, beralasan.
Julia tersenyum dan kemudian duduk kembali di tempatnya semula.
"Maaf, Bapak siapa, ya? Rasanya, Juli baru pertama kali ini melihat," tanya Julia seraya menunjuk laki-laki yang datang bersama Pak RT, dengan sopan.
__ADS_1
"Dia ini orang yang paling kaya di kampung sebelah, Nak Juli. Rumah kontrakannya banyak, tanahnya luas, memiliki ruko di beberapa tempat, dan salah satu pemilik rental mobil yang laris," balas Pak RT, mewakili Pak Tamin.
Laki-laki berkumis tebal yang sedari tadi menatap Julia dengan tatapan lapar itu mengangguk-anggukkan kepala, dia nampak begitu bangga dengan sejumlah kekayaan yang dimiliki.
"Tetapi, istrinya juga banyak, Nak Juli," lanjut Pak RT seraya terkekeh, yang diikuti oleh laki-laki bertubuh tambun tersebut.
"Baru juga tiga," balas Pak Tamin masih dengan tawanya.
Julia tersenyum masam, perasaan gadis itu tiba-tiba saja menjadi tidak enak. "Maaf, lantas tujuan Bapak berdua datang kemari untuk apa, ya?" desak Julia yang tak ingin berlama-lama ngobrol bersama laki-laki yang memiliki tatapan mesum seperti Pak Tamin.
"Jadi begini, Nak Juli." Pak RT mewakili, membuka suara.
"Dulu, sewaktu almarhum bapak kamu sakit dan harus dioperasi, almarhumah ibumu meminjam sejumlah uang pada Pak Tamin. Selama ini almarhumah sudah menyicilnya setiap bulan, tapi belum lunas sampai sekarang," terang Pak RT seraya menatap Julia dengan prihatin.
Gadis yang matanya nampak cekung karena beberapa hari ini kurang tidur dan kebanyakan menangis itu, terdiam. Dia menundukkan kepala, menatap lantai rumahnya yang berplaster semen dan sudah retak di sana-sini.
Sedetik kemudian, gadis itu mengangkat wajahnya menatap Pak Tamin dan Pak RT bergantian.
"Berapa kekurangannya, Pak?" tanya Julia dengan menahan sesak di dada, mengetahui kenyataan bahwa selama ini ternyata sang ibu menyembunyikan beban berat yang ditanggungnya sendiri.
"Dulu, almarhumah ibumu meminjam uang empat puluh juta rupiah, Nak Juli. Setiap bulan, almarhumah hanya mampu menyicil lima ratus ribu dan itu hanya untuk membayar bunganya saja," balas Pak RT dengan hati-hati.
Laki-laki paruh baya itu sebenernya tidak tega untuk menyampaikan hal tersebut, tetapi teman lamanya mendesak, meminta ditemani untuk bertemu dengan Julia.
"Berarti, pinjaman ibu saya masih utuh empat puluh juta?" tanya Julia, tak percaya.
Pak RT mengangguk, membenarkan.
Julia kembali terdiam, netra gadis itu berkaca-kaca. Belum hilang duka di hatinya karena kepergian sang ibu yang tiba-tiba, duka kembali menyambangi Julia dengan kabar terbakarnya warung peninggalan sang ibu. Kini, di saat Julia baru saja hendak menata hati, duka kembali menyapanya.
Ingin rasanya gadis itu menjerit dan melontarkan protes atas nasib yang menimpanya, tapi pada siapa? Yang bisa dia lakukan hanyalah menerima dan menikmati semua kepedihan itu seorang diri.
Julia menggigit bibir bawah dengan kuat, menahan agar tangisnya jangan sampai pecah. Dia nikmati duka lara yang seolah begitu senang menyambangi hatinya. Pedih, perih, membuat Julia memejamkan mata.
"Dik Juli." Suara bariton Pak Tamin membuat Julia tersadar bahwa saat ini dirinya tidak sedang bermimpi, duka lara itu nyata dan benar-benar dia rasakan.
__ADS_1
"Dik Juli jangan khawatir, saya akan anggap utang itu lunas jika Dik Juli mau menjadi istri keempat saya," tawar Pak Tamin dengan tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang berwarna kuning karena jarang dibersihkan.
πΉπΉπΉπΉπΉ bersambung ...