Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Dia Kenapa, ya?


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, hubungan Dokter Arman dan Julia tak lagi canggung meskipun di antara mereka berdua masih tetap teguh memegang komitmen sebelum pernikahan.


Dokter Arman menepati janjinya untuk tidak menyentuh Julia, ketika mereka hanya berdua saja berada di dalam kamar. Ayah satu anak tersebut akan bersikap manis dan romantis pada Julia, jika di hadapan sang mama ataupun yang lain.


Seperti pagi ini, ketika mereka sedang sarapan bersama.


Julia yang baru saja selesai meladeni sang suami mengambilkan sarapan, kemudian melayani Asa.


"Mau sama apa, Nak? Ayam, apa ikan?" tawar Julia dengan menatap lembut putrinya.


"Ayam saja, Bunda. Kremesnya yang banyak, ya," pinta Asa.


"Nasinya juga harus banyak, Asa. Biar sehat dan kuat," sahut Dika.


"Kuat, seperti Om Dika, ya?" tanya Asa.


Remaja tersebut mengangguk kemudian memamerkan otot-otot di lengannya yang mulai terbentuk karena Dika aktif mengikuti ekstra kurikuler bela diri dan basket.


"Sudah, Dik. Buruan makan, nanti terlambat!" suruh Julia yang kemudian menuju tempat duduknya di samping sang suami.


"Lho, piring Juli kok sudah terisi?" tanya Julia seraya menatap sang mama mertua.


"Bukan mama, Juli, tetapi suami kamu." Bu Ratna menunjuk sang putra dengan dagunya.


Julia kemudian menoleh ke arah sang suami dan mendapati suaminya itu tersenyum padanya.


"Ayo, makan! Bunda juga harus makan yang banyak, biar kuat menjalani kuliah perdana setelah cukup lama vakum," ucap Dokter Arman, membuat Julia tersenyum sambil menyandarkan kepala pada bahu sang suami.


Mendapatkan perhatian seperti barusan, membuat Julia mengerti bahwa dirinya harus kembali menjalankan peran sebagai istri yang sangat bahagia. "Terimakasih, Mas," balas Julia.


"Hem," balas Dokter Arman dengan gumaman sambil mengecup puncak kepala Julia.


Bu Ratna tersenyum bahagia melihat pemandangan indah beberapa hari ini yang menghiasi setiap pagi dan malam harinya.


Ya, semenjak hari itu, Dokter Arman dan Julia benar-benar total menjalankan peran masing-masing. Hingga Bu Ratna tak dapat mencium aroma sandiwara dalam hubungan pernikahan sang putra dan menantu idamannya.


Dika pun ikut bahagia melihat kebahagiaan sang kakak. 'Semoga Mbak Juli benar-benar bahagia,' do'a Dika, penuh harap.


"Cie ... Ayah sama Bunda, pacaran, ya?" celoteh Asa, entah dia dengar darimana.


"Nak, kamu dengar darimana kata-kata itu?" tanya Julia dengan dahi berkerut dalam.

__ADS_1


"Teman-teman di sekolah, Bunda. Katanya kalau anak laki-laki dekat sama anak perempuan, itu mereka pacaran," balas Asa dengan jujur.


Julia menggelengkan kepala. "Itu tidak benar, Nak. Nanti ya, Bunda jelasin kalau Asa sudah pulang sekolah. Ayo, buruan habiskan sarapannya!"


Bu Ratna kembali tersenyum lebar, melihat pola asuh Julia pada sang cucu. Penuh kasih, mendidik dan tidak mengedepankan emosi semata.


Mereka kemudian sarapan dengan nikmat.


"Memangnya, Bunda nanti pulang jam berapa?" tanya Dokter Arman yang ikut-ikutan memanggil Bunda seperti sang putri memanggil Julia.


"Paling jam sebelas sudah pulang, Mas. Hari ini cuma satu mata kuliah," balas Julia.


Julia pun tidak canggung lagi memanggil sang suami dengan sebutan mas. Mendengar mereka menyebutkan panggilan untuk pasangan, siapa pun pasti menyangka bahwa mereka berdua adalah pasangan yang benar-benar saling mencintai.


Usai makan, Dika dan Asa segera berpamitan. Ya, mereka berdua pergi ke sekolah dengan diantarkan oleh sopir yang sama.


Setelah mereka berdua berangkat ke sekolah, Julia segera menyiapkan tas kerja sang suami. "Kamu enggak bareng sekalian, Bun. Kita 'kan searah?" tanya Dokter Arman sambil menutup layar ponselnya.


"Iya, Juli. Kalian pergi sama-sama saja. Baru nanti pulangnya, biar Pak Djarot yang jemput kamu," tutur Bu Ratna, membenarkan ucapan sang putra.


"Baiklah, Ma," balas Julia.


"Tunggu sebentar ya, Mas," pinta Julia yang bergegas menuju kamarnya untuk mengambil tas ransel kecil yang biasa dia pakai untuk pergi ke kampus. Tas yang hanya berisi satu buku agenda dan ballpoint, satu buku materi, dan dompet.


Meskipun hanya memakai pelembab bibir yang memberikan efek warna sedikit merah pada bibirnya dan mengaplikasikan cream wajah tanpa bedak, Julia tetap terlihat cantik.


"Iya," balas Dokter Arman yang segera beranjak.


Julia kemudian pamit sama mama mertuanya, yang diikuti oleh Dokter Arman.


Mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan dengan mesra, benar-benar sangat romantis, membuat Bu Ratna mengulas senyum bahagia.


Dokter Arman membukakan pintu untuk sang istri dan kemudian membantu istrinya tersebut untuk memakai sabuk pengaman. Julia membiarkan saja karena memang Bu Ratna mengikuti mereka berdua sampai ke halaman.


Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, dokter kandungan tersebut segera menuju ke tempat duduknya di belakang kemudi.


Dokter Arman membunyikan klakson sebagai tanda pamitan pada sang mama dan mobil ayah satu anak itu segera melaju, meninggalkan halaman kediamannya yang luas.


Kesunyian sejenak tercipta di dalam kabin mobil tersebut.


"Terimakasih, Juli. Kamu sudah berperan dengan sangat baik." Suara bass Dokter Arman terdengar memecah kesenyian.

__ADS_1


"Tidak perlu berterimakasih, Dokter. Bukankah ini sudah menjadi kesepakatan kita berdua?" Julia menoleh ke arah sang suami seraya tersenyum, tulus.


Tak ada lagi keterpaksaan pada diri Julia, wanita muda tersebut telah benar-benar ikhlas menjalankan perannya. Total karena dia sadar, bahwa ini semua terjadi bukan semata paksaan dari Dokter Arman.


Semua terjadi karena dirinya tak mampu membayar hutang yang ditinggalkan orang tua dan laki-laki yang saat ini duduk di sebelahnya, telah menyelamatkan Julia dari jerat pernikahan dengan pria tua beristri banyak.


Meski pada akhirnya, Julia tetap terjerat dalam sebuah pernikahan yang tidak dia inginkan. Pernikahan di atas kertas semata.


"Nanti pulangnya aku jemput saja," lanjut Dokter Arman, membuat Julia mengerutkan dahi.


"Enggak perlu, Dok. Jam segitu 'kan, Dokter masih jam kerja,' tolak Julia.


"Hari ini, aku praktek pagi sama sore. Jadi siang, bisa pulang dulu," balas Dokter Arman.


"Terserah Dokter sajalat, gimana baiknya," balas Julia yang tidak mau berdebat.


"Bisa enggak, jangan panggil dokter lagi," pinta Dokter Arman seraya menoleh ke arah Julia.


"Kenapa? 'Kan enggak ada siapa-siapa?" tanya Julia, polos.


"Memang, tapi enggak enak saja kedengarannya," balas Dokter Arman tanpa ingin menjelaskan maksudnya.


"Baik, kalau maunya Dokter, eh, Mas, seperti itu." Julia pun setuju-setuju saja, tanpa banyak protes.


Mereka berdua kemudian terlibat pembicaraan hangat, seperti jika di malam-malam mereka berdua berada di dalam kamar. Dokter Arman yang lebih mendominasi dengan bertanya seputar kuliah Julia.


Tanpa terasa, mobil Dokter Arman memasuki gerbang kampus tempat Julia menuntut ilmu.


"Terimakasih, Mas. Sudah mengantar Juli sampai sini. Juli turun, ya," pamit Julia yang kemudian melepaskan sabuk pengaman.


Wanita cantik tersebut hendak segera turun, tetapi tangan Dokter Arman menarik tangan Julia, membuat ibu sambung Asa menoleh, dengan dahi berkerut.


"Salim." Laki-laki matang tersebut mengulurkan tangan.


"Mas, 'kan enggak ada ...."


"Salim, anggap saja aku kakakmu," sergah Dokter Arman, memotong ucapan Julia yang hendak protes.


Julia kemudian menyalami sang suami dan mencium punggung tangan laki-laki yang telah menikahinya tersebut dengan takdzim, seperti ketika ada sang mama mertua.


Tanpa Julia sangka, Dokter Arman membalas dengan mencium dalam keningnya, seperti yang biasa laki-laki itu lakukan jika hendak berangkat ataupun pulang dari bekerja.

__ADS_1


'Dia kenapa, ya?' batin Julia, bertanya.


💖💖💖 bersambung ...


__ADS_2