Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Dipeluk Bunda Uli


__ADS_3

"Juli, sebaiknya malam ini kamu dan Dika ikut aku pulang," pinta Dokter Arman kemudian. "Pintu rumahmu rusak Juli, aku khawatir ada orang yang berniat jahat dan mengganggumu," sindir Dokter Arman pada sebagian warga yang masih berada di sana.


"Rusak?" Pak RT mengerutkan dahi.


"Benar, Pak. Mereka tadi masuk dengan mendobrak pintu rumah Julia," balas Dokter Arman seraya menunjuk ke arah beberapa orang warga yang masih berada di sana.


Semuanya terdiam dan menundukkan kepala, mereka merasa sangat bersalah pada Julia karena mengikuti kemauan Pak Tamin, tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.


Ya, sewaktu mengambil uang tadi, Dokter Arman sempat melihat pintu rumah Julia yang telah rusak dan engselnya terlepas semua akibat dorongan kuat dari beberapa warga yang merangsek masuk ke dalam rumah sederhana milik keluarga gadis itu.


"Maafkan kelakuan warga kami, Pak Dokter, Nak Juli," sesal Pak RT. "Saya janji, besok pintu rumah ini akan kami perbaiki," lanjut laki-laki paruh baya tersebut seraya menatap Julia dengan prihatin.


"Nak Juli, Pak Dokter benar. Sebaiknya malam ini, Nak Juli dan Nak Dika ikut pulang saja sama Pak Dokter," saran Pak RT.


Julia menatap Dokter Arman, ragu. Sementara dokter kandungan itu mengangguk seraya tersenyum penuh arti.


"Pulang bersamaku, Juli. Bawa semua barang-barang kalian karena seterusnya kamu dan Dika akan tinggal di rumah kita," ucap Dokter Arman, membuat dahi Julia berkerut dalam.


"Tidak perlu bertanya-tanya seperti itu, Julia. Sebab, kita akan menikah besok," lanjut Dokter Arman, membuat netra Julia membulat sempurna.


"Be-besok?" tanya Julia, tak percaya.


Dokter Arman mengangguk. Laki-laki bertubuh atletis itu kemudian mengambil dompet dari dalam saku, mengambil beberapa uang kertas berwarna merah dan memberikan uang tersebut pada Pak RT.


"Gunakan uang ini untuk membetulkan pintu rumah Julia dan tolong Bapak pastikan keamanan rumah ini selama ditinggal oleh pemiliknya," pinta Dokter Arman.


Netra Pak RT berbinar menerima lembaran uang berwarna merah yang jumlahnya cukup banyak tersebut. "Siap, Pak Dokter. Saya akan menjalankan amanah Pak Dokter dengan sebaik-baiknya," janji Pak RT dengan sungguh-sungguh.


Pak RT dan warga yang masih berada di sana kemudian pamit undur diri, tak lupa mereka meminta maaf terlebih dahulu pada Julia.


"Nak Juli, sekali lagi saya atas nama warga meminta maaf pada Nak Juli," sesal laki-laki paruh baya tersebut.

__ADS_1


Julia hanya membalas dengan anggukan kepala.


Setelah kepergian Pak RT dan semua orang, Dokter Arman bernapas dengan lega. Laki-laki matang itu kemudian mendudukkan dirinya kembali di kursi.


Sementara Julia masih terpaku di tempatnya semula. Gadis itu masih tak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Dokter Arman.


Sejenak keheningan tercipta. Dika dan Julia saling pandang dan kemudian sama-sama mengedikkan bahu.


"Juli, apa yang kamu tunggu?" tanya Dokter Arman, mengurai keheningan. "Ayo, bereskan barang-barang kalian!" titahnya kemudian.


"Dik, siapkan barang-barang kamu," bisik Julia pada sang adik, yang masih berdiri di dekat gadis itu.


Dika mengangguk dan segera melangkah menuju kamarnya.


"Dok, apa ... apa benar yang Dokter katakan tadi?" tanya Julia memastikan pendengarannya, setelah punggung sang adik menghilang di balik pintu kamar.


"Iya, Juli. Kenapa? Apa kamu menolak? Bukankah tadi kamu sudah bersedia?" cecar duda tampan satu anak tersebut, seraya menatap Julia dengan tatapan mengintimidasi.


"Bukankah lebih cepat, lebih baik? Sekarang atau nanti sama saja, bukan?" tanya Dokter Arman seraya tersenyum sinis.


Julia hanya bisa mengangguk, pasrah. "Baik, Dok. Saya akan bersiap," ucap Julia yang segera membalikkan badan.


"Jangan berharap lebih dari pernikahan kita nanti, Juli!" ucap Dokter Arman menegaskan kembali niatan awalnya yang hanya ingin menjadikan Julia sebagai ibu pengasuh untuk sang putri, bukan untuk menjadi istri yang seutuhnya.


Ucapan dokter kandungan tersebut membuat Julia menghentikan langkah dan kemudian berbalik menatap Dokter Arman. "Dokter tidak perlu khawatir, saya tidak akan menggoda milik perempuan lain," jawab Julia yang terdengar ketus.


Ya, gadis itu tahu bahwa laki-laki gagah yang akan menikahinya tersebut telah memiliki kekasih dan Julia juga paham betul seperti apa hubungan keduanya yang sudah sangat lengket.


Hanya saja, gadis itu tak habis mengerti. Mengapa justru Dokter Arman memintanya untuk menjadi ibu dari Asa dan bukannya memaksa sang kekasih agar mau segera menikah dengan duda satu anak tersebut.


Gadis itu menghembus kasar napasnya. Meski Julia tidak mencintai Dokter Arman dan meskipun pernikahannya nanti karena sebuah keterpaksaan semata, tetapi mendengar ucapan laki-laki yang akan menikahinya seperti itu, tetap saja membuat hati Julia sakit.

__ADS_1


Julia kemudian segera berbalik untuk menuju ke kamarnya dengan menekan luka di hati. 'Sabar, Juli. Hadapi semua dengan ikhlas. Yakinlah, akan tiba saatnya pelangi itu hadir setelah hujan badai yang menderamu berkali-kali,' batin Julia yang mencoba menguatkan hatinya sendiri.


Dia usap bulir bening yang tiba-tiba menyeruak keluar dari sudut mata dengan ibu jarinya, sebelum gadis itu mulai membuka almari pakaian sederhana yang terbuat dari kayu dan memindahkannya ke dalam koper hitam yang baru saja dia ambil dari kolong tempat tidur.


Julia menghela napas panjang berkali-kali, berharap beban berat yang dia rasakan ikut keluar bersamaan dengan hembusan napasnya. Namun, rasa nyeri itu tetap ada di dalam relung hatinya.


Cukup lama gadis itu mematung di depan almari pakaian yang telah dia buka. Hingga suara anak kecil yang terbangun, mengurai lamunan Julia.


"Bunda, apa ayah sudah datang?" tanya Asa yang tadi hendak menunggu kedatangan sang ayah, tetapi karena hingga jam delapan lewat Dokter Arman tak kunjung datang, maka gadis kecil itupun tertidur.


"Sudah, Sayang. Mau bibi panggilkan?" tawar Julia.


Gadis kecil itu mengangguk, dengan mata yang terlihat masih sangat mengantuk.


Julia bergegas keluar untuk memanggil ayah dari anak kecil tersebut.


"Maaf, Dok. Asa terbangun dan dia mencari Anda," ucap Julia, formal.


Dokter Arman yang tadi melepaskan kemejanya kembali yang masih basah, segera mengikuti langkah Julia masuk ke dalam kamar sempit milik gadis yang akan dinikahinya.


"Ayah, kenapa Ayah hanya memakai kaos seperti ini?" tanya Asa yang melihat sang ayah hanya mengenakan kaos singlet yang pas badan. Gadis kecil itu kemudian merentangkan kedua tangan, meminta untuk dipeluk oleh sang ayah.


"Baju ayah basah, Nak. Tadi kehujanan," balas Dokter Arman seraya mendekap erat tubuh sang putri. "Bobok lagi, ya. Nanti ayah gendong, kalau Bunda sudah selesai bersiap." Dokter tampan itu segera menidurkan kembali putrinya dan dirinya pun ikut merebahkan diri di samping Asa.


Sementara Julia mulai membereskan semua barang-barang miliknya dan memasukkan ke dalam koper.


"Ayah nanti masuk angin loh, kalau enggak pakai baju," protes Asa seraya memeluk sang ayah. "Asa kalau kedinginan biasanya dipeluk sama Bunda Uli, terus langsung hangat, deh. Kalau Ayah enggak percaya, coba aja minta sama Bunda agar memeluk Ayah," celoteh Asa.


Celotehan gadis itu yang bisa di dengar jelas oleh Julia yang sedang menata pakaian ke dalam koper, sejenak menghentikan aktifitasnya.


"Oh, ya? Ah, Ayah malu, Sayang. Coba sana, Asa yang bilang sama Bunda."

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...


__ADS_2