Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Memangnya, Siapa Kamu?


__ADS_3

Julia yang sedang berada di salon kecantikan, hanya bisa diam ketika wajahnya mulai dipoles dengan berbagai macam kosmetik. Gadis itu sama sekali tak bersemangat menyambut hari yang seharusnya paling bersejarah dan sangat dinantikan oleh semua wanita, hari pernikahan.


Tidak bagi gadis cantik yang wajahnya terlihat bergelayut mendung tersebut. Hari ini memang hari yang paling bersejarah dalam hidupnya, tetapi sekaligus hari yang terburuk dalam hidup Julia karena gadis itu harus rela statusnya berubah demi menanggung beban hutang yang ditinggalkan oleh mendiang orang tuanya.


Menyesalkah, Julia? Tentu saja dalam hati gadis itu sangat menyesal, tetapi ketika mengingat betapa selama ini almarhumah sang ibu telah menyembunyikan dan memikul beban berat itu seorang diri, Julia akhirnya ikhlas menerima semua asalkan kedua orang tuanya sudah tak lagi menanggung hutang yang akan memberatkan langkah mereka di akhirat.


'Apapun yang akan terjadi dengan pernikahan ini nantinya, aku siap,' batin Julia mencoba berdamai dengan takdir hidup yang harus dia jalani.


Waktu menunjukkan pukul dua siang, Julia hampir selesai dirias oleh penata rias professional langganan Bu Ratna beberapa tahun silam ketika ibunya Dokter Arman tersebut masih aktif berkecimpung dengan dunia sosialita bersama para istri dari teman-teman sang suami yang merupakan seorang pengusaha.


"Dikit lagi ya, Mbak. Tinggal merapikan rambut," ucap sang MUA, ketika Julia menghela napas panjang.


Bukan, bukan karena bosan wajahnya dirias yang membutuhkan waktu cukup lama, tetapi Julia hanya mencoba membuang sedikit rasa sesak yang menumpuk di dada.


"Iya, enggak apa-apa kok, Bu. Saya cuma ngantuk dan takut ketiduran," kilah Julia.


Sang MUA berusia paruh baya yang merupakan pemilik salon kecantikan terbesar di kota tersebut, tersenyum. "Sambil merem juga enggak apa-apa kok, Mbak Juli. Dulu Bu Ratna kalau saya dandanin juga suka ketiduran, enak katanya kayak di puk-puk."


Julia pun ikut tersenyum. "Benar, Bu. Seperti dinina-bobokkan," timpal Julia.


"Apa sudah selesai, Bu Diah?" Suara bariton Dokter Arman, menghentikan obrolan Julia dan perias tersebut.


"Wah, Mas Dokter sepertinya sudah tidak sabar ya, untuk bisa segera bersanding dengan calon istrinya yang cantik," sambut Bu Diah seraya tersenyum menggoda calon pengantin wanita.


Julia langsung menundukkan pandangan begitu mendengar suara laki-laki yang akan menikahinya, mendekat.


Dokter Arman tak menanggapi perkataan Bu Diah yang sedang sibuk memasangkan aksesoris di rambut Julia. Tatapan laki-laki matang itu tertuju pada wajah Julia, yang dapat dilihatnya melalui pantulan cermin besar di hadapan gadis pengasuh putrinya tersebut.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya, Mas Dokter. Ini sudah hampir rapi," lanjut Bu Diah.


Dokter Arman hanya mengangguk, dengan tatapan yang terus tertuju pada Julia yang sedang menunduk.


"Nah, Mbak Juli ... ayo, tegakkan wajahnya!" titah Bu Diah.


Julia mengangkat dagu dan kemudian menatap cermin di depannya. Tanpa sengaja, tatapan gadis itu bertemu dengan tatapan Dokter Arman. Tatapan duda beranak satu itu, sulit untuk diartikan.


Buru-buru Julia membuang pandangan ke arah lain, membuat Dokter Arman tersenyum.


Wanita paruh baya yang menjadi perias Julia tersebut, memindai wajah gadis itu untuk melihat hasil karyanya. Bu Diah tersenyum bangga pada hasil kreasi tangannya di wajah calon pengantin wanita, yang duduk dengan sedikit tegang karena Dokter Arman terus saja menatap Julia.


"Ini karena memang dasarnya Mbak Juli sudah cantik, ya. Hasilnya jadi sempurna seperti ini," puji Bu Diah pada Julia, sekaligus memuji hasil karyanya sendiri.


Julia hanya tersenyum, tipis. Sama sekali tak nampak kebahagiaan di binar matanya.


"Oh, tentu saja Mas Dokter," balas Bu Diah. "Selamat ya Mas Dokter. Mas Dokter ini memang pinter cari istri, dapet istri yang cantik masih muda lagi." Wanita paruh baya itu terkekeh pelan, sementara Dokter Arman tersenyum simpul.


"Mari, Bu," pamit Julia seraya mengangguk sopan pada Bu Diah.


Dokter Arman langsung menggamit mesra tangan Julia, membuat gadis cantik itu terkejut dan bermaksud untuk melepaskan tangannya. Namun, Dokter Arman melirik tajam pada gadis cantik yang berjalan di sampingnya.


Duda tampan satu anak tersebut segera membukakan pintu untuk Julia, memastikan gadis itu duduk dengan nyaman dan kemudian menutupkan pintunya kembali.


Bergegas dokter kandungan itu mengitari mobil dan naik melalui pintu di sisi kanan dan kemudian duduk di belakang kemudi. "Jangan salah persepsi dengan apa yang aku lakukan barusan!" ucap Dokter Arman yang terdengar ketus.


Julia menoleh, menatap Dokter Arman dengan tatapan tak mengerti.

__ADS_1


"Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui dan kamu patuhi, Julia," ucap Dokter Arman seraya menghadap ke arah Julia.


"Pernikahan kita ini, hanya di atas kertas dan seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, aku tidak akan menyentuhmu. Namun, di depan mama dan orang-orang yang dekat dengan mama seperti Bu Diah tadi, kita harus menjalankan peran sebagai pasangan yang bahagia," terang Dokter Arman.


"Apa kamu bisa mengerti maksudku, Julia?" Laki-laki matang itu menatap Julia dengan tatapan tajam.


Julia menggeleng karena memang dirinya belum mengerti apa yang dimaksudkan oleh laki-laki yang akan menikahinya itu. "Bukankah, tugas saya hanya mengasuh putri Anda, Dok? Kenapa kita harus berpura-pura segala?"


Dokter Arman menghela napas panjang. "Karena hanya kita berdua yang tahu perjanjian ini, Julia. Mama dan Asa, serta seluruh penghuni rumah tidak ada yang tahu. Jadi kuharap, kamu turuti saja perintahku!" Suara laki-laki itu meninggi, seperti menyimpan kekesalan di hati.


"Dan nanti, ketika kita di hotel, kamu tidak boleh mencampuri urusanku!" lanjutnya, membuat dahi Julia berkerut dalam.


Rupanya, Dokter Arman masih kesal dengan rencana sang mama yang memberinya hadiah bulan madu menginap di hotel selama tiga hari.


'Ck ... mama ada-ada saja, sih!' kesal Dokter Arman dalam hati.


'Di hotel? Mau ngapain?" tanya Julia dengan polosnya. "Apa Anda ada seminar di sana dan Asa diajak, hingga saya juga harus ikut untuk menjaga putri Anda, Dok?" lanjut gadis itu bertanya, yang masih berbicara dengan formal.


Dokter Arman semakin terlihat kesal, laki-laki itu segera melajukan kendaraannya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Ayah Asa tersebut menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Julia merasa takut.


"Maaf, Dok. Bisakah, pelankan sedikit laju mobilnya?" pinta Julia.


"Memangnya, siapa kamu? Berani-beraninya menyuruhku!"


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2