
"Hai, kamu! Keluarlah atau kamu mau menjadi penonton adegan live kami!" hardik Renata, melotot tajam ke arah Suster Maria. Hingga membuat wanita berseragam khusus rumah sakit tersebut, menciut nyalinya dan langsung keluar dari ruangan wakil direktur.
Sementara Dokter Arman terus berusaha untuk melepaskan diri dari jerat tangan Renata yang begitu kuat. "Ta, jangan gila kamu, Ta!"
"Aku memang sudah gila, Arman. Dan kamulah yang membuat aku gila!" balas Renata, berteriak.
Tenaga Renata yang telah dikuasai oleh nafsu dan amarah yang bercampur menjadi satu tersebut begitu kuat, hingga Dokter Arman sedikit kewalahan mengatasi mantan kekasihnya itu.
Laki-laki yang masih mengenakan jas putih tersebut akhirnya pasrah dan membiarkan Renata menuntunnya menuju kamar, dengan tangan Renata yang terus memeluk leher Dokter Arman.
"Ta, apa kamu tak ingin mengunci pintunya dahulu," ucap Dokter Arman, setelah mereka berdua berada di dalam kamar yang tak seberapa luas di ruang kerja Renata.
"Tidak perlu, Sayang. Bukankah kamu tahu, kalau semua stafku tidak ada yang berani masuk jika aku tidak memberi ijin," balas Renata sambil terus bergelayut di leher Dokter Arman, khawatir laki-laki yang dicintainya itu kabur dan pergi menjauh.
Dokter Arman menghela napas panjang, dahinya berkerut dalam seolah sedang berpikir keras.
Renata hendak menjatuhkan tubuh Dokter Arman di atas ranjang empuk, tetapi laki-laki dengan bulu-bulu kasar di wajahnya tersebut menolak.
"Tidak, Ta. Aku lagi pengin ***** *****," ucap Dokter Arman, penuh rencana.
"Wow ... good idea, beib. Dengan senang hati aku akan melayanimu," balas Renata seraya tersenyum puas.
Renata segera melepaskan pelukannya di leher Dokter Arman dan secepat kilat, dokter kandungan yang bekerja di rumah sakit milik keluarga Renata tersebut memacu langkah cepat keluar dari kamar.
Wakil direktur rumah sakit, yang juga merupakan putri dari pemilik rumah sakit tersebut berteriak dengan geram. "Kurang ajar kamu, Arman!"
__ADS_1
Renata langsung berlari keluar kamar, dia raih pisau buah yang berada di atas nakas dan kemudian menyusul langkah panjang Dokter Arman yang hampir membuka pintu ruang kerja wanita yang seperti kesetanan tersebut.
"Kalau aku tak bisa memilikimu, maka tidak pula dengan pengasuh itu!" seru Renata seraya menusukkan pisau buah yang berkilat tajam ke arah Dokter Arman.
Dokter kandungan yang tak menyadari ada bahaya mengintainya, tak sempat mengelak. Laki-laki berjas putih tersebut berteriak ketika pinggangnya terkena tusukan benda tajam, bertepatan dengan pintu yang dibuka dari luar.
Tubuh Dokter Arman terhuyung dan ambruk terkena dorongan pintu. Darah segar yang mengalir dari luka di pinggang akibat tusukan pisau buah oleh Renata, mengotori jas putihnya.
"Dokter!" seru Suster Maria, panik. Dia peluk tubuh Dokter Arman yang terluka dan banyak mengeluarkan darah seraya menangis tersedu, seperti menangisi kakaknya sendiri.
Ya, Suster Maria memang segera keluar setelah diusir oleh Renata, tetapi suster yang membantu praktek di ruangan Dokter Arman tersebut keluar untuk meminta bantuan pada security.
Dia juga menghubungi direktur rumah sakit, yang merupakan ayah kandung Renata dan menceritakan apa yang terjadi di ruangan wakil direktur tanpa rasa takut, seperti yang diminta oleh Dokter Arman kepadanya sebelum dia dan dokter kandungan terhebat di rumah sakit itu, memasuki ruangan Renata.
----
"Baik, Dok. Saya akan lakukan apapun untuk membantu Dokter," balas suster tersebut.
"Kamu tidak takut, kan, jika sampai dipecat oleh Renata jika membantuku?" tanya Dokter Arman, memastikan.
"Tentu saja tidak, Dokter. Bukankah, Dokter sudah menjanjikan pada saya untuk tetap bekerja pada Dokter, meskipun Dokter Arman sudah tidak lagi bekerja di sini?" Suster Maria memberanikan diri menatap sang dokter, dengan tatapan menyelidik.
Dokter Arman mengangguk pasti. "Benar, Sus. Saya sudah tahu seperti apa kinerja dan dedikasimu padaku. Aku bahkan berniat mengangkatmu menjadi suster kepala nantinya, di klinikku," balas Dokter Arman, dengan sungguh-sungguh.
Netra Suster Maria berbinar terang karena sejujurnya, suster cantik itu pun sudah tidak tahan bekerja di bawah tekanan Renata yang arogan.
__ADS_1
"Terimakasih banyak, Dok. Saya pasti akan lakukan yang terbaik untuk Dokter dan juga untuk kelangsungan hubungan Dokter dengan Mbak Julia," ucap Suster Maria dengan sepenuh hati.
Ya, Suster Maria sedikit banyak mengetahui mengenai perasaan Dokter Arman yang telah mulai jatuh cinta pada istrinya dan suster yang telah bekerja lama pada Dokter Arman tersebut mendukung jika dokter kandungan yang menjadi idolanya itu menjauh dari Renata yang ambisius.
-----
"Rena! Apa yang kamu lakukan!" Suara teriakan orang yang paling berpengaruh di rumah sakit tersebut yang datang bersama Suster Maria, mengurai lamunan suster cantik yang tengah menangisi Dokter Arman.
Laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun itu, menatap tajam pada Renata.
"Pap-Papa," ucap Renata terbata, seraya menjatuhkan pisau yang berlumur darah segar, darah milik Dokter Arman.
"Kalian! Kenapa hanya berdiri saja!" hardik Pak Santoso pada dua orang security yang ikut ke ruangan Renata.
"Cepat, selamatkan Dokter Arman!" titahnya dengan kepanikan, kekhawatiran, kemarahan dan kekecewaan yang bercampur menjadi satu.
Pemilik rumah sakit tersebut panik dan khawatir, jika sesuatu hal yang buruk terjadi pada Dokter Arman. Pak Santoso juga sangat marah dan kecewa pada putrinya.
Dua orang security segera membawa tubuh Dokter Arman keluar dari ruangan Renata, yang diikuti oleh Suster Maria yang masih menitikkan air mata.
Sementara Pak Santoso masih berdiri di tempatnya dengan tatapan yang tak lepas dari putrinya.
"Ini bukan salah Rena, Pa, Arman yang salah. Rena hanya membela diri karena Arman terus memaksa Rena, meskipun Rena sudah terang-terangan menolaknya," terang Renata dengan berurai air mata.
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...
__ADS_1