
"Arman! Apalagi yang kamu tunggu? Jangan Abaikan Istrimu! Masuk!" Suara sang ibu dari kamar depan yang terbuka sedikit, membuyarkan lamunan Dokter Arman.
Dokter Arman segera masuk dan kemudian mengunci pintu dengan kartu akses dan menyimpan kartu tersebut di tempatnya semula.
Baru saja laki-laki tersebut hendak melangkah menuju kamar, segera dia urungkan kala tatapannya tertuju pada sosok Julia yang meringkuk di sofa, menghadap ke arah sandaran sofa empuk tersebut.
"Juli, bangun! Pindah dalam!" titahnya tanpa mendekat.
"Saya di sini saja, Dok," tolak Julia, masih dengan posisi semula.
"Pindah ke kamar, Juli. Aku tidak mau nanti mama tahu kalau kita tidur pisahan seperti ini," pintanya yang kemudian mendekati Julia.
Mendengar suara langkah kaki mendekat, Julia beringsut. Istri Dokter Arman itu kemudian mendudukkan diri sambil memegangi perutnya yang terasa semakin melilit.
"Kamu kenapa?" tanya Dokter Arman yang mendapati wajah Julia memucat.
Wanita muda itu menggeleng. "Enggak apa-apa, Dok. Mungkin masuk angin karena enggak kuat sama AC," balas Julia, tak mau jujur.
"Ya, sudah. Buruan tidur di ranjang dan pakai selimutnya biar badan kamu hangat," suruh Dokter Arman.
Julia mengangguk patuh. Wanita berambut panjang hampir mencapai pinggang itu kemudian menuju pantry, untuk mengisi perutnya dengan segelas air.
Sementara Dokter Arman langsung berlalu, menuju kamar.
Julia meneguk habis air dalam gelas besar, untuk mengelabui cacing yang menari-nari di dalam perutnya agar diam dan tak mengganggu tidurnya nanti.
Baru saja Julia hendak melangkah ke kamar, perutnya terasa sangat mual. Dia berlari menuju wastafel dan wanita yang memiliki bulu mata indah itu memuntahkan semua air yang telah masuk ke dalam perutnya, tanpa sisa.
Tubuhnya yang ramping terasa lemas. Dia pegang erat pinggiran wastafel, sambil memejamkan mata. 'Kamu harus kuat, Juli. Harus!' Julia menyemangati dirinya sendiri.
Lama menunggu Julia yang tak kunjung masuk ke dalam kamar, Dokter Arman pun kembali ke ruang tamu untuk melihat apa yang dilakukan wanita yang telah dinikahinya itu.
"Juli, kenapa lama sekali?" teriak Dokter Arman bertanya.
Melihat Julia terdiam dengan tubuh gemetaran dan keringat dingin membasahi kening wanita itu, sebagai seorang dokter, laki-laki matang tersebut merasa terpanggil untuk menolong Julia.
__ADS_1
"Juli, kamu kenapa?" tanya Dokter Arman dengan memelankan suaranya.
Ayah satu anak tersebut kemudian menuntun Julia dan mendudukkan wanita yang telah sah menjadi istrinya tersebut di sofa. Dokter Arman pun mengambilkan tissue dan memberikannya pada Julia.
"Lap dulu keringat kamu, Juli," pintanya, pelan. Laki-laki berahang tegas itu kemudian duduk di samping Julia, tatapannya masih tertuju pada wanita cantik yang baru beberapa jam menjadi istrinya, dengan tatapan khawatir.
"Apa yang kamu rasakan, Juli?" tanya Dokter Arman kemudian, setelah Julia selesai mengusap seluruh wajahnya dengan tissue.
"Maag Juli sepertinya kambuh, Dok," balas Julia, pelan.
"Astaga!" Dokter Arman menepuk jidatnya sendiri. "Maaf, aku lupa kalau kamu belum makan malam," sesalnya.
Dokter kandungan itu kemudian merogoh ponsel dari dalam saku dan kemudian memesan makanan 𝘰𝘯𝘭𝘪𝘯𝘦 untuk Julia, tanpa bertanya terlebih dahulu pada istrinya, mau makan apa?
"Tunggu sebentar, ya. Aku sudah pesankan makanan untukmu," ucap Dokter Arman setelah menutup teleponnya.
Julia mengangguk seraya tersenyum malu. "Terimakasih."
Baru saja Dokter Arman hendak memasukkan ponsel ke dalam kantong celana, ada panggilan masuk dari nomor Renata.
"Halo, Sayang. Kenapa lama sekali?" cecar suara di seberang yang terdengar tidak sabar, begitu Dokter Arman menerima panggilan tersebut.
"Maaf, Ta. Sepertinya aku tak bisa kembali ke kamar kamu," balas ayahnya Asa tersebut dengan begitu santai, padahal ada wanita yang telah resmi menjadi istrinya di samping dokter kandungan tersebut.
'Jadi, maksud Dokter Arman tidur di kamar lain itu, di kamar Bu Tata?' batin Julia, sendu.
Meski dia sadar sepenuhnya bahwa pernikahan yang dia jalani ini hanya sebatas formalitas, tetapi mengetahui laki-laki yang telah sah menjadi suaminya tersebut tidur di kamar wanita lain, tetap saja membuat hati Julia terasa nyeri.
"Kenapa, Arman! Apa gadis kampungan itu mulai merayu kamu dan kamu jatuh ke dalam pelukannya!" tuduh Renata, terdengar begitu geram.
"Tidak, Ta. Itu sama sekali tidak benar," sanggah Dokter Arman, sesuai kenyataan. "Ada mama dan Asa di sini," imbuhnya.
"Alasan!" Selanjutnya, hanya sumpah serapah dari Renata yang merasa kecewa karena tak bisa bersenang-senang dengan Dokter Arman yang terdengar.
Sementara laki-laki matang itu hanya diam mendengarkan, tanpa ingin menyela ataupun membela diri, hingga Renata lelah ngomel-ngomel dan menutup teleponnya.
__ADS_1
Putra bungsu Bu Ratna tersebut menghela napas panjang. Dia melirik Julia sekilas, yang terlihat cuek dan tak perduli dengan apa yang barusan dia dengar.
"Apa kamu tidak cemburu atau marah aku tidur di kamar Renata tadi?" tanya Dokter Arman dengan begitu bodohnya.
Julia tersenyum simpul. "Siapa saya, Dokter? Sehingga saya harus marah pada Anda?" balas Julia, bertanya.
"Bukankah Dokter sendiri yang sudah membuat kesepakatan, bahwa kita hidup masing-masing? Saya tidak boleh mencampuri urusan pribadi Dokter, begitu pula sebaliknya, Dokter tidak akan mencampuri urusan pribadi saya?" Julia menatap Dokter Arman dengan tatapan intens. Tatapan yang baru pertama kali ini dia lakukan.
Dokter Arman mengangguk, membenarkan. "Apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Dokter Arman kemudian.
"Apakah ada dalam kesepakatan yang kemarin Dokter buat, kalau saya harus menjawab semua pertanyaan Dokter Arman?" balas Julia, bertanya. Wanita muda itu tersenyum simpul seraya melirik Dokter Arman.
Dokter kandungan tersebut menghela napas panjang. "Tidak. Kamu tidak perlu menjawab, jika keberatan," ucapnya seraya beranjak.
Tepat disaat yang sama, bel pintu berbunyi. Ayah satu anak itu kemudian membukakan pintu.
Dokter Arman menerima makanan dari kurir restoran, tempat dia memesan makanan tadi.
Laki-laki matang tersebut hendak menutup pintu, ketika terlihat pintu kamar yang ditempati sang ibu dibuka dari dalam.
"Darimana kamu, Arman?" tanya Bu Ratna dengan tatapan tajam. Wanita paruh baya tersebut kemudian menutup pintu kamarnya dan memaksa masuk ke dalam kamar sang putra.
"Arman cuma bukain pintu untuk kurir, Ma," balas Dokter Arman seraya menunjukkan kantong plastik yang berisi makanan dari sebuah restoran.
Tanpa disuruh, Bu Ratna langsung duduk di samping Julia.
"Menangnya, kalian belum makan?" tanya Bu Ratna dengan tatapan penuh selidik pada sang putra. "Kamu itu sembrono, Arman. Jam segini istrimu belum kamu ajak makan malam!" hardiknya pada putra bungsunya.
"Tidak, kok, Bu. Ini amunisi untuk lembur, nanti," sanggah Julia. Wanita cantik itu, pura-pura tersenyum malu.
Mendengar perkataan Julia, Dokter Arman tersenyum. 'Istri pintar,' pujinya dalam hati.
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...
Promo novel baru, yang belum mampir, yuk mlipir 🥰
__ADS_1