Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Nyawa Harus Dibayar dengan Nyawa


__ADS_3

Kepulangan Dokter Arman dan Julia yang tiba-tiba, mengejutkan Bu Ratna dan juga Dika yang kebetulan belum tidur. Apalagi ada Suster Maria yang ikut bersama mereka.


"Arman, kenapa kalian tiba-tiba pulang, Nak?" tanya Bu Ratna dengan raut wajah khawatir dan dahi berkerut, penasaran.


Wanita berusia senja tersebut baru saja keluar dari kamar sang cucu, ketika Julia mendorong kursi roda yang diduduki sang suami memasuki ruang keluarga yang luas tersebut.


"Ma, Arman lelah. Arman mau istirahat dulu," tolak Dokter Arman dengan halus, seraya mengusap punggung tangan sang mama yang memegang bahunya.


Putra bungsu Bu Ratna tersebut belum ingin memberikan keterangan apapun, perihal kepulangannya yang tiba-tiba pada sang mama.


"Oh ya, Ma. Tolong suruh bibi untuk menyiapkan kamar tamu, buat Suster Maria," pintanya kemudian, seraya menunjuk suster yang selama ini membantu Dokter Arman praktek, dengan dagunya.


Bu Ratna semakin mengerutkan dahi, mendengar permintaan sang putra.


Sementara Suster Maria mengangguk hormat pada Bu Ratna, seraya tersenyum hangat.


"Ma, Juli antar Mas Arman dulu ya, ke kamar. Nanti Juli cerita ke Mama," pamit Julia, mencoba meredam rasa penasaran sang mama mertua.


Bu Ratna mengangguk, mengerti. Sementara Dika mengikuti langkah sang kakak yang mendorong kursi roda Dokter Arman menuju kamar, dengan tatapan matanya.


Remaja itupun menyimpan rasa penasaran yang sama besar, seperti halnya Bu Ratna.


"Bibi!" seru Bu Ratna, memanggil asisten rumah tangganya.


"Mungkin sudah tidur, Bu. Biar Dika panggilkan ke kamar bibi." Dika menawarkan bantuan.


Remaja tanggung itu segera bergegas menuju ruang belakang, tanpa menunggu persetujuan dari Bu Ratna.


Bu Ratna tersenyum seraya mengangguk pada adik kandung Julia tersebut, meski Dika tak bisa melihatnya.


Ya, wanita paruh baya tersebut sangat salut dengan sikap Dika yang santun, ringan tangan dan juga sangat sayang pada Asa. Sama persis seperti sang kakak, menantu idaman Bu Ratna.


"Silahkan duduk, Suster," titah Bu Ratna kemudian, pada Suster Maria.


Tak berapa lama, bibi datang bersama Dika.


"Bi, tolong bereskan kamar tamu untuk Suster Maria, ya," titah Bu Ratna pada wanita paruh baya yang sudah bekerja selama puluhan tahun pada keluarga Bu Ratna.

__ADS_1


"Baik, Bu," balas bibi asisten, patuh.


Baru saja bibi asisten berlalu, nampak Julia menghampiri Bu Ratna dan Suster Maria. Sementara Dika masih berdiri, agak jauh dari sofa.


"Dik, belum tidur?" tanya Julia ketika melihat sang adik mematung.


Dika menggeleng.


Julia melanjutkan langkah dan kemudian duduk di sofa, bersama Bu Ratna dan Suster Maria.


"Ikut duduk, sini!" titah Julia kemudian, seraya menepuk bangku kosong di sebelahnya. Wanita cantik itu dapat menangkap kekhawatiran di mata sang adik.


"Ada apa, Nak Juli?" tanya Bu Ratna, setelah Dika duduk di samping Julia.


"Bu Renata dan papanya, Ma," balas Julia.


Istri Dokter Arman itu kemudian menceritakan semua kejadian di rumah sakit, tanpa terlewat sedikitpun.


"Juli enggak nyangka, Ma. Papanya Bu Renata yang Julia pikir adalah orang yang bijak dan berwawasan luas, ternyata dapat bersikap seperti itu," pungkas Julia.


"Rasa sayang yang salah kaprah itu, Sus," sanggah Bu Ratna, menyayangkan.


"Jika orang tua sayang sama anak, bukan berarti semua keinginan anak harus dituruti. Ada kalanya, kita sebagai orang tua juga harus tegas melarang ketika apa yang diinginkan anak adalah hal yang tidak baik," lanjut Bu Ratna, yang sekaligus menasehati Julia.


Julia mengangguk-angguk, begitu pula dengan Suster Maria.


"Mama juga tidak akan sakit hati, jika sesekali kamu memarahi Asa kalau dia melakukan kesalahan, Nak Juli. Sebab mama yakin, kamu memarahi Asa karena untuk mendidiknya agar menjadi lebih baik." Bu Ratna menatap Julia dengan tatapan teduh.


"Terimakasih, Ma," balas Julia, terharu.


"Ya, sudah. Sana, temani suami kamu, Nak Juli!" titah Bu Ratna kemudian.


"Arman pasti sedang banyak pikiran sekarang, tenangkan dia. Katakan padanya, mama salut dengan apa yang telah dia lakukan untuk mempertahankan dan melindungi keluarga," lanjut Bu Ratna dengan tersenyum bangga.


Wanita berusia senja tersebut tak pernah menyangka, sang putra benar-benar bisa lepas dari wanita ular yang tidak disukainya tersebut dan kemudian jatuh cinta pada wanita lembut yang selalu beliau sanjung jika di hadapan Dokter Arman, agar putranya itu mau membuka hati untuk Julia.


Kerja keras Bu Ratna membuahkan hasil dan itu tidak lepas dari peran Julia sendiri yang memang menjalankan perannya sebagai ibu sambung Asa dengan baik.

__ADS_1


Ketulusan Julia dalam menyayangi Asa dan menghormati Bu Ratna sebagai mertua, telah membuka mata hati Dokter Arman hingga laki-laki itu perlahan mulai menyayangi dan menerima Julia sebagai istri yang seutuhnya.


"Baik, Ma. Juli ke kamar dulu, ya," pamit Julia yang segera beranjak, seraya mengajak sang adik dengan isyarat tangannya.


Kedua kakak beradik itu kemudian berlalu menuju kamar masing-masing, meninggalkan Bu Ratna yang masih menemani Suster Maria.


*****


Di rumah sakit terbesar di kota tersebut, Pak Santoso tengah duduk seorang diri di depan ruangan tindakan dengan perasaan cemas. Menanti kabar dari tim dokter yang tadi langsung menangani putrinya.


Laki-laki paruh baya tersebut, memijat pelipis sambil sesekali membuang kasar napasnya. Pandangannya terus tertuju ke arah pintu ruangan bercat putih, yang tertutup dengan rapat.


"Kenapa lama sekali? Mereka bisa bekerja dengan benar apa tidak, sebenarnya!" gerutu Pak Santoso.


Beberapa orang yang merupakan petinggi rumah sakit, begitu mendapatkan kabar dari pihak humas, telah mulai berdatangan. Namun, mereka tidak ada yang berani mendekat dan hanya melihat kesedihan bos pemilik rumah sakit itu, dari kejauhan.


Mereka tahu persis bagaimana kearogansian pemilik rumah sakit terbesar tempat di mana Dokter Arman bekerja selama bertahun-tahun dan mereka tak ingin kena semprot, jika sampai bersuara yang dapat menyinggung perasaan Pak Santoso.


Oleh sebab itu, mereka memilih diam dan melihat dari kejauhan. Mereka datang hanya untuk menunjukkan rasa simpati pada orang tua, yang putrinya mengalami musibah.


Setelah menanti berjam-jam, Pak Santoso dan istrinya yang datang satu jam setelah Renata masuk ruang tindakan, segera beranjak menuju pintu begitu lampu di atas pintu ruangan steril tersebut padam.


"Bagaimana keadaan Rena, Dok? Dia baik-baik saja, kan? Dokter dapat menyelamatkan putri kami kan?" cecar mamanya Renata dengan air mata menggenang, ketika salah seorang dokter membuka pintu ruangan tersebut.


Wanita paruh baya itu terlihat sangat berduka, ketika tadi sambil menunggu ruangan tersebut terbuka, sang suami menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Renata, tentu dengan versinya yang sangat menyayangi sang putri.


"Kami tidak akan tinggal diam, jika sampai Rena tidak bisa selamat! Arman harus mempertanggungjawabkan semua, nyawa harus dibayar dengan nyawa!"


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...


Best... jangan lupa mampir juga ke karya on going-ku yang tak kalah mempesona, yah 🥰


*PESONA RUMPUT TETANGGA*


Double up, kadang2 klo lagi khilaf bisa triple up 😄🤭


__ADS_1


__ADS_2