Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Kebakaran


__ADS_3

"Sebaiknya Dokter pulang saja, biar saya yang menidurkan Asa," usir Julia dengan halus, sebelum dirinya naik ke atas tempat tidur.


"Baiklah," balas Dokter Arman, seraya beringsut.


"Jangan! Ayah enggak boleh pulang!" teriak Asa, hendak menangis. "Asa mau Ayah sama Bunda. Kita tidur sama-sama, Ayah, Bunda," pintanya dengan air mata yang mulai menetes.


"Asa, Sayang. Tempat tidurnya bibi Uli 'kan sempit," bujuk Julia yang tetap menyebut dirinya bibi dan berharap, Asa juga memanggil dirinya demikian. Gadis itu mencoba memberi pengertian pada bocah kecil tersebut.


"Kalau begitu, besok kita pulang ke rumah ya, Bunda. Di kamar ayah 'kan, tempat tidurnya luas. Nanti kita bisa tidur bertiga di sana," pinta Asa yang kekeuh pengin bisa tidur bertiga bersama Bunda Uli-nya dan juga sang ayah.


"Kita bicarakan lain kali saja ya, Sayang. Sudah malam, Asa harus segera bobok," bujuk Julia sambil menyelimuti tubuh mungil Asa.


Sementara Dokter Arman masih berdiri sambil menyimak obrolan sang putri dan Julia.


"Terus, ayah tidur di mana, Bunda?" tanya Asa seraya menatap sang ayah.


"Nanti ayah bisa tidur di lu ...."


"Ayah harus pulang, Sayang. Kasihan nenek jika sendirian," sergah Julia cepat, sebelum Dokter Arman menyelesaikan perkataannya.


Julia menoleh ke arah ayahnya Asa tersebut. "Maaf, sudah malam. Sebaiknya Dokter segera pulang. Tidak enak pada para tetangga," pinta Julia.


"Sayang, salim dulu sama Ayah," pinta Julia seraya membantu gadis kecil itu untuk bangun.


Asa menurut, putri tunggal Dokter Arman tersebut kemudian menyalami ayahnya. "Ayah hati-hati di jalan, ya," pesan gadis kecil itu pada sang ayah, setelah mencium punggung tangan ayahnya seperti yang sering diajarkan oleh Julia.


Dokter Arman tersenyum dan kemudian mencium kening sang putri. "Asa enggak boleh rewel, ya. Kasihan Bunda Uli," pesannya pada sang putri.


"Iya, Ayah," balas Asa seraya melambaikan tangan.


"Bunda kunci pintu luar dulu, ya. Asa tunggu saja di sini," pamit Julia. Gadis itu segera mengekor langkah Dokter Arman, keluar dari kamarnya.


"Julia, kumohon pertimbangkan lagi permintaanku," ucap Dokter Arman sambil melangkah keluar.


"Setidaknya untuk putriku dan juga untuk adikmu," lanjutnya. Dokter Arman menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, sebelum melangkah keluar dari pintu rumah Julia.


"Bagaimana kalau saya tetap menjadi pengasuh Asa saja?" tawar Julia.

__ADS_1


"Jika kamu menjadi pengasuh Asa, maka peraturannya masih sama seperti dulu. Kamu menginap di rumahku dan sebulan sekali baru boleh pulang," balas Dokter Arman.


"Bagaimana, Julia? Apa kamu akan tega membiarkan adik kamu tumbuh tanpa pengawasan kamu?" Dokter Arman menatap Julia dengan tatapan mengintimidasi.


Julia menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak mengingat permintaan Dokter Arman yang berat dan sama sekali tak menguntungkan dirinya, bahkan melebihi sesaknya ditinggal sang ibu.


"Beri saya waktu setidaknya sampai empat puluh hari," pinta Julia, kemudian.


"Tujuh hari, deal?" Dokter Arman mengulurkan tangan.


Dengan berat hati, Julia menyambut uluran tangan laki-laki yang selalu bersikap dingin padanya itu. "Baik, Dok. Tujuh hari," balas Julia, pasrah.


Dokter Arman tersenyum 𝘴𝘮𝘪𝘳𝘬. Laki-laki dewasa itu kemudian segera berlalu, meninggalkan Julia yang mematung di ambang pintu rumah sederhana yang kini tanpa penyangga.


Satu-satunya penyangga rumah tersebut, baru saja dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, bahkan disaat Julia belum sempat menemui sang ibu untuk yang terakhir kali.


Air mata gadis itu kembali menyeruak dari kedua pelupuk matanya dan kemudian menetes, membasahi pipinya yang mulus. Buru-buru Julia menyeka air mata, ketika terdengar suara sang adik memanggil.


"Mbak ... Mbak Juli belum tidur?" tanya Dika yang mendekati sang kakak.


Remaja tanggung itu menggeleng. "Dika enggak bisa tidur, Mbak. Dika kepikiran, bagaimana hidup kita nanti."


Julia tersenyum. "Enggak perlu risau, Dik. Mbak bisa kerja, kok, dan kamu tetap bisa sekolah," hibur Julia.


"Lantas, bagaimana dengan kuliah Mbak Juli?" kejar Dika yang tidak puas dengan jawaban sang kakak.


"Kita bicarakan besok saja, ya. Sudah malam banget, Mbak capek, Dik. Kamu juga pasti capek, kan?" kilah Julia yang sengaja menghindar karena memang dirinya belum tahu apa yang akan dilakukan.


Kedua kakak-beradik itupun kemudian masuk ke kamar masing-masing, untuk mengistirahatkan jiwa dan raga yang lelah.


*****


Hari-hari berikutnya, Asa tak mau berpisah sedikitpun dengan Julia. Gadis kecil itu selalu menginap di rumah sederhana tersebut dan tidak mau diajak pulang oleh sang ayah ataupun neneknya.


"Asa mau pulang, kalau Bunda Uli ikut pulang ke rumah kita Ayah," rengek Asa, di hari ketiga ketika sang ayah menjemput.


"Sayang ... Asa pulang dulu ya, sama Ayah," bujuk Julia. "Dari sini ke sekolah Asa 'kan, jauh? Memangnya, Asa enggak capek, bolak-balik ke sini?" lanjutnya bertanya.

__ADS_1


Ya, selama dua hari ini, Asa berangkat ke sekolah dari rumah Julia dengan diantar jemput oleh sopir keluarga Dokter Arman.


Bocah kecil itu menggeleng. "Asa mau sama Bunda Uli," rajuknya seraya bersembunyi di lengan Julia.


"Maaf, Juli. Karena Asa belum mau ikut, kamu tidak keberatan 'kan, kalau saya titip Asa kembali," pinta Dokter Arman.


"Iya, Dok. Tidak apa-apa," balas Julia.


Asa tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi susunya yang kecil-kecil dan putih bersih. "Makasih, Ayah. Makasih, Bunda Uli," ucap gadis kecil itu dengan riang.


Setelah berpamitan dengan putrinya, Dokter Arman segera beranjak. "Tolong, pertimbangkan kembali Juli," pinta Dokter Arman sebelum berlalu.


Julia hanya bisa menghela napas panjang.


Asa kemudian melambaikan tangan pada sang ayah, ketika ayahnya itu mulai menjalankan mobilnya.


Hening, sejenak menyapa halaman rumah sederhana Julia. Gadis itu mematung, menatap kepergian Dokter Arman. Sementara Asa, asyik memainkan boneka tangannya.


Suara seorang tetangga yang datang sambil berlari, membuyarkan lamunan Julia.


"Nak Julia! Nak! Warung, Nak, warung!" seru laki-laki paruh baya tersebut dengan napas memburu, seraya menunjuk ujung gang dimana warung peninggalan ibunya Julia, berada.


"Ada apa dengan warung ibu, Mang?" tanya Julia, mulai panik.


"Warung, keba-kebakaran, Nak," balas tetangga Julia tersebut dengan suara terbata dan napas ngos-ngosan.


Julia menutup mulutnya, gadis itu langsung berlari ke arah ujung gang dan melupakan keberadaan Asa.


"Bunda! Asa ikut, Bunda!" Suara teriakan Asa yang memanggil namanya, membuat Julia tersadar dan segera kembali untuk menggendong Asa dan membawa gadis kecil itu berlari menuju warung.


Terik mentari yang menyengat di siang hari, serta hembusan angin yang cukup kencang, membuat api yang menyambar warung peninggalan orang tua Julia, cepat menyebar dan menghanguskan barang-barang dagangan, yang memang mudah terbakar tersebut.


Bangunan warung yang semi permanen dan sudah lapuk di sana-sini karena dimakan usia itu, langsung roboh dan habis dilalap si jago merah.


'Warung kita, Bu,' batin Julia, merana.


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2