
Di ruang perawatan Dokter Arman kini terdengar riuh karena ada Asa yang ceriwis, apalagi ada pula Dika, adik kandung Julia, yang suka sekali menggoda keponakannya tersebut.
"Om Dika nakal, Bunda!" lapor Asa ketika Julia baru saja keluar dari kamar mandi.
Julia tersenyum pada Asa dan berjalan menghampiri putrinya yang duduk di sofa, sambil mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.
Wajah wanita cantik itu terlihat lebih segar dari sebelumnya. Mata sembabnya karena kebanyakan menangis, juga mulai memudar dan dengan rambut basah seperti itu, Julia terlihat semakin seksi di mata Dokter Arman yang terus menatapnya.
Dokter Arman yang terus mengikuti pergerakan istrinya, tak henti menyunggingkan sebuah senyuman. Teringat kembali bagaimana tadi, dirinya ingin terus mengulang ciumannya bersama Julia.
'Aku baru merasakan bibirnya dan aku sudah tidak sabar ingin segera pulang dan memeluknya sepanjang hari. Bagaimana jika aku sudah menjadi suaminya yang utuh?' Senyuman di bibir Dokter Arman semakin lebar.
'Apa mungkin aku akan tega mengurungnya dan tidak memperbolehkan istriku keluar dari rumah agar mata Arsen tak bisa lagi menatapnya dengan penuh damba?' Kecemburuan Dokter Arman sebagai seorang suami, muncul ketika tiba-tiba dia teringat akan tatapan Arsen pada Julia.
"Nakal kenapa, Nak?" tanya Julia dengan lembut seraya mendekati Asa yang sedang duduk di sofa sambil menonton kartun.
Suara lembut Julia, membuyarkan lamunan Dokter Arman.
'Tidak-tidak, aku tidak boleh egois. Aku harus percaya pada istriku sendiri. Aku yakin, Julia adalah wanita yang bisa menjaga kehormatan diri serta keluarganya.' Dokter Arman menatap intens sang istri, dari tempatnya berbaring.
'Rasa cinta dan sayangku yang sudah mulai tumbuh subur, tak boleh membelenggu Julia. Aku sudah sangat bersalah selama ini padanya dan aku tak ingin menambah daftar kesalahanku,' batin Dokter Arman, penuh penyesalan.
"Om Dika, tuh, ganti-ganti channel TV-nya terus," balas Asa seraya menunjuk Dika yang sedang memegang remot televisi.
"Om ganti channel 'kan kalau pas iklan, Sa." Dika membela diri, seraya tersenyum nyengir.
"Tuh, kan, Bunda. Om Dika senyumnya ngeledek!" adu Asa, kembali.
"Dik." Julia menatap sang adik, meminta Dika dengan isyarat mata agar tidak lagi menggoda Asa.
"Iya, Mbak Juli, Sayang. Nih, Dika taruh remotnya," ucap Dika sambil menyimpan remot di atas meja.
"Dik, sini," panggil Dokter Arman, pada Dika.
__ADS_1
Adik kandung Julia tersebut kemudian beranjak, mendekati ranjang pasien.
"Ada yang bisa Dika bantu, Mas?" tanya Dika dengan sopan.
Ya, Dika selalu bersikap sopan dan hormat pada Dokter Arman yang dia anggap telah menjadi dewa penolong bagi dirinya dan juga sang kakak karena di hadapan Dika dan yang lainnya, Dokter Arman senantiasa menunjukkan sikapnya yang manis pada sang istri.
Remaja tanggung tersebut tak pernah mengetahui, bahwa pernikahan kakaknya adalah pernikahan yang dibuat di atas perjanjian yang hanya menguntungkan Dokter Arman secara sepihak dan Julia tidak sebahagia yang Dika lihat selama ini.
Beruntung, Dokter Arman tidak larut dalam kesalahan dan segera menyadari kekeliruannya selama ini. Laki-laki yang sedang terbaring lemah akibat luka tusukan itu pun telah membuka hatinya untuk Julia, bahkan kini Dokter Arman telah benar-benar jatuh cinta pada istrinya.
"Tolong, ambilkan dompet Mas," pinta Dokter Arman seraya menunjuk dompetnya yang berada di atas nakas.
Julia yang melihat apa yang diminta oleh suaminya, mengerutkan dahi. Sementara Asa, kembali asyik dengan acara televisi yang menayangkan kartun kesukaannya.
Dokter Arman kemudian mengeluarkan beberapa uang lembaran berwarna merah dan dia berikan kepada Dika.
"Beli jajan di kantin dan ajak Asa untuk main di taman," titah Dokter Arman seraya menyerahkan uang tersebut pada Dika.
"Mas, itu banyak sekali," protes Julia seraya menatap sang suami, dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak mengapa, Sayang. Hanya sesekali," balas Dokter Arman dengan santai.
"Hai, Bocil," panggil Dika seperti kebiasaannya selama ini yang memanggil Asa dengan sebutan bocil, atau bocah kecil.
"Om mau beli jajan, ikut enggak?" Dika memamerkan beberapa lembaran uang yang baru dia terima, sambil berjalan menuju pintu.
"Asa ikut, Om!" seru gadis kecil tersebut, dengan antusias. Asa bahkan langsung mengejar Dika tanpa berpamitan pada ayah dan bundanya.
"Eh, pamit dulu sama ayah dan bunda," cegah Dika ketika Asa ingin keluar.
Ya, meskipun jahil tetapi Dika adalah om yang baik. Dia selalu mengajarkan kesopanan dan hal-hal yang baik pada Asa, seperti yang dia dapatkan dari sang kakak selama ini.
"Hehe ... Asa lupa, Om." Gadis yang menggemaskan itu menutup mulutnya sendiri sambil terkikik, merasa ada yang lucu.
__ADS_1
"Ayah, Bunda. Asa keluar dulu, ya," pamitnya seraya melambaikan tangan.
Dokter Arman membalas dengan senyuman. "Mainlah sepuasmu, Nak."
Mendengar suaminya mengatakan hal demikian pada Asa, membuat Julia semakin curiga.
"Sayang, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Dokter Arman seraya tersenyum manis, setelah pintu ruang perawatan tersebut ditutup kembali oleh Dika dari luar.
"Kemarilah," pintanya kemudian, sebelum Julia menjawab pertanyaan Dokter Arman.
"Bentar, Mas. Aku mau sisir rambut dulu," tolak Julia dengan halus.
"Tidak perlu, Sayang. Aku suka melihatmu seperti itu, kamu jadi semakin seksi," ucap Dokter Arman seraya tersenyum menggoda.
"Ish, seksi darimananya? Rambut berantakan gini, kok, dibilang seksi." Julia cemberut, meskipun tetap mendekati sang suami dan kemudian duduk di tepi ranjang pasien dengan menghadap Dokter Arman yang berbaring dengan posisi miring.
Dokter Arman kemudian menyentuh rambut Julia, aroma wangi shampoo menguar memenuhi rongga penciumannya. Dia hirup dalam-dalam aroma tersebut dan menyimpan di dalam memorinya.
"Aku suka aroma wangi rambutmu, Sayang," ucap Dokter Arman seraya meraih pinggang Julia agar istrinya itu semakin mendekat.
"Mas, jangan, ah ... besok saja kalau kita sudah di rumah," tolak Julia ketika Dokter Arman ingin kembali menciumnya.
"Juli malu kalau ketahuan lagi sama suster, seperti tadi" lanjut Julia mengingatkan kejadian tadi siang, dimana seorang suster tiba-tiba membuka pintu kamar ketika mereka berdua tengah berciuman dengan mesra.
Dokter Arman kemudian meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal dan kemudian menghubungi seseorang.
"Halo, Sus. Tolong, pastikan tidak ada seorangpun yang masuk ke dalam kamar perawatan saya sampai satu jam ke depan, termasuk adik dan putri saya," titah Dokter Arman pada suster jaga di lantai khusus ruangan VVIP tersebut.
Setelah menyimpan ponselnya kembali, Dokter Arman kemudian meraih tangan sang istri dan mencium tangan lembut tersebut, dengan penuh kasih.
"Jangan berpikir macam-macam, Sayang. Aku hanya ingin berduaan bersamamu, seperti ini."
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...
__ADS_1