Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Pulang ke Rumah Kita


__ADS_3

"Kamu kok enggak kasih kabar sama mbak, sih, Dik, kalau ibu sakit," protes Julia yang bergegas menuju kamar sang ibu, gadis itu sampai melupakan keberadaan Dokter Arman.


Dika mengikuti langkah panjang sang kakak, masuk ke dalam kamar ibunya.


"Ibu! Ibu kenapa, Bu?" jerit Julia, menggugah kesadaran Dokter Arman untuk bergegas menuju kamar sempit milik ibunya Julia.


Gadis itu masih mencoba untuk menyadarkan ibunya.


"Bu, bangun, Bu. Dika bawa obat untuk Ibu." Remaja tanggung adik dari Julia, mengguncang-guncang tubuh sang ibu.


Julia terisak, ketika menyadari tak ada pergerakan apa-apa dari ibunya. Dadanya tak bergerak sama sekali dan punggung tangan sang ibu yang di cium Julia barusan, juga terasa dingin.


Gadis itu baru saja hendak meraba hidung sang ibu untuk memastikan kekhawatirannya, tetapi dokter Arman yang sudah berada di sana dan mengecek denyut nadi wanita kurus tersebut, menggeleng pelan.


"Maaf, Juli. Ibumu sudah tidak ada," ucap Dokter Arman dengan sangat hati-hati.


Tangis Julia seketika pecah, bersamaan dengan tangisan Dika yang meraung. Remaja itu merasa sangat bersalah pada sang kakak karena menuruti keinginan sang ibu yang tidak memperbolehkan Dika untuk menghubungi Julia dan mengatakan sakitnya.


Ya, sudah dua bulan terakhir ibunya Julia merasakan sakit di uli hatinya. Tetapi wanita itu mengabaikan dan hanya meredakan rasa nyerinya dengan obat yang di jual bebas di apotik, obat tanpa resep dari dokter.


Berulang kali Dika membujuk agar sang ibu berobat ke rumah sakit dan memberi tahu pada kakaknya, tetapi wanita paruh baya yang kini terbujur kaku tersebut, menolak dengan alasan tak mau lagi merepotkan putri sulung yang telah banyak berkorban tersebut.


Dika tak lagi membujuk ibunya, remaja yang duduk di bangku sekolah menengah pertama tersebut hanya bisa menuruti kemauan sang ibu. Dia selalu patuh ketika ibunya menyuruh untuk membelikan obat di apotik, seperti pagi ini.


"Maafin Dika, Mbak. Dika enggak tahu kalau sakit ibu ternyata parah," ucap remaja itu, di sela tangisnya.


Julia tak mampu berkata-kata, dia hanya memeluk sang adik dengan erat seraya menahan isak. Hanya air matanya yang terus keluar, menandakan betapa terpukulnya hati gadis itu.


Sebenarnya dia pun ingin menjerit dan menangis sepuasnya agar rasa sesak yang menghimpit dada sedikit berkurang, tetapi Julia sadar, itu hanya akan membuat Dika menjadi semakin bersalah.


"Sudah, Dik. Semua sudah terjadi," hibur Julia dengan berbisik.


Bukannya mereda, tangis Dika semakin terdengar keras. "Kalau Dika bilang sama Mbak Juli, Mbak pasti akan bawa ibu ke rumah sakit dan ibu tidak akan meninggal secepat ini, Mbak," sesal Dika. Pemuda itu menjambak rambutnya sendiri dengan keras, setelah melepaskan diri dari pelukan sang kakak.

__ADS_1


Jangan seperti ini, Dik," pinta Julia seraya terisak. Dia rengkuh kembali tubuh sang adik dan mendekapnya erat.


"Sudah menjadi takdir ibu, Dik, kita harus ikhlas," ucap Julia mencoba menenangkan sang adik, sekaligus menenangkan dirinya sendiri.


Sementara Dokter Arman, setelah membenarkan posisi ibunya Julia, laki-laki berwajah tegas itu berdiri mematung seraya mengamati kedua kakak beradik tersebut dengan rasa prihatin.


"Julia, siapa yang bisa saya hubungi? Tetangga atau saudara kamu?" tanya Ayahnya Asa tersebut, setelah melihat Julia agak tenang.


"Pak RT dan Pak Ustadz yang rumahnya dekat musholla, Dok," balas Julia. "Tapi Dokter enggak perlu repot, biar Juli saja yang kesana. Dokter tolong temani adik saya saja," pintanya kemudian.


Gadis itu segera beranjak, membetulkan pakaiannya yang sedikit berantakan, mengusap air mata yang terus menetes dengan kasar dan bergegas keluar dari kamar sang ibu.


Tak berapa lama setelah Julia keluar, rumah sederhana tempat gadis itu dan keluarganya bernaung, mulai dipadati oleh para tetangga yang melayat.


Pak RT dibantu oleh para tetangga, memindahkan jenazah ibunya Julia ke ruang depan untuk segera diurus, sementara Dokter Arman masih menemani Dika yang sesenggukan di kamar sang ibu sambil mendekap bantal yang tadi digunakan ibunya.


"Sabar, Dik," tutur Dokter Arman seraya mendudukkan diri di samping Dika. Tak ada lagi kata-kata yang diucapkan dokter kandungan tersebut, dia hanya duduk sambil menepuk lengan Dika mencoba memberikan kekuatan pada remaja tanggung adik dari Julia.


"Baik, Arman. Mama dan Asa akan segera ke sana," tutur Bu Ratna dari seberang telepon.


"Ya, Ma." Ayahnya Asa tersebut segera menutup panggilannya dan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku.


"Ayo, kita keluar!" ajak Dokter Arman setelah melihat Dika sedikit lebih tenang.


Remaja itu mengangguk dan kemudian mengekor langkah tamunya sang kakak, keluar dari kamar ibunya.


"Dika mau wudhu dulu, Om," ucap Dika, menghentikan langkah Dokter Arman.


Laki-laki yang minim senyum itu mengangguk, dia menunggu Dika tepat di depan kamar sambil menatap ke ruang depan.


Di sana, Julia terlihat sedang mengaji di samping tubuh sang ibu yang terbujur kaku. Tubuh yang kini telah dikafani dan tinggal menunggu diberangkatkan ke pemakaman umum.


Ya, semua warga bergerak cepat untuk mengurus jenazah ibunya Julia. Mulai dari memandikan, mengkafani dan kemudian men-sholatkan jenazah tersebut.

__ADS_1


"Mari, Om. Dika mau menemani Mbak Juli."


Setelah mengambil air wudhu dan memakai sarung serta peci, Dika kemudian ikut duduk di samping sang kakak dan turut membaca surah Yasin untuk sang ibu.


Sementara Dokter Arman yang mengekor langkah Dika, kemudian duduk di belakang keduanya dan hanya diam mendengarkan.


Beberapa saat kemudian, Pak RT memberitahukan pada Julia.


"Mbak Juli, makamnya sudah siap. Ibunya mau diberangkatkan sekarang atau masih ada yang ditunggu?" tanya Pak RT berbisik.


"Sekarang saja, Pak," balas Julia karena memang sudah tak ada lagi yang dia tunggu. Semua keluarga kedua orang tuanya, ada di luar Jawa karena mereka adalah perantauan.


Pak Ustadz kemudian memimpin prosesi pemakaman ibu dua anak tersebut. Julia yang ikut ke pemakaman, menggandeng tangan sang adik yang masih terus sesenggukan sepanjang jalan menuju pemakaman.


Dokter Arman tidak ikut pergi ke pemakaman karena menunggu sang mama dan putrinya.


Baru saja Bu Ratna dan Asa tiba di rumah duka, Julia dan sang adik, beserta para pelayat telah kembali.


"Sabar ya, Nak Juli," tutur Bu Ratna seraya memeluk Julia.


"Terimakasih, Bu," balas Julia, singkat. Gadis itu tak mampu lagi berkata-kata, hanya air mata yang kembali menetes membasahi pipi.


"Bunda Uli jangan nangis, ya," hibur Asa yang langsung duduk di pangkuan Julia, ketika gadis itu baru saja duduk.


Gadis kecil itu mengusap air mata Julia dengan jari-jari mungilnya dan kemudian mencium pipi wanita dewasa, yang dipanggilnya dengan sebutan bunda.


"Bunda sama Om Dika nanti pulang ke rumah Asa aja, ya. Di sini 'kan sudah enggak ada nenek," pinta Asa yang memang sudah mengenal dekat keluarga Julia karena setiap kali pengasuhnya itu pulang, Asa pasti selalu ikut mengantar bersama pak sopir.


"Benar, Nak Juli. Pulang ke sana saja, ya," timpal Bu Ratna ikut membujuk.


"Benar, Julia. Ajak adikmu pulang ke rumah kita."


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2