
Sekaligus bersedih, jika mengingat betapa tak berdayanya Julia yang harus menjalani pernikahan yang penuh dengan sandiwara.
'Kenapa aku harus terjebak dalam pernikahan palsu seperti ini?' batin Julia merana, meskipun wanita muda itu sudah tahu konsekuensi yang harus dia hadapi jika menerima pernikahan yang ditawarkan oleh Dokter Arman kepada dirinya.
Lelah jiwa, lelah raga, membawa Julia ke alam mimpi dalam tidur lelapnya.
Tangan mungil yang menepuk pipi Julia dengan pelan, membangunkan istri Dokter Arman tersebut.
"Sayang, kok kamu sudah di sini? Sudah pagi, ya?" tanya Julia setelah membuka kedua matanya dengan sempurna.
Dia melihat Asa tengah tersenyum kepadanya, senyuman yang manis dan menghangatkan jiwa Julia yang membeku mengingat statusnya sebagai istri di atas kertas.
Julia balas tersenyum pada gadis kecil yang duduk di tepi ranjang, dia usap lembut kepala Asa.
"Suamimu kemana, Juli?" tanya Bu Ratna, mengejutkan Julia.
Ternyata, ada Bu Ratna yang berdiri tak jauh dari ranjang tempat Julia masih berbaring.
"Eh, ada Mama," ucap Julia, gugup. Wanita cantik itu kemudian duduk di tepi ranjang, di samping Asa. "Em ... itu, Ma. Dokter Arman, em, Mas Arman sedang jalan sehat," lanjut Julia yang terpaksa berbohong.
"Pengantin baru, jalan sehat? Sepagi ini? Dan dia tidak mengajak kamu, Juli?" cecar Bu Ratna sambil menunjuk jam yang menempel di dinding.
Julia ikut menoleh ke arah yang ditunjuk Bu Ratna. Ternyata waktu baru menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit.
"I-iya, Ma. Kata Mas Arman, kalau pagi-pagi udaranya masih bersih dan segar." Kepalang tanggung, terlanjur berbohong maka Julia melanjutkan kebohongannya.
'Maaf, ma. Juli terpaksa membohongi mama,' batin Julia, menyesal.
"Ya, sudah. Kami mau pulang, nanti sampaikan sama suami kamu agar mengaktifkan ponselnya," pesan Bu Ratna.
__ADS_1
Julia mengangguk patuh. "Baik, Ma. Maaf, Juli tidak bisa mengantar sampai bawah." Julia menuntun Asa, mendekati sang nenek.
"Tidak mengapa, Juli," balas Bu Ratna seraya tersenyum kepada menantunya tersebut.
"Bunda, cepetan buatin Asa adik, ya," pinta gadis kecil yang rambutnya di kepang dua tersebut, penuh harap.
Bu Ratna tersenyum mendengar permintaan sang cucu, sementara Julia tersenyum kecut.
Julia kemudian mengantarkan ibu mertua serta putri dari suaminya itu sampai di depan pintu kamar. Wanita cantik yang kini telah berstatus sebagai seorang istri tersebut kemudian melambaikan tangan, membalas lambaian tangan kecil Asa.
Belum sempat Julia masuk kembali ke dalam kamar, terdengar teriakan Bu Ratna dari ujung koridor, dekat pintu 𝘭𝘪𝘧𝘵.
"Ngapain kamu keluar dari kamar ini, Arman?"
Dokter Arman yang baru saja keluar dari kamar yang telah disewa oleh Renata, membeku di tempat. Laki-laki berahang tegas itu tidak menyangka akan bertemu dengan sang ibu sepagi ini, ketika dia hendak kembali ke kamar pengantinnya.
"Ma-mama." Dokter Arman nampak sangat gugup. "Tadi sewaktu Arman hendak turun, ada yang minta tolong. Dia bilang, kalau istrinya kesakitan. Jadi Arman melihat keadaannya, Ma," balas ayahnya Asa tersebut, berbohong.
"Mama akan melihatnya." Bu Ratna hendak menerobos masuk, tetapi Dokter Arman mencegah.
"Ma, jangan, Ma. Enggak sopan, Ma. Istrinya baru saja bisa istirahat." Putra bungsu Bu Ratna tersebut mencoba meyakinkan sang mama.
Bu Ratna mendengkus kesal, wanita itu merasa ada yang ditutupi oleh sang putra. Neneknya Asa tersebut kemudian mengambil ponsel dari dalam tas tangan dan menghubungi seseorang.
Deringan pertama, panggilan Bu Ratna tidak diterima. Wanita itu mendial kembali nomor yang dituju dan setelah menunggu beberapa saat, panggilannya diterima oleh seorang.
"Keluar kamu! Aku tahu, kamu ada di dalam kamar nomor satu nol tujuh!" titah wanita tua tersebut seraya melihat ke arah pintu yang tertutup rapat, di mana tertera nomor yang disebutkan Bu Ratna barusan.
Dokter Arman terpaku di tempat. Laki-laki yang kepergok mamanya itu tidak dapat lagi mengelak dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghindar. Dokter kandungan tersebut pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti jika mamanya dan Renata, bertemu.
__ADS_1
Sementara Bu Ratna menatap marah pada sang putra, wanita berusia senja yang rambutnya telah memutih sebagian itu sangat kecewa pada Dokter Arman, putra bungsunya.
"Keterlaluan kamu, Arman! Pernikahan yang sakral dan suci bisa-bisanya kamu permainkan!" hardiknya dengan dada naik turun menahan amarah yang meluap karena ada sang cucu di sana.
Mendengar suara sang nenek yang meninggi pada ayahnya, Asa mengkerut, takut. Gadis kecil tersebut kemudian merapatkan tubuhnya ke dinding, mencoba mencari perlindungan.
"Asa, Sayang. Asa kembali ke kamar bunda dulu, ya. Nenek mau bicara sama Ayah sebentar," pinta Bu Ratna dengan melembutkan suara, pada sang cucu yang masih bengong, tak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Gadis tersebut mengangguk, patuh.
"Biar Arman antar Asa ke kamar, Ma," pamit Dokter Arman yang ingin menghindar.
"Tetap di tempatmu, Arman. Asa bisa sendiri!" Bu Ratna menatap tajam pada sang putra.
Dokter Arman terpaksa menuruti titah sang mama karena tidak mau membuat wanita yang telah melahirkannya tersebut, semakin marah padanya. Dia biarkan putrinya berlari kecil untuk kembali ke kamar di mana Julia berada.
Tepat disaat Asa menjauh dari tempat tersebut, Renata membuka pintu kamarnya dan keluar dengan mengenakan gaun seksi yang sangat tipis dan transparan.
Bu Ratna menatap jijik pada wanita yang selalu memakai make up tebal tersebut.
"Cih, jadi wanita seperti ini yang masih saja kamu pertahankan, Arman?" tanya Bu Ratna pada sang putra, dengan memelankan suara karena terlihat ada beberapa yang mulai berlalu-lalang di sepanjang koridor tersebut.
Dokter Arman hanya diam tidak berani menjawab karena ayah satu anak tersebut tidak mau melukai hati sang ibu.
"Sayang ... ayo, katakan pada mamamu tentang hubungan kita!" pinta Renata, sambil bergelayut manja pada lengan sang kekasih.
"Ma, sebenarnya Arman ...."
"Baik, Arman." Bu Ratna mengisyaratkan dengan tangan, memotong pembicaraan Dokter Arman.
__ADS_1
Silahkan berbuat sesuka hatimu! Mulai sekarang, kita hidup masing-masing! Mama akan bawa Asa, Julia dan adiknya pergi jauh dari rumah kamu! Jangan pernah menyesali keputusan kamu dan jangan pernah kamu cari Asa, juga Julia!" ancam Bu Ratna.
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...