Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Di Kamar Kita


__ADS_3

Keheningan menyapa kamar tidur mewah tersebut.


"Kamu jangan merasa senang dulu, Julia. Aku tetap belum bisa menerima kamu sebagai istriku yang seutuhnya. Aku lakukan semua ini, hanya demi mama dan putriku." tegas Dokter Arman, mengurai keheningan.


"Ya, Dok. Anda tidak perlu mengulang-ulang hal tersebut, saya sudah mengerti dan sadar diri dengan posisi saya," balas Julia tak kalah tegas.


Wanita muda tersebut jengah, mendengar Dokter Arman berkali-kali memperingatkan dirinya mengenai status pernikahan mereka.


Julia kemudian segera mengambil koper dan mulai membereskan pakaian mereka berdua, tanpa kata.


Dia melakukannya dengan sangat cepat karena tak ingin berlama-lama berada di dalam kamar dan hanya berduaan dengan laki-laki yang telah menikahinya tersebut.


Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Julia masih disibukkan dengan menata barang-barangnya, sementara Dokter Arman nampak duduk terdiam di sofa.


"Sudah selesai semua, Dok," ucap Julia mengurai keheningan, seraya menatap Dokter Arman yang sedang duduk dengan menyandarkan tubuhnya di sofa.


Laki-laki dewasa tersebut tengah memejamkan mata dengan dahi berkerut, entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Hem," balas Dokter hanya dengan gumaman. Ayah satu anak tersebut kemudian membuka matanya dan segera beranjak. Dokter Arman langsung melangkah keluar tanpa berbicara apa-apa lagi.


Julia menghela napas panjang. Ibu sambung Asa tersebut segera mengekor langkah Dokter Arman meninggalkan kamar hotel.


"Bunda!" seru Asa ketika Dokter Arman dan Julia telah tiba di lobi hotel.


Bukan sang ayah yang gadis kecil itu panggil, tetapi bundanya. Asa langsung menghambur dan memeluk Julia, erat. Gadis itu bahkan sama sekali tak melihat ke arah sang ayah.


"Kita akan sama-sama terus kan, Bunda?" tanya Asa seraya mendongak menatap sang ibunda dengan penuh harap, seolah Julia akan pergi meninggalkan dirinya.


"Bunda tidak akan kemana-mana, Sayang. Bunda 'kan sayang sama Asa," tutur Bu Ratna, mencoba menenangkan sang cucu.


Julia tersenyum seraya mengangguk. Wanita muda itu kemudian mencium puncak kepala Asa dengan dalam.


Sementara Dokter Arman hanya menghela napas panjang, ada rasa nyeri menyelinap di hati karena merasa diabaikan oleh sang putri.


Laki-laki berahang tegas tersebut menatap sang putri dan Julia yang tengah berpelukan, dengan tatapan yang sulit dimengerti.


'Andai Renata bisa bersikap seperti itu pada putriku, pasti hubungan kami akan mendapatkan restu dari mama.'

__ADS_1


"Ayo, kita segera pulang!" ajak Bu Ratna yang segera beranjak.


Julia menggandeng Asa mengekor langkah sang nenek, sementara Dokter Arman berjalan paling belakang.


Sepanjang perjalanan kembali pulang, hanya terdengar celoteh Asa yang bercerita pada sang nenek mengenai teman-temannya di sekolah.


Bu Ratna terkadang menimpali, sementara Julia yang duduk di bangku depan di samping Dokter Arman yang mengemudi, hanya sesekali menoleh dan tersenyum pada Asa.


Dokter Arman sendiri nampak fokus dengan kemudinya, entah benar-benar fokus atau ada hal lain yang dia pikirkan. Sebab, dahinya sedari tadi berkerut dalam dan tarikan napasnya nampak berat.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, melintasi gedung-gedung bertingkat, perkantoran, pertokoan, dan beberapa kawasan perumahan, tibalah mereka di kediaman Dokter Arman.


Rumah megah yang berada di antara rumah-rumah megah yang lain, yang berada di kawasan perumahan elite, di kota tersebut.


Bangunan yang terdiri dari dua lantai, berpagar tinggi dengan cat berwarna biru laut yang nampak sejuk di pandang mata. Memiliki halaman yang cukup luas dengan rerumputan hijau yang terhampar dan terawat rapi, membuat siapa saja betah untuk tinggal di sana.


Setelah Dokter Arman memarkirkan mobil di halaman rumah, mereka semua segera turun.


Seorang asisten laki-laki yang bertugas merawat kebun, langsung mendekat dan membawakan koper majikannya.


"Taruh di ruang keluarga saja ya, Mang. Biar nanti saya yang beresin sendiri," ucap Julia, ramah.


"Asa main sama bibi ya, Nak. Bunda biar istirahat dulu," pinta Bu Ratna begitu melihat salah seorang asisten berusia paruh baya mendekat.


"Iya, Nek," balas Asa, mengerti.


"Ayo, Non Asa! Kita main masak-masakan di dapur saja, ya," ajak bibi, agar dirinya juga bisa sambil bekerja.


"Ayo, Bi! Asa mau masak buat Bunda," sambut Asa, riang.


"Bunda dimasakin apa?" tanya Asa, layaknya seorang chef professional yang dapat membuat masakan apa saja.


"Apa saja, Sayang. Kalau Asa yang masak, bunda pasti suka," balas Julia seraya mencubit gemas pipi chabi Asa.


"Kok, ayah enggak ditawari?" protes Dokter Arman, mencoba mencairkan kebekuan yang seakan tercipta antara dirinya dan sang putri pasca kejadian di hotel tadi.


"Ayah minta sama Bunda saja, nanti. Kalau Bunda ngasih, ayah harus bersyukur karena itu artinya Bunda enggak marah sama ayah," balas Asa layaknya orang dewasa yang memberikan petuah pada orang yang lebih muda.

__ADS_1


"Kenapa Bunda harus marah sama ayah? Ayah 'kan enggak melakukan kesalahan apa-apa sama Bunda, Sayang?" Dokter Arman mengerutkan dahi.


"Ayah salah sama Bunda, Ayah udah ninggalin Bunda sendirian di kamar tadi," balas Asa.


Meskipun gadis kecil itu tidak tahu apa yang dilakukan oleh sang ayah bersama wanita lain, yang dia tahu hanyalah sang ayah bersalah karena meninggalkan bundanya sendirian di kamar.


"Bi, ajak Asa ke dapur," titah Bu Ratna seraya menatap sang asisten.


"Ayo, Non Asa!" Bibi menggandeng tangan Asa meninggalkan ruang keluarga tersebut, untuk menuju dapur.


"Anak seusia Asa saja tahu, Arman. Apalagi mama yang melahirkan dan membesarkan kamu!" Bu Ratna menatap sang putra dengan tatapan mengintimidasi.


Dokter Arman menghela napas panjang. "Maafkan Arman, Ma," ucapnya dengan suara tercekat di tenggorokan.


"Kamu tidak bersalah pada mama, Arman, tetapi pada istrimu!" tegas Bu Ratna. "Minta maaflah sama Julia!" titahnya kemudian.


"Ma ...."


"Jangan diam saja jika suamimu bersalah dan bersikap tidak adil sama kamu, Juli! Jangan pula kamu tutupi terus kesalahannya!" sergah Bu Ratna, memotong perkataan Julia.


Julia hanya bisa terdiam. 'Juli akan selamanya diam, Ma, karena ini semua sudah menjadi kesepakatan kami.'


"Mama mau istirahat. Ajak istrimu ke kamar dan beristirahatlah kalian!" Bu Ratna segera berlalu menuju kamarnya, meninggalkan Julia dan Dokter Arman yang masih mematung.


"Juli akan istirahat di kamar Juli saja, Dok," pamit Julia, hendak berlalu.


Wanita muda itu mengurungkan langkah ketika tangannya di pegang oleh Dokter Arman. Julia kemudian memutar leher, menoleh ke arah laki-laki yang telah menjadi suaminya dengan dahi berkerut dalam.


"Istirahat saja di kamar kita."


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...


Selamat siang, Best ... 🤗


Sambil nunggu Julia yang slow up date ... mampir juga yah, di novel on going ku yang lain;


*) Hopeless &

__ADS_1


*) Pesona Rumput Tetangga 🥰


__ADS_2