
Waktu terus bergulir, hubungan Dokter Arman dan Julia semakin dekat. Meskipun dokter kandungan tersebut tidak pernah mengatakan dengan terang-terangan, tetapi Julia dapat merasakan perubahan sikap suaminya itu yang semakin hari semakin perhatian dan bersikap lembut terhadap dirinya.
"Belum selesai ngetiknya, Sayang?" tanya Dokter Arman seraya mendekati sang istri yang duduk di sofa kamar sambil mengetik.
"Dikit lagi, Mas. Tinggal ngedit saja, kok," balas Julia, menoleh sekilas ke arah sang suami.
Dokter Arman kemudian duduk di samping sang istri dan memperhatikan istrinya itu dengan tatapan penuh arti. Tangan kanannya membelai lembut rambut panjang nan hitam milik sang istri dan kemudian mencium aroma wangi rambut Julia.
Julia yang melirik sang suami dan menyadari arti tatapan Dokter Arman, menghela napas panjang. "Juli lupa enggak pakai kondisioner tadi, pasti lepek, ya," ucap Julia dengan tatapan fokus pada layar laptop di pangkuannya.
"Lembut, kok, dan wangi," balas Dokter Arman, sejujurnya.
Sikap Dokter Arman yang berubah drastis tersebut, tak lantas membuat Julia terlena. Sebab, selain ayah kandung Asa itu belum pernah mengungkap isi hatinya, Julia juga tetap menjaga jarak terhadap laki-laki yang telah menikahi dirinya di atas sebuah perjanjian.
Julia masih ingat betul dengan kesepakatan yang telah mereka buat, hal itulah yang membuat wanita muda itu menjaga hati dan perasaan agar tidak mudah jatuh ke dalam pelukan laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya.
"Alhamdulillah, selesai," ucap Julia seraya menutup layar laptop setelah sebelumnya mematikan laptopnya tersebut.
"Besok, ujian proposal, ya?" tanya Dokter Arman memastikan kembali, meskipun Julia sudah mengatakan sebelumnya.
"Iya, Mas. Do'akan Juli, ya," balas dan pinta Julia.
"Pasti, Sayang." Dokter Arman merengkuh kepala Julia dan menuntunnya agar bersandar di bahunya yang kokoh.
Julia hanya bisa menurut, meski sebenarnya ragu untuk melakukannya.
Tak lama kemudian, Julia beringsut. "Juli ngantuk, Mas. Mas Arman belum ngantuk, ya?" tanya Julia yang tak ingin berdekatan berlama-lama dengan suaminya.
"Baru jam delapan lebih sedikit, Sayang. Masak sudah mau tidur?" tanya Dokter Arman, protes.
"Tadi siang, Juli enggak tidur siang, Mas. Asyik main sama Asa dan Dika, sampai Asa pun lupa enggak bobok siang," balas Julia seraya tersenyum. "Makanya Asa bobok lebih awal tadi," lanjutnya.
"Ya, sudah. Ayo kita tidur!" Dokter Arman pun ikut bangkit dan kemudian bersama-sama menuju ranjang berukuran king size.
__ADS_1
Baru saja Julia hendak naik ke tempat tidur, terdengar pintu diketuk dari luar.
"Naiklah, biar aku yang bukain pintunya," titah Dokter Arman yang bergegas menuju pintu yang telah terkunci.
"Ayah, bunda mana?" tanya Asa yang langsung menyerobot masuk ke dalam kamar, begitu pintu dibuka oleh ayahnya.
"Bunda, Asa ikut bobok di sini, ya?" rajuk Asa dengan muka bantal. Rupanya, gadis kecil tersebut baru saja terbangun dan langsung menuju kamar ayah dan bundanya.
"Boleh, sini naik, Sayang," ucap Julia seraya merentangkan kedua tangan, siap menyambut putrinya.
Asa langsung naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Julia. Ibu sambung bocah kecil itu kemudian memeluk Asa dengan penuh kasih.
"Kenapa ikut bobok di sini, Nak?" tanya sang ayah setelah mendekat, yang terdengar bernada protes.
"Asa pengin bobok sama Bunda, Ayah," balas Asa yang telah memejamkan mata.
"Biar sajalah, Mas, sesekali. Toh tempatnya muat untuk kita bertiga," bela Julia.
"Ayah janga di sebelah Asa!" seru Asa yang langsung beringsut, mengusir sang ayah dengan menggeser tubunya sendiri.
"Terus, ayah tidur di mana, Nak? Masak ayah tidur di sofa?" tanya Dokter Arman, memelas.
"Ayah tidur di sebelah Bunda saja, sana. Asa mau di pinggir," pinta Asa, membuat hati dokter kandungan tersebut, bersorak.
"Nanti kalau Asa jatuh bagaimana, Nak?" tanya Dokter Arman yang pura-pura khawatir, padahal dalam hati sungguh sangat senang karena niatnya bakalan kesampaian.
"Enggak bakalan Ayah, masih luas, nih." Asa meraba tepi ranjang yang masih cukup jauh dari jangkauannya.
"Ayah tidur di sofa saja, deh." Dokter Arman yang sudah berdiri di sisi ranjang berjalan perlahan menuju sofa, tetapi dalam hati berharap, sang putri mencegah.
Biar saja, Nak. Kasihan Asa kalau ayah ikut tidur di sini, jadi sempit kan?" bisik Julia, mencoba mempengaruhi Asa.
"Jangan, Ayah. Nanti badan Ayah sakit semua, sofanya 'kan, sempit." Benar saja, putrinya yang cerdas dan sangat menyayangi sang ayah tersebut melarang ayahnya tidur di sofa dan mengabaikan bisikan Julia.
__ADS_1
"Biar ayah ikut tidur di sini ya, Bunda. Kasihan ayah kalau tidur sendiri di sofa," balas Asa seraya berbisik, memohon pengertian bundanya.
"Ayo, Ayah! Naik ke sebelah Bunda," pinta Asa.
Senyuman ayah satu anak tersebut, mengembang lebar. Namun, dia mengalihkan pandangan ke arah lain, agar Julia tak melihat senyumnya.
Sementara Julia hanya bisa menghela napas panjang karena mau tak mau harus tidur di samping Dokter Arman, tanpa guling pembatas.
Dokter Arman segera naik ke atas pembaringan dan ikut masuk ke dalam selimut yang sama dengan Julia, membuat wanita cantik itu terkejut.
"Maaf, Mas. Bisa geser sedikit," pinta Julia, berbisik karena tak mau sang putri mendengar.
"Ehm ...." Dokter Arman berdeham. "Asa mau dipeluk ayah, Nak?" tawar Dokter Arman, penuh harap.
Mendengar perkataan Dokter Arman, hati Julia ketar-ketir tak karuan. Tak dapat dipungkiri, akhir-akhir ini jantungnya berdebar kencang setiap kali berdekatan dengan suaminya tersebut. Meskipun Julia masih terus membentengi hati dan perasaannya.
"Mau-mau, Ayah. Ayah peluk Asa dan Bunda bersamaan, ya," balas dan pinta Asa.
Dokter Arman kemudian memeluk dua wanita berbeda generasi tersebut, dengan perasaan yang membuncah bahagia. Dia sembunyikan wajahnya di tengkuk Julia.
Dada Julia semakin berdebar tak karuan, hingga membuat wanita itu tetap terjaga dan tak dapat memejamkan mata.
Sementara Asa, telah terbang ke alam mimpinya setelah beberapa saat di peluk oleh sang ayah dan bundanya.
"Mas, sepertinya Asa sudah lelap banget. Bisa tolong mundur sedikit," pinta Julia yang semakin terasa sesak dan tak bisa bernapas dengan bebas karena debaran di jantungnya yang semakin tak terkendali.
"Boleh, tapi kamu hadap sini dulu, Sayang. Jangan memunggungi seperti ini," pinta Dokter Arman, dengan lembut.
Julia kemudian menggeser posisinya dan baru saja wanita muda itu merubah posisinya menjadi telentang, sebuah kecupan pertama mendarat di bibirnya.
"Cup ...." Membuat Julia membeku seketika.
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...
__ADS_1