
Dokter Arman menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Julia merasa takut.
"Maaf, Dok. Bisakah, pelankan sedikit laju mobilnya?" pinta Julia.
"Memangnya, siapa kamu? Berani-beraninya menyuruhku!" Suara laki-laki itu yang terdengar ketus, membuat nyali Julia menciut.
Gadis cantik yang akan segera dinikahi Dokter Arman tersebut menundukkan wajah, netra bulatnya berkaca-kaca. 'Ya, aku sadar siapa aku. Tak perlu engkau membentakku seperti itu.'
Sepanjang perjalanan pulang, hanya keheningan yang tercipta. Dokter Arman fokus dengan kemudinya, sementara Julia menatap ke arah luar melalui jendela kaca di samping kiri gadis itu.
Hampir tiga puluh menit berlalu dan kebisuan itu tetap tercipta, hingga mobil mewah yang dikendarai Dokter Arman berbelok memasuki pintu gerbang rumahnya yang megah.
"Ingat kata-kataku tadi, Julia!" tegas Dokter Arman sebelum mereka berdua turun dari mobil.
Nampak di rumah mewah milik dokter kandungan tersebut, sudah ramai dengan sanak saudara dan kerabat dekat. Asa terlihat berlari kecil menghampiri sang ayah yang menggandeng mesra tangan Julia, berjalan menaiki halaman rumahnya yang megah.
"Ayah, Bunda!" seru Asa yang terlihat sangat senang.
Dokter Arman langsung menyambut sang putri dan mengangkat tubuh mungil Asa. Gadis kecil itu tertawa riang ketika tubuhnya terangkat ke atas.
Julia tersenyum, menyaksikan kehangatan hubungan ayah dan anak tersebut. 'Dia mamang ayah yang baik, tapi sayang, dia tidak bisa menerima kehadiranku di sisinya,' batin Julia, nyeri.
Gadis itu tetap diam di sisi Dokter Arman, menunggu sampai ayah dan anak perempuannya tersebut selesai bercanda.
"Lihat, Ayah. Bunda Uli cantik sekali, kan?" Setelah diturunkan oleh sang ayah, Asa menunjuk ke arah bundanya dengan mata berbinar bahagia.
Dokter Arman hanya mengangguk samar. "Ayo, kita masuk!" ajaknya seraya menggandeng tangan Asa yang berjalan di tengah, di antara mereka berdua.
Begitu memasuki ruang tamu, semua perhatian tertuju ke arah pasangan yang terlihat serasi tersebut. Mereka terlihat seperti keluarga kecil, yang sangat bahagia.
Keluarga besar Dokter Arman yang berada di kota yang sama, semuanya hadir. Begitu pula dengan keluarga dari pihak almarhumah mantan istri Dokter Arman _keluarga almarhumah ibunya Asa_ yang juga diundang oleh Bu Ratna, mereka semua juga hadir untuk menyaksikan pernikahan Dokter Arman dan Julia yang akan dilaksanakan sebentar lagi.
"Wah, calon pengantin wanitanya cantik sekali. Masih muda lagi," puji salah seorang wanita paruh baya dengan tersenyum tulus pada Julia, ketika gadis itu menyalaminya.
__ADS_1
Dokter Arman tersenyum, sementara Julia menundukkan pandangan, malu sekaligus sedih. Gadis itu sedih karena nyatanya, dirinya hanyalah calon pengantin di atas kertas.
"Benar, pandai sekali ya Budhe, Mas Arman memilih calon istri," timpal seorang wanita muda yang duduk di sebelah wanita paruh baya yang dipanggil dengan sebutan budhe tersebut.
"Kamu bisa saja, Ning," balas Dokter Arman.
"Beneran, Mas. Ning yakin, Mas Arman gak bakalan lembur-lembur lagi di rumah sakit, setelah menikah nanti. Sebaliknya, Mas akan selalu pengin cepat-cepat pulang karena di rumah sudah ada bidadari yang nungguin," celoteh adik sepupu Dokter Arman tersebut seraya terkekeh pelan.
"Hem, betul itu. Tante juga setuju apa yang kamu katakan, Ning," timpal seorang wanita cantik yang merupakan adik dari Bu Ratna.
Dokter Arman hanya tersenyum, tiba-tiba dia melingkarkan tangan di pinggang Julia, membuat gadis itu terkejut. Namun, keterkejutan Julia hanya sesaat, selebihnya dia paham apa yang diinginkan oleh calon suaminya. Pura-pura bersikap mesra di hadapan orang lain.
"Maaf semua, sepertinya calon istriku sudah lelah berdiri." Dokter Arman menyudahi obrolan yang menurutnya tidak penting tersebut.
Julia dengan dituntun oleh Dokter Arman, melanjutkan menyalami satu per satu anggota keluarga dengan senyuman yang selalu terkembang manis di bibir. Senyuman yang sangat kontras dengan suasana batin Julia saat ini, batinnya terlalu sakit dan tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Tepat di saat Dokter Arman dan Julia baru saja duduk di bangku yang telah disediakan untuk acara ijab qabul, penghulu yang akan menikahkan mereka berdua datang bersama ustadz Syamsul, imam masjid di komplek tempat dokter kandungan itu tinggal.
Mereka semua segera menempatkan diri di tempat yang telah tersedia, termasuk Dika yang akan menjadi wali nikah bagi sang kakak untuk menggantikan sang ayah yang telah tiada.
"Santai saja Nak Dika, nanti saya bantu," tutur ustadz berwajah teduh tersebut.
Dika menghela napas panjang, remaja itu kemudian menatap sang kakak. Dika mengerutkan dahi kala sekilas melihat netra sang kakak berembun.
"Kenapa?" tanya Dika hanya dengan gerakan mulut, tanpa bersuara.
Julia menggeleng, gadis cantik itu kemudian tersenyum pada sang adik untuk memenangkan hati Dika.
Meski sebenarnya hatinya sedang tidak baik-baik saja, tetapi di hadapan adiknya, Julia tidak ingin menunjukkan kesedihan tersebut.
"Bunda, apa setelah ini, ayah dan bunda akan membuatkan adik untuk Asa?" tanya Asa, hingga membuat Julia yang sedang melamun, terkejut.
Ya, Putri kecil Dokter Arman itu juga tidak mau ketinggalan ingin ikut serta menyaksikan momen bahagia tersebut. Asa duduk di samping sang nenek yang sedari tadi mengulas senyum kebahagiaan.
__ADS_1
Cucu dan nenek tersebut, terlihat sangat senang melihat ayahnya Asa bersanding dengan Julia. Gadis cantik nan lembut, mantan pengasuh Asa.
"Iya, Sayang. Makanya nanti setelah acara ini selesai, Ayah sama Bunda harus pergi untuk berlibur agar Asa bisa segera punya adik," sahut sang nenek, menjelaskan seraya membujuk agar Asa tidak ikut pergi.
Gadis kecil itu mengangguk, sementara Julia hanya bisa menghela napas berat.
"Bisa kita mulai ya, Pak Dokter," tutur ustadz Syamsul.
Dokter Arman mengangguk. "Silahkan, Tadz."
Acara pada sore hati itu pun segera dimulai, yang dipimpin langsung oleh Ustadz Syamsul.
Satu persatu acara berlangsung dengan lancar dan khidmat.
Dokter Arman terlihat begitu santai menghadapi pernikahannya kali ini. Entah apa karena ini pernikahannya yang kedua, ataukah karena Dokter Arman tak pernah mengharapkan Julia untuk menjadi istrinya.
Tiba saatnya ijab qabul diucapkan. Semuanya pun berjalan dengan lancar, termasuk Dika yang melaksanakan tugasnya dengan sangat baik.
Kata 'sah pun terucap, bersamaan dengan kalimat terakhir _tunai_ yang diucapkan oleh Dokter Arman dengan tegas.
Di saat para tamu masih betah berkumpul di sana, Dokter Arman sudah menggamit mesra tangan sang istri yang diiringi oleh salah satu asisten rumah tangga sambil menyeret sebuah koper.
"Wah, pengantinnya sudah tidak sabar mau langsung bulan madu," ledek salah seorang saudara.
Dokter Arman menanggapinya dengan tersenyum dan kemudian melambaikan tangan pada keluarga besarnya, yang diikuti oleh Julia.
Putri kecil Dokter Arman pun terlihat begitu bahagia ketika ditinggalkan oleh ayah dan ibu barunya. Asa duduk di atas pangkuan Dika, sambil terus melambaikan tangan pada kedua orang tuanya.
"Kamu masih ingat 'kan, dengan kesepakatan kita?" tanya Dokter Arman seraya menoleh ke arah Julia.
"Yang mana ya, Dok?" balas Julia, bertanya. "Permintaan Dokter 'kan, banyak sekali," lanjutnya.
"Pernikahan kita ini, hanya di atas kertas. Tugas Julia hanya sebagai pengasuh Asa. Berpura-pura mesra di hadapan orang lain ...." perkataan Julia menggantung di udara.
__ADS_1
"Jangan campuri urusanku!"
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...