Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Gadis Murahan


__ADS_3

Nyeri di dada Julia semakin terasa, hingga air matanya semakin deras mengalir menganak sungai.


Cukup lama Julia menangis, sampai-sampai gadis cantik itu tak menyadari kehadiran seseorang yang tahu-tahu sudah berlutut di sampingnya sambil menyodorkan sapu tangan.


"Usap air matamu, Julia," pinta Dokter Arman.


"Dokter ...." Julia kemudian mengambil sapu tangan dan segera menyeka air matanya.


"Terimakasih," ucap Julia seraya menatap Dokter Arman yang masih pada posisinya semula. "Silahkan duduk, Dok," lanjut Julia mempersilahkan. Gadis itu merasa sungkan jika Dokter Arman berlutut seperti itu.


Dokter Arman menggeleng. "Tak mengapa Julia, ada yang akan aku sampaikan," tolaknya dengan suara yang bersahaja.


Laki-laki berusia matang itu tiba-tiba memegang lutut Julia dan menatap gadis yang masih nampak bersedih tersebut, dengan tatapan dalam. Tatapan yang tak seperti biasanya, membuat Julia membeku di tempat.


"Maaf, Julia. Aku tak bermaksud untuk mencuri dengar tadi, tapi terpaksa aku mendengar semuanya," ucap Dokter Arman.


"Aku tidak rela jika kamu menjadi istri keempat dari laki-laki tua tadi, Julia!" lanjutnya dengan penuh penekanan dan terdengar nada amarah di sana.


"Aku yang akan melunasi semua kekurangannya," imbuhnya dengan sungguh-sungguh.


Julia membuka mulut, hendak berbicara.


"Kamu benar, Julia. Aku membantumu tentu dengan sebuah niatan, agar kamu mau menerima tawaranku untuk menjadi ibunya Asa," sergah Dokter Arman, sebelum Julia membuka suara.


Julia terdiam, air matanya kembali menetes.


"Dok, bagaimana jika saya meminjamnya dan nanti jika saya sudah memiliki uang, saya akan mengembalikan pinjaman tersebut," pinta Julia, memelas.


Laki-laki beranak satu itu menepuk lembut paha Julia. "Tidak, Julia! Silahkan kamu pikirkan kembali, apa kamu mau menjadi ibunya Asa atau menikah dengan laki-laki tua bangka itu?" Dokter Arman kemudian segera berdiri.


"Dok ... saya janji, saya pasti akan mengembalikan secepatnya uang pinjaman dari Dokter," mohon Julia, kali ini gadis itu yang bersimpuh di kaki Dokter Arman.


Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu menghela napas kasar. "Tidak, Julia!" tegas Dokter Arman. "Aku janji, aku tidak akan menyentuhmu meski kita sudah menikah nanti, kamu tidak perlu khawatir," lanjutnya.


"Jika kamu setuju, aku akan berikan uangnya," desak Dokter Arman.


Julia kemudian berdiri, memberanikan diri menatap Dokter Arman dengan tatapan sendu. "Baiklah, Dok. Saya terima tawaran Dokter," ucap Julia dengan air mata yang kembali mengalir dengan deras.


Gadis itu tak tahu, apakah keputusannya saat ini tepat atau tidak, tapi Julia tak memiliki pilihan lain.


Dokter Arman tersenyum penuh kemenangan. Laki-laki itu kemudian merangkum kedua pundak Julia. "Kamu tidak perlu khawatir, Julia. Aku pasti akan menepati janjiku. Tidak menyentuhmu, membiayai pendidikan adikmu, dan kamu juga bisa melanjutkan kuliah."

__ADS_1


Julia tak dapat lagi mendengar dengan baik kata-kata Dokter Arman, yang ada dalam pikiran gadis itu hanya satu, bahwa kini dirinya sudah tak ada artinya lagi.


"Oh ya, Julia. Aku kembali lagi ke sini karena mau mengantarkan mainan Asa, yang tadi dia minta." Dokter Arman kemudian menunjuk 𝘱𝘢𝘱𝘦𝘳 𝘣𝘢𝘨 yang dia simpan di atas meja.


Gadis yang wajahnya kembali sembab itu, mengangguk. "Baik, Dok. Nanti saya berikan pada Asa."


"Oke, hanya itu yang akan aku sampaikan," pamit Dokter Arman. "Tolong, kamu bujuk Asa agar nanti malam mau ikut pulang bersamaku. Kasihan kalau dia berangkat sekolah dari sini, jaraknya terlalu jauh," pinta Dokter Arman, sebelum duda tampan itu melangkah keluar.


"Baik, Dok. Saya akan membujuknya," balas Julia, tak bersemangat.


"Uangnya, aku berikan nanti malam saat menjemput Asa," pungkas Dokter Arman yang kemudian segera berlalu meninggalkan rumah sederhana milik keluarga Julia.


Meninggalkan Julia yang termenung seorang diri. Cukup lama Julia berdiri di ambang pintu, hingga suara Asa yang memanggil namanya, membuyarkan lamunan gadis cantik tersebut.


Gadis itu segera mengambil mainan Asa dan kemudian melangkah masuk ke ruang dalam, setelah menutup kembali pintu rumahnya.


*****


Malam harinya, Dokter Arman memenuhi janjinya untuk menjemput Asa. Meski di luar sana hujan turun dengan sangat deras, ayah satu anak itu tetap melajukan kuda besinya membelah jalanan yang berair, menuju kediaman Julia.


Perkampungan tempat Julia tinggal, terlihat sepi. Orang-orang tentu enggan keluar karena hujan turun dengan sangat deras. Lagipula, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih, sudah waktunya bagi orang-orang untuk beristirahat.


Dokter Arman memarkirkan mobilnya di halaman rumah Julia, laki-laki itu bergegas turun dan berlari kecil menuju halaman rumah sederhana tersebut.


'Apa aku kemaleman dan mereka sudah tidur, ya?' batin Dokter Arman bertanya-tanya.


Laki-laki matang itu kemudian mengetuk pintu rumah Julia dengan sedikit keras, agar orang yang berada di dalam bisa mendengar suara ketukan pintu yang mungkin saja kalah dengan suara derasnya air hujan.


Tak berapa lama, pintu di buka dari dalam dan muncullah sosok Julia yang sudah mengenakan stelan pakaian tidur.


"Dok, kenapa enggak telepon tadi? Dika 'kan bisa membawakan payung untuk Dokter," protes Julia, begitu melihat Dokter Arman datang dalam keadaan basah.


"Tidak apa-apa, Juli. Hanya basah sedikit," balas Dokter Arman, yang kemudian mengekor langkah Julia masuk ke dalam rumah.


"Saya pikir, Dokter tidak jadi datang karena sudah malam," ucap Julia setelah mereka sampai di ruang keluarga.


"Tadi ada pasien darurat dan harus dioperasi segera," balas Dokter Arman seraya melepaskan kemejanya, menyisakan kaos singlet berwarna putih yang melekat pas di badannya yang berotot.


Julia buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Laki-laki matang itu kemudian menyimpan kemejanya yang sedikit basah, pada sandaran kursi sebelum dirinya duduk.

__ADS_1


"Apa, Asa sudah tidur?" tanya Dokter Arman, ketika dia tak mendapati sang putri bersama Julia dan Dika.


"Sudah, Dok. Sepertinya dia kelelahan karena tadi sore diajak Dika bermain di taman," terang Julia.


"Asa tidak apa-apa, kan?" desak Dokter Arman yang nampak mengkhawatirkan sang putri.


Julia menggeleng. "Tidak apa-apa, Dok. Hanya kecapekan bermain, biasalah anak-anak," balas gadis itu, mencoba menenangkan ayah dari anak kecil yang diasuhnya.


"Mbak, Dika ngantuk banget, nih. Dika ke kamar dulu, ya?" pamit adik Julia tersebut.


Sebenarnya Julia ingin menahan sang adik, agar adiknya itu menemaninya terlebih dahulu sampai Dokter Arman pulang. Namun, melihat Dika yang sepertinya mengantuk berat, membuat Julia tidak tega untuk mencegah.


Julia hanya bisa mengangguk, mengiyakan. "Gosok gigi dulu, Dik," ucapnya mengingatkan sang adik.


Dika mengangguk dan segera berlalu menuju kamar mandi di dapur.


"Saya buatkan kopi dulu ya, Dok. Biar hangat," pamit Julia yang bergegas menuju dapur, menyusul sang adik.


Tak berapa lama, kakak beradik itu berjalan beriringan. Dika langsung menuju kamarnya. Sementara Julia yang membawa secangkir kopi, menuju kursi tempat Dokter Arman duduk.


"Silahkan diminum, Dok," ucap Julia.


Gadis itu kemudian duduk, tepat di hadapan Dokter Arman. Baru saja Julia mendudukkan diri, terdengar gedoran keras pada pintu rumahnya.


"Buka pintunya, gadis murahan! Jangan berbuat mesum di kampung kami!"


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...


Hai, Best...


sambil nunggu Julia Up kembali, yuk mampir di novel keren karya best friend-ku 😍


Blurb :


Meera yang umurnya baru 20 tahun harus menikahi sahabat sang Ayah bernama Agra yang berusia 22 tahun lebih tua darinya. Agra, seorang Duda kaya raya memiliki 2 putra berumur 20 tahunan.


Selama 3 tahun selepas Agra meninggal, Meera tetap merawat dua anak tirinya dengan sangat baik. Hingga, anak tiri keduanya bernama Bram membuatnya jatuh hati dengan segala bentuk perhatiannya.


Sampai akhirnya suatu masalah besar terjadi, mendesaknya Meera untuk menikah bersama Hans. Anak tiri pertamanya, yang terlihat pendiam dan kaku.


Hal apa yang sudah terjadi, hingga Meera terpaksa menikah dengan Hans? Lalu bagaimana Bram dan Hans kedepannya, apakah akan ada perselisihan antar saudara atau mereka bisa menerima satu sama lain?

__ADS_1



__ADS_2