Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Asa Mau Ayah Sama Bunda


__ADS_3

"Bunda sama Om Dika nanti pulang ke rumah Asa aja, ya. Di sini 'kan sudah enggak ada nenek," pinta Asa yang memang sudah mengenal dekat keluarga Julia karena setiap kali pengasuhnya itu pulang, Asa pasti selalu ikut mengantar bersama pak sopir.


"Benar, Nak Juli. Pulang ke sana saja, ya," timpal Bu Ratna ikut membujuk.


"Benar, Julia. Ajak adikmu pulang ke rumah kita." Dokter Arman pun ikut membujuk Julia.


Julia menghela napas panjang. "Juli belum bisa memutuskan apa-apa, Bu. Maaf," ucap Julia seraya menatap Bu Ratna.


Wanita berusia senja itu mengangguk, mengerti.


"Tak mengapa, Juli. Kami akan menunggu sampai kamu tenang dan bisa mengambil keputusan," ucap Dokter Arman, yang mencoba bersikap bijak.


Julia hanya mengangguk dan tak ingin menanggapi tawaran tersebut.


Selanjutnya Bu Ratna menemani Julia masuk ke dalam rumah, menemui para pelayat yang sebagian masih berada di rumah duka.


Sementara Dokter Arman dan Asa, menemani Dika di halaman rumah. Remaja itu terlihat masih menangis.


"Om Dika jangan sedih terus, dong," bujuk Asa sambil memeluk adik kandung Julia tersebut. "Kalau Om Dika nangis terus, kasihan tau sama Bunda Uli. Bunda Uli pasti sedih karena adiknya menangis," lanjut gadis kecil itu dengan gayanya yang menggemaskan.


Dika kemudian mengusap air matanya dan berusaha untuk tersenyum pada bocah ceriwis, yang sering diajak pulang sang kakak.


"Om udah enggak nangis, nih," ucap Dika.


"Nah, gitu 'kan, ganteng," puji Asa, menirukan Julia ketika memuji sang adik jika Dika mau melakukan perintahnya.


"Kamu kok gemesin, sih!" Dika mencubit gemas pipi Asa.


"Asa," panggil sang ayah, membuat gadis kecil itu mengalihkan perhatian menatap ayahnya.


"Iya, Ayah."


"Asa ikut sama nenek dulu, ya. Ayah mau bicara sebentar sama Om Dika," titah sang ayah.


"Oke, Ayah," balas Asa. Gadis kecil itu segera beranjak dan kemudian berlari kecil masuk ke dalam rumah.


"Maaf, Dika, jika pertanyaanku nanti kurang berkenan," ucap Dokter Arman yang mencoba mengerti perasaan remaja yang sedang berduka tersebut.


"Bagaimana dengan sekolah kamu, nanti?" tanya Dokter Arman.


Dika menggeleng. "Dika belum tahu, Om. Selama ini, ibu membiayai kami dari hasil warung. Itu makanya, ketika ibu mulia jatuh sakit karena infeksi kandungan, Mbak Juli mencari uang sendiri untuk meneruskan kuliahnya yang hampir selesai. Mbak juga yang membantu membiayai pengobatan ibu, hingga akhirnya penyakit ibu bisa sembuh," terang Dika.


"Mungkin karena itu juga, ibu enggan untuk memberitahukan pada Mbak Juli tentang penyakitnya yang lain karena enggak mau merepotkan Mbak," lanjut Dika, yang kembali sendu.


"Dik, kamu mau kan tinggal bersama kami?" tawar Dokter Arman. "Kamu bisa melanjutkan sekolah dan kakak kamu juga tetap bisa melanjutkan kuliahnya, tanpa pusing harus memikirkan biaya," lanjutnya, membujuk.

__ADS_1


"Dika ikut saja apa kata Mbak Juli, Om," balas Dika.


"Iya, kamu benar, Dika. Tapi kamu bisa bantu bujuk kakak kamu agar menerima tawaranku, kan? Kalian bisa tinggal di sana dan Julia menjadi bundanya Asa," ucap Dokter Arman.


Dika terdiam, remaja itu mencerna ucapan laki-laki dewasa yang duduk di sampingnya.


Dokter Arman masih terus membujuk Dika.


Sementara di dalam, Julia mulai menyalami tamu yang mulai berpamitan.


Satu-persatu pelayat meninggalkan rumah duka, hingga hanya menyisakan Dokter Arman, Bu Ratna dan Asa.


"Maaf, Nak Juli. Hari sudah beranjak sore, kami pulang dulu ya," pamit Bu Ratna. "Besok, ibu akan datang kembali ke sini bersama Asa," imbuhnya seraya beranjak.


"Terimakasih banyak Ibu sudah berkenan hadir," balas Julia yang kemudian menyalami Bu Ratna.


Dika yang sedari pulang dari pemakaman masih duduk di bangku yang sama, mengikuti apa yang dilakukan sang kakak, menyalami Bu Ratna.


"Yang sabar ya, Nak Dika," tutur Bu Ratna seraya mengusap puncak kepala remaja tersebut, membuat netra Dika kembali berkaca-kaca.


Dika kemudian menyalami Dokter Arman. Tanpa di duga, ayahnya Asa tersebut memeluk Dika dengan erat. "Tinggallah bersama kami, Dika. Kamu dan kakak kamu bisa tetap melanjutkan pendidikan," bisik Dokter Arman, membujuk.


Dika hanya mengangguk. Remaja itu tahu bahwa Asa sangat menyayangi sang kakak, bahkan gadis kecil itu sudah memanggil kakaknya Bunda, tetapi Dika belum tahu mengenai hubungan Dokter Arman dengan Julia seperti apa.


"Ayo, Sayang! Kita pulang," ajak Dokter Arman pada putrinya yang masih gelendotan di kaki Julia.


"Jangan, Sayang. Rumah Bunda Uli banyak nyamuknya, gak ada AC lagi, nanti Asa kegerahan dan badannya bentol-bentol karena digigit nyamuk," tolak Julia dengan halus.


"Enggak apa-apa, Bunda. Asa tetap mau bobok sama Bunda," rengek Asa dengan netra yang mulai berkaca-kaca.


"Tak mengapa, Juli. Biar nanti malam, saya bawakan baju ganti untuk Asa," ucap Dokter Arman yang menyetujui keinginan sang putri.


Julia menghela napas panjang dan kemudian mengangguk.


"Nenek pulang ya, Sayang. Asa enggak boleh rewel," pesan sang nenek seraya mencium pipi Asa.


"Siap, Nek. Asa 'kan anak pintar," balas gadis kecil tersebut.


Bu Ratna dan Dokter Arman segera berlalu dari rumah duka, meninggalkan Asa bersama Julia dan Dika.


*****


Malam harinya, Dokter Arman memenuhi janjinya. Laki-laki berwajah tegas itu datang ke rumah Julia, sekitar pukul sembilan malam.


"Apa Asa sudah tidur?" tanya Dokter Arman setelah dirinya dipersilahkan duduk oleh Julia di ruang keluarga yang cukup sempit.

__ADS_1


"Belum, Dok. Masih main sama Dika di kamar saya," balas Julia. "Sebentar saya panggilkan." Julia hendak beranjak, tetapi ayah Asa tersebut mencegah.


"Tidak perlu, Julia. Biarkan saja dia bersama Dika karena ada yang ingin saya bicarakan," cegah Dokter Arman.


Julia yang sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan Dokter Arman, hanya bisa menghela napas panjang.


"Pikirkan kembali tawaranku, Juli. Adikmu butuh biaya untuk melanjutkan pendidikannya dan di usianya yang sekarang, dia juga butuh keluarga yang utuh tempat dia pulang." Dokter Arman menatap Julia.


"Jika kamu sibuk kuliah dan bekerja agar bisa membiayai hidup dan pendidikan kalian berdua, maka kamu tidak akan memiliki waktu untuk Dika," lanjut Dokter Arman.


Julia terdiam. Gadis itu membenarkan apa yang dikatakan oleh laki-laki yang duduk di hadapannya.


"Aku janji, tidak akan menyentuhmu jika kamu menyetujui tawaranku kemarin. Dan kita akan segera berpisah, setelah Asa mengerti dan bisa menerima Renata," pungkas Dokter Arman.


Julia memejamkan mata sejenak. "Maaf, Dok. Saya ...."


"Bunda Uli, Asa ngantuk," rengek Asa yang berada dalam gendongan Dika.


"Asa mau bobok sama Bunda Uli sama ayah," rengeknya sambil menggapai sang ayah.


Dika kemudian menurunkan gadis kecil tersebut ke pangkuan ayahnya.


"Asa ngantuk? Mau bobok sama Bunda Uli dan ayah, ya?" tanya Dokter Arman, sengaja menegaskan bahwa putrinya membutuhkan Julia.


Asa mengangguk seraya menatap Julia. Sementara Julia hanya bisa menghela napas berat.


"Ayo, kita tidur di kamar!" ajak Dokter Arman seraya beranjak sambil menggendong Asa.


"Dok ...."


"Hanya sampai dia tertidur, Juli. Setelah itu saya akan pulang," potong Dokter Arman, sebelum Julia sempat berbicara.


Julia tak bisa berbuat apa-apa, gadis itu hanya berdiri mematung dan tak ingin mengikuti langkah panjang Dokter Arman yang membawa Asa ke dalam kamarnya.


"Istirahatlah, Dik. Sudah malam, kamu pasti lelah," suruh Julia pada sang adik.


Dika mengangguk patuh, remaja itu bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat.


"Bunda," panggil Asa dari ambang pintu, setelah cukup lama menunggu tetapi Julia tak kunjung masuk ke dalam kamar.


Mau tak mau, Julia ikut masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintu kamar tersebut.


"Dok, sebaiknya Dokter pulang saja. Biar saya yang menidurkan Asa," usir Julia dengan halus, sebelum dirinya naik ke atas tempat tidur.


"Baiklah," balas Dokter Arman, seraya beringsut.

__ADS_1


"Jangan! Ayah enggak boleh pulang!" teriak Asa, hendak menangis. "Asa mau Ayah sama Bunda. Kita tidur sama-sama, Ayah, Bunda," pintanya dengan air mata yang mulai menetes.


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambungb...


__ADS_2