Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Hampa dan Kosong


__ADS_3

Julia masih duduk termenung di balkon. Saking asyiknya melamun, gadis itu sampai tak menyadari bahwa Dokter Arman telah berdiri di sampingnya dengan pakaian rapi dan aroma tubuh laki-laki tersebut sangat wangi.


"Aku mau keluar. Kalau kamu ngantuk dan lelah, tidur saja dulu karena malam ini aku tidur di kamar lain."


Deg ... Julia yang terkejut langsung menoleh ke arah sumber suara. Gadis itu tersenyum masam dan kemudian mengangguk perlahan.


Dokter Arman bergegas keluar tanpa berkata-kata lagi, meninggalkan Julia seorang diri di malam pertama pernikahan mereka.


Julia menghela napas panjang untuk mengurai rasa sesak di dada. Meski dari awal dirinya sudah mengetahui bahwa hal ini pasti akan terjadi, tetap saja rasanya sakit kala mengetahui laki-laki yang telah menikahi dirinya justru menghabiskan malam-malam bersama wanita lain.


Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. 'Tidak-tidak, aku enggak boleh baper. Bukan Dokter Arman ataupun Bu Tata yang salah, tapi aku ... aku yang telah hadir di antara mereka berdua.'


'Sejak awal, aku sudah tahu kalau mereka berdua memiliki hubungan spesial dan bahkan hubungannya sudah sangat jauh. Aku hanya sebatas istri di atas kertas, yang bertugas mengasuh putri dari laki-laki yang telah menikahiku.'


Kembali gadis itu menggeleng-gelengkan kepala sambil beranjak. Julia mendekat ke pagar besi dan kemudian menatap ke atas langit. 'Aku enggak boleh berharap lebih dari pernikahan ini, secepatnya aku harus bisa terbebas.' tekad Julia dalam hati.


Julai terus melihat ke atas, menatap indahnya langit malam yang bertabur bintang. Sementara bulan sabit yang berada di antara jutaan bintang tersebut, seolah tersenyum padanya hingga membuat gadis itu pun ikut tersenyum.


'Rasanya lelah banget, sebaiknya aku tidur saja,' gumam Julia setelah cukup lama dirinya berdiri di sana.


Bergegas kaki jenjang Julia melangkah masuk ke dalam kamar. Dia ambil selimut dari atas ranjang dan kemudian merebahkan diri di sofa.


Meski Dokter Arman sudah mengatakan bahwa malam ini akan tidur di kamar lain, tetap saja Julia khawatir suaminya itu tiba-tiba datang. Oleh sebab itu, Julia memilih untuk tidur di sofa.


*****


Di kamar yang sama mewahnya dengan kamar yang ditempati Julia saat ini, terlihat sepasang kekasih sedang menikmati 𝘀𝘒𝘯π˜₯𝘭𝘦 𝘭π˜ͺ𝘨𝘩𝘡 π˜₯π˜ͺ𝘯𝘯𝘦𝘳. Mereka berdua nampak sangat mesra.

__ADS_1


Suasana romantis tercipta di sana, dengan lilin aroma terapi yang menambah hangat suasana. Sepasang kekasih tersebut makan malam dengan saling menyuapi, layaknya pengantin baru yang menikah atas dasar cinta yang suci.


"Cukup, Sayang. Aku sudah kenyang," tolak Renata yang sengaja membatasi asupan makan malam karena takut berat badannya akan bertambah.


"Kamu harus makan yang banyak, Ta, isi amunisi untuk pertempuran kita nanti," bujuk Dokter Arman seraya tersenyum menggoda.


"Aku sudah menyiapkan amunisinya, Sayang. Kamu jangan khawatir," balas Renata yang kemudian beranjak.


Wanita bertubuh tinggi semampai yang memiliki bodi seksi tersebut, malam ini mengenakan gaun malam yang super ketat hingga menampakkan lekuk tubuh indahnya.


Gaun dengan belahan dada lebar hingga menampakkan dua bukit kembarnya yang berukuran jumbo, semakin menambah keseksian wanita matang tersebut.


Bibir Renata yang merah merekah, yang senantiasa tersenyum nakal pada sang kekasih, semakin membuat Dokter Arman tak kuasa berlama-lama membiarkan kekasihnya itu terus menggoda dirinya.


"Sayang, duduklah di sini," pinta Dokter Arman seraya menepuk pangkuannya, setelah laki-laki tersebut menghabiskan makanan di atas piringnya.


Tak ada lagi yang bersuara, yang terdengar selanjutnya hanyalah deru napas keduanya yang saling memburu dan bersahutan. Kemudian disusul oleh suara-suara seksi dari bibir Renata ketika tangan Dokter Arman mulai meraba-raba area sensitif wanita tersebut.


"Hem ... aku suka dengan makanan penutup ini, Sayang," bisik Dokter Arman di telinga sang kekasih, setelah penyatuan wajah mereka terlepas.


"Mau yang lebih lezat, enggak?" tawar Renata yang langsung berdiri.


Tanpa ragu, wanita yang sudah dua tahun ini memberikan kehangatan pada Dokter Arman, menarik tangan sang kekasih dan membawanya ke ranjang 𝘬π˜ͺ𝘯𝘨 𝘴π˜ͺ𝘻𝘦 yang di hias layaknya ranjang pengantin.


Sprei putih di atas ranjang tersebut bertabur bunga mawar merah, lengkap dengan hiasan sepasang angsa yang berbentuk hati. Hampir sama dengan dekorasi di kamar yang saat ini ditempati Julia, seorang diri.


"Aku tak sabar ingin segera menikah denganmu, Ta," ucap Dokter Arman ketika Renata melepaskan kancing kemejanya satu persatu.

__ADS_1


"Ssstt ... kita nikmati saja malam ini, Sayang. Jangan bahas apapun dulu," pinta Renata yang sengaja menghindar.


Tak ingin kekasihnya itu berbicara lagi hal yang menurutnya tidak penting, Renata segera melahap bibir Dokter Arman dengan sangat liar. Sementara tangannta aktif melucuti pakaian dan celana sang kekasih.


Dokter kandungan yang kini telah menikahi Julia tersebut menyambutnya dengan tak kalah liar. Tangannya pun aktif bergerak, membuka retsluiting gaun malam Renata dan menarik turun gaun tersebut.


Hingga hanya dalam hitungan detik, keduanya sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.


Tidak sabar, Renata mendorong pelan tubuh kekar sang kekasih dan menghempasnya ke atas ranjang empuk.


Dokter Arman yang sudah hafal dengan keliaran sang kekasih, terkekeh pelan. Namun, tawa itu langsung berhenti kala Renata langsung menindih tubuhnya dan membungkam bibir dokter tampan tersebut dengan bibir merekah nan menggoda.


Suara-suara seksi, liar, dan menggairahkan, mulai memenuhi ruang kamar hotel mewah yang disewa Renata, untuk memuaskan diri dan juga pasangannya.


*****


Julia tiba-tiba terbangun karena perutnya terasa melilit, gadis itu meringis seraya mengusap-usap perutnya. 'Duh, lapar banget perutku,' rintih Julia.


Ya, gadis yang baru saja terbangun tersebut lupa belum makan malam. Padahal terakhir kali perutnya diisi makanan, tadi siang sebelum dirinya dirias. Sementara Julia memiliki riwayat penyakit maag. Sehingga jika telat makan sedikit saja, perut gadis itu akan terasa melilit seperti diremas-remas.


Istri Dokter Arman itu kemudian bangkit dan berjalan perlahan menuju mini pantry. Julia mencoba mencari-cari sesuatu, tetapi gadis itu tak menemukan apa-apa yang bisa dia makan.


Akhirnya Julia mengambil gelas besar dan memenuhi gelas bening tersebut dengan air dari dispenser. Gadis itu kemudian duduk di sofa ruang tamu dan meminum habis air putih dalam gelas. 'Lumayanlah, daripada tidak ada apa-apa sama sekali,' gumam Julia.


Sejenak, Julia termenung menikmati kesendiriannya. Sunyi, sepi, tanpa ada siapapun yang menemani. Hati gadis tersebut terasa hampa dan kosong, seperti gelas kristal yang saat ini ada dalam genggaman tangannya, kosong.


'Enggak-enggak, aku enggak boleh melamun.' Gadis itu segera beranjak dan mengembalikan gelas ke tempat semula, setelah mencucinya di 𝘸𝘒𝘴𝘡𝘒𝘧𝘦𝘭.

__ADS_1


'Tidur lagi aja, deh,' Julia bergegas melangkah hendak kembali ke kamar. Namun, langkah ibu sambung Asa tersebut terhenti, ketika terdengar pintu kamar dibuka dari luar.


__ADS_2