
Keluarga kecil Dokter Arman, beserta sang mama tercinta dan juga Dika, tengah asyik menikmati sarapan.
Celoteh Asa tak pernah berhenti, sepanjang sarapan pagi ini. Dia bercerita pada sang nenek dan Om Dikanya, bahwa semalam gadis kecil itu sangat senang karena bisa tidur bertiga bersama ayah dan bunda.
"Sebentar lagi, Asa mau punya adik, Om," ucapnya antusis.
Dika tersenyum, seraya melirik sang kakak. Remaja tersebut akan sangat bahagia, jika sang kakak, satu-satunya keluarga yang dia miliki, bahagia.
Sementara Julia hanya bisa menghela napas panjang, berbeda dengan Dokter Arman yang tersenyum lebar dan nampak sangat bahagia.
Tentu saja laki-laki yang sudah mulai memiliki perasaan cinta dan sayang pada istrinya itu bahagia karena dari semalam, dirinya mendapatkan mood booster yang membuat dokter kandungan tersebut lebih bersemangat dalam menyambut hari.
"Wah, nenek senang dengarnya, Asa, kalau kamu sebentar lagi akan punya adik," sahut Bu Ratna. "Nanti kalau adiknya Asa mau lahir, nenek pasti akan menginap di sini lagi. Menemani cucu-cucu nenek yang menggemaskan," lanjutnya di sela-sela makan.
"Menginap di sini lagi?" tanya Julia, dengan dahi berkerut dalam.
"Memangnya, Mama mau kemana? Jadi, mau tinggal sama Mbak Iren?" cecar Dokter Arman.
"Iya, Ayah. Siang nanti, Budhe Iren mau jemput nenek ke sini," balas Asa yang memang sudah tahu rencana sang nenek.
"Kenapa Mama enggak pernah cerita sama Arman, Ma? Dan kenapa, harus mendadak begini?" protes ayah Asa tersebut.
"Tidak mendadak Arman. Mama sudah memikirkannya jauh-jauh hari, tepatnya setelah kalian menikah. Hanya saja, mama menunda karena melihat pernikahan kalian yang sepertinya ...." Bu Ratna menghentikan penuturannya karena ada Dika dan juga Asa di sana.
Dokter Arman mengangguk, mengerti perkataan sang mama.
__ADS_1
Wanita berusia senja tersebut kemudian segera menghabiskan makanannya yang tersisa sedikit.
"Dika, kalau sudah selesai sarapannya, berangkatlah bersama Asa," titah Dokter Arman yang bisa menangkap bahwa masih ada yang akan disampaikan oleh sang mama.
"Baik, Mas," balas Dika, patuh.
Remaja itu segera berpamitan dan menyalami semuanya, yang diikuti oleh Asa.
"Tadinya, mama takut meninggalkan kalian karena mama melihat, pernikahan kalian ini hanya sandiwara belaka," lanjut Bu Ratna yang dapat menebak apa yang terjadi dengan pernikahan sang putra dan Julia, setelah punggung Dika dan Asa tak lagi terlihat.
"Tapi sekarang, setelah melihat keromantisan kalian dan sikap kamu yang sudah mulai berubah pada istrimu, mama tidak perlu khawatir lagi jika meninggalkan kamu dan Asa karena ada Julia." Bu Ratna menatap putra dan menantunya, bergantian.
"Nak Juli, mama percaya bahwa kamu bisa menjadi istri dan ibu yang terbaik untuk anak dan cucu mama. Mama titip, tolong jaga suami kamu ya," pinta Bu Ratna seraya menatap dalam netra Julia.
"Mungkin saat ini, Nak Juli belum bisa menerima Arman menjadi suami Nak Juli yang seutuhnya, tetapi berjanjilah pada mama," sejenak Bu Ratna menjeda ucapannya.
"Janji apa, Ma?" tanya Julia, was-was. Khawatir, dirinya tidak dapat menepati janji tersebut.
"Berjanjilah untuk belajar membuka hatimu untuk Arman," pinta Bu Ratna dengan netra berkaca-kaca, membuat Julia menjadi tidak tega melihatnya.
Dokter Arman terkesiap, terharu mendengar permintaan sang mama. Dalam hati dia berjanji, akan menjaga, mencintai dan menyayangi Julia dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raganya.
Sementara Julia terdiam. Ada perasaan tidak enak jika menolak permintaan sang mama mertua yang selama ini begitu baik terhadapnya itu, sekaligus rasa takut, takut jika nantinya hati Julia kembali terluka.
"Juli akan mencobanya, Ma," balas Julia kemudian.
__ADS_1
Bu Ratna bernapas dengan lega, seolah baru saja terbebas dari beban berat yang selama ini menghimpit dadanya.
Ya, selama ini, wanita berusia senja tersebut memang selalu mengkhawatirkan kehidupan masa depan sang putra dan juga Asa, setelah kepergian ibu kandung Asa.
Apalagi setelah mengetahui bahwa Dokter Arman kembali menjalin hubungan dengan wanita di masa lalu putranya tersebut, wanita yang tak pernah mau menjalani hubungan serius, membuat Bu Ratna semakin cemas dan takut.
Kini, kecemasan dan ketakutan beliau sirna, kala sang putra telah menikah dengan seorang wanita yang tepat dan dilihatnya, Dokter Arman telah mulai menunjukkan perasaannya secara diam-diamdiam-diam pada istrinya.
"Terimakasih, Nak Juli. Mama sangat bersyukur, Arman mau menikahi kamu dan mulai menunjukkan perhatiannya sama kamu." Bu Ratna tersenyum lebar menatap sang putra dan sang menantu, bergantian.
Dokter Arman pun menatap sang istri dengan tatapan penuh cinta. Sementara Julia hanya bisa diam dengan beribu pertanyaan di benaknya.
'Apakah suaminya itu benar-benar serius, berubah?'
'Apakah Dokter Arman tidak akan tergoda lagi dengan putri dari pemilik rumah sakit, sementara suaminya itu masih bekerja di sana?'
'Apakah dia sanggup membuka hati dan menerima sang suami, setelah apa yang dilakukan oleh Dokter Arman yang dulu selalu memandangnya dengan sebelah mata?'
Dan masih banyak pertanyaan lain, yang memenuhi benak Julia.
"Arman janji, Ma. Arman tidak akan mengecewakan Mama dan Asa. Arman tidak akan lagi menyakiti hati Julia karena jika hati Julia sakit, itu sama saja, Arman menyakiti hati Arman sendiri."
Ucapan Dokter Arman yang terdengar bergetar dan diucapkan dengan sepenuh hati, mengurai lamunan Julia.
Wanita muda itu tak ingin mempercayai apa yang didengarnya begitu saja, tetapi semua nyata dia dengar sendiri, dia rasakan dan dia lihat.
__ADS_1
'Benarkah sebesar itu rasa yang telah kamu miliki padaku, Mas? Aku tidak sedang bermimpi kan?' batin Julia bertanya, seraya menepuk pipinya sendiri.
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...