Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Memutuskan Ikatan


__ADS_3

"Ini bukan salah Rena, Pa, Arman yang salah. Rena hanya membela diri karena Arman terus memaksa Rena, meskipun Rena sudah terang-terangan menolaknya," terang Renata dengan berurai air mata.


Pak Santoso menggeleng. Laki-laki yang rambutnya mulai memutih tersebut, paham betul dengan karakter putrinya. Renata akan semakin membangkang, jika beliau berbicara dengan keras.


"Pulanglah, Rena. Sepertinya, kamu butuh beristirahat," titahnya, dengan melembutkan suara.


Renata langsung menghambur memeluk sang ayah. Wanita itu tersenyum licik di dada Pak Santoso karena mengira, bahwa sang ayah mempercayai keterangannya barusan.


Wanita bertubuh tinggi semampai itu sama sekali tidak curiga, bahwa sang ayah tidak mempercayai kata-katanya.


"Pa, pecat saja Arman, Pa," pinta Renata yang masih berada dalam dekapan sang ayah.


"Bukankah, memang dia mau mengundurkan diri?" tanya sang ayah yang memang sudah mengetahui keinginan Dokter Arman yang ingin berhenti karena akan fokus dengan klinik miliknya yang hampir selesai dibangun.


"Dia itu bohong, Pa! Dia mengatakan seperti itu karena Arman ingin menuntut kenaikan gaji!" bantah Renata, mengarang cerita.


Pak Santoso menghela napas panjang, mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh putrinya. "Ya sudah, nanti papa pikirkan."


Pak Santoso kemudian menuntun putrinya untuk keluar dari ruangan Renata. Direktur utama pemilik rumah sakit tersebut langsung menuju ruang IGD, di mana Dokter Arman sedang ditangani. Sementara Renata diminta untuk langsung pulang ke rumah.


Setibanya di depan ruang IGD, Pak Santoso kemudian masuk ke dalam ruangan yang steril tersebut untuk ikut menyaksikan langsung tindakan yang dilakukan untuk menyelamatkan salah satu dokter hebat di rumah sakit miliknya.


"Bagaimana kondisi lukanya, Dok?" tanya Pak Santoso yang juga memakai jubah hijau, lengkap dengan penutup kepala dan masker, kepada ketua tim dokter bedah yang menangani Dokter Arman setelah tindakan tersebut selesai dilakukan.


"Lukanya cukup dalam, Pak Dirut, dan karena pisaunya ditarik secara sembarangan, meninggalkan luka sayatan yang cukup parah," terang Dokter bedah.


"Pastikan, Dokter Arman mendapatkan penanganan terbaik agar beliau cepat sehat kembali. Pastikan pula, pengamanan untuk ruang rawatnya," titah Pak Santoso.


Ketua tim dokter tersebut mengangguk, patuh.


Setelah melihat Dokter Arman dari jarak dekat dan mengucapkan permintaan maaf berkali-kali yang entah didengar oleh Dokter Arman atau tidak, Pak Santoso kemudian keluar dari IGD untuk segera pulang ke rumah dan memastikan bahwa Renata, benar-benar pulang dan tidak kelayapan kemana-mana.


Sementara Dokter Arman, kemudian dipindahkan ke ruang observasi sampai keadaannya stabil. Dokter kandungan tersebut masih belum sadar karena pengaruh obat bius yang disuntikkan sebelum Dokter Arman dioperasi.


Baru saja Dokter Arman ditempatkan di ruangan yang steril tersebut, Julia yang dikabari oleh Suster Maria mengenai kejadian yang menimpa sang suami, datang dengan napas yang memburu karena wanita cantik istri dari Dokter Arman itu berlari dari parkiran.

__ADS_1


"Sus, bagaimana keadaan Mas Arman?" tanya Julia, panik. "Apa, aku boleh melihatnya sekarang?" pintanya, memohon.


Suster Maria yang sedang ngobrol bersama suster jaga, menatap rekan seprofesinya tersebut. "Mbak Julia ini, istrinya Dokter Arman, Sus," terang Suster Maria, memperkenalkan Julia pada suster yang berjaga.


Suster jaga yang sudah mendapatkan mandat untuk memberikan pelayanan terbaik pada Dokter Arman tersebut, tentu saja langsung mengangguk memperbolehkan Julia mengunjungi suaminya yang masih belum sadarkan diri.


"Tolong jaga ketenangan ya, Mbak, karena Dokter Arman belum sadar dari pengaruh obat," pinta suster jaga dengan sopan.


Julia mengangguk seraya tersenyum.


"Tolong pakai baju steril dulu ya, Mbak Julia," pinta Suster Maria yang kemudian menuntun Julia menuju ruang ganti.


Suster Maria dan suster jaga kemudian mempersilahkan Julia untuk masuk ke dalam ruangan khusus, tempat di mana Dokter Arman menjalani observasi.


Julia berjalan dengan langkah pelan menghampiri ranjang pasien. Entah mengapa, melihat laki-laki yang telah menjadi suaminya itu terbaring lemah seperti ini, membuat hati Julia sakit rasanya.


"Mas, bangun, Mas. Jangan seperti ini," ucap Julia, sangat lirih. Dia usap salah satu sisi pipi Dokter Arman yang terbaring dengan posisi miring tersebut.


Julia kemudian duduk di sebuah kursi yang terdapat di samping bed pasien. Dia terus usap wajah bersih suaminya, berharap Dokter Arman segera bangun ketika merasakan sentuhannya.


Julia memang belum tahu pasti, apakah dirinya telah mulai jatuh cinta pada suaminya itu atau belum, tetapi yang jelas Julia selalu merasa nyaman jika Dokter Arman menyingkirkan guling pembatas dan kemudian memeluknya secara diam-diam ketika dirinya sedang tidur di tengah malam.


Wanita cantik tersebut juga merasa sangat bahagia, dengan perhatian yang senantiasa dicurahkan sang suami kepada dirinya, akhir-akhir ini.


Meskipun Dokter Arman belum pernah mengungkapkan isi hatinya secara terang-terangan, tetapi Julia dapat menangkap signal tersebut dan dapat merasakan kesungguhan sang suami yang benar-benar ingin berubah, menjadi suami yang baik, bukan hanya sekadar untuk sang mama atau putrinya.


"Mas, ayo buka matamu, Mas. Aku di sini, Mas. Aku mencemaskanmu," ucap Julia kembali setelah cukup lama dirinya duduk terdiam di samping ranjang pasien, seraya menggenggam erat tangan Dokter Arman.


Dia ciumi punggung tangan suaminya, dengan berlinang air mata. "Bangun, Mas," ulangnya yang terdengar pilu.


Setetes air mata Julia yang jatuh membasahi punggung tangan Dokter Arman, membuat laki-laki berhidung mancung tersebut, membuka matanya perlahan.


"Mas, kamu sudah sadar." Reflek, Julia memeluk suaminya tersebut.


"Ah ... sakit, Sayang," jerit kecil Dokter Arman, tertahan.

__ADS_1


"Maaf, maaf. Habisnya Juli seneng banget, Mas Arman sudah sadar," ucap Julia seraya memandangi wajah tampan suaminya yang sedikit pucat.


"Juli panggilkan dokter jaga, ya," pamit Julia yang hendak memanggil dokter jaga.


Tangan Dokter Arman buru-buru mencegah dengan menarik tangan Julia. "Tidak perlu, Sayang. Aku sudah memiliki dokter spesial di sini saat ini dan aku tidak butuh dokter jaga," larang Dokter Arman, seraya tersenyum manis.


Mendapatkan kata-kata manis yang diucapkan oleh sang suami, yang dia nantikan kesadarannya semenjak beberapa saat lalu, membuat Julia tersipu malu.


"Tapi, Mas. Mas Arman 'kan harus segera diperiksa," ucap Julia setelah dapat menguasai diri kembali.


"Nanti saja, Sayang. Aku masih ingin seperti ini dulu," tolak Dokter Arman seraya menatap manik hitam Julia, dengan bulu mata lentik yang menghiasi kedua kelopak mata wanita cantik tersebut.


Dokter Arman menggenggam erat tangan Julia dan kemudian menciumi punggung tangan halus wanita muda tersebut dengan segenap perasaan, sama seperti apa yang dilakukan Julia tadi ketika Dokter Arman belum tersadar.


"Sayang," panggil Dokter Arman, lembut.


"Hem," balas Julia dengan gumaman.


"Apakah laki-laki brengsek sepertiku, pantas untuk mendapatkan wanita baik-baik seperti kamu?" tanya Dokter Arman dengan netra berkaca-kaca.


Terlihat jelas penyesalan, di netra yang memiliki tatapan tajam tersebut.


Julia yang belum mengerti arah pembicaraan sang suami, mengerutkan dahi.


"Aku merasa sangat kerdil jika berada di hadapan kamu, Sayang. Aku ini kotor dan berlumuran dosa, aku merasa sangat tidak pantas menjadi suami kamu, Juli," lanjut Dokter Arman dengan suara tercekat di tenggorokan.


Julia menghela napas panjang.


"Sejujurnya, aku mencintai kamu, Sayang, tapi aku tahu bahwa berlian sepertimu tak mungkin bisa aku gapai," ucap Dokter Arman kembali, setelah beberapa saat dia terdiam untuk menenangkan diri.


"Aku ikhlas, jika nantinya kamu memilih pergi meninggalkan aku dan putriku untuk menikah dengan pemuda idaman kamu, Sayang. Aku tidak akan menahan kamu." Dokter Arman menatap dalam, netra Julia.


"Setelah aku keluar dari rumah sakit, kita bisa ke pengadilan agama untuk memutuskan ikatan yang telah aku buat dan membuat kamu tersiksa menjalani rumah tangga bersamaku," pungkas dokter kandungan tersebut, dengan menahan sesak di dada.


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2