
Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, Julia tidak berani membuka suara. Pandangan gadis itu terus tertuju ke arah jendela kaca di sebelah kiri.
"Jangan berpikir macam-macam, kenapa saya mengantarmu pulang!" ucap Dokter Arman yang terdengar ketus. "Karena langit gelap, mama memaksaku untuk mengejar kamu dan mengantarmu sampai ke rumah," lanjutnya dengan tatapan lurus ke depan.
Julia menoleh sekilas ke arah dokter berparas tampan, tetapi terkesan dingin tersebut dan kemudian mengangguk. "Terimakasih sudah bersedia mengantarkan saya, Dok," ucap Julia, tulus.
Tak ada lagi pembicaraan di antara mereka berdua, keheningan tercipta di kabin mobil mewah milik Dokter Arman.
Julia kembali fokus menatap ke arah kiri, dimana terdapat banyak bangunan bertingkat yang berjajar rapi di sepanjang jalan yang dilalui.
Tiga puluh menit berlalu, keheningan masih saja menyelimuti kabin mobil tersebut.
"Julia, tawaranku tadi masih berlaku. Jika kamu berubah pikiran, hubungi aku segera," ucap dokter kandungan tersebut, mengurai keheningan.
Ya, Dokter Arman terpaksa mengatakan hal tersebut karena dirinya terus di desak oleh sang kekasih dan juga mamanya.
Setelah Julia keluar dari ruang kerjanya tadi, Dokter Arman kemudian menghubungi sang kekasih.
*****
"Halo, Sayang," sapa Dokter Arman.
"Iya, Sayang. Bagaimana pembicaraan kamu dengan pengasuh itu?" tanya Renata di seberang telepon.
Dokter Arman menghela napas panjang. "Dia menolak, Ta," balas ayah Asa tersebut.
"Bagaimana bisa? Apa kamu tidak menawarkan kehidupan enak padanya, Sayang?" cecar Renata yang terdengar kecewa.
"Sudah, Sayang. Aku sudah menjanjikan uang belanja lebih, tapi dia tetap menolaknya," balas Dokter Arman.
"Kalau begitu, janjikan kemewahan lain, Arman. Rumah, mobil atau apapun, yang penting dia bersedia. Aku yang akan memberikan semua itu padanya jika Julia mau menikah dengan kamu. Namun, harus kamu ingat ... tugasnya hanya sebagai pengasuh Asa!" tegas Renata.
"Ta, kenapa enggak kamu saja, Sayang. Belajarlah untuk menjadi ...."
"Maaf, Sayang. Aku masih sibuk, kita sambung lain waktu," sergah Renata, sebelum Dokter Arman menyelesaikan perkataannya.
"Kamu harus tawarkan lagi pada pengasuh itu, Sayang," lanjut Renata sedikit memaksa.
"Iya, akan aku coba," balas Dokter Arman, pasrah. Dia kemudian menutup teleponnya.
__ADS_1
Laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun itu termenung. Sejujurnya dia tidak menyukai ide tersebut, menikahi tetapi hanya memperalat Julia untuk dijadikan pengasuh putrinya.
Dokter Arman hanya ingin menikah dengan Renata dan berharap, kekasihnya itu mau belajar untuk menerima putri semata wayangnya.
Beberapa menit berlalu, lamunan Dokter Arman terhenti ketika terdengar suara sang mama.
"Arman," panggil Bu Ratna.
"Iya, Ma," balas ayahnya Asa tersebut seraya menoleh ke arah sumber suara.
"Langit tiba-tiba mendung, Arman, sedangkan Julia baru saja keluar dari rumah ini. Mama khawatir, jika dia kehujanan di jalan. Susul dia, Arman, dan antarkan sampai rumahnya," titah Bu Ratna seraya menghampiri sang putra.
"Dia sudah dewasa, Ma. Julia 'kan bisa naik taksi," tolak putra bungsu Bu Ratna tersebut.
"Arman, ayolah! Kamu bisa sekalian membujuk dia kembali," pinta Bu Ratna. "Luluhkan dia dengan sedikit saja perhatian kamu, Arman," lanjut wanita berusia senja itu, membujuk sang putra.
Dokter Arman menghela napas berat. 'Kenapa, sih, orang-orang! Semua membujukku agar menikahi gadis dekil itu!' gerutunya dalam hati.
Memang benar, penampilan Julia yang sederhana, tentu sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan Renata yang berduit dan tentunya melakukan perawatan mahal di klinik kecantikan.
Julia, dengan kecantikan alami dan tanpa polesan make-up serta pakaian yang serba sederhana. Sementara Renata, senantiasa memoles tebal wajahnya dengan kosmetik yang harganya jutaan rupiah dan pakaian serta aksesoris yang dia kenakan, semuanya barang-barang 𝘣𝘳𝘢𝘯𝘥𝘦𝘥.
*****
Julia terkejut, gadis itu tak dapat mengatakan apa-apa mendengar perkataan ayah dari anak asuhnya.
"Kamu masih menyimpan kartu namaku, kan?" tanya Dokter Arman seraya menoleh ke arah Julia sekilas.
Gadis bermata bulat itu mengangguk pelan.
"Aku harap, kamu mempertimbangkan tawaranku matang-matang," pinta Dokter Arman. "Aku akan memberimu rumah dan mobil, serta membiayai sekolah adikmu jika kamu menerima tawaran untuk menikah denganku," lanjutnya.
Julia menggeleng. "Bukan itu yang saya inginkan, Dokter." Suara Julia terdengar bergetar, seolah menahan amarah di dada.
Tentu saja Julia sangat marah karena merasa direndahkan dengan tawaran Dokter Arman barusan. Pernikahan yang seharusnya untuk menyatukan dua orang yang saling menyayangi, untuk membina sebuah rumah tangga bahagia, tetapi malah dipermainkan oleh Dokter Arman.
"Bukankah semua wanita menginginkan kebahagiaan dan kemewahan itu, Julia?" tanya laki-laki yang duduk di bangku pengemudi tersebut, terdengar sinis.
"Memang benar, Dokter, tetapi kebahagiaan itu, bukan semata-mata karena harta," balas Julia.
__ADS_1
Pembicaraan mereka terhenti, ketika mobil mewah milik Dokter Arman memasuki halaman rumah sederhana keluarga Julia.
Gadis berkaki jenjang itu segera turun yang kemudian diikuti oleh Dokter Arman.
"Terimakasih banyak, Dokter," ucap Julia dengan tulus seraya menangkup kedua tangan di depan dada.
Dokter dingin itu hanya mengangguk.
Mereka berdua masih berdiri di halaman rumah Julia. Gadis itu tak langsung masuk karena menunggu Dokter Arman pergi, tetapi nampaknya Ayah Asa tersebut masih betah berdiri di sana.
"Apa kamu tak ingin mengajakku untuk masuk?" tanya Dokter Arman, membuat Julia terkejut.
"Eh ... iya, Dok. Ta-tapi rumah saya sempit, Dok," ucap Julia tergagap.
"Aku hanya ingin bertemu dengan ibumu dan mengucapkan terimakasih karena sudah membolehkan kamu bekerja menjadi pengasuh putriku." Dokter Arman menatap Julia dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ba-baik, Dok. Mari, silahkan." Julia segera menuntun tamunya tersebut masuk ke dalam rumah.
"Bu-ibu," panggil Julia pada sang ibu, setelah gadis itu membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci.
"Silahkan duduk, Dok. Saya akan panggilkan ibu saya, barangkali beliau sedang berada di warung depan," ucap Julia, mempersilahkan Dokter Arman seraya menunjuk kursi busa yang warnanya telah usang.
"Dika, Dik," panggil Julia pada sang adik, seraya membuka pintu kamar adiknya. 'Gak ada, kemana dia? Ini 'kan, hari libur?' batin gadis itu bertanya-tanya dalam hati.
"Mbak, Mbak Juli sudah pulang?" tanya seorang remaja yang baru saja masuk ke dalam rumah. Remaja itu kemudian mendekati Dokter Arman.
"Dari mana, Dik? Apa Ibu di warung? Memangnya, ibu enggak libur, ya? Ini 'kan hari minggu?" cecar Julia dengan banyak pertanyaan pada sang adik, setelah Dika menyalami laki-laki dewasa yang duduk sendirian di ruang tamu.
"Ibu 'kan di rumah, Mbak. Ibu sudah beberapa hari enggak jualan karena sakit," balas Dika seraya mendekati sang kakak dan kemudian mencium punggung tangan kakaknya.
"Nih, Dika baru saja dari apotik beli obat buat Ibu," lanjutnya sambil menunjukkan kantong plastik yang dia tenteng.
"Kamu kok enggak kasih kabar sama mbak, sih, Dik, kalau ibu sakit," protes Julia yang bergegas menuju kamar sang ibu, gadis itu sampai melupakan keberadaan Dokter Arman.
Dika mengikuti langkah panjang sang kakak, masuk ke dalam kamar ibunya.
"Ibu! Ibu kenapa, Bu?"
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...
__ADS_1