
"Kamu salah, Ta, jika menganggap aku tak lagi memiliki bukti setelah kamu hancurkan ponselku karena Suster Maria sudah mendengar semua pembicaraan kita dan dia merekamnya," ucap Dokter Arman dengan begitu tenang.
"Kalau kamu tidak percaya, buka group chat karyawan di rumah sakit ini. Kamu ikut gabung di dalamnya, bukan?" lanjut Dokter Arman, bertanya.
Panik, Renata segera mengambil ponsel dari dalam tas tangan mahal miliknya dan kemudian membuka layar benda pipih yang berlogo buah digigit serangga tersebut.
Netra Renata melotot begitu membuka group chat yang dimaksud Dokter Arman dan mendapati sudah ratusan chat di sana, yang kesemuanya hanya berani menyayangkan tindakan pemilik rumah sakit dan putrinya itu, tanpa berani mencela.
Meskipun tidak ada yang berani menghujat, tetapi hal itu sudah cukup membuat Pak Santoso merasa malu dan marah di waktu yang bersamaan.
"Berani-beraninya Suster Maria menyebarkan berita ini!" ucap Pak Santoso dengan geram.
"Pecat saja dia, Pa!" sahut Renata yang tak kalah geram.
"Saya tidak takut, Bu Renata, Pak Dirut." Suara Suster Maria yang mendorong kursi roda, membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara.
"Saya memang miskin, Pak Dirut, tetapi Anda tidak dapat membeli suara saya," lanjutnya yang tadi dapat mendengar dengan jelas, bagaimana direktur utama rumah sakit tersebut, menghinanya.
"Terimakasih, Sus," ucap Julia yang kemudian mengambil alih kursi roda dari tangan Suster Maria.
Selanjutnya, Julia dengan sabar membantu sang suami turun dari ranjang pasien untuk duduk di kursi roda.
Sementara Suster Maria sibuk membereskan barang-barang milik Dokter Arman dan istrinya, untuk dimasukkan ke dalam tas pakaian.
"Oh ya, Pak Dirut. Saya juga merekam pembicaraan kita waktu itu dengan menggunakan ponsel istri saya. Jadi, di sana ada bukti permintaan maaf Anda, agar saya tidak membawa masalah ini ke meja hijau dengan syarat, Anda akan menjamin bahwa putri Anda tidak akan lagi mengganggu saya dan keluarga saya." Dokter Arman menatap Pak Santoso dengan tersenyum miring.
__ADS_1
"Tetapi saat ini, justru Anda mendukung perbuatan putri Anda yang ingin kembali mengganggu hidup saya. Menurut Anda, apa yang harus saya lakukan, Pak Dirut yang terhormat? Apa saya harus mendiamkan saja, perbuatan kalian ini?" lanjutnya, bertanya.
Pak Santoso terdiam. Kali ini, direktur utama yang memiliki kekayaan melimpah tersebut, tidak dapat berkutik. Bahkan harta benda yang dia miliki, tidak dapat dengan mudah membantunya untuk keluar begitu saja dari masalah yang dibuatnya sendiri.
"Semua ini gara-gara kamu, wanita kampungan!" Renata merangsek, hendak menyerang Julia. Namun, Suster Maria dengan sigap mencegah dengan menarik tangan Renata dan menghempaskan tubuh wanita ambisius tersebut.
Meski tubuh Suster Maria lebih kecil, tetapi tenaga Suster yang selama ini membantu di ruang praktek Dokter Arman itu, sangatlah besar. Sehingga tubuh tinggi semampai Renata, terjengkang dan terjatuh ke lantai rumah sakit yang dingin.
"Ta, keterlaluan kamu!" geram Dokter Arman, begitu mengetahui istri tercinta hendak diserang.
"Mas, cukup. Jangan kotori mulutmu dengan memaki orang yang tidak penting seperti mereka," cegah Julia ketika sang suami nampak masih hendak memaki Renata.
"Bu Renata dan Pak Dirut yang terhormat. Harusnya, Anda berdua berterimakasih pada Mbak Julia karena kebaikan hati dan atas permintaan beliau, perbuatan kalian yang sudah saya rekam, tidak saya sebarkan ke sosial media." Suster Maria dengan berani menatap direktur utama rumah sakit, tempatnya bekerja.
Pak Santoso menunduk, mulai menyadari kesalahannya yang selalu menuruti kemauan sang putri. Sementara Renata tetap dengan gaya angkuhnya, sama sekali tidak terima dengan kekalahan apalagi mengakui kesalahan.
"Kami tetap masih berharap, Anda dan putri Anda, memiliki itikad baik untuk berubah, Pak Dirut. Tidak perlu meminta maaf pada kami, cukup memiliki niat untuk menyadari kesalahan dan memperbaiki diri," ucap Dokter Arman memgurai keheningan, seraya menatap Renata dan Pak Santoso, bergantian.
"Malam ini juga, saya akan keluar dari rumah sakit ini. Suster Maria telah membereskan semua administrasinya karena saya tidak mau berhutang apapun pada Anda," lanjut Dokter Arman dengan tegas.
"Dok, Anda seharusnya tidak perlu melakukan itu karena status Anda masih sebagai dokter di rumah sakit ini. Terlepas dari apa yang telah Anda alami karena kesalahan putri saya," ucap Pak Santoso yang terdengar menyesal.
Dokter Arman tersenyum dan kemudian menggeleng, entah apa maksud dari gelengan kepalanya.
"Apapun yang Anda minta, Dok, akan kami kabulkan. Tetapi tolong, bersihkan nama baik kami di mata para karyawan kami," mohon Pak Santoso.
__ADS_1
"Mengenai nama baik, hanya Anda dan putri Anda sendiri yang dapat memperbaikinya, tentunya dengan merubah perilaku dan sikap Anda," balas Dokter Arman.
"Dan untuk mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang yang bukan hanya merugikan dan membahayakan nyawa saya, tetapi mungkin juga bisa terjadi pada orang lain, maka saya memutuskan untuk menyerahkan masalah ini ke pihak yang berwajib," lanjutnya sungguh-sungguh.
"Arman ...." Suara Renata menggantung di udara karena Dokter Arman mencegah wanita itu untuk berbicara dengan isyarat tangannya.
"Persiapkan dirimu, Ta, karena besok saya pastikan, akan ada polisi yang menjemputmu untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu padaku," pungkas Dokter Arman.
Julia kemudian segera mendorong kursi roda yang diduduki sang suami, keluar dari kamar perawatan terbaik di rumah sakit tersebut, dan iikuti oleh Suster Maria. Meninggalkan Pak Santoso dan putrinya, yang masih terdiam dan tak percaya, dengan apa yang terjadi barusan.
Jeritan Renata menggema, memenuhi ruangan yang luas tersebut. Bahkan suaranya dapat terdengar hingga di luar ruang perawatan yang tadinya ditempati oleh Dokter Arman karena Suster Maria, tidak menutup kembali pintu ruangan ituitu dengan rapat.
"Rena tidak terima kekalahan ini, Pa! Rena tidak mau dipenjara!" Wanita bertubuh seksi tersebut, membuang apa saja yang ada di hadapannya.
Pak Santoso berusaha untuk mencegah, tetapi tenaga laki-laki paruh baya tersebut, kalah kuat dari tenaga Renata yang sedang dirasuki amarah.
Renata masih membabi buta, sementara Pak Santoso hanya bisa mengikuti pergerakan sang putri dengan pandangan matanya.
Laki-laki itu kemudian segera menghubungi security, untuk membantu mengatasi sang putri.
Baru saja Pak Santoso menutup ponsel, netranya menangkap bayangan sang putri yang menggengam sebuah pisau buah yang berkilat tajam.
"Rena, jangan Sayang!" cegah Pak Santoso ketika Renata menghunuskan benda tajam tersebut ke dadanya sendiri.
Darah segar, mengucur deras membasahi gagang pisau buah tersebut. Sedetik kemudian, tubuh Renata roboh dalam pangkuan sang papa.
__ADS_1
Laki-laki paruh baya tersebut hanya bisa menangis menyesali sikapnya, yang selama ini terlalu memanjakan sang putri.
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...