
"Dik Juli." Suara bariton Pak Tamin membuat Julia tersadar bahwa saat ini dirinya tidak sedang bermimpi, duka lara itu nyata dan benar-benar dia rasakan.
"Dik Juli jangan khawatir, saya akan anggap utang itu lunas jika Dik Juli mau menjadi istri keempat saya," tawar Pak Tamin dengan tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang berwarna kuning karena jarang dibersihkan.
Julia tertegun mendengar perkataan Pak Tamin yang gamblang dan tanpa tedeng aling-aling. Gadis itu sampai tak bisa berkata-kata.
'A-apa barusan orang tua itu bilang? Menjadi istri keempat dari laki-laki yang seumuran almarhum ayah? Apa dia tak memiliki kaca di rumahnya?' monolog Julia dalam keterkejutannya.
"Bagaimana Dik Juli? Kamu bersedia, kan? Aku jamin, hidupmu akan enak jika kamu mau menjadi istriku." Laki-laki paruh baya bergigi kuning itu tersenyum pongah.
"Maksud Bapak, saya akan Bapak jadikan sebagai penebus hutang ibu saya?" tanya Julia pelan tapi penuh dengan penekanan. Gadis cantik itu menatap Pak Tamin dengan tatapan marah.
Pak Tamin yang tadinya begitu bersemangat dan sangat percaya diri bahwa lamarannya akan diterima Julia, langsung memundurkan punggung. Laki-laki paruh baya tersebut ciut juga nyalinya, melihat kemarahan yang terpancar jelas di mata Julia.
"Bu-bukan begitu maksud saya Dik Juli," ujar Pak Tamin, gugup. "Saya hanya bermaksud hendak membantu meringankan beban kamu," lanjutnya beralasan.
Hening sejenak menyapa ruang tamu berukuran dua kali tiga meter tersebut. Ruang tamu yang hanya ada satu set kursi usang tanpa hiasan apapun pada dindingnya yang warna catnya telah memudar.
"Nak Juli, maaf jika saya ikut berbicara," tutur Pak RT, mengurai keheningan. "Maksud Pak Tamin ini daripada Nak Juli menjual tanah kios atau menjual rumah peninggalan orang tua, lebih baik Nak Juli menjadi istri Pak Tamin." Pak RT menatap Julia yang nampak masih tidak terima dengan permintaan laki-laki paruh baya yang lebih pantas menjadi orang tuanya itu.
"Jika Nak Juli menikah dengan Pak Tamin, dia berjanji akan mencukupi semua kebutuhan hidup kalian berdua dan juga membiayai sekolah Dika sampai adikmu itu kuliah," lanjut Pak RT, seperti yang sudah disampaikan Pak Tamin sebelumnya pada ketua RT di kampung Julia tersebut.
"Maaf, Pak RT. Lebih baik, Juli menjual tanah bekas kios untuk membayar hutang orang tua Juli," tegas gadis yang kini netranya dipenuhi oleh air mata tersebut.
__ADS_1
Julia menekan rasa sakit di hati, berusaha semampunya agar air matanya jangan sampai menetes. Dia tak ingin terlihat lemah di depan orang yang tak memiliki hati seperti Pak Tamin.
"Tanah bekas kios ibumu itu, takkan cukup untuk melunasi hutang almarhumah ibumu berikut bunga yang belum dibayarkan, Dik Juli," sahut Pak Tamin.
"Silahkan Bapak hitung saja kekurangannya, jika tanah kios itu saya serahkan pada Bapak," tantang Julia. "Nanti kekurangannya, akan segera saya carikan," lanjutnya. Julia sekilas melirik laki-laki tambun yang duduk tepat di hadapannya.
Gadis yang masih berduka karena kepergian sang ibu yang mendadak itu semakin muak pada laki-laki paruh baya di depannya, laki-laki berumur yang tega memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dan kesusahan orang lain demi ambisi dan nafsunya semata.
"Saya hanya berani kasih harga tanah itu dua puluh lima juta rupiah karena letaknya kurang strategis dan terlalu dekat dengan jalan raya. Jadi, jika saya bangun kembali menjadi kios, tidak ada lahan untuk parkir." Pak Tamin menatap dalam netra Julia.
"Jadi, kalau plus bunganya, kekurangannya sekitar dua puluh juta rupiah dan saya minta, besok pagi uang itu harus sudah ada," lanjut Pak Tamin, sengaja menekan gadis itu agar Julia berpikir ulang dan mau menerima tawarannya yang menurut laki-laki itu sangat enak.
Julia menelan ludah, getir. Dada gadis itu terasa begitu sesak, bagai dihimpit batu besar dengan bobot ratusan kilogram. Dia sampai merasa kesulitan untuk sekadar bernapas.
"Pikirkan kembali, Dik Juli. Dua puluh juta rupiah itu tidaklah sedikit," pinta Pak Tamin yang tetap berharap Julia mau menerima tawarannya untuk menjadi istrinya yang paling muda, istri keempat.
Julia menggeleng pasti. "Saya pasti bisa membayarnya besok," tegasnya. Gadis itu benar-benar merasa yakin dengan keputusan yang dia ambil saat ini.
"Darimana kamu akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu kurang dari satu hari?" tanya Pak Tamin, meremehkan.
"Bapak tidak perlu tahu darimana saya mendapatkannya, yang terpenting uang itu besok sudah ada di tangan Bapak," balas Julia, Ketus.
Gadis itu sangat kesal karena merasa diremehkan oleh tamunya. Bukannya dia tidak sopan, berbicara kasar pada orang yang lebih tua, tetapi orang yang diajak bicaralah yang memulai dan memancing kemarahan Julia.
__ADS_1
Pak Tamin menghela napas kasar. "Baik, jika besok pagi uangnya belum ada. Maka, mau tidak mau, kamu harus menjadi istri saya!" ancam Pak Tamin yang tetap memaksa.
Laki-laki yang terlihat sangat kecewa itu kemudian beranjak, yang diikuti oleh Pak RT.
"Nak Juli, kami permisi dulu," pamit Pak RT.
Julia hanya mengangguk dan tak ingin mengantarkan kedua tamu tersebut, keluar dari rumahnya.
Gadis itu masih terpaku di tempat duduk, meski kedua laki-laki paruh baya tadi sudah beberapa menit yang lalu meninggalkan rumah sederhana tempat Julia dan sang adik bernaung.
'Apa yang harus aku lakukan? Darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu, hanya dalam waktu semalam?' batin Julia, bertanya.
Tanpa Julia sadari, air mata menetes membasahi kedua pipinya yang mulus. Gadis itu menangis dalam diam, hanya punggungnya yang terlihat bergetar karena menahan suara tangis agar jangan sampai keluar dari mulut dan terdengar oleh sang adik.
'Kenapa cobaan ini datang bertubi-tubi menghampiri Juli, Tuhan? Kenapa harus Juli? Tidakkah Engkau lihat, bahwa aku bukanlah wanita yang kuat untuk menanggung semua ini seorang diri?' protes Julia dalam hati.
Gadis itu masih terus menangis dalam diam, meratapi nasib buruk yang seolah mempermainkan hidupnya. Nyeri di dada semakin terasa, hingga air mata Julia semakin deras mengalir menganak sungai.
Cukup lama Julia menangis, sampai-sampai gadis cantik itu tak menyadari kehadiran seseorang yang tahu-tahu sudah berlutut di sampingnya sambil menyodorkan sapu tangan.
"Usap air matamu ...."
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...
__ADS_1