
Setelah memastikan bahwa putranya berada di kamar bersama Julia dan sedang menemani istrinya untuk makan malam, Bu Ratna pun segera kembali ke kamarnya karena tak ingin mengganggu kebersamaan mereka berdua.
Sementara Julia yang sedang makan ditemani oleh Dokter Arman, terlihat canggung. Tak ada yang bersuara di antara mereka berdua, sehingga keheningan pun tercipta di ruangan tersebut.
"Dok, Bu Ratna sudah pergi. Silahkan jika Dokter mau melanjutkan aktifitas," ucap Julia setelah beberapa saat, mengurai keheningan.
"Kamu mengusirku, Juli?" Dokter Arman melirik tajam ke arah Julia yang duduk di sampingnya.
Istri belia Dokter Arman itupun sejenak menghentikan makannya. "Saya tidak mengusir Anda, Dok," balas Julia seraya menggelengkan kepala.
Ibu sambung yang hanya dijadikan sebagai pengasuh Asa itu kemudian melanjutkan makannya kembali, tanpa menghiraukan tatapan Dokter Arman yang masih tertuju padanya.
Julia makan dengan cepat karena dia ingin segera beristirahat. Lagipula, dirinya tak ingin berlama-lama berdua bersama Dokter Arman.
Sementara Dokter Arman yang kemudian menyibukkan diri dengan membuka ponsel, terus memperhatikan gerak-gerik Julia melalui ekor matanya.
Julia yang menyadari bahwa dirinya masih diperhatikan, pura-pura tidak tahu. 'Kenapa masih di sini, sih?' gumamnya, jengah.
Usai makan, Julia membereskan piring kotor bekas makannya dan menyimpan makanan yang masih tersisa di dalam almari pendingin karena Dokter Arman membelikan makanan dalam jumlah yang cukup banyak.
Julia kemudian masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Dokter Arman pun ikut masuk, mengekor di belakangnya.
"Dok, saya boleh pinjam selimutnya?" tanya Julia, begitu wanita cantik itu keluar dari kamar mandi.
"Untuk?" Dokter Arman mengerutkan dahi.
"Saya mau tidur di sofa saja," balas Julia.
"Tidak, Juli. Kita tidur di ranjang yang sama," tegas Dokter Arman, menolak ide Julia.
"Tapi, Dok, kita 'kan hanya ...."
"Aku janji, Juli. Aku tidak akan menyentuhmu," sergah Dokter Arman, memotong ucapan Julia.
__ADS_1
"Ada bantal yang bisa kita jadikan pembatas," lanjutnya, meyakinkan Julia.
Julia masih mematung, dia terlihat ragu.
"Please ... Juli. Kamu tidak tahu seperti apa, mamaku. Mama bisa melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginannya. Mama pasti akan datang lagi ke kamar ini tengah malam nanti, untuk mengecek apakah kita bersama atau tidak," mohon Dokter Arman.
Julia menghela napas panjang. "Baiklah, Dok." Karena sudah sangat mengantuk, Julia bergegas naik ke atas ranjang.
Istri Dokter Arman itu menempati sisi ranjang yang paling tepi untuk menjaga jarak dengan laki-laki yang telah berstatus sebagai suaminya, tepatnya suami di atas kertas.
Sementara Dokter Arman menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri sebelum kemudian menyusul naik ke atas ranjang setelah terlebih dahulu mengganti lampu utama dengan lampu tidur.
Laki-laki matang itu menoleh ke arah Julia yang tidur memunggunginya, dengan tubuh yang tertutup selimut hingga sebatas leher. Dokter Arman tersenyum, melihat hal tersebut.
"Jangan khawatir, Juli. Aku tidak akan pernah tergoda denganmu," gumam Dokter Arman, yang ternyata dapat di dengar oleh Julia yang masih terjaga.
Julia bernapas dengan lega. 'Syukurlah, semoga selamanya seperti itu.'
Tak lama kemudian, wanita cantik itupun terlelap ke alam mimpinya.
Satu jam berlalu, laki-laki dewasa itu masih saja gelisah. Tiba-tiba, dokter kandungan itu mengerutkan dahi kala mendengar suara pintu kamar dibuka. 'itu pasti mama.'
"Arman, ibu masuk ya?" pinta Bu Ratna, meminta ijin sebelum wanita berusia senja tersebut masuk ke dalam kamar sang putra.
Dokter Arman buru-buru mengambil bantal yang ada di tengah-tengah ranjang, bantal yang menjadi pembatas antara dirinya dan Julia. Laki-laki matang itu kemudian masuk ke dalam selimut Julia dan memeluk istrinya dari belakang.
Julia yang merasa terganggu tidurnya, terbangun. Wanita muda itu berusaha melepaskan diri, tetapi Dokter Arman mengeratkan pelukan tangannya di perut Julia.
"Diamlah, ada mama," bisik Dokter Arman tepat di belakang telinga Julia, membuat istri belia dokter kandungan itu, merinding.
Dokter Arman menyembunyikan wajahnya di tengkuk Julia. Laki-laki itu menarik napas panjang, menghirup dalam-dalam aroma wangi yang ada di hadapannya.
Laki-laki matang tersebut kemudian memejamkan mata, menikmati aroma wangi rambut Julia.
__ADS_1
"Arman, Juli," panggil Bu Ratna kembali, setelah beberapa saat menunggu, tetapi tak ada jawaban.
Bu Ratna tidak mau gegabah dengan langsung masuk ke dalam kamar tidur karena khawatir, akan menggangu kemesraan sepasang pengantin baru tersebut.
Mendengar suara Bu Ratna, Julia terdiam dan tidak jadi berontak.
Lama menanti tak ada jawaban, Bu Ratna kemudian masuk ke dalam kamar tidur bersama sang cucu. "Tuh 'kan, Sayang. Ayah sama Bunda sudah tidur, kita kembali ke kamar, yuk!" ajak Bu Ratna pelan, pada putri kecil Dokter Arman tersebut.
"Iya, Nek. Tunggu sebentar, Asa mau cium Bunda Uli dulu," pamit Asa yang hendak mendekati ranjang.
Buru-buru Bu Ratna mencegah. "Jangan, Sayang. Nanti Bunda terbangun, kasihan, kan?"
Bu Ratna menatap sang cucu dengan penuh kasih. "Ayo, kita kembali ke kamar!" ajaknya kembali.
Ya, ternyata Bu Ratna datang ke kamar Dokter Arman dan Julia bersama Asa yang terbangun dan menanyakan keberadaan ayah dan bundanya.
Julia yang bisa mendengar percakapan Bu Ratna dan putri Dokter Arman, terpaku dalam dekapan laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.
Dia biarkan Dokter Arman memeluknya, sebagai bagian dari sandiwara yang harus dia lakoni. Yaitu berpura-pura menjadi pasangan yang berbahagia, di depan semua orang.
Julia harus menahan napas, kala merasakan hembusan hangat napas Dokter Arman tepat berada di tengkuknya. 'Gila! Ini gila! Aku tidak bisa membiarkannya berlama-lama seperti ini!' batin Julia, tak nyaman.
"Dok, mereka sepertinya sudah pergi," ucap Julia beberapa saat kemudian, setelah dia sudah tidak mendengar suara apa-apa lagi.
Julia mengerutkan dahi, kala laki-laki yang mendekapnya erat, tak menyahut.
"Dok, dokter," panggil Julia seraya menepuk pelan punggung tangan dokter Arman yang melingkar di perutnya.
Tetap tak ada jawaban, membuat Julia berusaha melepaskan dirinya sendiri.
Rupanya, dokter kandungan tersebut tertidur setelah merasakan kenyamanan menghirup aroma wangi shampoo yang menguar dari surai hitam Julia.
Merasakan tidurnya terganggu, membuat Dokter Arman semakin mengeratkan pelukannya. "Aku masih ngantuk, Sayang. Biarkan aku memelukmu seperti ini," gumam laki-laki itu, entah siapa yang dimaksud.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...