Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Aku Punya Tugas Untukmu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang dari kampus, keheningan tercipta di dalam kabin mobil mewah milik Dokter Arman.


Laki-laki berwajah tampan itu kembali bersikap dingin pada Julia, hingga membuat wanita muda yang menjadi ibu sambung dari putri dokter kandungan tersebut, bertanya-tanya dalam hati.


'Mas Arman, kenapa lagi, ya? Dari tadi pagi, sikapnya aneh banget,' batin Julia, seraya melirik sang suami.


Tatapan Dokter Arman fokus dengan jalanan yang padat di depannya. Sama sekali tak perduli dengan kegelisahan yang melanda hati Julia.


"Apa hubungan kamu dengan laki-laki tadi, Julia?" tanya Dokter Arman tiba-tiba, mengurai keheningan.


"Hubungan? Laki-laki yang mana, Mas?" tanya Julia, tak mengerti.


"Laki-laki berkulit putih, berwajah blasteran yang tadi, Juli?" terang Dokter Arman dengan sedikit meninggikan suara, membuat Julia mengerutkan dahi.


"Namanya Arsen, dia teman seangkatan Juli," balas Julia dengan sejujurnya.


"Apa kalian pacaran?" cecarnya, tanpa menoleh ke arah Julia.


"Tidak," balas Julia singkat, membuat Dokter Arman menoleh ke kiri, sekilas.


Laki-laki tersebut menyipitkan mata, seolah tak percaya. "Mantan kekasih, mungkin?" Dokter Arman masih mengejar Julia, dengan rasa penasaran terhadap pemuda tampan yang tadi dia dengar, meminta kesempatan kembali pada Julia.


"Tidak ada kata mantan karena kami belum sempat jadian," balas Julia, jujur.


"Belum sempat, itu artinya kalian berdua ...."


"Maaf, Mas. Itu sudah berlalu setahun yang lalu dan Juli juga sudah melupakannya," sergah Julia, yang tidak ingin mengungkit kenangan di masa lalu.


Saat ini, Julia hanya ingin menjalani kehidupannya dengan mengalir, seperti air.


Toh, jika suatu saat nanti dia harus berpisah dengan Dokter Arman karena waktu yang tepat telah tiba sesuai perjanjian, wanita cantik itu tidak yakin, akankah perasaan Arsen masih sama terhadapnya setelah status Julia menjadi janda.


Mendengar perkataan Julia, senyum tipis terbit di sudut bibir laki-laki matang tersebut. 'Kenapa aku senang ya, mendengar dia tidak sedang memikirkan laki-laki lain?' batinnya bertanya, pada diri sendiri.

__ADS_1


Kembali keheningan tercipta, tak ada lagi yang bersuara. Hanya terdengar alunan musik klasik dari audio yang diputar oleh Dokter Arman, menemani perjalanan mereka berdua.


Tiba-tiba, Dokter Arman membelokkan mobilnya ke sebuah restoran mewah, yang tempatnya tak begitu jauh dari kediamannya.


"Kita makan di sini dulu, Juli," ucapnya seraya membantu Julia melepaskan sabuk pengaman.


Julia mengerutkan dahi. "Mas, kita 'kan sudah hampir sampai? Kenapa enggak makan siang di rumah saja?" tanya Julia, dengan nada protes.


"Aku sudah lapar," balas Dokter Arman yang langsung membuka pintu mobilnya.


Julia masih terdiam di tempatnya duduk. Sementara Dokter Arman yang sudah berada di luar mobil, tersenyum lebar seraya geleng-geleng kepala.


'Kenapa tiba-tiba aku jadi pengin berduaan dengan dia, ya?' gumamnya seraya mengitari depan mobil untuk membukakan pintu buat Julia.


"Ayo, turun!" ajaknya, dengan memelankan suara.


Dokter Arman kemudian menggenggam erat tangan Julia dan mengajaknya masuk ke dalam restoran.


"Mas, kita 'kan enggak sedang di rumah. Bisa tolong dilepas?" pinta Julia sambil berjalan mengikuti langkah panjang sang suami.


Entahlah, laki-laki matang itu merasa ingin selalu dekat dengan Julia. Meskipun Dokter Arman belum yakin dengan perasaannya sendiri saat ini, perasaan nyaman yang tiba-tiba saja hadir jika berdekatan dengan Julia.


"Kita makan di taman belakang saja, ya," ajaknya yang menginginkan suasana santai dan romantis.


Ya, restoran tersebut memang menyediakan tempat makan di ruang terbuka hijau yang berada di bagian belakang.


Ruang terbuka yang berkonsep danau buatan, dengan tempat makan terapung di atas danau yang di dalamnya terdapat banyak ikan hias berwarna-warni, yang semakin membuat betah bagi siapa saja yang melihatnya.


Dokter Arman menuntun Julia melintasi jembatan yang terbuat dari bambu, untuk menuju salah satu gazebo yang berada di tengah danau.


"Mas, ikannya cantik-cantik, ya," ucap Julia, sambil melihat ke bawah karena lantai gazebo tersebut terbuat dari kaca tebal, sehingga pengunjung dapat melihat ikan yang berenang bebas di bawah tempat duduknya.


"Iya, cantik seperti kamu," balas Dokter Arman tanpa sadar, keceplosan.

__ADS_1


Julia menatap ke arah sang suami, yang juga tengah memperhatikan dirinya.


"Eh, iya. Ikannya memang cantik-cantik, Asa pasti senang jika diajak kemari," kilah Dokter Arman, begitu menyadari bahwa Julia sedang menatapnya.


"Kapan-kapan, kita ajak Asa makan di sini ya, Mas," pinta Julia kemudian.


Membuat Dokter Arman tersenyum lega karena Julia tidak menanyakan apa yang telah dia ucapkan tadi. Ayah Asa itu kemudian mengangguk, mengiyakan permintaan Julia.


"Mau makan apa, Juli?" tanya Dokter Arman seraya menunjukkan buku menu yang dipegangnya.


"Apa saja, Mas. Juli ikut saja," balas Julia yang memang tidak pernah makan di tempat mewah.


Dokter Arman kemudian memesan menu spesial dari restoran tersebut.


Setelah menu terhidang, mereka berdua mulai menikmati makanan dengan diselingi obrolan yang hangat. Sesekali, terdengar canda dan tawa dari mereka berdua, layaknya pasangan suami-istri yang saling mencintai dan hidup berbahagia.


"Pelan-pelan saja makannya, Sayang, aku enggak akan memintanya. Sampai belepotan gini," ucap Dokter Arman, memperingatkan seraya mengelap bibir Julia dengan tissue.


Membuat wajah Julia memanas dan tersipu, malu. "Maaf," balas Julia, singkat.


'Lucu sekali wajahnya jika sedang malu-malu seperti ini,' batin Dokter Arman, senang.


Saking asyiknya menikmati makanan sambil bercanda mesra, mereka berdua tak menyadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengamati dari kejauhan, dengan tatapan penuh kebencian.


"Tidak lama, Arman! Aku jamin! Hubungan kalian akan segera berakhir!" ancam Renata.


Ya, wanita ambisius tersebut mengikuti Dokter Arman ketika dokter kandungan tersebut keluar dari rumah sakit. Renata juga mengikuti sampai kampus tempat Julia menuntut ilmu, ketika laki-laki yang selama ini menjadi kekasihnya tersebut menjemput istrinya.


"Aku enggak nyangka, Arman! Seorang dokter hebat seperti kamu, bisa-bisanya bertekuk lutut pada wanita kampungan seperti dia!" geram Renata seraya mengepalkan kedua tangan dengan sempurna, menahan gejolak amarah yang meluap di dalam dada.


"Aku menyesal, kenapa waktu itu memberimu ide gila untuk menikahi wanita kampungan itu, Arman! Ternyata, dia enggak sepolos yang aku kira! Dia pandai merayu dan menjebakmu, hingga kamu menolakku!"


"Selamat siang, Nona." Suara seseorang yang baru saja datang, membuat Renata menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Duduklah, aku punya tugas untukmu!"


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...


__ADS_2